Sunday, May 12, 2013

# Download E-book Bimbingan dan Konseling Kelompok #




Silahkan download e-book Bimbingan dan Konseling Kelompok, semoga bermanfaat....

Download melalui link di bawah ini :



# Download E-book Teori dan Praktek Konseling #




Silahkan download e-book Teori dan Praktek Konseling, semoga bermanfaat....

Silahkan download melalui link di bawah ini :

Tuesday, May 7, 2013

Download E-Book Konseling Karir

Silahkan download e-book "Understanding Career Counseling" (Konseling Karir), semoga bermanfaat....


Silahkan download melalui link dibawah ini :



Saturday, April 27, 2013

# 5 Tips Memilih Jurusan Kuliah yang Tepat #

Menentukan jurusan kuliah termasuk salah satu keputusan besar dalam kehidupan seseorang. Pasalnya, keputusan tersebut biasanya berpengaruh besar bagi perjalanan karier dan masa depan seseorang.

Jadi, bagaimana caranya memilih jurusan yang tepat?

Melalui Indonesia Mengglobal, Alicia Kosasih berbagi tips praktis. Kandidat BSBA Boston University di bidang Ilmu Lingkungan dan Kebijakan Publik itu mencatat ada lima hal penting yang harus diperhatikan untuk memilih jurusan yang sesuai dengan bakat dan minat seseorang.


"Deciding Your Major: Finding Your Own Equilibrium of Academic Life"

Hello everyone!

Perkenalkan, nama saya Alicia Kosasih, but you can call me Alicia for short. Saat ini saya adalah sophomore (murid tahun kedua) di Boston University dengan jurusan Finance dan Operations & Technology Management.  Ketika saya menulis artikel ini, cuaca Boston lagi bagus-bagusnya. Musim dingin tahun ini boleh dibilang cukup hangat dan jarang banget (boleh dibilang hampir ngga pernah) turun salju. Bandingkan dengan tahun lalu dimana di waktu siang-siang bolong aja cuacanya bisa mencapai -10 derajat Celcius dan tinggi tumpukan salju yang turun mencapai lebihdari 17 inci .. astaga!

Mungkin banyak dari kalian yang bingung kenapa saya memulai tulisan ini dengan random blabbing saya tentang musim dingin. Bagi saya, sangatlah penting untuk memilih major (jurusan) yang tepat. Ibaratnya, don’t be like seasons which always constantly change. And you want to have your college days bright and sunny instead of dark gloomy days like in the winter – only because you ended up picking the wrong major.

Bagi sebagian besar dari kita, menentukan jurusan mungkin jadi salah satu keputusan terbesar yang harus kita buat ketika kita akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, baik itu langsung masuk ke Universitas atau menempuh jalur 2+2 di Community College.  In my perspective, jurusan yang nantinya akan kita tekuni itu akan menjadi suatu framework yang akan mengubah hidup kita secara keseluruhan. Seiring kamu menekuni suatu bidang, banyak hal yang akan berubah,. Mulai dari cara pandang kamu melihat dan memecahkan suatu masalah, networks yang akan kamu bangun seiring kuliah, level of exposure terhadap suatu bidang yang harus kamu hadapi setiap hari, bahkan bagaimana kamu akan mengisi sebagian dari waktu luangmu! Di artikel ini, saya akan berusaha share apa saja faktor-faktor yang harus kita pertimbangkan saat memilih jurusan dan juga apa yang bisa kamu lakukan setelah kamu udah menentukan pilihan. So…here we go!

1. How can I decide my major?

If I can only answer this question in three words, my answer will be: Know yourself better.

Saya sepenuhnya percaya bahwa hanya diri kita yang paling mengerti apa yang terbaik buat kita. Disini, I think this will be a good time for me to reveal a bit more about myself. Ketika saya diterima di Boston University, Finance dan Operations & Technology Management bukanlah jurusan pilihan awal saya. Can anyone guess what was my initial choice was? Hampir semua teman-teman yang baru saya temui di Boston ngga pernah menyangka kalau dulunya saya adalah murid jurusan…Biochemistry. Ya, Biochemistry. Sangat berbeda kan sama bidang yang saya tekuni sekarang? Ketika saya memutuskan untuk beralih jurusan di tengah semester kedua, saya tahu bahwa itu merupakan salah satu keputusan terbesar yang pernah saya ambil. Sebuah pilihan yang akhirnya berhasil saya buat setelah mempertimbangkan banyak sekali hal. Namun, saya sama sekali tidak merasa menyesal dengan apa yang telah saya putuskan. Saya belajar dari pengalaman bahwa mampu mengenali what you actually want to do in future years is crucially essential for your future.  Here, it is no secret that switching majors are common practices among college students. Tapi saya merasa akan lebih baik kalau kamu memang udah mantap dengan pilihannya sejak awal, sehingga kamu bisa menyusun rencana-rencana yang akan kamu lakukan selama kuliah.

