Friday, June 24, 2011

Measuring Behavior


Pengukuran (pemberian nama-nama/label untuk menggambarkan dan membedakan peristiwa-peristiwa/kejadian alami) memberikan dasar bagi semua penemuan ilmiah dan perkembangan serta penerapan teknologi yang dihasilkan dari penemuan tersebut. Pengukuran yang tepat dan rutin/berkala memberikan dasar bagi analisa tingkah laku terapan. Para ahli tingkah laku terapan menggunakan pengukuran untuk mendeteksi dan membandingkan efek-efek dari susunan situasi yang beragam pada pemahaman, perawatan, dan pengelompokan tingkah laku sosial tertentu. Tingkah laku seperti apakah yang harus diukur oleh para analis tingkah laku terapan? Bagaimana pengukuran tersebut dapat diperoleh? Dan apa yang harus kita lakukan dengan pengukuran tersebut pada saat kita mendapatkannya?. Bab ini mengidentifikasi dimensi-dimensi dimana tingkah laku dapat diukur dan dapat menggambarkan metode yang sering dipakai oleh para ahli analis untuk mengukurnya.

A.      Definisi dan Fungsi Pengukuran dalam Analisis Pengubahan Tingkah Laku
            Pengukuran adalah proses pemberian angka dan unit pada fitur-fitur khusus dari obyek atau peristiwa, termasuk melampirkan angka yang menunjukkan hal yang diteliti dari kuantitas dimensi pada unit yang seharusnya. Angka dan unit tersebut bersama-sama merumuskan pengukuran dari obyek atau peristiwa. Sedangkan kuantitas dimensi adalah fitur khusus dari obyek atau peristiwa yang diukur.
Bloom, Fischer, dan Orme menggambarkan pengukuran sebagai tindakan atau proses dari penerapan label kuantitatif atau kualitatif pada peristiwa, fenomena atau properti yang diteliti dengan menggunakan satu set standar untuk menerapkan label pada peristiwa tersebut. Konsep pengukuran juga meliputi karakteristik dari apa yang diukur, kualitas dan kelayakan alat-alat pengukuran, keahlian teknis dari pengukur, serta cara menggunakan hasil pengukuran yang didapatkan. Pengukuran memberikan tujuan yang sama bagi para peneliti, praktisi, dan konsumen untuk menggambarkan dan membandingkan tingkah laku dengan satu set label-label yang menyampaikan makna yang sama.
1.        Para Peneliti Membutuhkan Pengukuran
Pengukuran objektif memungkinkan bagi para peneliti untuk menggambarkan fenomena yang mereka teliti dengan tepat, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan secara publik. Tanpa pengukuran, ketiga level dari pengetahuan ilmiah yaitu deskripsi, prediksi, dan kontrol akan diturunkan dari dugaan subyek menjadi prasangka individu, selera, dan pendapat pribadi dari peneliti. Ahli analisis pengubahan tingkah laku mengukur tingkah laku untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mengenai eksistensi dan sifat alami dari hubungan-hubungan fungsional antara tingkah laku sosial dan faktor-faktor dari lingkungan.
Pengukuran memungkinkan adanya perbandingan tingkah laku didalam dan diantara kondisi lingkungan yang berbeda. Pengukuran dapat memberikan kemungkinan untuk mengambil gambaran kesimpulan secara empiris mengenai efek-efek dari kondisi lingkungan terhadap tingkah laku. Kemampuan para peneliti untuk mendapatkan pemahaman ilmiah mengenai tingkah laku bergantung pada kemampuannya dalam mengukur tingkah laku tersebut. Pengukuran memungkinkan deteksi dan verifikasi dari hampir semua penemuan mengenai pengaruh khusus lingkungan terhadap tingkah laku.
