Friday, June 24, 2011

Teori Trait - Factor Dan Teori Perkembangan Pada Pemilihan Karir Dan Perkembangan Serta Pengaplikasiannya


Pendahuluan

Dalam perkembangan teori, ada teori yang tergolong baik dan ada teori yang buruk. Teori yang baik adalah teori yang menggambarkan/menerangkan karakteristik dengan jelas dan terstruktur sehingga mudah dipahami oleh para praktisi dan peneliti. Selain itu, teori yang baik adalah teori yang secara komprehensif dapat menjelaskan bahwa proses perkembangan karir dapat terjadi pada semua kelompok, pria dan wanita, orang-orang dari berbagai macam budaya yang berbeda, dan individu yang berbeda yang berasal dari strata status sosial yang berbeda pula. Dalam teori perkembangan yang baik, teori tersebut dapat membantu kita mengidentifikasi faktor ekternal dan internal yang dapat mempengaruhi perkembangan karir, terkait didalamnya pola pikir tentang karir dan respon afektif pada berbagai macam karir. Konstruksi teori yang baik mempunyai beberapa tujuan. Sebagai contoh, teori tersebut membantu kita memhami mengapa orang memilih karir dan menjadi tidak puas bagi mereka. Melalui teori tersebut, kita juga dijinkan untuk menginterpretasi data tentang perkembangan karir yang telah digeneralisasikan pada masa lampau, masa sekarang, dan di masa depan juga. Teori Gottfredson membantu kita memahami mengapa hal ini terjadi. Teori yang berkembang dengan baik juga membantu kita memperhitungkan seluruh faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perkembangan karir, termasuk pengetahuan tentang karir dan respon afeksi pada berbagai kegiatan yang berhubungan dengan karir. Dapat diasimpulkan bahwa teori perkembangan dan pilihan karir membutuhkan:
1.      Fasilitas/ sarana pemahaman dari kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi pemilihan dan perkembangan karir.
2.      Penelitian yang menstimulasi dapat membantu kita memperjelas proses pemilihan dan perkembangan karir.
3.      Menyediakan panduan untuk praktek dalam ketiadaan pedoman empiris.

Pengenalan pada berbagai macam Teori

Teori dalam konseling karir dikelompokkan kedalam beberapa kategori yaitu  trait and factory theory (Teori sifat dan faktor),  Teori perkembangan, Teori belajar, Teori sosioekonomi, dan pernyataan teoritis terbaru. Teori trait and factor menekankan pada keinginan individual untuk meningkatkan sifat-sifat mereka, yang meliputi kepentingan/perhatian/minat mereka, nilai, kepribadian, dan bakat/kecerdasan/ketangkasan, serta memilih lingkungan yang kongruen/sama dengan mereka. Teori perkembangan didasarkan pada beberapa tingkatan atas asumsi bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan karir dan pengembangan terkait dengan tahap pengembangan pribadi dan psikologis. Teori sosialekonomi kurang memperhatikan ciri-ciri psikologis, meskipun mereka biasanya mengenali masalah intelek sebagai faktor dalam pilihan karir. Namun, teori ini berfokus pada status sosial ekonomi dari pembuat keputusan dan/atau faktor sosiologis dan ekonomi mempengaruhi dalam membuat pilihan/menentukan pekerjaan. Dalam pernyataan teoritis terbaru, disajikan dua teori yang berdasarkan pada teori belajar, satu pada  teori trait and factor, dan satu teori konstruktif.

Semua teori didasarkan pada asumsi filosofis tertentu yang biasanya terbagi dalam dua kategori, yaitu: positivis dan postmodern. Teori trait and factor, teori perkembangan, dan teori yang berakar dari teori belajar, ketiganya didasarkan pada filososif modernist atau positivis. Asumsi-asumsi tersebut adalah:
1.      Perilaku manusia dapat diukur secara obyektif jika diandalkan/dapat dipercaya, melalui pemanfaatan instrumen yang valid.
2.      Perilaku manusia dapat dipelajari diluar konteks yang terjadi.
3.      Proses penelitian harus bebas nilai. Jika nilai para peneliti masuk ke dalam proses, hasilnya mungkin cacat.
4.      Hubungan sebab dan akibat dapat terjadi dan dapat diukur.
5.      Jika kondisi tertentu terpenuhi, seperti random sampling, penggunaan handal/ dapat dipercaya, instrumen valid, dan kurangnya kontaminasi hasil dari nilai-nilai peneliti, maka hasilnya dapat digeneralisasikan kepada orang lain dalam pengaturan yang sama.
6.      sebanyak mungkin konselor karier harus menjaga obyektivitas mereka, menggunakan instrumen yang handal dan valid, dan dasar praktek mereka pada penelitian empiris yang dirancang dengan baik.