Lantas apa saja faktor yang harus kamu pertimbangkan ketika akan memilih jurusan? Bagi saya, ada lima faktor utama yang tidak boleh ditinggalkan ketika kamu akan membuat keputusan: Passion, Talent, Motivation, Personal Values, and Future Expectations. Let’s go through each one of them briefly, shall we?

Passion
Menurut saya, passion adalah salah satu faktor yang paling penting ketika kita mau memilih suatu jurusan. Bayangkan kalau kamu harus stuck menekuni jurusan yang sama sekali tidak kamu sukai selama empat tahun! Isn’t that a torture? Tentunya itu bukan sesuatu yang mau kamu alami di masa-masa kuliah. Your four years of college should be the times when you shape your identity, integrity, and perspectives on world issues. Waktu kuliah akan sama sekali jadi ngga menarik kalau kamu melakukannya karena terpaksa.

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang bisa kamu jadikan sebagai checklist. Bukan hal yang mudah, memang, untuk menentukan satu jurusan yang bisa accommodate all our wishes, tapi semoga beberapa pertanyaan ini bisa membantu kamu:

– Kegiatan apa yang menarik bagi kamu untuk berpartisipasi di dalamnya?
Sama halnya seperti kebanyakan Universitas di Indonesia, semua perguruan tinggi di Amerika punya beragam gerakan mahasiswa di lingkungan kampusnya. Di kampus saya, Boston University, ada lebih dari lima ratus (ya, lima ratus!) student organizations and movements yang bisa kamu ikuti. Jangan takut kalau kamu merasa pilihan jurusan kamu tergolong eksentrik, seperti misalnya criminal justice, entomology, atau public policy. Salah satu keunggulan pendidikan di Amerika menurut saya is its limitless choice of majors.  Apapun jurusan yang muncul di pikiran kamu, biasanya pasti akan ada universitas disini yang menyelenggarakan program seperti itu. Budaya student organizations di Amerika juga sangat kuat, dan biasanya mereka punya peranan yang penting dalam membangun koneksi juga pengetahuan berdasarkan major yang kamu geluti.

 – Ketika kamu nonton TV, baca majalah, atau bolak-balik artikel di koran, artikel apa yang paling menarik buatmu?
This is no joke. Hobi baca berita tentang celebs or juicy gossips bisa dipandang dari sisi positif loh! Entertainment aside, bisa saja itu artinya kamu tertarik di bidang pertelevisian dan jurnalistik. Seperti yang saya gambarkan sebelumnya, U.S. Education System has every single major you can ever think of. Salah satu program paling populer di kampus saya adalah jurnalisme dan pertelevisian – dan tentunya kita tahu bahwa Amerika punya salah satu pusat industri perfilman termaju di dunia. Buat saya, salah satu cara paling gampang mengenali interest kita adalah berita apa yang pertama kali kita buka ketika kita lagi browsing for news, regardless of whether it is on the web, TV, radio, magazines, or papers.  This might be a good way to start identifying your personal interest in a specific major.

– Apa kamu tipe orang yang suka bekerja sendiri atau suka bekerja dalam kelompok?
Apa kamu merasa kamu lebih nyaman bekerja sendiri, atau kamu suka bekerja sama kelompok dan terlibat dalam banyak team projects? Tentunya hal ini bergantung banget sama each person’s personality. Sama seperti di Indonesia, business, hospitality, and communication majors do massive amount of teamwork assignments dan pure science majors such as Physics, Biology, or Chemistry lebih banyak menekankan ke pemahaman teori. Atau mungkin kamu suka menghabiskan waktu melakukan banyak eksperimen di lab? If that is the case, biomedical engineering, electrical engineering, biochemistry, or food science might suit you well. Saya rasa faktor ini juga cukup penting, karena semakin tinggi level kelas yang harus diambil nantinya, semakin spesifik apa saja deliverables yang harus kamu selesaikan in order to pass the course. Kamu bakal banyak encounter projects, researches and group assignments, which means you’ll spend most time either working alone or in groups.

– Apa pelajaran favoritmu di SMA?
This is definitely the easiest parameter for everyone. Nah, mungkin disini waktunya buat saya untuk share soal breaking the stereotype. Mungkin banyak dari kita yang berpikir kalau SMA-nya masuk jurusan IPA, waktu kuliah harus ambil jurusan yang berbau IPA, and IPS-wise. Dulu saya termasuk dalam orang-orang yang percaya ke kategori ini. That is not a rule! Realitanya, banyak kok mereka-mereka yang memilih jurusan yang sama sekali berbeda dengan apa yang mereka pelajari pas SMA. IPA people doing business majors are a classic example. Bahkan, sepupu saya dulunya merupakan lulusan Jurnalistik ketika ia selesai dengan undergraduate studiesnya. Guess what she did for her masters? Ahli anestesi. Terdengar ajaib ya. She gave me a real life example that as long you have the determination to do whatever you want, nothing is impossible. Jadi, jangan memandang IPA-IPS sebagai ‘patokan harga mati’ yang nantinya membatasi pilihan jurusan kamu. Still, it is a good question to help you decide.