2.        Para Praktisi/Pelaksana Membutuhkan Pengukuran
Para praktisi diharapkan dapat meningkatkan kehidupan para klien yang mereka layani kearah yang lebih baik dengan cara mengubah tingkah laku yang dianggap penting secara sosial. Pada awalnya para praktisi mengukur tingkah laku untuk menentukan level terbaru dari tingkah laku target untuk melihat apakah level tersebut memenuhi standar intervensi. Jika intervensi tersebut terjamin, seorang praktisi akan memperkirakan tingkat dimana usahanya akan berhasil. Para praktisi mengukur tingkah laku untuk mengetahui kapan dan apakah tingkah laku tersebut telah berubah (ketidaktetapan/kestabilan tingkah laku sebelumnya, selama, dan setelah treatment) dan apakah perubahan tingkah laku yang penting muncul dalam bentuk dan situasi yang lain serta menyebar kepada tingkah laku lainnya.
Para praktisi membandingkan hasil pengukuran tingkah laku target sebelum dan sesudah treatment yang didapat dalam situasi non-treatment untuk mengevaluasi efek keseluruhan dari program perubahan tingkah laku (evaluasi sumatif). Pengukuran tingkah laku secara berkala selama treatment memungkinkan kedinamisan, pengambilan keputusan database mengenai kelanjutan, modifikasi, dan penghentian treatment. Seorang praktisi yang tidak melakukan pengukuran berkala dari sasaran tingkah laku untuk intervensi bisa melakukan kesalahan yang tidak dapat dihindari: (a) melanjutkan treatment yang tidak efektif ketika tidak muncul tanda-tanda adanya perubahan tingkah laku, atau (b) tidak melanjutkan treatment yang efektif karena pertimbangan pribadi yang menunjukkan tidak adanya kemajuan. Dengan demikian, pengukuran yang dilakukan secara langsung dan rutin memungkinkan para praktisi untuk mendeteksi keberhasilan dan kegagalan mereka sehingga mereka dapat membuat perubahan, dari kegagalan menuju kesuksesan.
Pengukuran rutin akan memberikan keuntungan bagi para praktisi dan klien yang mereka layani:
a.    Pengukuran membantu praktisi untuk mengoptimalkan keefektifan mereka.
     Untuk menjadi efektif secara optimal, seorang praktisi harus memaksimalkan efisiensi perubahan tingkah laku dalam hal waktu dan sumber daya. Hanya dengan cara memantau secara dekat dan kontak rutin dengan hasil relevan, seorang praktisi dapat memperoleh keefektifan dan efisiensi yang optimal.
b.    Pengukuran memungkinkan para praktisi untuk menguji legitimasi dari treatment yang lebih dikenal dengan istilah “bukti yang mempunyai dasar”.
     Para praktisi semakin diharapkan untuk menggunakan intervensi yang berdasarkan bukti.
c.    Pengukuran membantu para praktisi mengidentifikasi dan mengakhiri penggunaan treatment
     Sejumlah metode pendidikan dan treatment diklaim oleh pendukung mereka sebagai suatu terobosan. Banyak treatment yang kontroversial dan pengobatan yang dianjurkan untuk klien tidak efektif, contohnya diet ketat, kelebihan vitamin, terapi fish dsb. Penggunaan beberapa terapi yang dianggap sebagai suatu terobosan ini telah membawa kekecewaan dan kehilangan waktu yang berharga bagi banyak keluarga, sehingga pengukuran dapat menjadi pilihan yang terbaik.
d.   Pengukuran memungkinkan para praktisi diandalkan oleh para klien, konsumen, pekerja, dan masyarakat.
     Mengukur hasil dari usaha mereka secara langsung dan rutin membantu para praktisi untuk merasa percaya diri dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para orangtua dan pengasuh mengenai efek dari usaha yang mereka lakukan.
e.    Pengukuran membantu para praktisi meraih standar etis.