Teori postmodern sering disebut sebagai teori fenomenologis atau konstruktivis, merupakan teori tambahan yang relatif baru dalam teori pilihan dan pengembangan karir. Teori-teori radikal berangkat dari asumsi teori yang didasarkan pada filosofi positivis. Asumsi yang mendasari teori ini adalah:
1.      Perilaku manusia tidak linier dan dengan demikian tidak dapat dipelajari secara obyektif.
2.      Hubungan sebab akibat tidak dapat ditentukan.
3.      Individu tidak dapat dipelajari di luar konteks di mana mereka berfungsi.
4.      Data penelitian tidak dapat digeneralisasi.
5.      Penelitian ini bukanlah proses yang bebas nilai. Nilai Peneliti seharusnya berada dalam panduan fakta proses penelitian.
6.      Cerita-cerita (naratif) yang memberitahu siswa merupakan sumber data yang sah.
7.      Penelitian adalah tujuan bebas: Ini adalah pencarian untuk efek aktual berdasarkan kebutuhan yang ditunjukkan. Sampel acak diganti dengan purposive sampling, yaitu, individu yang belajar, yang dapat menanggapi penelitian dengan cara yang bermanfaat. Misalnya, untuk memahami stereotip peran seks dalam pilihan pekerjaan, seorang peneliti mungkin memilih subyek yang dengan sengaja memilih karir karena stereotip daripada memilih sampel acak yang termasuk orang-orang yang membuat keputusan berdasarkan pada variabel lain.
8.       Karir konselor fokus pada cerita (narasi) dari klien mereka, gunakan prosedur penilaian kualitatif, dan membantu klien membangun tujuan karir berdasarkan persepsi mereka terhadap konteks di mana mereka berfungsi.

TRAIT-and-FACTOR THEORIES (TEORI SIFAT dan FAKTOR)

A.   Teori Holland terhadap Pilihan Pekerjaan
Teori Holland terhadap pilihan pekerjaan dikembangkan berdasarkan beberapa asumsi, yaitu: 
1.      Kepribadian seorang individu merupakan faktor utama dalam pilihan pekerjaan/kejuruan.
2.      Inventori minat/ketertarikan pada kenyataannya merupakan inventori kepribadian.
3.      Individu mengembangkan pandangan stereotip jenis pekerjaan yang memiliki relevansi psikologis. Stereotip ini memainkan peran utama dalam pilihan pekerjaan.
4.      Angan-angan tentang pekerjaan seringkali merupakan tanda untuk pilihan pekerjaan.
5.      Identitas-kejelasan persepsi individu tentang tujuan dan karakteristik pribadinya-berhubungan dengan memiliki sejumlah kecil tujuan kejuruan/pekerjaan yang lebih berfokus.
6.      Untuk menjadi sukses dan puas dalam sebuah karir, seseorang perlu memilih pekerjaan yang sesuai dengan kepribadian seseorang. Kesesuaian pekerjaan adalah salah satu di mana orang lain dalam lingkungan kerja memiliki karakteristik yang sama atau mirip seperti miliknya sendiri.