– What does your dream job look like?
Tentunya semua orang punya ekspektasi ideal tentang dream jobnya. Nah, impian kamu ini bisa kamu jadikan sebagai motivasi dalam memilih jurusan. Isn’t it fun when you do things that might lead you to achieve your dream?

Talent
Coba kamu nilai dirimu sendiri dalam hal performance dan prestasi di sekolah. As you might have known, college level courses will give you lots of assignments and readings due, jadi pastinya kamu juga harus lebih bisa me-manage waktu dan kemampuan kamu supaya nggak ada tugas yang keteteran. Try asking yourself, hal apa aja yang udah kamu berhasil lakukan di sekolah, baik itu dari sisi akademis maupun non-akademis seperti OSIS, jadi event organizer untuk sports competition, ketua dari fund raising project, atau misalnya pernah menjabat jadi ketua klub di sekolah kamu. Penghargaan apa yang pernah kamu raih, dan di bidang apa? Apa kamu merasa kamu lebih baik dalam mengerjakan suatu bidang, seperti misalnya mendesain eksperimen, solve numerical problems, mendesain softwares and applications, meliput berita, membangun small businesses, atau communicating with other people? Selain itu, kebiasaan kamu belajar juga boleh jadi bahan pertimbangan. Apa kamu tipe yang lebih suka keluar dan berkomunikasi dengan orang lain atau sanggup duduk berjam-jam dan menyelesaikan assignments sendiri? Biarpun kesannya hal-hal ini kurang ada kaitan dengan memilih jurusan, sebenarnya menurut saya ini juga lumayan penting. It is undeniable that people in general will perform better in a specific field if they have a talent in it (with a dash of motivation and passion, of course.)

Motivation
In my perspective, motivation is one of the driving forces of life. Sulit rasanya buat saya kalau disuruh membayangkan kuliah tanpa motivasi, tanpa tujuan, tanpa arah yang jelas setelah lulus kita mau apa. Selama ini saya sempet ketemu beberapa teman disini yang hampir setiap hari mengeluh mereka udah nggak punya motivasi lagi untuk kuliah. Alasannya sederhana: mereka merasa salah pilih jurusan. You will not ever, ever want that to happen. Ketika kamu berhasil membuat beberapa nominasi jurusan yang kamu minati, coba kamu bertanya pada diri sendiri: apa yang memotivasi kamu untuk memilih jurusan itu? Apakah pilihan kamu murni didasari oleh minat, bakat, dan personal values kamu? Atau kamu memilih jurusan itu hanya semata-mata tekanan dari orang tua atau teman-teman sekitar? Tentunya kamu pasti pernah mendengar orang-orang yang akhirnya end up di jurusan yang kurang mereka sukai, hanya karena sebagian besar teman-teman dekatnya memutuskan mau mendalami jurusan itu.

Second, kadang-kadang alasan kita memilih satu jurusan itu is simply based on public opinion that this major you’re considering is the “right” thing to do. Menanggapi pemikiran ini, mungkin saya akan counter dengan jawaban, “apa yang menurut sebagian besar orang benar, belum tentu itu pas dengan apa yang sebenarnya saya mau dan butuh, kan?” it all goes back to knowing yourself better. One thing to keep in mind though, motivasi menurut saya adalah salah satu faktor terpenting yang harus kamu pikirkan. Kamu harus yakin dan bisa pastikan bahwa motivasi itu bakal tetap menyala selama kamu melewati empat tahun menggeluti bidang tersebut.

Personal Values
Now let’s think about some values and principles that are guiding your life and orchestrates the way you see the world. Disini, mungkin konsep yang mau saya share bakal lebih gampang kalau langsung digambarkan dengan contoh. For example, take Environmental Science. Buat saya, contoh ini menarik karena bidang ini adalah salah satu bidang yang banyak menggabungkan ilmu eksakta dan moral values dalam analisisnya. When we were discussing on issues of development, the concept of urbanization came up. In order for an urban area to expand and grow, some lands and trees need to be sacrificed so buildings can be constructed. Jika kamu diberi dua pilihan antara menghilangkan daerah hijau supaya pembangunan bisa terus maju atau mempertahankan lahan alami tersebut, mana yang akan kamu pilih? Bagi sebagian orang, mungkin bagi mereka urbanisasi lebih penting, dan mereka ngga keberatan kalau pohon-pohon ditebang semua. Akan tetapi, ada pihak yang lebih mementingkan adanya lahan hijau. Believe it or not, personal values juga punya peranan penting ketika kamu nanti terjun ke suatu jurusan. Apa yang menurut kamu adalah benar, bisa jadi sebaliknya di beberapa jurusan. Tentunya bakal sulit bagi kita untuk menjalani suatu jurusan yang nilai-nilainya kurang sesuai dengan personality  & personal values kita. Try to make your personal values match with the requirements and outcomes of your potential major (and future career as well.)