     Kode etik mengenai pelaksanaan analisis pengubahan tingkah laku membutuhkan pengukuran secara langsung dan rutin terhadap tingkah laku klien. Para praktisi yang tidak mengukur sifat alami, perubahan tingkah laku yang relevan dari klien yang dilayaninya, tidak mengukur kelebihan dan kekurangan tingkah laku dapat dianggap sebagai tindakan malpraktik.

B.       Mengukur Dimensi-dimensi Tingkah laku
            Tingkah laku juga mempunyai fitur-fitur yang dapat diukur, sekalipun tidak memiliki lebar, berat, dan warna, karena tingkah laku muncul disetiap waktu, maka ia mempunyai beberapa hal yang mendasar (kuantitas dimensional) yang dapat diukur oleh para analis tingkah laku, yaitu:
1.        Pengukuran Berdasarkan Pengulangan (Penghitungan)
a.         Menghitung, yaitu catatan angka yang sederhana dari kemunculan tingkah laku, contohnya: jumlah jawaban yang benar dan salah tertulis pada kertas praktik aritmatika. Tingkah laku yang sering muncul menjadi perhatian yang paling utama, mengukur penghitungan saja tidak akan memberi informasi yang cukup para praktisi untuk membuat keputusan atau analisa program yang bermanfaat.
b.         Rate/Frekuensi. Mengkombinasi waktu observasi dengan penghitungan. Respon rate/tingkat jawaban (frekuensi) ditetapkan sebagai jumlah respon per unit waktu. Sebuah pengukuran rate/frekuensi adalah sebuah rasio yang terdiri dari penghitungan kuantitas dimensional (jumlah respon) dan waktu (periode observasi dimana penghitungan didapatkan). Mengubah penghitungan ke rate atau frekuensi membuat pengukuran semakin bermakna. Para peneliti dan praktisi biasanya akan melaporkan data frekuensi dalam hitungan per 10 detik, per menit, per hari, per minggu, dan per bulan, atau juga per tahun. Ada 6 petunjuk dalam menggunakan rate/frekuensi :
1)        Selalu menyertakan penghitungan waktu.
Ketika melaporkan respon data rate, para peneliti dan praktisi harus selalu menyertakan durasi waktu observasi/penghitungan. Membandingkan ukuran-ukuran rate tanpa referensi pada waktu penghitungan dapat mengacu pada kesalahan interpretasi data.
2)        Memperhitungkan tingkat jawaban yang benar dan salah ketika memperkirakan perkembangan skill/kemampuan.
Memperhitungkan tingkat jawaban benar dan salah sangat penting untuk mengevaluasi perkembangan keahlian karena suatu performa yang sedang berkembang tidak dapat diperkirakan hanya dengan mengetahui tingkat jawaban benar saja. Respon-respon dengan tingkat jawaban benar hanya dapat menunjukkan performa yang sedang berkembang, tetapi bila jawaban salah juga semakin meningkat, kemajuan yang didapat mungkin hanya bersifat ilusi. Tingkat jawaban salah dan benar bersama-sama mengukur informasi penting yang tersedia untuk membantu guru mengevaluasi seberapa baik murid telah mengalami peningkatan. Idealnya, tingkat jawaban yang benar mempercepat tercapainya kriteria performa dan tujuan, dan tingkat jawaban salah menurunkannya ke level yang stabil dan rendah.
3)        Membuat laporan tentang kompleksitas respon yang beragam.
Menentukan rate/tingkat respon adalah pengukuran yang sensitif dan tepat dari penerimaan skill dan perkembangan performa ketika level kompleksitas dan kesulitan satu respon kerespon konstan selanjutnya selama observasi. Satu metode untuk mengukur tingkat respon yang membuat kompleksitas beragam adalah dengan menghitung operasi-operasi yang dibutuhkan untuk meraih respon yang benar.
