Thursday, June 23, 2011

Teori Dan Pendekatan Konseling Behavior Theraphy



A.    SEJARAH PERKEMBANGAN
Konseling berkembang pertama kali di Amerika yang dipelopori oleh Jesse B.
Davis tahun 1898 yang bekerja sebagai konselor sekolah di Detroit.
Banyak factor yang mempengaruhi perkembangan konseling, salah satunya
adalah perkembangan yang terjadi pada kajian psikologis, mengungkapkan bahwa kekuatan-kekuatan tertentu dalam lapangan psikologis telah
mempengaruhi perkembangan konseling baik dalam konsep maupun teknik.
Aliran-aliran yang muncul dalam lapangan psikologi memberikan pengaruh yang
cukup besar terhadap perkembangan konseling, diantara aliran-aliran psikologi yang
cukup memberikan pengaruh terhadap perkembangan konseling adalah sebagai
berikut ; aliran strukturalisme (Wundt), Fungsionalisme (James), dan Behaviorisme (Watson).
Perkembangan koseling behavioral bertolak dari perkembanngan aliran
behavioristik dalam perkembangan psikologi yang menolak pendapat aliran
strukturalisme yang berpendapat bahwa mental, pikiran dan perasaan hendaknya
ditemukan terlebih dahulu bila perilaku manusia ingin difahami, maka munculah teori
introspeksi.
Aliran Behaviorisme menolak metode introspeksi dari aliran strukturalisme
dengan sebuah keyakinan bahwa menurut para behaviorist metode introspeksi tidak
dapat menghasilkan data yang objektif, karena kesadaran menurut para behaviorist
adalah sesuatu yang Dubios, yaitu sesuatu yang tidak dapat diobservasi secara
langsung, secara nyata. Bagi aliran Behaviorisme yang menjadi focus perhatian adalah perilaku yang tampak, karena persoalan psikologi adalah tingkah laku, tanpa mengaitkan konsepsi-konsepsi mengenai kesadaran dan mentalitas.
Pada awalnya behaviorisme lahir di Rusia dengan tokohnya Ivan Pavlov, namun pada saat yang hamper bersamaan di Amerika behaviorisme muncul dengan salah satu tokoh utamanya John B. Watson. Di bawah ini akan kami kupas beberapa tokoh behaviorisme :


1. Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)
Ivan Petrovich Pavlov adalah orang Rusia yang sangat dikenal dengan teori
pengkondisian klasik (classical conditioning) dengan eksperimennya yang menggunakan anjing sebagai obyek penelitian. Pengkondisian model Pavlov ini menyatakan bahwa rangsangan yang diberikan secara berulang-ulang serta dipasangkan dengan unsure penguat, akan menyebabkan suatu reaksi. Menurut Pavlov aktivitas organisme dapat dibedakan atas :
a.       Aktivitas yang bersifat reflektif ; yaitu aktivitas organisme yang tidak disadari
oleh organisme yang bersangkutan. organisme membuat respons tanpa disadari sebagai reaksi terhadap stimulus yang mengenainya.
b.      Aktivitas yang disadari ; yaitu aktivitas atas dasar kesadaran organisme yang
bersangkutan. Ini merupakan respons atas dasar kemauan sebagai suatu reaksi
terhadap stimulus yang diterimanya. ini berarti bahwa stimulus yang diterima
oleh organisme itu sampai pada pusat kesadaran, dan barulah terjadi suatu
respons. Dengan demikian maka jalan yang ditempuh oleh stimulus dan
respons atas kesadaran yang lebih panjang apabila dibandingkan dengan
stimulus-respons yang tidak disadari (respons reflektif). Psikologi yang digagas oleh Pavlov dikenal dengan psikologi reflek (psychoreflexiologi), karena Pavlov lebih memfokuskan perhatiannya pada aktivitas yang bersifat reflek.