Future Expectations (& Realities)
Buat saya, mencari keseimbangan di faktor ini yang paling sulit. And this is simply because it is often when we found a balance between motivation, talent, and passion, reality tends to move in an opposite direction. I have three classic examples for this. Pertama, ada dari kita yang sangat tertarik sama suatu major, tapi dia sadar bahwa kemampuannya kurang cocok untuk mendalami bidang itu. Kedua, ada lagi orang-orang yang sebenarnya punya kemampuan yg cukup di suatu bidang, tapi mereka nggak begitu tertarik untuk ambil major tersebut.  Dan yang ketiga, ada kasus dimana seseorang punya kemampuan dan minat, tapi mereka tahu bahwa kesempatan untuk berkarir di bidang ini (and earn sufficient amount of money) sangat tipis, khususnya di Indonesia setelah ia pulang dari Amerika. To be honest, this is still a puzzle I’m trying to solve. Buat yang satu ini, mungkin bahan pertimbangan terbaik adalah bagaimana kamu membayangkan masa depanmu sendiri. Apa kamu akan kembali ke Indonesia setelah kamu lulus, atau kamu berencana stay di Amerika, atau kamu ingin menempuh karir di negara lain? Setiap negara biasanya punya employment chance and preferences yang cukup spesifik.  Oleh karena itu, apa rencana kamu di masa depan bisa dijadikan hal penyeimbang dengan keputusan kamu terhadap a certain major.


2. I've made my decision! (…or maybe not.) What can I do next?

Kalau kamu akhirnya berhasil come up with one major or two of your choice, hal termudah pertama yang bisa kamu lakukan adalah browse universities atau colleges yang bisa mengakomodasi pilihan kamu. Google-ing for information is a good way to start, selain bertanya ke senior atau teman-teman yang tahu uni/college apa menyediakan jurusan apa. Biasanya ketika kamu apply, kamu akan punya opsi untuk segera menyatakan (declare) major kamu atau opsi undecided (belum memutuskan). Bagi saya, gunakan opsi yang kedua hanya jika kamu benar-benar have no idea of what to do.

Sebenarnya ada keuntungan kalau kamu sampai akhirnya memilih undecided. Positifnya, kamu diberi kebebasan selama 2 tahun pertama untuk mengeksplor berbagai macam pelajaran yang nantinya akan masuk sebagai elective requirements kamu (saya yakin pasti nanti bakal ada contributor lain yang membahas sistem grading & course requirements di Amerika). Negatifnya, terkadang kebebasan yang kamu pegang ini bisa jadi temptation untuk hilang fokus dan akhirnya sulit saat kamu harus menentukan jurusan. Biarpun kebanyakan “pelajaran resmi” dari jurusan kamu kebanyakan dimulai dari akhir tahun kedua, hampir semua jurusan pasti mewajibkan kamu mengambil semacam introductory course sebelum kamu enroll ke mata kuliah yang levelnya lebih tinggi. Kalau kamu mengambil bermacam-macam elective tanpa framework yang jelas, hal yang paling ditakutkan adalah pada saat nantinya kamu harus menentukan jurusan, bakal sulit bagi kamu karena banyak pelajaran wajib yang seharusnya kamu ambil, tapi belum kamu pelajari. Which means you will eventually spend more semesters catching up mandatory courses, and that indirectly translates to more money spent, and more time spent.

It is still possible for you to change majors before you hit junior (third) year, tapi menurut saya ada baiknya kamu tidak sampai harus mengambil keputusan seperti itu. Di awal artikel ini, I admitted that I indeed switched my major on the second semester, dari Biochemistry ke Finance dan Operations & Technology Management. Konsekuensi yang harus saya terima adalah semua Biology & Chemistry courses yang dulunya merupakan required courses untuk Biochem major, dialihkan menjadi elective requirements untuk Business major. Secara hitungan minimum credits, sebenarnya saya ngga dirugikan sama sekali karena ngga ada satu courses pun yang mubazir. Tapi, saya harus mengambil beberapa required introductory courses supaya saya bisa pindah ke School of Management dan ambil higher level business courses. As a result, saya tertinggal satu semester dari rekan-rekan saya yang sudah mantap memilih business majors sejak semester pertama mereka.

Deciding your major is easy if you set a specific goal and you’re willing to make it happen. Find that perfect balance between passion, motivation, talent, personal values, & future expectations. You’re the only one who knows you best. Pick the right major, love it with all your will, and enjoy your fours years of college experience!