4)        Menggunakan tingkat merespon untuk mengukur instrumental bebas
Tingkat merespon adalah ukuran yang berguna untuk semua tingkah laku yang digolongkan sebagai free operant. Istilah free operant mengacu pada tingkah laku yang memiliki poin awal dan akhir yang berbeda, membutuhkan pemindahan minimal organisme dalam ruang dan waktu, dapat mengeluarkan hampir setiap waktu, tidak membutuhkan terlalu banyak waktu untuk menyelesaikannya, dan dapat mengeluarkan pada tingkat respon yang luas.
5)        Jangan menggunakan rate/tingkat respon untuk mengukur tingkah laku yang muncul dalam percobaan yang berlainan.
Tingkat respon bukanlah ukuran yang penting bagi tingkah laku yang hanya bisa muncul dalam situasi terbatas.
6)      Jangan menggunakan rate untuk mengukur tingkah laku berkelanjutan yang muncul dalam jangka waktu tertentu.
Rate menjadi ukuran yang lemah untuk tingkah laku berkelanjutan yang muncul selama jangka waktu tertentu, seperti berpartisipasi dalam permainan di playground atau bekerja pada pusat permainan atau aktifitas.  
c.       Celeration
Celeration adalah ukuran bagaimana rate atau respon berubah seiring berjalannya waktu. Respon rate semakin meningkat ketika seorang partisipan merespon lebih cepat dalam periode perhitungan berturut-turut.

2.        Pengukuran Berdasarkan Tingkat Sementara/Temporal
a.         Durasi
Durasi, jumlah waktu dimana tingkah laku muncul, adalah pengukuran dasar dari tingkat sementara. Durasi menjadi penting ketika dalam pengukuran jumlah waktu seseorang terlibat dalam tingkah laku target. Para analis pengubahan tingkah laku mengukur durasi tingkah laku target sehingga ia akan terlibat dalam jangka waktu yang singkat atau cukup lama.
b.         Total durasi per-sesi
Total durasi adalah ukuran sejumlah waktu komulatif dimana seseorang terlibat dalam tingkah laku target. Para analis pengubahan tingkah laku menggunakan dua prosedur untuk mengukur dan melaporkan total durasi. Satu metode yaitu pelaporan jumlah waktu komulatif munculnya tingkah laku dalam periode waktu, dan alat yang digunakan adalah stopwatch.
c.         Durasi per-kejadian.
Durasi per-kejadian adalah ukuran durasi waktu dimana setiap tingkah laku target muncul.
d.      Memilih dan mengkombinasikan ukuran penghitungan dan durasi
Pengukuran penghitungan, durasi total, dan durasi per-kejadian memberikan pandangan berbeda mengenai tingkah laku. Penghitungan dan durasi mengukur kuantitas dimensi tingkah laku yang berbeda, dan perbedaan ini memberikan dasar bagi pemilihan dimensi mana yang akan diukur. Perekaman peristiwa mengukur pengulangan, dimana durasi mencatat ukuran tingkat waktu.
3.        Pengukuran Berdasarkan Tempat Sementara/Letak Temporal
Letak temporal mengacu ketika tingkah laku muncul dengan tanpa mengesampingkan peristiwa menarik lainnya. Kedua tipe peristiwa yang paling sering dipakai oleh para peneliti sebagai poin acuan untuk mengukur letak temporal adalah suatu permulaan dari peristiwa pemicu sebelumnya dan penghentian dari respon sebelumnya. Kedua poin acuan ini menyediakan konteks bagi ukuran respon tersembunyi dan waktu antar respon sebagai dua ukuran dari letak temporal yang paling sering dilaporkan dalam literatur tingkah laku analisis.
a.       Response latency (waktu tunggu respon)
Waktu tunggu respon adalah mengukur waktu yang telah lewat antara awal stimulus dan awal respon berikutnya. Waktu tunggu adalah ukuran yang tepat ketika seorang peneliti atau praktisi tertarik mengenai berapa lama waktu yang muncul dan ketika tingkah laku tersebut dimulai.
b.      Interresponse Time (IRT)/waktu antar respon
Waktu antar respon adalah jumlah waktu yang berlalu diantara dua contoh berurutan dari respon kelas. Seperti waktu tunggu respon, waktu antar respon adalah ukuran dari tempat sementara/temporal karena ia mengidentifikasi ketika contoh spesifik dari tingkah laku muncul tanpa mengabaikan kejadian lainnya.