Berikut adalah tahap-tahap eksperimen dan penjelasan dari gambar diatas:
Gambar pertama. Dimana anjing, bila diberikan sebuah makanan (UCS) maka secara otonom anjing akan mengeluarkan air liur (UCR).
Gambar kedua. Jika anjing dibunyikan sebuah bel maka ia tidak merespon atau mengeluarkan air liur.
Gambar ketiga. Sehingga dalam eksperimen ini anjing diberikan sebuah makanan (UCS) setelah diberikan bunyi bel (CS) terlebih dahulu, sehingga anjing akan mengeluarkan air liur (UCR) akibat pemberian makanan.
Gambar keempat. Setelah perlakukan ini dilakukan secara berulang-ulang, maka ketika anjing mendengar bunyi bel (CS) tanpa diberikan makanan, secara otonom anjing akan memberikan respon berupa keluarnya air liur dari mulutnya (CR).
Dalam ekperimen ini bagaimana cara untuk membentuk perilaku anjing agar ketika bunyi bel di berikan ia akan merespon dengan mengeluarkan air liur walapun tanpa diberikan makanan. Karena pada awalnya (gambar 2) anjing tidak merespon apapun ketika mendengar bunyi bel.
Jika anjing secara terus menerus diberikan stimulus berupa bunyi bel dan kemudian mengeluarkan air liur tanpa diberikan sebuah hadiah berupa makanan. Maka kemampuan stimulus terkondisi (bunyi bel) untuk menimbulkan respons (air liur) akan hilang. Hal ini disebut dengan extinction  atau penghapusan.
Pavlov mengemukakan empat peristiwa eksperimental dalam proses akuisisi dan penghapusan sebagai berikut:
1)      Stimulus tidak terkondisi (UCS), suatu peristiwa lingkungan yang melalui kemampuan bawaan dapat menimbulkan refleks organismik. Contoh: makanan
2)      Stimulus terkondisi (CS), Suatu peristiwa lingkungan yang bersifat netral dipasangkan dengan stimulus tak terkondisi (UCS). Contoh: Bunyi bel adalah stimulus netral yang di pasangkan dengan stimulus tidak terkondisi berupa makanan.
3)      Respons tidak terkondisi (UCR), refleks alami yang ditimbulkan secara otonom atau dengan sendirinya. Contoh: mengeluarkan air liur
4)      Respos terkondisi (CR), refleks yang dipelajari dan muncul akibat dari penggabungan CS dan US. Contoh: keluarnya air liur akibat penggabungan bunyi bel dengan makanan.


2. Edward Lee Thorndike (1874-1949)
Edward Lee Thorndike (psikolog amerika) lahir di Williamsburg pada tahun
1874. Karya-karyanya yang paling dikenal adalah penelitian mengenai animal psychology serta teori belajar Trial and error learning.
Thorndike menitikberatkan perhatiannya pada aspek fungsional perilaku yaitu bahwa proses mental dan perilaku berkaitan dengan penyesuaian diri organisme terhadap lingkungannya. Karena pendapatnya tersebut maka Thorndike diklasifikasikan sebagai behaviorist yang fungsional, berbeda dengan Pavlov yang behaviorist asosiatif dari hasil eksperimennya Thorndike menetapkan ada tiga macam hukum yang sering disebut dengan hukum primer dalam hal belajar, tiga hukum tersebut adalah :
a.       Hukum Kesiapan (The law of readiness)
Respon mudah terjadi  pada diri seseorang yang belajar apabila pada diri seseorang telah ada persiapan. Ada suasana yang mungkin terjadi:
1)      Organisme siap – diberkan stimulus – anak memberikan respon. Respon tingkah laku anak akan sepenuh hati sehingga memberikan kepuasan.
2)      Organisme siap – tidak diberi stimulus – anak tidak memberikan respon. Karena itu kemudian anak akan bertingkah laku lain untuk memenuhi ketidak puasannya.
3)      Organisme titak siap – diberi stimulus – anak memberikan respon dengan terpaksa. Dalam hal ini anak tidak puas dan akan melakukan tingkah laku lain untuk menekan paksaan yang ada.
b.      Hukum Latihan (The Law of exercise)
Respon terjadi bila sering dilatih dan sebaliknya respon lemah jika jarang dilatih.
c.       Hukum Efek (The Law of effect)
Respon yang diberikan seseorang  sangat tergantung dari akibat yang diberikan pada waktu yang lalu.
The law of readiness, adalah salah satu factor penting, karena dalam proses belajar yang baik organisme harus mempunyai kesiapsediaan, karena tanpa adanya
kesiapsediaan dari organisme yang bersangkutan maka hasil belajarnya tidak akan
baik.
Sedangkan hukum latihan the law of exercise Thorndike mengemukakan dua aspek yang terkandung di dalamnya yaitu ; 1). The law of use, 2). The law of disuse. The law of use adalah hukuk yang menyatkan bahwa hubungan atau koneksi antara stimulusrespons akan menjadi kuat apabila sering digunakan.
The law of disuse; adalah hukum yang menyatakan bahwa koneksi antara stimulus-respons akan menjadi lemah apabila tidak latihan. Mengenai hukum efek Thorndike berpendapatkan bahwa memperkuat atau memperlemah hubungan stimulus-respons, tergantung pada bagaiman hasil dari respons yang bersangkutan.