I’m absolutely open to comments and questions. Kalau kamu punya kritik apapun atau pertanyaan soal memilih jurusan, silahkan jot something down on the comment box! I’ll try my best to help and improve on my future articles. Semoga artikel ini berguna buat siapapun yang udah meluangkan waktu buat membacanya. Thanks, and until next time! – Alicia

 
Editor :
Caroline Damanik

# Anak Terlalu Banyak Kursus Rentan Stres #

Saat ini, orang tua punya kecenderungan untuk memasukkan anak ke berbagai kursus baik itu yang berbau akademik hingga seni budaya dan olahraga. Namun terkadang hal itu hanya diikuti oleh ambisi orang tua saja tanpa memperhatikan minat dan keinginan si anak sehingga berbagai kursus tersebut hanya berhasil membuat lelah si anak saja.

Psikolog LPT UI, Wita Mulyani, mengatakan bahwa sebelum memasukkan anak ke sebuah tempat kursus, orang tua harus melihat potensi tumbuh kembang dan hobi anak. Pasalnya, saat usia Sekolah Dasar (SD) anak-anak justru menunjukkan jelas minatnya dan jujur mengatakan apa yang disukainya.

"Bisa tanya langsung ke anak kemudian dibandingkan dengan potensi yang terlihat saat tumbuh kembang," kata Wita saat Diskusi tentang Pendidikan STEM di FX Lifestyle Center, Jakarta, beberapa waktu lalu.

"Jadi orang tua jangan hanya shopping kursus buat anak saja. Sesuaikan dengan minat anak dan lihat manfaatnya ke depan," imbuh Wita.

Ia mengakui bahwa selama ini anak-anak yang kursus di banyak tempat dengan beragam bidang sering merasa tertekan. Ada bidang tertentu yang disukainya tapi sisanya adalah hal-hal yang tidak disukai sehingga berakibat anak-anak mengalami stress usia dini.

"Saya pernah bertanya pada anak-anak yang kursus di banyak tempat apakah mereka merasa nyaman atau tidak, ternyata sebagian besar merasa tidak karena mengikuti orang tua saja," ungkap Wita.

"Sekali lagi, agar kursus tersebut membawa pengaruh bagi anak, pilih yang sesuai minat dan bakat saja. Jadi jangan kebanyakan les juga," tandasnya.

# Pahami 17 Mata Pelajaran, Baru Pilih Jurusan #



Ketika masuk SMA, siswa menghadapi pilihan masuk jurusan IPA atau IPS. Penjurusan ini biasanya berdasarkan minat dan pilihan siswa, walaupun ada yang masuk jurusan tertentu karena nilainya bagus atau atas saran orangtua dan guru.

Bagi siswa, apa pun jurusan yang mereka pilih harus sesuai dengan minat mereka. Alasannya, jika sesuai dengan minat, mereka akan lebih mudah mempelajari materi pelajaran. Sekalipun nilai mereka cukup dan bagus untuk masuk jurusan tertentu, tetapi jika jurusan itu bertentangan dengan minat, mereka pun bakal kesulitan.

”Pilihan itu harus sesuai dengan minat dan kemampuan siswa karena mereka yang menjalani. Penjurusan biasanya terkait pilihan melanjutkan studi setelah SMA,” kata Adinda Putri (15), siswa kelas X SMA Negeri 6 Bulungan, Jakarta Selatan, Rabu (24/4). Dia berencana masuk IPA karena ingin kuliah di fakultas kedokteran.

Rekannya, Mutiara Airin (15), sejak awal ingin masuk IPS. Alasannya, dia suka dengan pelajaran-pelajaran IPS. ”Dari awal saya tidak ingin belajar di IPA,” kata Airin.

Begitu pula Indira Rizkita (15). Dia akan memilih IPS karena ingin kuliah di fakultas ekonomi. ”Saya pengin menjadi akuntan.”

Menurut Airin dan Indira, semula teman-teman mereka banyak yang ingin mengambil jurusan IPA karena menganggap lebih banyak pilihan untuk mengambil bidang studi selanjutnya. Namun, belakangan banyak pula yang berganti pilihan ke IPS.

”Pelajaran di bidang IPA ternyata makin sulit dan terasa berat. Itu menuntut kami belajar terus. Makanya banyak yang mau ke IPS karena lebih santai sedikit,” kata Airin.

Sebagai siswa tahun pertama SMA, siswa kelas X mendapat 17 pelajaran dalam satu semester, antara lain Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Biologi, Fisika, Kimia, Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Sejarah, Sosiologi, Ekonomi, Geografi, Bahasa Perancis, Komputer, dan muatan lokal.

Semua pelajaran itu menuntut mereka belajar setiap hari. Bagi mereka, ke-17 mata pelajaran itu sangat melelahkan.

Tahun kedua

Umumnya penjurusan pada SMA diberlakukan pada tahun kedua atau kelas XI. Pada semester kedua atau semester genap tahun pertama, siswa kian memahami pelajaran-pelajaran di SMA dan konsekuensinya ketika memilih jurusan.