4.        Ukuran-ukuran Derivatif
          Persentase dan kriteria percobaan adalah dua bentuk data yang diambil dari ukuran-ukuran langsung dari kuantitas dimensi tingkah laku yang seringkali digunakan pada analisis pengubahan tingkah laku.
a.      Persentase
Persentase adalah sebuah rasio (perbandingan) yang dibentuk dengan mengkombinasikan kuantitas dimensi yang sama, seperti hitungan (durasi+durasi; waktu tunggu+waktu tunggu). Persentase sering digunakan pada analisis pengubahan tingkah laku untuk melaporkan perbandingan jumlah jawaban yang benar, untuk melaporkan perbandingan jeda waktu observasi dimana tingkah laku target muncul. Persentase digunakan secara luas dalam pendidikan, psikologi, media populer, dan kebanyakan orang mengerti hubungan proporsional yang dinyatakan dalam persentase. Persentase paling akurat merefleksikan level dan perubahan tingkah laku ketika dikalkulasikan dengan pembagi/persamaan dari angka 100 atau lebih. Keterbatasan persentase sebagai ukuran perubahan tingkah laku adalah batasan rendah dan tingginya ditentukan oleh data.
b.     Kriteria percobaan
Kriteria percobaan adalah ukuran dari jumlah kesempatan merespon yang dibutuhkan untuk meraih level performa yang telah ditetapkan. Hal yang menentukan dalam percobaan bergantung pada sifat alami tingkah laku target dan level performa yang diharapkan. Pengukuran-pengukuran dasar lainnya, seperti tingkat, durasi, dan waktu tunggu, juga bisa digunakan untuk menentukan data kriteria percobaan. Data kriteria percobaan sering dikalkulasikan dan dilaporkan sebagai bekas pengukuran terakhir secara defacto dari aspek penting biaya treatment atau metode instruksional. Data kriteria percobaan sering digunakan untuk membandingkan efisiensi relatif dari dua treatment/lebih. Ukuran-ukuran kriteria percobaan juga dapat dikumpulkan dan dianalisa sebagai suatu variabel yang tidak dapat dipisahkan sepanjang pembelajaran. Data kriteria percobaan juga dapat berguna untuk menaksir peningkatan kemampuan siswa dalam menerima konsep-konsep yang dibagikan di kelas.
5.        Ukuran-ukuran Definisi
Tingkah laku juga dapat didefinisikan dan diukur dari bentuk dan intensitasnya. Keduanya bukan merupakan kuantitas dimensi tingkah laku, tetapi masing-masing adalah parameter kuantitatif yang penting untuk menentukan dan menguji kemunculan dari setiap respon di kelas. Ketika para praktisi dan peneliti mengukur topografi, mereka melakukannya untuk menentukan apakah respon telah menunjukkan kemunculan dari tingkah laku target.
Topografi mengacu pada bentuk fisik dari tingkah laku, yang mana dimensi tingkah laku dari keduanya dapat diukur dan ditempa. Hal yang dengan nyata dan jelas sangat penting dalam area performa dimana bentuk, style, atau seni tingkah laku dinilai dengan tepat (contohnya melukis, memahat, menari, senam).

C.      Prosedur Pengukuran Tingkah Laku
            Prosedur pengukuran tingkah laku yang paling sering digunakan oleh para ahli analisis pengubahan tingkah laku melibatkan satu atau kombinasi dari hal-hal berikut ini:
1.        Pencatatan Kejadian
Pencatatan kejadian digunakan ketika menganalisa efek-efek dari persyaratan tingkah laku dan jadwal pemberian reinforcement/reward pada tingkah laku yang dpilih orang dewasa dengan anak keterbelakangan mental dan siswa pre-school disaat mereka sedang mengerjakan tugas berdasarkan usia mereka, contohnya: orang dewasa memilah/menyortir perangkat perak, anak-anak saling melempar kantung berisi kacang atau lompat gawang.