Kepribadian berkembang sebagai hasil interaksi karakteristik yang diwariskan, kegiatan yang diarahkan oleh individu, dan kepentingan serta kompetensi yang tumbuh dari kegiatan (Holland, 1997). Holland percaya bahwa untuk beberapa tingkatan “tipe memperanakkan tipe" tetapi mengakui bahwa anak-anak membentuk lingkungan mereka sendiri ke mana, dan mereka dihadapkan pada sejumlah orang di samping orang tua mereka yang memberikan pengalaman dan memperkuat beberapa jenis tertentu dari performa. Kombinasi dari pengaruh tersebut menghasilkan "seseorang yang cenderung untuk menunjukkan karakteristik dari konsep diri dan pandangan serta untuk mendapatkan disposisi karakteristik" (Holland, 1997, hal 19). Pada akhirnya, kepribadian muncul. Holland mengemukakan ada enam Tipe kepribadian murni, yang jarang terjadi jika sama sekali dalam bentuk murni. Keenam tipe murni” tersebut adalah:
1.      Realistic (Realistis). Tipe orang-orang yang berurusan dengan lingkungan yang objektif, konkrit, dan sikap fisik yang manipulatif. Mereka menghindari tujuan dan tugas-tugas yang menuntut subjektivitas, ekspresi intelektual atau seni, atau kemampuan sosial. Mereka digambarkan sebagai pribadi yang maskulin, tidak ramah, emosional yang stabil, dan materialistis. Mereka lebih memilih bidang pertanian, teknik, terampil-perdagangan, dan pekerjaan yang berhubungan dengan mesin. Mereka menyukai kegiatan yang melibatkan keterampilan motorik, peralatan, mesin, peralatan, dan struktur, seperti olah raga, kepramukaan, kerajinan, dan kerja toko.
2.      Investigative (Investigasi). Tipe orang-orang yang menghadapi lingkungan dengan menggunakan akal-memanipulasi ide, kata, dan simbol. Mereka lebih memilih panggilan ilmiah, tugas teoritis, membaca, mengumpulkan, aljabar, bahasa asing, dan aktivitas kreatif seperti seni, musik, dan seni pahat. Mereka menghindari situasi sosial dan melihat diri mereka sebagai orang yang tidak ramah, maskulin, gigih, ilmiah, dan tertutup. Mereka berprestasi terutama dalam bidang akademik dan ilmiah, serta biasanya buruk sebagai pemimpin.
3.      Artistic (Artistik). Tipe ini adalah individu yang menghadapi lingkungan dengan menciptakan bentuk-bentuk seni dan produk. Mereka mengandalkan tayangan subjektif dan fantasi dalam mencari solusi untuk masalah. Mereka lebih memilih bidang musik, seni, sastra, pekerjaan yang berhubungan dengan drama, dan kegiatan kreatif yang berkaitan dengan alam. Mereka tidak menyukai kegiatan dan peran yang bernuansa maskulin, seperti perbaikan mobil dan atletik. Mereka melihat diri mereka sebagai pribadi yang tidak ramah, feminin, penurut, introspektif, sensitif, impulsif, dan fleksibel.
4.      Social people (Sosial). Tipe ini adalah orang-orang yang menghadapi lingkungan dengan menggunakan keahliannya dalam berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Mereka dilambangkan dengan ketrampilan sosial dan kebutuhan untuk interaksi sosial. Mereka lebih memilih pendidikan, terapeutik, dan pekerjaan/panggilan religius dan aktivitasnya, seperti gereja, pemerintah, layanan masyarakat, musik, membaca, dan drama. Mereka melihat diri mereka sebagai individu yang ramah, alami, ceria, konservatif, bertanggung jawab, berprestasi, dan penerimaan dirinya baik.
5.      Enterprising (Giat). Tipe ini adalah orang-orang yang menghadapi lingkungan dengan cara mengekspresikan kualitas petualang, dominan, antusias, dan impulsif. Dicirikan sebagai pribadi yang persuasif, verbal, terbuka, menerima diri, percaya diri, agresif, dan exhibitionistic (suka menunjukkan kemampuan yang dimilikinya), mereka lebih suka bidang penjualan, pengawasan, dan panggilan/pekerjaan yang berkaitan dengan kepemimpinan dan kegiatan yang dapat memuaskan kebutuhan akan dominasi, ekspresi verbal, pengakuan, dan kekuasaan.