”Usai tahun pertama, kami menjadi lebih yakin jurusan mana yang ingin diambil. Walau nilai kami bagus untuk masuk IPA, kami lebih senang pelajaran IPS. Jadi, kami yakin menetapkan pilihan IPS. Kalau tahun pertama harus memilih, kami masih bimbang,” kata Airin.

Namun, ada pula siswa yang memulai penjurusan pada semester kedua. Itu biasanya berlaku bagi siswa yang masuk kategori cerdas istimewa setelah melalui tes psikologi dan berdasarkan hasil jajak minat. Ini dilihat pula dari hasil nilai mereka, apakah cenderung ke IPA atau IPS.

Salah satu di antara mereka adalah Alif Syuhada Nibra (16), siswa kelas X A di SMAN 3 Setiabudi Jakarta. Sejak semester kedua, dia studi jurusan IPA, sesuai pilihannya sejak awal dan hasil tes psikologi tim dari Universitas Indonesia. Di SMA 3 Jakarta ada 30 siswa seperti Alif.

Nilai mereka selalu dalam pantauan agar bisa masuk jalur undangan ke perguruan tinggi. Selain itu, di kelas tersebut ada pula tutur sebaya. Jadi, siswa yang lebih pandai di bidang tertentu mengajari teman-temannya yang belum mengerti. Tujuannya agar semua anak mampu menyelesaikan materi berbarengan. Alhasil mereka sanggup menuntaskan materi pelajaran satu setengah kali lebih cepat dari kelas biasa.

”Itu pilihan Alif, saya tinggal mendukung. Minggu lalu, dia ikut lomba water rocket di PP Iptek Taman Mini Indonesia Indah (Jakarta),” kata ibunda Alif, Yenni (41), Kamis (25/4).

Mendukung pilihan anak juga menjadi keputusan Erry Martini saat anak sulungnya studi di SMA Negeri 81 Jakarta Timur. Walau dia dan suami ingin sang anak masuk jurusan IPA, mereka menuruti dan mendukung pilihan si anak masuk IPS.

”Apa pun pilihan dia, pasti sesuai kemampuannya. Anak itu lebih mampu menilai kemampuan dirinya sendiri. Kami, orangtua, tidak menentang apalagi menyesalkan pilihan dia,” kata Erry tentang si sulung yang kini kuliah di bidang perbankan.

Guru yang mengetahui kemampuan akademis siswa juga menyerahkan pilihan jurusan sesuai minat setiap siswa. Guru hanya menyarankan setelah melihat dan menilai siswa.

”Pernah ada siswa yang memilih IPS, tetapi karena pintar dan nilai-nilainya memenuhi syarat untuk masuk IPA, guru menyarankan dia pindah jurusan. Ternyata dia mampu. Ada pula yang sebaliknya, setelah studi jurusan IPA lalu pindah ke IPS,” kata Endang Supriastuti, guru Bahasa Inggris di Sekolah Atlet Ragunan Jakarta Selatan. Di sekolah itu, semua guru merangkap mengajar SMP dan SMA.

Sekolah kejuruan

Lain halnya siswa SMK. Mereka memilih penjurusan sejak awal masuk. Jadi, sejak semester pertama tahun pertama, mereka sudah belajar di jurusan yang diinginkan.

”Tetapi itu sesuai minat siswa, bukan pilihan orangtua, teman atau atas saran guru,” kata Desi Apritasari (17), siswa kelas III SMK Negeri 16, Jakarta. Dia mengambil jurusan akuntansi.

Sama halnya dengan Neni Indriani (17) dan Filia (17). Mereka memilih jurusan sejak kelas awal di SMK. Selepas SMP mereka menetapkan jurusan yang mereka idamkan.

”Penjurusan di SMK berbeda dengan SMA. Setiap SMK memiliki jurusan sendiri, misalnya SMK Pariwisata punya jurusan berbeda dengan SMK Teknik walau sama-sama jurusan bisnis,” kata Desi.

Kurikulum

Penjurusan pada SMA di Indonesia berbeda masa, berbeda kurikulum, dan berbeda pula namanya. Pada masa Orde Lama tahun 1950-an, SMA dibagi tiga, yakni SMA A (Bahasa), SMA B (Ilmu Pasti dan Ilmu Alam), dan SMA C (Ilmu Sosial).

Dekade berikutnya berubah menjadi semua SMA membuka ketiga jurusan tersebut. Jadi, setiap SMA ada jurusan Bahasa, IPA, dan IPS.