3. John Broadus Watson (1878-1958)
Watson mendefinisikan psikologi sebagi ilmu pengetahuan tentang tingkah laku. Sasaran behaviorisme adalah mampu meramalkan reaksi dari satu pengenalan mengenai kondisi perangsang,dan sebaliknya, juga mengenali reaksi, agar bisa meramalkan kondisi perangsang yang mendahuluinya.
Inti dari behaviorisme adalah memprediksi dan mengontrol perilaku.
Karyanya diawali dengan artikelnya psychology as the behaviorist views it pada tahun 1913. Di dalam artikelnya tersebut Watson mengemukakan pandangan
behavioristiknya yang membantah pandangan strukturalisme dan fungsionalisme
tentang kesadaran. Menurut Watson (behaviorist view) yang dipelajari adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kesadaran, kaena kesadaran adalah sesuatu yang dubios. Metode-metode obyektif Watson lebih banyak menyukai studi mengenai
binatang dan anak-anak, seperti sebuah studi yang ia lakukan dalam pengkondisian rasa takut pada anak-anak.

4. Burrhus Frederic Skinner (1904-1990)
Skinner membedakan perilaku atas :
a.    Perilaku alami (innate behavior), yang kemudian disebut juga sebagai clasical ataupun respondent behavior, yaitu perilaku yangdiharapkan timbul oleh stimulus yang jelas ataupun spesifik, perilaku yang bersifat reflektif.
b.    Perilaku operan (operant behavior), yaitu perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang tidak diketahui, namun semata-mata ditimbulkan oleh organisme itu sendiri setelah mendapatkan penguatan.
Skinner yakin jika kebanyakan perilaku manusia dipelajari lewat Operant Conditioning atau pengkondisian operan, yang kuncinya adalah penguatan segera terhadap respons. OperantConditioning adalah suatu proses penguatan perilaku yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.
        Skinner membuat mesin untuk percobaanya dalam Operant Conditioning yang dinamakan dengan"Skinner Box" dan tikus yang merupakan subjek yang sering digunakan dalam percobaanya.
          Dalam percobaannya tersebut yang dilakukan oleh Skinner dalam Laboratorium, seekor tikus yang lapar diletakkan dalam Skinner Box, kemudian binatang tersebut akan menekan sebuah tuas yang akan membukakan dulang makanan, sehingga diperoleh penguatan dalam bentuk makanan. Secara kebetulan, dalam perilaku menyelidik tersebut tikus menyentuh tuas makanan dan makanan pun berjatuhan. Setiap kali tikus melakukan hal ini akan mendapatkan makanan; penekanan tuas diperkuat dengan penyajian makanan tersebut, sehingga tikus tersebut akan menghubungkan perilaku tertentu dengan penerimaan imbalan berupa makanan tadi. Jadi, tikus tersebut akan belajar bahwa setiap kali menekan tuas dia akan mendapatkan makanan dan tikus tersebut akan sering kali mengulangi perilakunya, sampai ada proses pemadaman atau penghilangan dengan menghilangkan penguatannya.