6.      Conventional (Konvensional). Tipe ini adalah orang-orang yang menghadapi lingkungan dengan memilih tujuan dan kegiatan yang membawa persetujuan sosial. Pendekatan mereka terhadap masalah adalah stereotip, benar, dan tidak orisinal. Mereka menciptakan kerapihan, ramah, terkesan konservatif. Mereka lebih memilih tugas yang berhubungan dengan ketatausahaan/administrasi dan tugas komputasional, teridentifikasi dengan bisnis, dan menempatkan nilai tinggi pada sikap ekonomis. Mereka melihat diri mereka sebagai pribadi yang maskulin, cerdas, dominan, dikendalikan, kaku, dan stabil dan memiliki lebih matematis dari bakat verbal.
Menurut Holland, seseorang digolongkan ke dalam salah satu kategori melalui ungkapan atau menunjukkan minat atau ketertarikan pada pekerjaan atau pendidikan, melalui jabatan/pekerjaan, atau dengan skor yang diperoleh dari instrumen seperti inventarisasi Preferensi Kejuruan, The Strong Inventory, atau Self-Directed Search. Terakhir kali Holland mengembangkan  suatu instrumen yang terdiri dari judul kerja dan kegiatan yang dapat ia bagi rata di antara enam daerah tipe. Masing-masing metode penentuan jenis kepribadian menghasilkan skor.
Holland (1985, 1997) juga mengusulkan lingkungan kerja untuk keenam tipe tersebut yang dianalogikan dengan tipe kepribadian murni yang baru saja dijelaskan. Seperti telah dicatat, individu harus memilih lingkungan kejuruan/pekerjaan yang sesuai dengan kepribadian mereka untuk memaksimalkan kepuasan kerja dan prestasi. Lingkungan ini dijelaskan dalam bagian berikut:
1.      Lingkungan realistis berkaitan dengan konkrit, tugas-tugas fisik yang membutuhkan keterampilan mekanik, ketekunan, dan gerakan fisik. Hanya membutuhkan sedikit keterampilan interpersonal yang diperlukan. Pengaturan realistis umum termasuk stasiun pengisian, toko mesin, pertanian, sebuah situs konstruksi, dan toko tukang cukur.
2.      Lingkungan investigasi memerlukan penggunaan kemampuan abstrak dan kreatif daripada pandangan perspektif pribadi. Menuntut kinerja yang memuaskan imajinasi dan intelijen; prestasi biasanya membutuhkan rentang waktu yang cukup. Masalah yang dihadapi dapat bervariasi dalam tingkat kesulitan, tetapi mereka biasanya diselesaikan dengan menerapkan keterampilan intelektual dan alat-alat. Pekerjaan yang berputar di sekitar ide-ide dan hal ketimbang orang. Pengaturan umum termasuk sebuah laboratorium penelitian, konferensi kasus diagnosis; perpustakaan, dan kelompok kerja ilmuwan, matematikawan, atau insinyur penelitian.
3.      Lingkungan seni menuntut penggunaan kreatif dan penafsiran bentuk artistik. Salah satu harus dapat memanfaatkan pengetahuan, intuisi, dan kehidupan emosional dalam memecahkan masalah khas. Informasi dinilai terhadap pribadi, kriteria subjektif. Pekerjaan biasanya memerlukan keterlibatan intens untuk waktu lama. Keadaan lingkungan yang sesuai dengan tipe ini antara lain ruang latihan lakon/sandiwara, ruang konser, studio tari, kamar kerja, perpustakaan, dan seni atau studio musik.
4.      Lingkungan sosial menuntut kemampuan untuk menafsirkan dan memodifikasi perilaku dan minat manusia dalam merawat dan berinteraksi dengan orang. Pekerjaan yang memerlukan hubungan pribadi sering dan berkepanjangan. Resiko kerja yang terutama adalah aspek emosional. Situasi kerja umum termasuk ruang kelas sekolah dan perguruan tinggi, kantor konseling, rumah sakit jiwa, gereja, kantor pendidikan, dan pusat-pusat rekreasi.
5.      Lingkungan enterprising membutuhkan keterampilan verbal dalam mengarahkan atau meyakinkan orang. Pekerjaan yang membutuhkan pengaturan tepat/pengarahan, pengendalian, atau perencanaan kegiatan lain, dan ketertarikan/minat yang dangkal pada orang daripada di lingkungan sosial, sebagian besar yang minat/ketertarikan berpusat pada apa yang dapat mereka miliki dari orang. Situasi kerja umum termasuk arena mobil, kantor real estate, sebuah rapat umum politik, dan biro iklan.
6.      Lingkungan konvensional melibatkan sistematis, konkrit, pemrosesan rutin dari informasi verbal dan matematika. Tugas sering merupakan hal yang berulang, operasi siklus pendek menurut prosedur yang ditetapkan. Minimal keterampilan dalam relasi interpersonal dan hanya diperlukan karena pekerjaan kebanyakan melibatkan peralatan kantor dan bahan. Situasi kerja yang dibutuhkan seperti bank, sebuah perusahaan akuntansi, kantor pos, ruang file, dan kantor bisnis.



Kedudukan dan Penggunaan Teori Holland
Tujuan dari eksplorasi karir dan konseling menggunakan (1997) teori Holland adalah untuk membantu kelompok-kelompok klien dalam mengidentifikasi pekerjaan yang termasuk didalamnya para pekerja yang memiliki karakteristik kepribadian yang sama seperti mereka sendiri (kongruensi).
Proses ini, dalam semua kemungkinan, akan dimulai dengan penilaian tipe klien menurut Holland dengan menggunakan salah satu instrumen berikut: The Self Directed Search; The Strong Interest Inventory; The Harrington-O’Shea Career Decision-Making System; The Career Key; Wide Range Interest and Occupation Test

B.   Teori Penyesuaian Kerja (TWA)
Asumsi dasar dari TWA adalah bahwa orang memiliki dua jenis kebutuhan: kebutuhan biologis (atau kelangsungan hidup), seperti kebutuhan makanan; dan kebutuhan psikologis, seperti penerimaan sosial. Kebutuhan ini menimbulkan gerakan keadaan, yang pada gilirannya menyebabkan perilaku kehendak. Setiap kali hasil perilaku dalam kebutuhan terpuaskan, maka penguatan terjadi dan perilaku diperkuat.
Asumsi kedua adalah bahwa lingkungan kerja memiliki "persyaratan" yang analog dengan kebutuhan individu. Baik individu maupun lingkungan, keduanya mengembangkan mekanisme untuk memuaskan kebutuhan mereka. Ketika kebutuhan individu dalam lingkungan (kerja) dan orang-orang dari lingkungan terpuaskan, ada korespondensi.
Pekerja memilih pekerjaan karena persepsi mereka bahwa pekerjaan akan memenuhi kebutuhan mereka, dan pekerja dipilih karena persepsi bahwa keterampilan mereka akan memenuhi kebutuhan tempat kerja. Jika pola penguatan dari tempat kerja sesuai dengan pola kebutuhan kepuasan, maka kepuasan dan satisfactoriness terjadi. Kepuasan akan dihasilkan bila pekerja tersebut diperkuat. Pekerja akan dinilai memuaskan ketika mereka memperkuat pola kebutuhan lingkungan kerja. Masa, atau waktu yang dihabiskan di pekerjaan oleh para pekerja, adalah hasil dari kepuasan mereka dengan pekerjaan dan satisfactoriness dalam kinerja.
Tiga variabel-keterampilan, bakat, dan struktur kepribadian-dapat digunakan untuk memprediksi keberhasilan pekerja jika pola penguatan lingkungan kerja diketahui. Keterampilan yang dimaksud dalam persamaan prediktif adalah keterampilan yang berhubungan dengan pekerjaan individu yang dapat menawarkan lingkungan kerja. Bakat adalah potensi individu yang harus mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan oleh lingkungan kerja, dan struktur kepribadian individu ditentukan oleh kombinasi bakat dan nilai-nilai. Nilai ditentukan oleh kepentingan yang melekat pada kelas penguatan (misalnya, membayar, Fungsi kemandirian, dll). Gender dan status minoritas kelompok diasumsikan variabel penting dalam pengembangan struktur kepribadian dalam TWA.
Pada TWA, pengambilan keputusan dimulai dengan menganalisa nilai dan kemampuan, diikuti dengan menganalisa pola kemampuan dan pola nilai yang beberapa dari setiap pekerjaan. Pada akhirnya individu membandingkan semua pekerjaan yang dipertimbangkan dalam hal sejauh mana mereka dapat melakukan pekerjaan dengan memuaskan dan sejauh mana pekerjaan akan memenuhi kebutuhan mereka. Untuk memahami penyesuaian kerja, struktur lingkungan kerja dan karakteristik pekerja harus diketahui. Prediksi keberhasilan tergantung pada kecepatan, kecepatan, daya tahan, dan irama baik pekerja dan lingkungan kerja.
Kecepatan adalah kecekatan para pekerja terlibat daam lingkungan kerja mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pekerja sukses dengan cepat dan penuh semangat mencoba untuk memenuhi kebutuhan mereka sebelum meninggalkan pekerjaan. Selain itu, lingkungan kerja merespon dengan berbagai tingkat kecepatan ketika seorang pekerja tidak memuaskan. Dengan semangat yang individu dan lingkungan kerja, berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka menunjukkan kecepatan. Daya tahan digunakan di TWA untuk menunjukkan toleransi individu atau lingkungan kerja dalam menangani kondisi kerja yang tidak memuaskan atau pekerja dalam kasus lingkungan kerja. Rhythm (Irama) menunjukkan pola usaha (misalnya, mantap, tak menentu/tak teratur) oleh individu dan lingkungan kerja untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Faktor lain yang harus ia menganggap dalam proses penyesuaian untuk bekerja adalah apakah individu mengambil pendekatan aktif atau reaktif. Upaya aktif adalah mereka mencoba langsung untuk membuat lingkungan kerja lebih responsif terhadap kebutuhan pekerja. Ketika pekerja merespon kembali aktif, mereka mengubah diri mereka untuk merespon tuntutan yang dirasakan di tempat kerja. Sebagai contoh, pekerja yang reaktif mungkin mempertimbangkan kebutuhan yang mereka anggap penting dan menggantikan keamanan untuk bayaran tinggi. Beberapa orang memiliki toleransi lebih (tahan) dari yang lain untuk situasi tidak memuaskan dan dapat membuat serangkaian upaya reaktif dan aktif untuk membuat lingkungan menjawab kebutuhan mereka sebelum berakhir masa jabatan mereka dalam pekerjaan. Demikian pula, lingkungan kerja mungkin memiliki toleransi yang lebih besar atau lebih kecil untuk upaya memuaskan oleh pekerja. Pengembangan penyesuaian gaya kerja, termasuk pendekatan reaktif dan aktif, kecepatan, daya tahan, kecepatan, dan irama dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk karakteristik diwariskan, gender, dan latar belakang budaya.
Konselor yang ingin menerapkan TWA dalam pekerjaan mereka akan menemukan bahwa persediaan dan tes yang tersedia untuk mengukur konstruk teoritis dari teori (Dawis, 1996). Dua sisi, Kuesioner Kepuasan Minnesota dan Skala Kepuasan Minnesota, dapat digunakan untuk mengukur kepuasan dan kepuasan kerja, secara berturut-turut. The Minnesota Importance Questionnaire dapat digunakan untuk mengukur preferensi kebutuhan, dan The Minnesota Ability Test Battery dapat digunakan untuk mengukur bakat. Occupational Reinforcer Patterns adalah inventori yang dapat digunakan untuk mengukur pilihan untuk pola dari penguatan.
      


       Kedudukan dan Penggunaan TWA
                   TWA bukan teori yang dipraktekkan secara luas, mungkin karena kompleksitasnya. Namun, memiliki banyak kesamaan dengan teori Holland dalam keadan objektif dari proses yaitu membantu kelompok-kelompok klien sesuai dengan bakat mereka dan nilai-nilai pekerjaan dengan pekerjaan yang memberikan kemampuan yang sesuai pola kemampuan kerja dan pola penguatan kerja. Holland (1997) menggunakan istilah kongruensi untuk menunjukkan ketika seorang individu memilih sebuah pekerjaan yang cocok dengan tipe kepribadian nya. Di TWA, istilah ini dikenal dengan korespondensi.

No comments:

Post a Comment