Pertimbangan-pertimbangan mengenai pencatatan peristiwa, yaitu:
a.    Pencatatan peristiwa/kejadian mudah untuk dilakukan.
b.   Pencatatan kejadian memberikan pengukuran yang berguna bagi kebanyakan tingkah laku.
c.    Tingkah laku target seharusnya tidak muncul dengan tingkat reaksi yang tinggi yang membuat peneliti kesulitan untuk menghitung setiap kejadian khusus secara akurat.
d.   Pencatatan kejadian juga tidak memberikan pengukuran yang akurat untuk tingkah laku target yang muncul dalam jangka waktu yang cukup lama.
2.        Timing/Pemilihan Waktu
Para peneliti dan praktisi menggunakan alat dan prosedur timing yang berbeda untuk mengukur durasi, waktu tunggu, dan waktu antar waktu.
a.         Timing on duration of behavior
1)        Para peneliti terapan sering menggunakan sistem komputer semi-otomatis untuk mencatat durasi.
2)        Instrumen non-otomatis yang paling tepat adalah stopwatch digital.
3)        Prosedur untuk mancatat durasi total dari tingkah laku target per sesi dengan stopwatch adalah untuk mengaktifkan stopwatch ketika tingkah laku muncul dan menghentikan stopwatch pada akhir episode.
4)        Prosedur ini untuk mengukur durasi dengan tape recorder
5)        Mencatat durasi per kejadian dengan menggunakan sistem pengumpulan data dengan barcode untuk mengukur fungsional dan  keterikatan klise dengan material serta meniru tanpa interaksi dengan material dan tingkah laku lainnya yang menyimpang dari kebiasaan.
b.         Timing respons latency and interresponse time
Mengukur waktu tunggu membutuhkan deteksi yang tepat dan pencatatan waktu yang berlalu dari awal setiap kejadian untuk menstimulus terjadinya tingkah laku yang diinginkan dan awal dari tingkah laku target.
3.        Time sampling
Mengacu pada berbagai macam metode untuk mengobservasi dan mencatat tingkah laku selama jeda waktu atau pada saat yang spesifik. Bentuk-bentuk time sampling yang seringkali digunakan oleh para analis tingkah laku terapan adalah:
a.         Pencatatan seluruh waktu interval/jeda
Pencatatn seluruh waktu interval sering digunakan untuk mengukur tingkah laku yang berkelanjutan (seperti permainan kerjasama) atau tingkah laku yang muncul pada tingkat tertentu dimana para peneliti menemui kesulitan membedakan satu respon dari yang lain, contohnya: gumaman, tetapi mampu mendeteksi apakah tingkah laku itu muncul pada waktu-waktu tertentu. Data yang dikumpulkan dengan pencatatan interval keseluruhan dilaporkan selagi persentase dari junlah total interval dimana tingkah laku target dicatat terjadinya.
Alat yang tepat juga dapat digunakan untuk menandai interval observasi. Contohnya, Gentle Remainder dan MotivAder adalah instrumen timing kecil yang akan bergetar pada waktu interval yang diprogram oleh pengguna/user.
b.         Pencatatan interval sebagian
Ketika menggunakan pencatatan interval sebagian, peneliti mencatat tingkah laku muncul pada waktu kapan saja selama interval. Time sampling interval sebagian tidak memikirkan tentang berapa kali tingkah laku muncul selama interval atau berapa lama tingkah laku hadir, namun lebih kepada kemunculannya pada saat-saat tertentu selama interval. Data interval sebagian dilaporkan dalam persentase dari total interval dimana tingkah laku target dinilai.