Kemudian penjurusan itu berubah lagi menjadi A1 (Fisika), A2 (Biologi), A3 (Sosial), dan A4 (Bahasa) pada tahun 1980-an. Selanjutnya berubah lagi menjadi IPA dan IPS. Pada Kurikulum 2013, penjurusan tersebut disebut peminatan. (IDA SETYORINI)
 
Sumber :
Kompas Cetak

Saturday, October 13, 2012

Schedules of Reinforcement


Schedules and Patterns of Response
Patterns of response develop as a result of the organism interacting with a schedule of reinforcement (Ferster & Skinner, 1957). These patterns come about after an animal has experience with the contingency of reinforcement (SD : R Sr arrangement) defined by aparticular schedule. Subjects are exposed to a schedule of reinforcement, and, following an acquisition period, behavior typically settles into a consistent or steady-state performance (Sidman, 1960). It may take many experimental sessions before a particular pattern emerges, but once it does, the orderliness of behavior is remarkable.
The first description of schedule performance was provided by B. F. Skinner (1938) in his book, The Behavior of Organisms. In the preface to the seventh printing of that book, Skinner writes that “the cumulative records . . . purporting to show orderly changes in the behavior of individual organisms, occasioned some surprise and possibly, in some quarters, suspicion” (p. xii).Anysuspicion was put to rest when Skinner’s observations were replicated in many other experiments (see Morse, 1966, for a review of early work on schedules of reinforcement). The steady-state behavior generated when a fixed number of responses is reinforced illustrates one of these patterns. For example, a hungry rat might be required to press a lever 10 times to get a food pellet. Following reinforcement, the animal has to make another 10 responses to produce the next bit of food, then 10 more responses, and so on. In industry this requirement is referred to as piece rate. When organisms (rat, pigeon, or man) are reinforced after a fixed number of responses, a pause-and-run pattern of behavior develops. Responses required by the schedule are made rapidly and result in reinforcement. Following each reinforcement, there is a pause in responding, then another quick burst of responses. (See the section on fixed ratio later in this chapter for more detail.) This pattern repeats over and over and occurs even when the size of the schedule is changed. A pause-and-run pattern has been found for many species including horses (Myers & Mesker, 1960), chickens (Lane, 1961), a vulture (Witoslawski, Anderson, & Hanson, 1963), and children (Orlando & Bijou, 1960).
Schedules and Natural Contingencies
In the everyday environment, behavior is often reinforced on an intermittent basis. That is, operants are reinforced occasionally rather than each time they are emitted. Every time a child cries, he or she is not reinforced with attention. Each time a predator hunts, it is not successful. When you dial the number for airport information, you get through sometimes, but often the exchange is busy. Buses do not immediately arrive when you go to a bus stop. It is clear that persistence is often essential for survival, and therefore being able to account for such behavior on the basis of the schedule that maintains it is a major discovery. In concluding his review of schedule research, Dr. Michael Zeiler (1977) states: it is impossible to study behavior either in or outside the laboratory without encountering a schedule of reinforcement: whenever behavior is maintained by a reinforcing stimulus, some schedule is in effect and is exerting its characteristic influences. Only when there is a clear understanding of how schedules operate will it be possible to understand the effects of reinforcing stimuli on behavior. (p. 229)
Consider a bird foraging for food. The bird turns over sticks or leaves and once in a while finds a seed or insect. These bits of food occur only every now and then, and the distribution of reinforcement is the schedule that maintains the animal’s foraging behavior. If you were watching this bird hunt for food, you would probably see the animal’s head bobbing up and down. You might also see the bird pause and look around, change direction, and so on. This sort of activity is often attributed to the animal’s instinctive behavior patterns. However, labeling the behavior as instinctive does not explain it. Although biology certainly plays some role in this episode, perhaps more importantly, so does the schedule of food reinforcement.
Dr. Carl Cheney and his colleagues created a laboratory analog of foraging that allowed pigeons to choose between two food patches by pecking keys (Cheney, Bonem, & Bonem,1985). The density of food available from pecking either key was based on two concurrent progressive ratio schedules of reinforcement that increased or decreased with the amount of foraging. As reinforcers were removed from one patch, they became more scarce and therefore required more responses to produce; this was a progressively increasing ratio schedule (or depleting patch of food). Concurrently, the number of responses for each reinforcement decreased in the other patch (or a repleting patch of food). As would be expected, this change in reinforcement density up and down generated switching back and forth from patch to patch as density decreased and increased. However, in order to change patches, the center key had to be pecked, which simulated travel time and effort between patches (the side keys). The researchers found that the cost of hunting (the schedule of reinforcement for pecking) in a patch, the effort (number of responses) required to change patches, and the rate of replacement in the alternative patch all contributed to the likelihood that an animal would change patches. This research is an interesting laboratory model of animals foraging in the wild that uses schedules of reinforcement to simulate several natural contingencies. Schedules of intermittent reinforcement play an important role in the regulation of human social interaction. In this case, the behavior of one person affects what another individual does and vice versa. For example, Paul asks his friend Erin, who is looking out the window, if the pizza delivery person has arrived yet. The operant is Paul’s question, “Is the pizza here?” Reinforcement for the question is the reply from Erin. Importantly, Erin’s reply is not certain and depends on many factors. Erin may not hear the question; she may be preoccupied with other things; she may have just had an argument with Paul and refuse to talk. No matter what the reason, Paul’s question may not be reinforced on this occasion. Of course, most of the time Erin answers when asked a question. This means that Paul’s verbal behavior is on an intermittent schedule of social reinforcement. Thus, one reason schedules are important is that they approximate some of the complex contingencies that operate with humans in the everyday environment. This type of interactive verbal conversation is cleverly simulated with pigeons in the video Cognition, Creativity and Behavior (Baxley,1982).