Description: http://2.bp.blogspot.com/_BD44J6015u4/TGX9L7HXl4I/AAAAAAAAAAc/w8LPpr9PT1U/s320/skiner+box.bmp

Eksperimen terhadap tikus dilakukan untuk menjelaskan bagaimana tingkalaku manusia dapat terbentuk, yang pada dasarnya tingkah laku dipengaruhi oleh lingkungan yang dikondisikan (pengkodisian operan). Melalui pengkodisian tersebut maka terjadilah proses belajar yang kemudian menghasilkan tingkah laku baru (respon) yang inginkan. Untuk meningkatkan tingkah laku tersebut maka dapat diperkuat dengan reinforcement.
           Dalam penguatan tersebut dibedakan antara pengutan positif dan negatif.
Penguatan positif adalah stimulus yang apabila diberikan sesudah terjadinya respon, meningkatkan kemungkinan respon tersebut.

                              ->          Respon 1
                           /
S (Rangsang)  --->              Respon 2       -->          Penguatan
                           \
                             ->          Respon 3
Menjadi :

S(Rangsang)   -->              Respon 2 berulang-ulang

Penguatan negatif adalah stimulus yang dihapuskan sesudah responnya timbul, meningkatkan kemungkinan adanya respon; shock elektrik dan bunyi yang menyakitkan digolongkan sebagai penguat negatif dan sebagai penguat negative jika penguat itu dapat ditiadakan ketika timbul respon yang diinginkan.

                               ->        Respon 1     -->                Shock elektrik
                             /
S (Rangsang)    -->            Respon2
                            \
                             ->          Respon3      -->               Shock elektrik
Menjadi :
S (Rangsang)        -->             Respon2

Adapun Jenis-Jenis Penguat Skinner dikategorikan, sbb;
1)      Penguat utama (Primary reinforcers) adalah  penguat yang memengaruhi perilaku tanpa perlu belajar, seperti: makanan, minuman, seks. Ini disebut penguat alami.
2)      Penguat sekunder (Secondar reinforcers). Adalah penguat yang membutuhkan  tenaga penguat karena sudah diasosiasikan dengan penguat utama, seperti memuji seseorang.
Reinforcement dan Punishment
Reiforcement Positif, frekuensi respon meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Contoh : dimana komentar positif guru meningkatkan perilaku menulis puisi siswa. Demikian pula, memuji oarng tua yang mau hadir dalam acara seminar pendidikan yang dilakukan sekolah, mungkin akan mendorong mereka kelak ikut seminar lagi.
Reinforcement Negatif, frekuensi respon meningkat karena diikuti dengan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan). Contoh:  Ibu mengomeli putranya agar mau merapikan kamarnya sendiri. Dia terus mengomel. Akhirnya, anaknya lelah mendengarkan omelan tersebut dan merapikan kamarnya. Respon anak ( merapikan kamar) menghilangkan stimulus yang tidak menyenangkan (omelan).
Punishment Positive: perilaku seseorang akan disertai dengan aversive stimulus (stimulus penolakan), hasil yang terbentuk adalah perilaku tersebut tidak akan terulang. Contoh : perilaku anak agresif sering memukul temannya di kelas. Si anak kemudian diberi hukuman fisik dalam jumlah tertentu. Hasilnya, perilaku agresif berkurang.
Punishment Negative: perilaku seseorang akan disertai dengan penghapusan reinforcing stimulus, hasil yang terbentuk adalah perilaku tersebut tidak akan terulang kembali. Contoh : time-­out from positive reinforcement. Seorang anak berperilaku agresif di kelas, ketika ia melukai temannya, ia dihukum harus duduk di luar kelas selama beberapa menit. Anak tersebut tidak mendapatkan reinforcers seperti perhatian guru, perhatian teman, mainan.

B.     HAKIKAT MANUSIA
Hakikat manusia dalam pandangan para behaviorist adalah fasif dan mekanistis, manusia dianggap sebagai sesuatu yang dapat dibentuk dan diprogram sesuai dengan keinginan lingkungan yang membentuknya. Lebih jelas lagi (Muhamad Surya dalam Farida Euis)  menjelaskan tentang hakikat manusia dalam pandangan teori behavioristik sebagai berikut : ‘dalam teori ini menganggap manusia bersifat mekanistik atau merespon kepada lingkungan dengan kontrol terbatas, hidup dalam alam deterministik dan sedikit peran aktifnya dalam memilih martabatnya.
Manusia memulai kehidupnya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya, dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Perilaku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Dapat kita simpulkan dari anggapan teori ini bahwa perilaku manusia adalah efek dari lingkungan, pengaruh yang paling kuat maka itulah yang akan membentuk diri individu.
Beberapa konsep tentang hakikat dasar manusia:
1.      Tingkah laku manusia diperoleh dari belajar dan proses terbentuknya kepribadian adalah dari proses pemasakan dan proses belajar.
2.      Kepribadian manusia berkembang bersama-sama dengan interaksinya dengan lingkungan
3.      Setiap orang lahir dengan membawa kebutuhan bawaan, tetapi sebagian besar kebutuhan dipelajari dari interaksi dengan lingkungan.
4.      Manusia tidak lahir baik atau jahat, tetapi netral. Bagaimana kepribadian seseorang dikembangakan tergantung interaksi dengan lingkungan.
5.      Manusia mempunyai tugas untuk berkembang. Dan semua tugas perkembangan adalah tugas yang harus diselesaikan dengan belajar.

C.    PERKEMBANGAN  PERILAKU
1.      Struktur Kepribadian
Kaum behavioris tidak menjelaskan struktur kepribadian seperti pada aliran lain seperti psikoanalis, tetapi menurut teori kepribadian behavioristik bahwa kepribadian manusia adalah perilaku organisme itu sendiri. Dengan kata lain bahwa kerpribadian manusia dapat di ketahui melalui tingkahlaku yang tampak dan diamati (observable behavior). Selain itu ada pandangan dualiasme yang berkembang dalam pendekatan behavior bahwa manusia memiliki jiwa, raga, mental, fisik, sikap, perilaku dan sebagainya (Latipun, 2005). Seperti yang dijabarkan dibawah ini:
a.       Lingkungan dan pengalaman menjelaskan bagaimana kepribadian seseorang dibentuk.
b.      Dualisme, seperti jiwa-raga, raga-semangat, raga-pikiran bukan merupakan validitas keilmuan pada pembentukan, prediksi dan control dari perilaku manusia.
c.       Walaupun pembentukan kepribadian memiliki batsan genetis namun efek dari lingkungan dan stimulus dari dalam memiliki pengaruh dominan.
d.      Dalam membentuk sebuah teori dari kepribadian prediksi dan control dan perilaku merupakan hal terpenting. Tidak ada yang lebih penting selain kebebasan dalam penentuan respon.
e.       Semua perilaku dapat dipisah menjadi operant respondent yaitu individual respon yang berbeda dalam pengaruh control dari stimulus lingkungan.

2.      Pribadi Sehat dan Bermasalah
Pribadi Sehat:
a)      Dapat merespon stimulus yang ada di lingkungan secara cepat.
b)      Tidak kurang dan tidak berlebihan dalam tingkah laku, memenuhi kebutuhan.
c)      Mempunyai derajat kepuasan yang tinggi atas tingkah laku atau bertingkah laku dengan tidak mengecewakan diri dan lingkungan.
d)     Dapat mengambil keputusan yang tepat atas konflik yang dihadapi.
e)      Mempunyai self control yang memadai
Pribadi Bermasalah:
a)      Tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan.
b)      Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentuk dari cara belajar atau lingkungan yang salah.
c)      Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat.
d)     Ketidak mampuan dalam mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan lingkungannya
e)      Tingkah laku yang tidak wajar menurut standard nilai,  yang kemudian menimbulkan konflik dengan lingkungan

D.    HAKIKAT KONSELING
Hakikat konseling menurut Behavioral adalah proses membantu orang dalam situasi kelompok belajar bagaimana menyelesaikan masalah-masalah interpersonal, emosional, dan pengambilan keputusan dalam mengontrol kehidupan mereka sendiri untuk mempelajari tingkah laku baru yang sesuai.
Konseling dilakukan dengan menggunakan prosedur tertentu dan sistematis yang disengaja secara khusus untuk mengubah perilaku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama konselor dan konseli. Prosedur konseling dalam pendekatan behavior adalah ; penyusunan kontrak, asesmen, penyusunan tujuan, implementasi strategi, dan eveluasi perilaku. Dengan prosedur tersebut konseling/terapi behavior berorientasi pada pengubahan tingkah laku yang maladaptif menjadi adaptif.

E.     KONDISI PENGUBAHAN
1.      Tujuan
Tujuan terapi behavioral adalah untuk membantu klien memperoleh perilaku baru, mengeliminasi perilaku yang maladaptif dan memperkuat serta mempertahankan perilaku yang adaptif.
2.      Konselor
Konselor dalam behavior therapy secara umum berfungsi sebagai guru dalam mendiaknosa tingkah laku yang tidak tepat dan mengarah pada tingkah laku yang lebih baik. Peran konselor secara khusus diantaranya : (a) Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak; (b) Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling, khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling; (c) Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya.
3.      Konseli
Dalam konseling behavioral klien dan konselor aktif terlibat di dalamnya. Klien secara aktif terlibat dalam pemilihan dan penentuan tujuan serta memiliki motivasi untuk berubah dan bersedia bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan konseling. Peran penting klien dalam konseling adalah klien didorong untuk bereksperimen dengan tingkah laku baru yang bertujuan untuk memperluas perbendaharaan tingkah laku adaptifnya serta dapat menerapkan perilaku tersebut dalah kehidupan sehari-hari.
4.      Situasi Hubungan
Dalam terapi behavioral, hubungan antara terapis dan klien dapat memberikan kontribusi penting bagi perubahan perilaku klien. Hubungan terapis sebagai fasilitator terjadinya perubahan. Sikap konselor seperti empati, permisif, acceptance dianggap sebagai hal yang harus ada, namun tidak cukup untuk bisa menciptakan perubahan perilaku. Masalah ada pada bukan pentingnya hubungan namun peranan hubungan sebagai landasan strategi konseling untuk membantu klien berubah sesuai dengan arah yang dikehendaki.

F.     MEKANISME PENGUBAHAN
1.         Tahap-tahap Konseling
a)               Assesment
Tujuan tahap ini adalah untuk menentukan apakah yang dilakukan oleh kilen saat ini. Aktivitas nyata, perasaan, nilai-nilai dan fikiran klien saat ini merupakan item-item yang ada dalam assesment. Assesment menekankan pada kelebihan atau kekuatan klien daripada kelemahannya, tahap ini diperlukan untuk mendapatkan informasi yang menggambarkan masalah yang dihadapi klien.
b)               Goal Setting
Konselor bersama klien menyusun tujuan yang dapat diterima berdasarkan informasi yang telah disusun dan dianalisis. Tujuan ini sangat penting dalam konseling behavioral sebab tujuan akan menjadi penuntun aktivitas belajar.
c)                 Teknik Implemetasi

2 comments:

  1. kurang lengkap nee mekanisme pengubahannya sama teknik2 konselingnya mana..??

    ReplyDelete
  2. Konten tentang mekanisme pengubahannya sama teknik2 konseling terputus saat "entri"... Mohon maaf...

    ReplyDelete