c.         Time sampling singkat/sementara
 Seorang pengamat menggunakan pencatatan time sampling sementara ketika tingkah laku sasaran muncul pada waktu interval berakhir. Data dari time sampling sementara biasanya dilaporkan dalam persentase. Keuntungan utama dari time sampling sementara adalah pengamat tidak harus terus-menerus menghadiri pengukuran yang dilakukan.
d.        Planned activity check
Sebuah variasi dari time sampling sementara yaitu planned activity check (placheck) menggunakan hitungan kepala untuk mengukur perilaku kelompok. Seorang guru yang menggunakan Placheck mengamati sekelompok siswa pada akhir dari setiap waktu interval, menghitung jumlah siswa yang terlibat dalam aktifitas sasaran, dan mencatat hitungan dengan angka total jumlah siswa dalam kelompok.
e.         Mengenali keberagaman artifactual dalam pengukuran time sampling
Metode time sampling hanya memberikan sebuah perkiraan dari kemunculan tingkah laku yang nampak. Metode time sampling digunakan dalam analisis pengubahan tingkah laku, paling sering ditunjukkan dan diartikan sebagai pengukuran dari proporsi periode total observasi dimana tingkah laku muncul. Time sampling sementara dihasilkan dari pengukuran yang paling mendekati perkiraan dari tingkah laku yang nampak bukan berarti bahwa ini adalah metode yang selalu dipilih. Pengukuran interval dan time sampling sementara menghasilkan beberapa data artifaktual yang beragam, yang harus diperhatikan dengan hati-hati ketika mengartikan hasil-hasil yang diperoleh dengan metode pengukuran ini.

D.      Mengukur Tingkah laku dengan Hasil-hasil Permanen
Tingkah laku dapat diukur dalam waktu yang nyata dengan cara mengobservasi tindakan-tindakan seseorang dan mencatat respon ketika tingkah laku itu muncul. Mengukur tingkah laku setelah ia muncul dengan mengukur efek-efek yang dihasilkan tingkah laku pada lingkungan dikenal dengan pengukuran dari hasil permanen/produk permanen. Mengukur produk-produk permanen adalah sebuah metode expost facto dari pengumpulan data karena pengukuran dilakukan setelah tingkah laku muncul. Sebuah produk permanen adalah perubahan dalam lingkungan yang dihasilkan oleh tingkah laku yang bertahan cukup lama sampai pengukuran dapat dilakukan. Produk permanen bisa didapatkan dengan alami atau dengan cara merencanakan hasil dari tingkah laku. Produk permanen adalah hasil yang alami dan penting dari lingkup yang luas dari tingkah laku penting secara sosial dalam pendidikan, sekolah kejuruan, rumah tangga dan lingkungan komunitas.
1.        Keuntungan-keuntungan dari pengukuran dengan produk permanen
a.         Praktisi bebas untuk melakukan tugas lainnya
b.         Memungkinkan pengukuran beberapa tingkah laku yang muncul pada waktu dan tempat yang sulit terjangkau
c.         Pengukuran menjadi lebih akurat, lengkap, dan berkelanjutan
d.        Memudahkan pengumpulan data untuk persetujuan antar-pengamat dan integritas treatment
e.         Memungkinkan pengukuran dari tingkah laku yang kompleks dan berbagai macam kelas respon
2.        Menentukan apakah pengukuran oleh produk permanen tersebut tepat
a.      Apakah dibutuhkan pengukuran dengan waktu yang sebenarnya?
Pengambilan keputusan berdasarkan data mengenai prosedur treatment dan kondisi eksperimental adalah fitur yang menentukan dari analisis pengubahan tingkah laku dan merupakan salah satu dari kekuatan utamanya. Keputusan treatment dari waktu ke waktu yang lain harus dibuat berdasarkan tingkah laku partisipan selama sesi, pengukuran dengan waktu yang sebenarnya penting untuk dilakukan.
b.     Dapatkah tingkah laku diukur dengan produk permanen?