Reinforcement and Extinction of Operant Behavior


Operant Behavior
Operant behavior is commonly described as intentional, free, voluntary, or willful. Examples of operant behavior include conversations with others, driving a car, taking notes, reading a book, and painting a picture. From a scientific perspective, operant behavior is lawful and may be analyzed in terms of its relationship to environmental events. Formally, responses Reinforcement and Extinction of Operant Behavior that produce a change in the environment and increase in frequency due to that change are called operants. The term operant comes from the verb to operate and refers to behavior that operates on the environment to produce consequences that in turn strengthen the behavior. The consequences of operant behavior are many and varied and occur across all sensory dimensions. When you turn on a light, dial a telephone, drive a car, or open a door, these operants result in visual clarity, conversation, reaching a destination, and entering a room. A positive reinforcer is defined as any consequence that increases the probability of the operant that produced it. For example, pretend that your car will not start, but when you jiggle the ignition key it fires right up. Based on past reinforcement, the operant—jiggling the key—is likely to be repeated the next time the car won’t start.
Operants are defined by the consequences they produce. Thus, opening the door to reach the other side is the operant, not the physical movement of manipulating the door. Operants are a class of responses that may vary in topography. Topography refers to the physical form or characteristics of the response. Consider the number of different ways you could open a door—you may turn the handle, push it with your foot, or (if your arms are full of books) ask someone to open it for you. All of these responses vary in topography and result in reaching the other side of the door. Because these responses result in the same consequence, they are members of the same operant class. Thus, the term operant refers to a class of related responses that may vary in topography but produce a common environmental consequence (Catania, 1973).

Discriminative Stimuli
Operant behavior is said to be emitted in the sense that it often occurs without an observable stimulus preceding it. This is in contrast to reflexive responses, which are elicited by a preceding stimulus. Reflexes are tied to the physiology of an organism and, under appropriate conditions, always occur when the eliciting stimulus is presented. For example, Pavlov showed that dogs automatically salivated when food was placed in their mouths. Dogs do not learn the relationship between food and salivation; this reflex is a characteristic of the species. Stimuli may also precede operant behavior. However, these events do not force the occurrence of the response that follows them. An event that precedes an operant and sets the occasion for behavior is called a discriminative stimulus, or SD (pronounced esse-dee).

Contingencies of Reinforcement
A contingency of reinforcement defines the relationship between the events that set the occasion for behavior, the operant class, and the consequences that follow this behavior. In a dark room (SD), when you flip on a light switch (R), the light usually comes on (Sr). This behavior does not guarantee that the room will light up; the bulb may be burned out or the switch may be broken. It is likely that the light will come on, but it is not certain. In behavioral terms, the probability of reinforcement is high, but it is not absolute. This probability may vary between 0 and 100%. A high probability of reinforcement for turning the switch to the “on” position will establish and maintain a high likelihood of this behavior.
Discriminative stimuli that precede behavior have an important role in the regulation of operant responses (Skinner, 1969). Signs that read OPEN, RESUME SPEED, or RESTAURANT; green traffic lights, a smile from across the room, and so on are examples of simple discriminative stimuli that may set the occasion for specific operants. These events regulate behavior because of a history of reinforcement in their presence.Asmile from across a room may set the occasion for approaching and talking to the person who smiled. This is because, in the past, people who smiled reinforced social interaction. Each of these events—the occasion, the operant, and the consequences of behavior— makes up the contingency of reinforcement. Consider the example of this three-part contingency shown in Fig. 4.1. The telephone ring is a discriminative stimulus that sets the occasion for the operant class of answering the phone. This behavior occurs because, in the past, talking to the other party reinforced the operant. The probability of response is very high in the presence of the ring, but it is not inevitable. Perhaps you are in the process of leaving for an important meeting, or you are in the bathtub.
Discriminative stimuli regulate behavior, but they do not stand alone. The consequences that follow behavior determine the probability of response in the presence of the discriminative stimulus. For example, most people show a high probability of answering the telephone when it rings. However, if the phone is faulty so that it rings but you cannot hear the other party when you answer it, the probability of answering the phone decreases as a function of no reinforcement. In other words, you stop answering a phone that does not work.