Tidak semua tingkah laku cocok untuk pengukuran dengan produk permanen. Beberapa tingkah laku mempengaruhi perubahan secara permanen dalam lingkungan yang tidak dapat diandalkan untuk tujuan-tujuan pengukuran. Contohnya, tingkah laku yang membahayakan diri (Self-injurious Behaviour/SIB). Tingkah laku yang cocok pengukuran dengan produk permanen harus memenuhi dua peraturan, yaitu (1) setiap kemunculan dari tingkah laku target harus menghasilkan produk permanen yang sama. (2) produk permanen hanya dapat dihasilkan oleh tingkah laku target.
c.      Bila didapatkan produk permanen yang tersusun akankah ia banyak mempengaruhi tingkah laku?
Para peneliti dan praktisi harus selalu mempertimbangkan mengenai reakftifitas, yaitu efek-efek dari prosedur pengukuran pada tingkah laku yang diukur. Reaktifitas biasanya muncul ketika prosedur pengukuran dan observasi bersifat obstrusif. Pengukuran obstrusif mengubah lingkungan yang mungkin juga akan mempengaruhi tingkah laku yang sedang diukur.
d.     Berapa banyak yang dibutuhkan untuk memperoleh dan mengukur produk permanen?
Masalah terakhir untuk menentukan kelayakan pengukuran pada tingkah laku target oleh produk permanen adalah ketersediaan, harga, dan usaha.

E.       Pengukuran Tingkah laku dengan Bantuan Komputer
            Sistem software (perangkat lunak) dan hardware (perangkat keras) komputer untuk pengukuran tingkah laku dan analisis data telah menjadi rumit dan berguna, khususnya untuk peneliti ilmu terapan. Kebanyakan sistem komputer dan sistem software membutuhkan sebuah DOS atau sistem operasi Windows. Sistem-sistem ini mempunyai potensi untuk mempermudah tugas observasi dengan cara meningkatkan keakuratan dan keyakinan dari pencatatan dari yang relatif ke metode yang tradisional namun tidak praktis (dengan kertas dan pensil) dan untuk meningkatkan efisiensi dari pengumpulan data dan pembuatan grafik.
            Pengembangan teknologi microchip telah meningkatkan pengukuran dan kemampuan analisa data dari sistem-sistem ini, dan telah membuat software jauh lebih mudah untuk dipelajari dan diterapkan. Banyak dari sistem semi-otomatis dapat mencatat sejumlah peristiwa, termasuk percobaan khusus, jumlah jawaban atau respon per unit waktu, durasi, waktu tunggu, waktu antar respon (IRT), dan interval variabel untuk pengukuran time-sampling.
            Keuntungan khusus dari observasi dan sistem pengukuran yang berdasarkan  komputer adalah bahwa ketika pengumpulan tingkat, analisa serangkaian waktu, kemungkinan pengandaian, kebergantungan contoh, antar-relasi, dan kombinasi peristiwa, data-data ini dapat dikelompokkan dan dianalisa. Sebagai tambahan pada pencatatan tingkah laku dan perhitungan data, sistem-sistem ini memberikan analisa dari persetujuan antar pengamat (lebih kecil/lebih besar, keseluruhan, kemunculan, ketidakmunculan) dan pengukuran dari dokumen audio dan video. Sistem komputer semi-otomatis, bila dibandingkan dengan pencatatan data dan metode analisa dengan menggunakan pensil dan kertas memiliki potensi untuk meningkatkan persetujuan antar pengamat, keyakinan dari pengukuran observasi dan efisiensi dari penghitungan data.

Rujukan:
Cooper, John O, Timothy E. Heron, William L. Heward. 2007. Applied Behavior Analysis Chapter 4 “Measuring Behavior”. USA: Pearson Education Inc

2 comments: