Friday, June 24, 2011

Teori Pilihan Karir Berbasis Kepribadian Dari Roe


Anne Roe, yang latar belakang pendidikannya adalah psikologi klinis, mulai terlibat dalam bidang pengembangan karir lewat penelitian yang ia lakukan terhadap ciri kepribadian dari seniman. Penelitian yang ia lakukan terhadap faktor-faktor kepribadian yang terkait dengan kreativitas seni mendorong dia untuk melakukan beberapa penelitian terhadap karakteristik dari ilmuwan-ilmuwan terkemuka.
Kemudian Roe menerbitkan beberapa paparan teoritis secara formal (Roe, 1957l Roe dan Siegelman, 1964) dan ini adalah tahun-tahun dimana penelitian yang ia lakukan sangat terpengaruh oleh perkembangan dari pandangan Roe tentang pilihan karir. Teori yang ia ajukan ini berasal dari beberapa penelitian terhadap latar belakang perkembangan dan kepribadian dari para ilmuwan dari berbagai bidang spesialis dan hasilnya dilaporkan secara ringkas dalam beberapa monograf (Roe, 1951a; 1951b; 1953). Dari temuan-temuan yang ia dapatkan, Roe menyimpulkan bahwa ada perbedaan kepribadian yang besar antara ilmuwan fisika-biologi dengan ilmuwan sosial, terutama pada jenis interaksi yang mereka lakukan dengan orang dan dengan benda. Kesimpulan kedua yang didapatkan Roe adalah bahwa perbedaan kepribadian yang ada antara para ilmuwan adalah disebabkan antara lain karena pengaruh dari asuhan di masa kecil.

TEORI
Teori Roe ini menyatakan bahwa semua individu mewarisi kecenderungan untuk mengerahkan energinya dengan cara tertentu. Kecenderungan bawaan (innate) untuk mengerahkan energi psikis dengan cara tertentu ini, ketika dikombinasikan dengan pengalaman masa kecil, akan membentuk gaya umum yang digunakan individu untuk memenuhi kebutuhannya. Gaya yang dihasilkan akan memiliki implikasi spesifik dan implikasi umum bagi perilaku karir. Hubungan antara faktor genetis dan pengalaman masa kecil ini di satu sisi dan hubungan antara keduanya dengan perilaku vokasional (karir, profesi -pent) di sisi lain adalah dua hal yang berusaha untuk dijelaskan oleh teori Roe ini.
Teori Roe, yang belum lama ini telah direvisi (Roe dan Siegelman, 1964) memiliki tiga komponen. Ada dua teori kepribadian yang digunakan Roe untuk menyusun proposisi-proposisi dari teori ini. Pemikiran Gardner Murphy (1947) memiliki pengaruh implisit terhadap teori Roe ini yaitu seperti yang nampak dari penggunaan konsep kanalisasi (canalization, penyaluran -pent) energi psikis dan penggunaan asumsi dasar bahwa pengalaman masa kecil memiliki hubungan dengan pilihan vokasional. Teori kepribadian kedua yang digunakan secara signifikan dalam teori Roe tentang pilihan vokasional adalah teori kebutuhan (need theory), terutama teori kebutuhan dari Maslow (1954). Unsur ketiga dalam teori Roe adalah konsep pengaruh genetis terhadap keputusan vokasional dan juga terhadap perkembangan dari hirarki kebutuhan.
Teori Roe sendiri terbagi menjadi dua level. Level yang pertama adalah berupa pernyataan-pernyataan umum yang sulit diuji secara empiris, yaitu yang menyatakan bahwa latar belakang genetis dari tiap individu akan mendasari kemampuan dan minat dari individu itu, dan ini selanjutnya akan mempengaruhi pilihan vokasional. Kemudian tiap individu mengerahkan energi psikisnya dengan cara yang tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan secara personal (= tidak sepenuhnya disadari) sehingga pengerahan energi secara tidak disadari ini, yang diyakini dipengaruhi oleh warisan genetis, akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan dari kemampuan individu itu. Kemudian juga terjadi perkembangan dari kebutuhan dasar (need primacy) yang dibentuk antara lain oleh rasa frustrasi dan rasa kepuasan yang dialami di masa kecil dan juga oleh faktor-faktor genetis seperti yang disudah dipaparkan oleh teori-teori kepribadian, terutama teori Maslow (1954). Maslow mengasumsikan bahwa kebutuhan manusia bisa disusun menjadi sebuah hirarki, dimana ada kebutuhan yang terletak di level rendah seperti kebutuhan akan makanan, minuman dan oksigen yang lebih mendesak daripada kebutuhan level tinggi seperti kebutuhan akan cinta, kasih sayang, pengetahuan dan aktualisasi diri. Agar sebuah kebutuhan bisa terekspresikan, pertama-tama kebutuhan di level yang lebih rendah atau lebih mendasar harus dipenuhi lebih dulu. Maka kebutuhan akan cinta tidak akan menjadi kebutuhan yang mendesak bagi orang yang sedang kelaparan.
Faktor genetis dan hirarki kebutuhan akan secara bersama-sama mempengaruhi seleksi terhadap pekerjaan, dimana ini adalah efek yang ditimbulkan keduanya terhadap total pola kehidupan. Tingkat motivasi untuk mencapai sebuah tujuan vokasional adalah produk dari pengaturan dan intensitas dari struktur kebutuhan dari seorang individu. Tingkat sejauh mana seorang individu termotivasi untuk mengambil jalur vokasional (profesi atau karir -pent) tertentu bisa dilihat dari prestasi yang ia capai. Dengan kata lain, jika diasumsikan bahwa semua orang memiliki bakat atau kemampuan yang secara genetis adalah sama, maka perbedaan pada prestasi dalam pekerjaan antara dua individu dapat diperkirakan sebagai akibat dari perbedaan motivasional, dimana secara teoritis perbedaan motivasional ini kemungkinan disebabkan karena perbedaan pada pengalaman masa kecil. Ada pendapat bahwa ada interaksi antara faktor genetis dan faktor lingkungan, tapi teori ini masih belum bisa menjelaskan secara terinci bagaimana sifat dari interaksi itu.
Level yang kedua dari teori Roe ini adalah tentang bagaimana perkembangan dari pola dan kekuatan dari kebutuhan dasar ini dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil. Interaksi yang digambarkan Roe untuk level kedua dari teorinya ini adalah lebih eksplisit dan lebih bisa divalidasi secara empiris daripada pernyataan-pernyataan umum tentang energi psikis dan struktur genetis dari kepribadian (dalam level pertama -pent). Ada tiga proposisi yang ia ajukan di sini: (1) kebutuhan yang dipenuhi secara rutin tidak akan menjadi motivator tak sadar, (2) kebutuhan pada level yang lebih tinggi, dalam artian seperti kebutuhan aktualisasi diri yang dikatakan Maslow, akan hilang sepenuhnya jika jarang dipenuhi. Kebutuhan level rendah, dalam artian yang dimaksud Maslow, akan menjadi motivator yang dominan jika jarang dipenuhi dan ketika kebutuhan level rendah ini menjadi motivator yang dominan maka kebutuhan level rendah ini akan menghambat kemunculan dari kebutuhan level tinggi; (3) kebutuhan yang dipenuhi setelah penundaan yang lebih lama dari biasanya akan menjadi motivator tak sadar dalam beberapa kondisi tertentu. Kondisi yang berpengaruh di sini adalah kekuatan dari kebutuhan, lamanya penundaan antara terbangkitkannya (arousal) dari kebutuhan itu dengan pemenuhan/pemuasan (satisfaction) terhadap kebutuhan itu, dan nilai dari pemuasan terhadap kebutuhan itu bagi lingkungan sekitar dari individu itu.
Maka dalam bagian kedua dari teori Roe inilah kita menemukan beberapa ciri yang membuat teori Roe ini menjadi berbeda dari teori kepribadian pada umumnya dan dari teori pilihan vokasional lainnya. Perenungan tentang situasi dimana kebutuhan bisa dipenuhi atau tertolak (frustrated) di masa kecil ini mengarahkan perhatian kita pada agen utama dari pemuasan dan frustrasi di masa kecil, yaitu orang tua. Karenanya, Roe memandang bahwa praktek asuhan (child rearing) memiliki hubungan langsung dengan jenis kebutuhan yang dipuaskan dan penundaan terhadap pemuasannya.

MODE-MODE DALAM MENGASUH ANAK
Ada beberapa teknik mengasuh yang telah dideskripsikan, dan semuanya memiliki hubungan dengan cara orang tua berinteraksi dengan anak. Salah satu jenisnya adalah dimana orang tua memberikan perhatian secara langsung pada anak, seperti dengan perlindungan yang berlebihan (overprotecting) atau dengan memberikan tuntutan yang berlebihan pada anak. Jenis yang kedua adalah orang tua yang cenderung mengabaikan anak, baik dengan mengabaikan kebutuhan fisik anak maupun, yang lebih signifikan, menolak anak secara emosional. Jenis gaya asuhan yang ketiga adalah penerimaan, yang bisa bersifat santai (casual) dan apa adanya atau yang juga bisa disertai dengan cinta kasih. Orang tua yang overprotektif akan dengan cepat memenuhi kebutuhan fisiologis anak tapi akan kurang sigap di dalam memenuhi kebutuhan anak akan cinta dan penghargaan, dan ketika kebutuhan anak akan dipenuhi, biasanya itu diberikan sebagai ganjaran yang ditujukan bagi perilaku-perilaku yang dianggap pantas secara sosial saja. Selain itu, orang tua yang overprotektif akan mengharkan anak untuk menekankan pada kecepatan dalam memenuhi keinginan. Maka anak akan dengan cepat terpenuhi pada level kebutuhan rendah tapi kebutuhan level tinggi seperti kebutuhan akan cinta, penghargaan dan rasa diterima (sense of belonging) akan lebih terhubung dengan ketergantungan pada orang lain dan pada kepatuhan anak. Ada orang tua yang memberikan tuntutan yang terlalu besar (overdemanding) dan ada orang tua yang overprotektif dan keduanya memiliki perbedaan dalam beberapa aspek yang penting. Sama seperti orang tua yang overprotektif tadi, orang tua yang menuntut terlalu banyak akan dengan cepat memenuhi kebutuhan fisik anak sampai melebihi yang dibutuhkan, dan sama seperti orang tua yang overprotektif, orang tua yang menuntut lebih juga menetapkan syarat-syarat sebelum mereka mau mencintai anak. Cinta ini ditawarkan sebagai imbalan atas kepatuhan dan prestasi anak. Kebutuhan anak akan informasi dan pengertian juga diterima dan dipenuhi tapi hanya dalam situasi tertentu dimana itu dianggap bisa memberikan kontribusi bagi prestasi anak sesuai dengan apa yang oleh orang tua dianggap harus dicapai oleh anak.
Jenis orang tua yang menolak anaknya akan memiliki efek secara eksplisit terhadap kebutuhan dari anak mereka. Orang tua yang - sampai dalam batas-batas tertentu – mengabaikan kesejahteraan fisik dari anak kemungkinan besar menimbulkan dampak negatif terhadap anak, namun dampak negatif yang lebih besar lagi bisa ditimbulkan oleh orang tua yang tidak mau memberikan cinta kasih dan penghargaan kepada anak sama sekali. Roe, yang memang belum menjelaskan tentang perbedaan efek antara dua jenis penolakan orang tua ini terhadap hirarki kebutuhan dari anak, menyatakan bahwa selama anak tidak melihat anak lain diperlakukan berbeda dari dirinya maka dia akan mengalami hambatan pada perkembangan, biarpun tidak selalu akan menimbulkan distorsi pada perkembangan itu.
Yang terakhir adalah jenis orang tua yang bersikap kasual dan mencintai yang memberikan pemuasan kepada kebutuhan anak pada sebagian besar level. Ke dua jenis orang tua ini memenuhi kebutuhan anak mereka dengan cara yang berbeda satu sama lain dan dengan tingkatan yang sedikit berbeda. Namun kepribadian yang terbentuk dari teknik asuhan yang menerima anak ini akan mampu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri di semua level.

PENGALAMAN MASA KECIL, KEBUTUHAN DAN PERILAKU DEWASA
Apa hubungan antara berbagai praktek asuhan tadi dengan hirarki kebutuhan yang ditimbulkannya, dan dengan perilaku dewasa yang kemudian akan terbentuk, terutama perilaku dewasa yang berupa seleksi vokasional? Teori ini memandang hubungan itu berdasarkan tingkat sejauh mana seorang individu memiliki atau tidak memiliki orientasi terhadap orang lain (person). Dalam klasifikasi pekerjaan yang disusun Roe (1957), orang-orang yang bekerja dalam profesi jasa adalah berorientasi pada orang lain dan mungkin masa kecilnya dihabiskan di dalam sebuah rumah yang menghasilkan lingkungan yang mencintai dan melindunginya secara berlebihan (overprotektif) sementara ilmuwan cenderung untuk tidak berorientasi pada orang lain dan berasal dari lingkungan rumah yang dingin dimana anak cenderung ditolak dan dihindari oleh orang tuanya. Suasana rumah ini akan mempengaruhi jenis kegiatan vokasional yang diambil seseorang, dimana struktur genetis dan pola pengerahan energi psikis yang tidak disadari individu sendiri itu akan mempengaruhi level jabatan (occupational level) yang dicapai seorang pekerja. Faktor-faktor seperti intensitas kebutuhan, yang dipengaruhi oleh lingkungan masa kecil, bisa meningkatkan level jabatan (occupational level) misalnya lewat peningkatan pada motivasi, tapi peningkatan semacam itu akan selalu dibatasi oleh faktor genetis yang mempengaruhi kecerdasan dan juga dipengaruhi oleh latar belakang sosial ekonomi dari sang individu.
Roe (1957) membagi dunia kerja menjadi delapan bidang, yaitu jasa, bisnis, organisasi, teknologi, kegiatan luar ruangan, ilmu pengetahuan, budaya umum dan seni dan hiburan, dan menjadi enam level jabatan, yaitu profesional dan manajerial I, profesional dan manajerial II, semi profesional, ketrampilan bisnis kecil, semi trampil dan tidak trampil. Ke delapan bidang dalam dunia kerja ini pada awalnya dipandang sebagai memiliki hubungan psikologis satu sama lain dalam sebuah rentangan (continuum) sedemikian rupa sehingga bidang yang paling mirip dari segi lingkungan psikologisnya akan terletak berdekatan di sepanjang rentangan itu (sesuai dengan urutan di atas -pent). Maka, orang yang bekerja di dalam bidang “organisasi” akan berada dalam lingkungan psikologis yang sangat mirip dengan yang dialami oleh orang yang bekerja di bidang “teknologi” atau yang bekerja dalam bidang “bisnis”. Selain itu, sistem ini dirancang sebagai sebuah silinder, yaitu memiliki bidang horisontal dimana ke delapan bidang itu diletakkan secara melingkar, sehingga seseorang bisa masuk ke dalam sistem ini dari bidang manapun, karena sifatnya memang kontinu (continuous, gandeng, menempel secara tak terputus -pent). Maka, bidang yang pertama, yaitu bidang “jasa” sebenarnya berdempetan dengan bidang ke delapan, yaitu “seni dan hiburan” dalam artian memiliki kemiripan secara psikologis. Selain dari memiliki bidang horisontal ini juga ada bidang vertikal yang merepresentasikan level jabatan, yaitu level tertinggi di sebelah atas dan level paling rendah di sebelah bawah.
Roe dan Klos (1969) memodifikasi konsep awal dari Roe tentang sistem klasifikasi pekerjaan ini dari yang semula berbentuk silinder menjadi berbentuk kerucut. Perubahan ini dilakukan untuk mengindikasikan bahwa, apapun bidangnya, pekerjaan-pekerjaan pada level jabatan rendah adalah jauh lebih mirip satu sama lain daripada antara pekerjaan yang satu dengan yang lain dalam level jabatan tinggi (sehingga kerucutnya berbentuk terbalik, yang lancip menghadap ke bawah -pent). Dalam kerucut ini, level jabatan tertinggi terletak di sisi atas yang luas, yang menggambarkan bahwa ada diferensiasi yang besar secara psikologis pada para pekerja yang bekerja di berbagai bidang yang berbeda di level-level jabatan tinggi. Semakin bawah, kerucut ini menjadi semakin kecil, yang menunjukkan bahwa pekerjaan satu dengan yang lain di level jabatan rendah/bawah adalah berbeda satu sama lain hanya fungsi dari konteksnya saja dan bukan berbeda dari segi karakteristik dasarnya. Maksudnya, seorang tukang bersih-bersih yang bekerja di studio seni tidak berbeda jauh secara pengalaman psikologis jika dibandingkan dengan tukang pembersih lantai di sebuah laboratorium fisika, tapi ilmuwan fisika dan seniman memiliki lingkungan psikologis yang berbeda jauh.
Roe, Hubbard, Hutchinson dan Bateman (1966) dan Roe dan Hutchinson (1969) telah berusaha untuk memvalidasi aspek-aspek psikologis dari sistem klasifikasi ini dengan menggunakan perubahan pekerjaan yang terjadi dalam periode beberapa tahun. Osipow (1966) juga telah meneliti konsistensi dari preferensi pekerjaan individu untuk tiap bidang pekerjaan. Temuan dari penelitian-penelitian ini memberikan sejumlah dukungan bagi pendapat Roe bahwa bidang-bidang pekerjaan yang berdekatan posisinya (di dalam sistem, yaitu dekat dalam artian mirip secara psikologis -pent) adalah memang benar-benar mirip/terkait secara psikologis satu sama lain daripada bidang-bidang yang berjauhan letaknya. Upaya yang dilakukan Meir (1970) untuk meneliti struktur spasial (struktur ruang -pent) dari sistem klasifikasi Roe dalam versi awalnya menghasilkan kesimpulan bahwa struktur dari sistem klasifikasi itu sudah memadai untuk level jabatan yang tinggi tapi tidak untuk level jabatan yang rendah, dan kesimpulan ini konsisten dengan revisi yang dilakukan Roe dan Klos (1969) terhadap struktur itu, yaitu dari silinder menjadi kerucut. Meir (1973) dengan menggunakan metode analisa ruang terkecil (smallest space analysis method) juga menyimpulkan bahwa asumsi-asumsi psikologis dari Roe tentang sistemnya itu adalah cukup valid.
Modifikasi besar lain yang dilakukan terhadap skema klasifikasi pekerjaan Roe ini dilakukan dalam penelitian Roe dan Klos (1969), yaitu dengan meletakkan ke delapan bidang pekerjaan itu ke dalam dua sumbu. Sumbu yang pertama adalah orientasi terhadap komunikasi yang bertujuan versus orientasi terhadap penggunaan sumber daya sementara sumbu yang kedua adalah orientasi terhadap fenomena interpersonal versus orientasi terhadap fenomena alam. Maka sebuah bidang pekerjaan bisa di-”plot”-kan atau diletakkan di dalam ruang psikologis ini dalam posisi tertentu terhadap lingkaran dasar (yang berisi bidang-bidang pekerjaan -pent) dalam teori Roe.

Ringkasan
Teori Roe ini membahas semua aspek yang penting dari seleksi vokasional. Perkembangan dari kebutuhan dalam diri individu mempengaruhi konteks vokasional secara umum, yaitu apakah berorientasi pada orang lain atau tidak. Faktor-faktor dalam lingkungan masa kecil yang mempengaruhi perkembangan dari kebutuhan dispesifikasikan dengan jelas. Perkembangan dari individu normal juga dispesifikasikan dan juga dipaparkan beberapa cara dimana perkembangan normal itu bisa mengalami gangguan. Motivasi dipandang sebagai dampak dari intensitas kebutuhan, dan intensitas kebutuhan adalah fungsi dari/tergantung pada tingkat kekurangan (deprivation) yang dirasakan individu dan pada struktur genetisnya. Yang terakhir adalah bahwa level dari aktivitas vokasional (kompleksitas dan tanggung jawab) adalah sangat ditentukan oleh perbedaan genetis antar orang, yang menghasilkan perbedaan pada tingkat kecerdasan dan pada cara orang berusaha untuk memanipulasi berbagai aspek dari lingkungan mereka. Maka dapat diperkirakan bahwa evaluasi secara seksama terhadap masa kecil dari seorang individu dan persepsi anak terhadap sikap orang tua serta evaluasi terhadap aptitude dari anak bisa memungkinkan kita untuk memprediksikan secara akurat kelas pekerjaan apa yang akan dicapai oleh individu itu. Atau sebaliknya juga, orang-orang yang berada di pekerjaan yang berbeda tapi di level jabatan yang sama diperkirakan akan memiliki lingkungan masa kecil yang berbeda-beda antara mereka, sesuai dengan yang diprediksikan oleh sistem dari Roe ini.

PENELITIAN
Ada dua jenis penelitian yang relevan dengan teori Roe ini. Yang pertama adalah penelitian-penelitian yang dilakukan Roe sendiri, sebelum ia menuangkan teorinya ini ke dalam bentuk formal. Temuan dari penelitian-penelitian ini mengarahkan pemikirannya tentang faktor-faktor kepribadian yang berperan penting terhadap pilihan karir. Jenis penelitian kedua yang relevan bagi teori Roe adalah penelitian-penelitian yang dilakukan setelah model formal sudah dibuat. Penelitian jenis yang kedua ini dilakukan oleh peneliti-peneliti lain untuk mengevaluasi teori Roe dengan cara merancang penelitian-penelitian yang bisa memprediksikan jenis-jenis kejadian vokasional tertentu berdasarkan pada proposisi-proposisi dalam teori dan kemudian mengukur tingkat sejauh mana prediksi-prediksi dari teori Roe sesuai dengan kejadian-kejadian vokasional itu (fakta tentang tindakan yang dilakukan orang sehubungan dengan pekerjaannya, termasuk tindakan memilih jenis pekerjaan -pent).

Penelitian-Penelitian Awal
Penelitian-penelitian yang dilakukan Roe sebelum ia mengembangkan teorinya masih belum melakukan pengujian secara ketat terhadap pendapat-pendapatnya, karena sebagian besar dari penelitian itu bersifat deskriptif dan yang jelas, teori Roe sendiri masih belum dikembangkan secara cukup matang untuk bisa diuji. Namun, di sini kita perlu membahas tentang disain dari penelitian-penelitian itu dan generalisasi apa saja yang ia dapatkan dari temuan penelitian-penelitian itu karena penelitian yang ia lakukan selama periode sebelum ia menerbitkan teorinya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap arah dan bentuk dari teorinya. Penelitian-penelitian ini sebagian besar adalah penelitian terhadap karakteristik kepribadian, faktor latar belakang, aptitude, dan kemampuan intelektual yang terkait dengan masalah pilihan vokasional. Hasil dari penelitian-penelitian ini dilaporkan industri dalam beberapa makalah, tapi temuan-temuan utamanya dipaparkan dalam beberapa monograf tentang karakteristik dari orang-orang yang memiliki reputasi terkemuka dalam ilmu fisika, biologi dan behavioral.
Penelitian-penelitian Roe ini memiliki dua tema utama. Penelitian-penelitian awalnya adalah evaluasi (assessment) terhadap temuan dari beberapa proyek kelompok dan uji kemampuan yang dilakukan terhadap beberapa ahli biologi, fisika dan kimia. Berdasarkan penelitian-penelitian ini, Roe bisa melaporkan beberapa perbedaan dan kemiripan antara mereka berdasarkan pada uji Rorschach Inkblot Test, atau dalam beberapa penelitian ia menggunakan uji Thematic Apperception Test (TAT) dan beberapa jenis tes kemampuan (Roe, 1949a; 1950; 1951c; 1951d; 1952a; 1952b; 1949b; 1951a; 1951b; 1953) untuk beberapa ilmuwan dari beberapa bidang. Langkah yang kedua di dalam program penelitiannya adalah penelitian yang ia lakukan hd karakteristik dan latar belakang dari para ilmuwan terkemuka. Prosedur-prosedur yang ia lakukan dalam penelitian-penelitian ini adalah pertama-tama mencari orang-orang yang dianggap terkemuka dalam bidang mereka menurut rekan-rekan mereka dan kemudian meminta kerjasama mereka untuk melakukan wawancara dan tes. Wawancara secara terinci dilakukan dengan tema seperti latar belakang keluarga, pengalaman masa kecil, perkembangan psikomotorik, pengalaman religius dan keyakinan religius, pengalaman kerja, yang semuanya dibahas secara mendalam. Selain itu, uji yang dilakukan terhadap kemampuan verbal-spasial-matematis juga diberikan, ditambah dengan dua uji kepribadian, TAT dan Rorschach Inkblot Test. Perbandingan dilakukan terhadap beberapa ilmuwan dari bidang-bidang yang berbeda dengan menggunakan data yang sudah dikumpulkan.
Satu hal yang signifikan bagi pengembangan teori Roe adalah generalisasi yang ia buat dari wawancara-wawancara itu. Dia menyimpulkan bahwa para ilmuwan terkemuka ini memiliki masa kecil yang membedakan mereka dari satu sama lain. Misalnya, banyak dari ahli biologi terkemuka yang ia teliti berasal dari keluarga yang mengalami perceraian atau kematian dari salah satu orang tua. Sementara dari semua ilmuwan sosial, tidak satu pun berasal dari keluarga yang pecah karena konflik antar orang tua biarpun beberapa di antaranya mengalami kematian orang tua. Para ilmuwan biologi melaporkan bahwa mereka mengalami kesulitan yang lebih besar daripada umumnya di dalam perkembangan psiko-seksual. Ilmuwan fisika dan biologi didapati memiliki hubungan agak jauh dengan orang tua dan saudara-saudara kandung mereka, dan ini bertentangan dengan ilmuwan behavioral (seperti psikolog dan antropolog) yang melaporkan bahwa mereka lebih banyak melakukan interaksi dengan keluarga mereka, biarpun tidak selalu dalam artian interaksi yang positif. Orang tua dari para ilmuwan sosial didapati lebih overprotektif dan terlalu mengendalikan anak mereka daripada orang tua dari para ilmuwan fisika dan biologi. Para antropolog didapati memiliki sikap memberontak dan bermusuhan secara terang-terangan dengan orang tua mereka.
Usia dimana ilmuwan pertama kali berkomitmen pada vokasi/pekerjaan tertentu didapati juga berbeda jauh antar kelompok-kelompok ilmuwan ini. Para ilmuwan fisika dan biologi cenderung untuk membuat keputusan di usia yang paling muda, sementara antropolog dan psikolog cenderung di usia yang lebih tua. Tentu saja, ada kisaran usia yang besar pada saat membuat pilihan dan ada overlap yang cukup besar antar kelompok. Namun trend umum untuk psikolog adalah mereka membuat keputusan untuk menjadi psikolog ketika kuliah atau di masa setelahnya dan sedikit sekali antropolog yang membuat keputusan itu ketika masih di sekolah menengah atas, sementara banyak ahli fisika dan biologi membuat keputusan ketika masih bersekolah di sekolah menengah atas. (Temuan ini nampaknya paralel dengan prediksi teoritis dari Holland tentang ketegasan dan waktu dari membuat keputusan itu untuk beberapa jenis siswa yang berbeda, seperti yang akan dibahas di bab-bab selanjutnya).
Satu hal lagi yang menarik adalah temuan bahwa individu yang mengalami sakit lama di masa kecil sehingga membuat individu itu terisolir dalam waktu yang lama memiliki peran yang signifikan di dalam perkembangan individu itu, terutama di kalangan ahli fisika teoritis. Yang terakhir, seperti yang bisa diperkirakan dari para profesional yang terkemuka ini, semua ahli ini memiliki skor yang sangat tinggi untuk semua ukuran kemampuan, dimana ilmuwan sosial memiliki mean skor tertinggi untuk kemampuan verbal, sementara para ilmuwan fisika memiliki skor tertinggi pada uji spasial dan uji matematika (dimana uji matematika yang digunakan ini adalah termasuk ringan untuk ukuran seorang ahli fisika). Semua ilmuwan terkemuka ini membuat Roe terkesan karena mereka pada umumnya memiliki dedikasi yang besar terhadap pekerjaan mereka dan peran dari kegiatan profesional mereka memberikan kepuasan batin (gratification) bagi mereka. Dapat diperkirakan bahwa dedikasi mereka terhadap profesi mereka ini memiliki hubungan erat dengan prestasi vokasional mereka yang tinggi, biarpun memang, seperti yang disampaikan Roe, kesimpulan semacam itu menjadi lemah karena data serupa masih belum didapatkan dari para ilmuwan yang “tidak terkemuka” sebagai kelompok pembanding.
Temuan Roe ini mendorongnya untuk menyimpulkan bahjwa ada perbedaan pada karakteristik kepribadian dari orang-orang dalam vokasi yang berbeda, bahwa orang dalam vokasi yang berbeda akan melaporkan pengalaman masa kecil yang secara kualitatif berbeda juga, dan bahwa perbedaan utama pada orientasi vokasional antar orang yang satu dengan yang lain adalah terletak pada dimensi keperdulian terhadap orang lain atau ketidakperdulian terhadap orang lain. Kesimpulan ini kemudian memiliki peran yang signifikan bagi teori pilihan vokasional yang ia buat setelahnya.
Evaluasi. Validitas dari penelitian yang dilakukan Roe terhadap para ilmuwan terkemuka ini sangat tergantung pada akurasi dari laporan para ilmuwan yang didasarkan pada ingatan mereka tentang sikap dan perilaku orang tua mereka terhadap mereka, pengaruh yang diterima di masa kecil terhadap preferensi dan minat mereka, serta akurasi dari perasaan yang mereka ungkapkan tentang diri mereka dan orang lain, dan sebagainya, dan juga tergantung pada penafsiran Roe terhadap materi wawancara yang berisi kenangan dari para ilmuwan itu. Tentu saja, ada sebagian dari kesimpulan Roe ini yang dibuat berdasarkan penilaian yang ia buat terhadap para ilmuwan ini dari protokol tes Rorschah dan TAT. Namun ada beberapa masalah yang terjadi dalam penelitian yang menggunakan uji proyektif seperti ini, karena validitas dari penafsiran yang dibuat berdasarkan tes-tes itu dapat dipertanyakan dan begitu juga reliabilitas dari respon yang diberikan terhadap butir-butir pertanyaan proyektif itu juga perlu dikaji lebih jauh. Selain itu, tes seperti Rorschah sebenarnya ditujukan untuk mendiagnosa psikopatologi dan belum tentu bisa bermanfaat untuk digunakan bagi populasi normal. Temuan yang didapatkan dari uji Rorschah kemungkinan besar akan lebih menekankan pada aspek gangguan kepribadian daripada pola kepribadian normal.
Ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan mengenai kegunaan dari generalisasi-generalisasi yang dibuat berdasarkan tokoh-tokoh yang menonjol. Para ilmuwan terkemuka yang diteliti Roe ini jelas adalah termasuk kalangan orang yang lain daripada kebanyakan orang. Sayangnya, Roe tidak berusaha untuk mengintegrasikan program penelitiannya secara ekplisit ke dalam bidang penelitian perkembangan anak. Sekalipun ada keterbatasan semacam ini, penelitian-penelitian Roe ini cukup imajinatif dan berguna sebagai penelitian awal dalam kajian terhadap interaksi antara pengalaman masa kecil, perkembangan kepribadian dan pilihan vokasional.

Penelitian Lain
Penelitian pertama yang dilakukan untuk menguji teori Roe adalah Grigg (1959). Dia meneliti perbedaan pada kenangan masa kecil tentang perlakuan dari orang tua antara wanita yang belajar matematika dan ilmu pengetahuan dengan wanita yang belajar kebidanan. Dia memprediksikan bahwa mereka yang kuliah matematika akan mengenang orang tuanya sebagai bersikap “dingin, kurang perhatian” sementara mereka yang kuliah kebidanan akan memiliki kenangan yang sebaliknya. Grigg menggunakan kuesioner yang terdiri dari 15 butir tentang sikap orang tua semasa kecil, rasa diterima orang tua semasa kecil, dan reaksi ayah dan ibu terhadap tanggung jawab mereka mengasuh anak yang diberikan kepada 24 wanita lulusan kebidanan untuk dibandingkan dengan 20 wanita lulusan jurusan kimia, fisika dan matematika. Selain itu, dia juga meneliti minat dari para responden ini semasa kecil. Hasilnya mengindikasikan bahwa tidak ada perbedaan antara ke dua kelompok itu dari segi kenangan tentang interaksi orang tua dengan anak dan dari segi penerimaan orang tua terhadap peran mereka dalam mengasuh anak. Namun Grigg mendapati bahwa wanita dari bidang matematika dan ilmu pengetahuan memiliki minat yang lebih besar semasa kecil terhadap benda-benda dan peralatan jika dibandingkan dengan wanita yang kuliah kebidanan sementara wanita dari bidang kebidanan lebih tertarik pada hubungan pertemanan semasa kecilnya. Grigg menyimpulkan bahwa temuan yang ia dapatkan itu tidak mendukung teori Roe, karena model Roe memprediksikan bahwa perbedaan pada pengalaman masa kecil dengan orang tua pada dimensi sikap dingin – sikap hangat/baik dan dimensi menerima dan menolak peran mengasuh akan memiliki hubungan dengan perbedaan karir, seperti antara karir di bidang ilmu pengetahuan dan karir kebidanan.
Hagen (1960) meneliti teori Roe dengan menggunakan pendekatan longitudinal. Penelitiannya menggunakan sampel yang berukuran besar (245) yang terdiri dari mahasiswa tahun kedua (sophomores) di Harvard yang pertama kali dikontak pada tahun 1938-1942, dan dia menggunakan data sejarah keluarga yang terkait dengan informasi vokasional, sosial, personal dan medis. Orang tua dan kadang juga beberapa individu lain diminta untuk memberikan informasi retrospektif (informasi yang berupa kenangan tentang masa slam -pent) tentang kepribadian dari subyek di masa kecil dan praktek pengasuhan anak. Penelitian itu juga mengumpulkan data tentang praktek dari subyek sendiri di dalam mengasuh anaknya. Para subyek ini juga diminta untuk memberikan respon terhadap kuesioner terbuka (open ended, pertanyaan yang tidak memiliki pilihan jawaban -pent) mengenai sikap mereka terhadap pekerjaan dan penyesuaian yang mereka lakukan terhadap pekerjaan mereka.
Pengalaman masa kecil dari para subyek yang didasarkan pada data sejarah keluarga ini kemudian diberi peringkat (rate) secara independen dengan menggunakan kategori dari praktek pengasuhan anak dari Roe oleh dua penilai. Para penilai ini didapati memiliki 70 persen kesepakatan satu sama lain dalam peletakan praktek-praktek itu ke dalam kategori Roe. Sisanya adalah 30 persen subyek yang praktek pengasuhan orang tuanya tidak dievaluasi secara konsisten dan ini tidak disertakan dalam analisa. Kemudian profesi dari tiap subyek diletakkan ke dalam kategori-kategori dalam klasifikasi vokasional Roe dan kemudian ada beberapa prediksi yang dibuat. Diprediksikan bahwa orang-orang dalam profesi jasa adalah berasal dari keluarga yang protektif, orang dalam profesi kontak bisnis atau budaya umum berasal dari keluarga yang memiliki tuntutan besar terhadap anak, orang-orang dalam profesi yang aktif di luar ruangan (outdoor) adalah berasal dari keluarga yang suasananya menolak anak, dan orang dalam bidang atau profesi teknologi berasal dari keluarga dengan suasana kasual (casual, biasa, santai -pent). Didapati bahwa ketika suasana masa kecil dihubungkan dengan profesi yang sekarang, hanya satu dari kategori pengasuhan anak itu yang memiliki hubungan signifikan dengan profesi yang sekarang. Setengah dari orang dari suasana keluarga yang kasual didapati memiliki profesi yang sesuai dengan prediksi tadi, yang didapati signifikan di atas level probabilitas 0,01. Namun sampel yang digunakan di sini sangat kecil, dan karena prediksi terhadap kategori-kategori lainnya gagal maka Hagen menyimpulkan bahwa teori Roe tidak didukung oleh data.
Evaluasi terhadap teori Roe tentang hubungan antara praktek asuhan orang tua di masa kecil dengan terbentuknya orientasi/keperdulian ke arah orang lain atau ketiadaan orientasi terhadap orang lain juga dilakukan oleh Hagen, dimana penelitian ini juga tidak mendapatkan temuan yang mendukung teori Roe. Dari 112 subyek yang termasuk dalam kategori suasana keluarga yang menuntut atau overprotektif, 69 di antaranya memiliki profesi yang berorientasi pada orang dan 43 memiliki profesi yang tidak berorientasi pada orang. Dari 42 subyek yang berasal dari keluarga yang menolak, mengabaikan dan bersikap kasual, hanya 16 yang bekerja di dalam profesi yang berorientasi pada orang (sesuai dengan teori Roe) tapi 26 di antaranya memiliki profesi yang tidak berorientasi pada orang. Distribusi ini juga tidak signifikan, sehingga menghasilkan kesimpulan bahwa data itu tidak mendukung model Roe bahkan dalam artian yang umum sekalipun. Hagen menyatakan bahwa data yang digunakan bisa jadi tidak memadai atau tidak akurat sehingga menimbulkan kegagalan di dalam menemukan bukti yang mendukung teori Roe. Namun, bisa jadi ada beberapa keterbatasan/kekurangan pada teori Roe itu sendiri, yaitu terutama pada fakta bahwa ada banyak orientasi yang bisa terjadi dalam karir satu orang yang sama, sehingga bisa jadi seorang ilmuwan memiliki orientasi pada orang dan karenanya bekerja di laboratorium tapi bisa jadi juga ilmuwan lain yang sama-sama ilmuwannya memiliki orientasi pada orang sehingga ia bekerja sebagai dosen atau menjalankan proyek penelitian.
Kinnane dan Pable (1962) merancang sebuah penelitian untuk meneliti model lain dari perkembangan karir (yaitu model dari Super, 1957, yang dibahas dalam kesempatan lain) tapi beberapa hipotesa yang diteliti di sini memiliki hubungan erat dengan teori Roe. Kinnane dan Pable berusaha untuk mengidentifikasi hubungan antara latar belakang keluarga dengan orientasi nilai kerja dari para remaja. Sampel mereka yang terdiri dari 121 anak lkk dari kelas 11 memberikan respon terhadap sebuah kuesioner biografis yang dirancang oleh Super dan Overstreet (1956), yang dirancang untuk mengukur variabel-variabel dalam latar belakang keluarga seperti stimulasi budaya, kohesi/kesatuan keluarga, mobilitas sosial dan independensi remaja. Untuk menambah data, Kinnane dan Pable mengembangkan sebuah ukuran yang mengukur suasana materialistis dalam rumah. Mereka juga menggunakan Work Values Inventory (WVI) dan sebuah instrumen lain yang dirancang oleh Super dan Overstreet (1960). Dua instrumen yang disebut terakhir ini melengkapi informasi yang diperlukan untuk mengukur pengaruh dari rumah dan keluarga dan mengukur orientasi nilai kerja yang ditimbulkan dari pengaruh rumah dan keluarga itu. Hipotesa dari penelitian itu yang relevan dengan teori Roe adalah sebuah hipotesa yang menyatakan bahwa orientasi terhadap orang akan terbentuk pada diri anak yang diasuh dalam lingkungan keluarga yang hangat (warmth). Rumah yang suasananya hangat/ramah adalah suasana dimana orang tua memiliki keperdulian terhadap anak, dimana ada kemungkinan terjadinya overproteksi atau kendali yang berlebihan dari orang tua.
Ketika mereka meneliti hubungan antara nilai kerja dengan latar belakang keluarga, mereka mendapati bahwa ada korelasi yang signifikan antara kohesi keluarga dengan orientasi terhadap kondisi kerja dan asosiasi dengan orang lain. Temuan ini konsisten dengan teori Roe, biarpun sebenarnya tidak menolak kemungkinan bagi teori lain. Satu temuan yang tidak terduga dan sulit dijelaskan adalah bahwa orientasi materialistik memiliki hubungan dengan kohesi keluarga secara lebih luat daripada hubungan antara orientasi terhadap orang lain dengan kohesi/kesatuan keluarga. Namun penelitian itu sendiri memiliki satu kelemahan besar, seperti yang disebutkan oleh para penelitinya sendiri, yaitu bahwa mestinya bisa dilakukan pengujian yang lebih ketat terhadap hipotesa yaitu dimana perbandingan antara nilai kerja dengan faktor biografis akan menjadi lebih valid jika ukuran-ukuran untuk keduanya adalah independen satu sama lain. Ketika ukuran-ukuran itu memiliki hubungan yang erat satu sama lain (berkorelasi tinggi satu sama lain -pent) seperti dalam penelitian Kinnane dan Pable itu, maka ada resiko bahwa persepsi subyek terhadap faktor yang satu mempengaruhi respon mereka terhadap faktor lain sehingga menghasilkan korelasi yang semu (spurious).
Pendekatan lain yang digunakan di dalam mengevaluasi teori Roe adalah pendekatan yang dirancang Utton (1962), yang mengajukan hipotesa bahwa individu-individu dalam profesi yang berorientasi pada orang (people oriented) akan melaporkan “cinta altruistik” yang lebih besar terhadap umat manusia daripada orang-orang dalam pekerjaan yang tidak berorientasi pada orang. Dia lebih jauh memprediksikan bahwa para subyek yang memiliki pekerjaan yang berorientasi pada orang akan memiliki kenangan masa kecil yang lebih hangat (warm) daripada subyek yang bekerja dalam karir yang tidak berorientasi pada orang. Para subyek dalam penelitian itu adalah 33 wanita yang menjadi pekerja sosial dan 25 wanita yang bekerja sebagai terapis untuk masalah dalam pekerjaan (occupational therapist) yang termasuk dalam profesi yang berorientasi pada orang dan 41 wanita yang menjadi ahli gizi (dietician) dan 28 wanita yang bekerja sebagai teknisi laboratorium sebagai profesi yang tidak berorientasi pada orang.
Untuk menguji hipotesa yang pertama, Utton menggunakan Allport Inventory of Values (AIV), yang didapatinya bisa membedakan ke dua kelompok pekerja itu secara signifikan pada Social Scale, sehingga memberikan dukungan bagi hipotesa bahwa subyek yang berorientasi pada orang adalah lebih altruistik terhadap orang lain daripada subyek yang bekerja di dalam profesi yang tidak berorientasi pada orang. Hipotesa kedua dari Utton diteliti dengan merancang dan menggunakan sebuah Skala, yaitu Childhood Experience Rating Scale (CERS, skala peringkat pengalaman masa kecil), yang ditujukan untuk mengukur sejauh mana rasa hangat (warm) yang dirasakan dalam kenangan masa kecil. Dia mendapati bahwa skor CERS untuk para wanita yang memiliki skor di atas mean dari semua wanita pada Social Scale dalam Allport Inventory of Beliefs (AIB) adalah tidak berbeda dari skor CERS dari wanita-wanita yang skornya di bawah mean untuk Social Scale. Selain itu dia mendapati bahwa skor CERS adalah sama untuk subyek yang bekerja dalam profesi yang berorientasi pada orang dengan subyek yang profesinya tidak berorientasi pada orang. Namun Utton juga mendapati bahwa ketika skor SVIB dari subyek yang memiliki skor B atau lebih tinggi dalam bidang pekerjaan mereka diperiksa lebih jauh dan latar belakang CERS mereka dibandingkan, didapatkan beberapa perbedaan, biarpun perbedaan-perbedaan itu tidak selalu konsisten dengan prediksinya. Para pekerja sosial dan terapis pekerjaan yang memiliki skor B atau lebih tinggi pada skala SVIB didapati memiliki skor CERS yang lebih tinggi daripada pekerja sosial dan terapis pekerjaan yang memiliki skor SVIB di bawah B untuk pekerjaan mereka. Namun terapis dan ahli gizi didapati memiliki kemiripan satu sama lain dalam kenangan masa kecil mereka, sementara pekerja sosial dan teknis laboratorium memiliki kemiripan dari segi kenangan masa kecil. Maka temuan ini tidak konsisten dengan teori Roe dan karenanya menimbulkan sejumlah pertanyaan tentang sejauh mana validitas dari pandangan dalam teori ini bahwa dimensi hangat/menyenangkan versus dingin/kaku dalam kenangan masa kecil memiliki pengaruh terhadap pilihan karir yang dibuat individu setelah dewasa.
Switzer, Grigg, Miller dan Young (1962) merancang sebuah penelitian yang berusaha untuk mengatasi beberapa kekurangan dari penelitian Grigg (1959), terutama dalam kaitannya dengan kemampuan dari instrumennya di dalam mengukur pengalaman masa kecil. Switzer dkk. memprediksikan bahwa para mahasiswa yang kuliah theologi (ministerial, belajar theologi untuk menjadi pendeta -pent), yang merupakan sebuah profesi yang berorientasi pada orang, akan memiliki persepsi bahwa orang tua mereka memiliki tuntutan yang besar terhadap mereka dan tidak terlalu menuntut mereka ketika mereka kecil jika dibandingkan dengan para mahasiswa dari jurusan kimia, yang merupakan bidang yang tidak berorientasi pada orang. Mereka meneliti 40 mahasiswa pasca sarjana dari bidang theologi, 40 mahasiswa sarjana dari bidang theologi (yang disebut sebagai jurusan ministerial/kependetaan), dan 40 mahasiswa sarjana kimia, yang semuanya menyatakan bahwa mereka sudah mantap dengan pilihan jurusan mereka itu. Sebuah kuesioner dirancang untuk mengukur sejauh mana sikap menuntut dan menolak dari orang tua mereka terhadap mereka menurut kenangan mereka selama masa kecil dan kuesioner ini didistribusikan kepada mereka.
Temuan yang didapatkan tidak mencerminkan adanya hubungan yang konsisten antara seleksi profesi dengan sikap orang tua. Bahkan ada sebagian temuan yang bertolak belakang dengan perkiraan teoritis. Sebagai contoh, Switzer dkk. mendapati bahwa mahasiswa theologi pasca sarjana dan mahasiswa ministerial melaporkan pengalaman ditolak orang tua mereka secara lebih sering daripada mahasiswa kimia. Semua temuan ini bertentangan dengan prediksi dari teori Roe. Namun, sama seperti penelitian-penelitian lain, kemampuan dari kuesioner yang mengukur reaksi orang tua dan kenangan dari responden masih bisa dipertanyakan. Misalnya, bisa jadi bahwa para mahasiswa theologi dan ministerial, yang lebih perseptif secara sosial daripara mahasiswa kimia, memiliki kenangan masa kecil yang lebih kaya dan lebih memperhatikan standar ketat dalam hubungan antara orang tua dan anak jika dibandingkan dengan mahasiswa kimia.
Karena pekerjaan tidak selalu memiliki karakteristik yang sama biarpun gelar jabatannya sama, mala Levine (1963) berusaha mengendalikan interaksi sosial dalam sebuah pekerjaan dengan menggunakan subyek dari 10 jenis pekerjaan yang memiliki berbagai macam kemungkinan interaksi sosial. Dia memprediksikan bahwa orang yang memiliki “orientasi pada orang” yang kuat akan memiliki pekerjaan yang menuntut interaksi sosial dalam tingkat tinggi. Dia juga memprediksikan bahwa orang yang memandang pekerjaan mereka sebagai memerlukan banyak interaksi sosial akan melaporkan diri mereka sebagai memiliki peringkat yang lebih tinggi dalam skala untuk tingkat penguasaan ketrampilan manipulasi sosial daripada orang-orang yang bekerja dalam profesi yang memiliki interaksi sosial rendah. Untuk menguji hipotesa ini, dia mengembangkan sebuah skala untuk mengukur kebutuhan sosial dari pekerjaan (tingkat interaksi sosial yang dituntut oleh pekerjaan -pent) ditambah dengan satu kuesioner singkat (10 butir) untuk mengukur kecenderungan dari subyek terhadap pendekatan manusia atau pendekatan non-manusia dalam pemecahan masalah, dan ditambah lagi sebuah kuesioner singkat (tiga butir) dimana subyek diminta untuk memberikan peringkat bagi diri mereka sendiri tentang sejauh mana mereka memiliki ketrampilan manipulasi sosial.
Temuan yang didapatkan penelitian itu memberikan dukungan terhadap hipotesa pertama, yaitu bahwa orang yang memiliki orientasi terhadap orang dalam tingkat tinggi kemungkinan besar akan memiliki pekerjaan yang memerlukan banyak interaksi sosial. Misalnya, didapati bahwa pegawai penjualan adalah berbeda secara signifikan dari semua kelompok lain dalam hal tingkatan orientasi terhadap orang, seperti yang nampak dari skor mereka yang memang lebih tinggi. Sementara akuntan didapati memiliki skor yang lebih rendah untuk orientasi terhadap orang jika dibandingkan dengan pekerja sosial, juru gambar (draftsmen), teknisi laboratorium dan teknisi listrik. Namun hipotesa yang kedua tidak mendapatkan dukungan. Sekalipun memang kita bisa mempertanyakan tentang sejauh mana kelayakan dari pelaksanaan penelitian ini, seperti misalnya pertanyaan tentang reliabilitas dari kuesioner orientasi pemecahan masalah antara orientasi terhadap orang versus tidak berorientasi pada orang yang terdiri dari 10 butir itu dan kuesioner dengan tiga butir untuk peringkat dari ketrampilan manipulasi sosial, namun temuan Levine ini memberikan dukungan terhadap teori Roe tentang orientasi kerja yang bersifat dikotomis, yaitu berorientasi pada orang atau tidak berorientasi pada orang. Namun temuan penelitian Levine itu masih belum menghasilkan pemahaman tentang pengaruh dari faktor latar belakang terhadap perkembangan dari preferensi sosial dan non-sosial, seperti yang ada dalam klasifikasi dari sistem Roe. Jones (1965) juga melaporkan bahwa para subyek penelitiannya mengungkapkan preferensi mereka terhadap pekerjaan berdasarkan apakah pekerjaan itu memiliki orientasi pada orang atau tidak.
Green dan Parker (1965) melakukan sebuah penelitian yang menggunakan sampel yang terdiri dari para remaja, dengan tujuan untuk mengatasi masalah yang terjadi pada penelitian-penelitian sebelumnya, yaitu masalah tentang rekonstruksi secara retrospektif tentang pengalaman masa kecil. Para subyek adalah anak laki-laki dan perempuan kelas 7 yang tinggal bersama orang tua mereka. Instrumen penelitian adalah Parent-Child Relation Questionnaire (kuesioner untuk hubungan antara orang tua dan anak) dari Roe dan Siegelman, yang dimodifikasi untuk digunakan bagi anak-anak kelas 7. Respon yang diberikan terhadap data dari kuesioner (inventory) ini merupakan data tentang suasana rumah yang sedang dialami oleh anak-anak itu, dimana data ini kemudian dihubungkan dengan orientasi terhadap orang atau non-orientasi terhadap orang dari preferensi vokasional mereka. Temuan yang didapatkan menunjukkan bahwa untuk anak laki-laki, ketika mereka memiliki persepsi bahwa ke dua orang tua mereka adalah mendukung dan memiliki hubungan yang hangat/baik dengan mereka, maka pilihan vokasional mereka akan berorientasi pada orang, sementara untuk anak perempuan, hubungan yang dingin dengan orang tua menghasilkan pilihan karir yang tidak berorientasi terhadap orang. Yang menarik adalah bahwa anak laki-laki yang hidup dalam keluarga yang dingin tidak kemudian memilih profesi yang tidak berorientasi terhadap orang dan begitu juga anak perempuan dalam keluarga yang hangat juga tidak membuat rencana karir yang berorientasi pada orang. Namun temuan-temuan ini memberikan dukungan yang lebih besar bagi teori Roe daripada penelitian-penelitian lain dan menunjukkan bahwa data dari kondisi sekarang tentang asuhan orang tua terhadap anak adalah sangat penting bagi penelitian semacam itu. Akan sangat menarik kalau kita bisa mengikuti perkembangan dari para subyek ini di tahun-tahun selanjutnya dan melihat seberapa konstan persepsi mereka tentang perlakuan orang tua mereka terhadap diri mereka dan juga untuk melihat sejauh mana persepsi mereka itu bisa terus memiliki hubungan dengan orientasi dari keputusan karir mereka atau tidak.
Crites (1962) telah menguji sebuah hipotesa bahwa level-level peran penting dari hubungan interpersonal terhadap pekerjaan adalah berbentuk rentangan (continuum)  (yaitu rentangan dari sifat satu ke sifat lain yang tidak memiliki batas jelas, seperti misalnya rentangan dari panas sampai dingin, dan tidak bisa dihitung atau bukan deret -pent). Crites meminta 100 siswa untuk memberikan peringkat bagi delapan bidang kerja berdasarkan sejauh mana ke delapan bidang pekerjaan itu memerlukan hubungan interpersonal dengan orang lain sebagai kegiatan utama yang dilakukan dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Skala empiris yang didapatkan dari data ini tidak memiliki korelasi yang signifikan dengan skala teoritis dari model Roe. Crites menyimpulkan bahwa skala teoritis Roe tidak valid karena skala yang ia buat secara empiris itu sudah valid, paling tidak untuk urutan dari penilaian tentang orientasi kerja terhadap orang atau ketiadaan orientasi kerja terhadap orang. Sekalipun perbedaan urutan antara ke dua skala ini tidak banyak, namun kesalahan pada teori Roe tentang sejauh mana peran penting dari orientasi terhadap orang bagi sebuah bidang karir tertentu bisa jadi menjelaskan mengapa banyak penelitian sebelumnya tidak berhasil memvalidasi teori Roe ini.
Penelitian lain yang memiliki implikasi penting bagi teori Roe adalah sebuah penelitian yang berusaha untuk menyusun instrumen yang diberi nama Family Relations Inventory (FRI, kuesioner untuk hubungan keluarga) yang bisa menguji teori Roe ini secara lebih efektif. Brunkan dan Crites (1964), yang telah mengkritik upaya yang dilakukan penelitian-penelitian sebelumnya untuk menguji teori Roe dengan menggunakan kuesioner tentang latar belakang responden yang reliabilitas dan validitasnya tidak teruji, melakukan upaya secara sistematis untuk mengembangkan sebuah instrumen yang lebih efektif untuk mengukur faktor latar belakang keluarga yang mungkin memiliki hubungan dengan pilihan vokasional. Namun dalam penelitian Brunkan (1965), yang berusaha untuk menerapkan instrumen itu pada teori Roe sekali lagi, didapati bahwa tidak ada hubungan sistematis antara lingkungan masa kecil dengan orientasi (terhadap orang atau tidak -pent) dari pilihan vokasional. Brunkan menggunakan FRI untuk menguji 298 mahasiswa pria tingkat sarjana yang mengikuti mata kuliah psikologis. Skor dari FRI ini kemudian dihubungkan dengan kategori-kategori dari pilihan vokasional di dalam sistem Roe dan dari situ Brunkan kemudian memprediksikan bahwa pilihan vokasional akan berbeda tergantung pada apakah lingkungan keluarganya hangat atau dingin. Tidak satu pun dari prediksi itu mendapatkan dukungan. Maka, bahkan dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan secara lebih seksama untuk mengukur lingkungan keluarga, data yang didapatkan tetap tidak memberikan dukungan terhadap teori Roe.
Appleton dan Hansen (1969) menggunakan kuesioner untuk hubungan orang tua dan anak dari Roe dan Siegelman (1964), dan instrumen Kuder CH Social Service Scale dan 40 butir pertanyaan yang diambil dari Edwards Personal Preference Schedule untuk mengukur pengayoman (nurturance), perlindungan (succorance), dan dominasi (dominance) dari orang tua terhadap anak. Semua instrumen ini digunakan pada 173 siswa dan siswi sekolah menengah atas untuk meneliti hubungan antara rencana vokasional mereka dengan teori Roe. Temuan dari penelitian itu tidak mencerminkan hubungan yang signifikan antara laporan tentang hubungan antara orang tua dan anak dengan orientasi vokasional mereka. Appleton dan Hansen memandang bahwa temuan negatif semacam ini bisa jadi disebabkan karena kekurangan pada kuesioner, tapi temuan ini menjadi sebuah pertanyaan baru tentang validitas dari teori Roe itu sendiri. Penelitian lainnya, yaitu Byers, Forrest dan Zaccaria (1968) memprediksikan bahwa para pendeta akan berbeda dari kebanyakan orang dari segi kenangan masa kecil mereka. Beberapa dari prediksi tentang perbedaan antara ke dua kelompok itu berhasil dibuktikan, seperti misalnya responden pendeta yang mengenang bahwa ayah mereka cenderung menghindari mereka di masa kecil sebagaimana yang diukur dengan Family Relations Inventory adalah lebih banyak daripada kelompok orang biasa, tapi secara umum hubungan statistiknya lemah dan tidak memberikan dukungan teoritis yang kuat.
Sejumlah bukti pendukung bagi teori Roe ini telah didapatkan oleh Medvene (1969;1970). Dalam salah satu penelitian, Medvene (1969) mendapati bahwa ada hubungan yang signifikan antara persepsi tentang suasana rumah dengan pilihan vokasional untuk 461 mahasiswa pria dari jurusan psikologi. Penelitian lainnya (Medvene, 1970) mendapati bahwa para mahasiswa yang memiliki orientasi terhadap orang seringkali berasal dari keluarga yang bersikap menerima dan memberikan konsentrasi secara emosional kepada anak jika dibandingkan dengan para mahasiswa yang tidak berorientasi terhadap orang. Medvene lebih jauh mendapati bahwa para mahasiswa dari beberapa spesialisasi yang berbeda dalam jurusan psikologi menggambarkan latar belakang keluarga mereka secara berbeda juga. Dalam penelitian sebelumnya terhadap teori Roe, jarang sekali dilakukan pembedaan “dalam satu bidang pekerjaan” biarpun memang sebenarnya ada sejumlah data (De Coster dan Rhode, 1972) yang mengindikasikan bahwa perbedaan di dalam sebuah bidang pekerjaan (intraoccupational difference) emi hubungan dengan ciri kepribadian dari akuntan karena dipengaruhi oleh bidang spesialisasi yang diambil dan usia. Tidak ditemukannya perbedaan semacam ini merupakan bukti yang menolak teori Roe, karena kehadiran dari beberapa jenis kepribadian dalam satu bidang pekerjaan bisa jadi menutup kemungkinan untuk mengamati efek dari kepribadian terhadap karir.
Medvene dan Shueman (1978) mendapati bahwa para mahasiswa teknik akan lebih besar kemungkinannya untuk memiliki orang tua yang dominan dan bersikap menghindari mereka daripada memiliki orang tua yang menerima dan memperhatikan mereka, sementara para mahasiswa dari jurusan marketing dan layanan teknis akan lebih besar kemungkinannya untuk memiliki orang tua yang dominan dan menerima mereka. Secara keseluruhan, Medvene dan Shueman mendapati sejumlah bukti yang mendukung teori Roe bahwa orang tua yang dominan yang menghindari anak mereka menghasilkan anak yang tidak berorientasi pada orang.
Kriger (1972) menerapkan sebuah versi modifikasi dari teori Roe untuk meneliti orientasi karir versus orientasi ibu rumah tangga pada wanita. Kriger memandang bahwa bagi wanita, keputusan karir yang paling menentukan adalah pilihan antara menjalani karir atau menjadi ibu rumah tangga. Kriger memprediksikan bahwa wanita yang bekerja dalam profesi yang didominasi wanita akan melaporkan bahwa orang tua mereka bersikap overprotektif terhadap mereka, sementara wanita yang bekerja dalam profesi yang didominasi pria akan melaporkan bahwa orang tua mereka bersikap lebih kasual dan lebih menerima mereka. Untuk menguji prediksi-prediksi ini, Kriger meneliti respon dari tiga kelompok yang masing-masing terdiri dari 22 wanita dengan menggunakan instrumen Parent Attitude Research Instrument (PARI) dan mengukur skor kebutuhan akan prestasi (achievement need) mereka dengan menggunakan instrumen Edwards Personal Preference Schedule. Ke tiga kelompok wanita ini adalah kelompok ibu rumah tangga, kelompok wanita yang bekerja dalam profesi yang didominasi wanita dan kelompok wanita yang bekerja dalam profesi yang didominasi pria. Kriger mengamati bahwa wanita yang bekerja dalam profesi yang didominasi pria memiliki kebutuhan akan prestasi yang paling tinggi, dan posisi kedua diduduki oleh wanita yang bekerja dalam profesi yang didominasi wanita dan kemudian posisi ketiga adalah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Kriger juga mendapati adanya hubungan antara praktek pengasuhan dengan orientasi karir, yaitu bahwa jenis pekerjaan dan level jabatan dari para wanita ini dipengaruhi oleh orientasi prestasi (achievement orientation) dari para respondennya itu, dimana selanjutnya orientasi prestasi ini memiliki hubungan dengan persepsi tentang perlakuan yang mereka terima dari orang tua mereka. Kriger menyimpulkan bahwa perlakuan dari orang tua bukannya mempengaruhi orientasi terhadap orang atau ketiadaan orientasi terhadap orang melainkan perlakuan orang tua mempengaruhi para responden wanita ini sedemikian rupa sehingga mengarahkan mereka pada pilihan menjadi ibu rumah tangga atau mengejar karir, dalam artian bahwa suasana keluarga yang mengendalikan anak secara ketat akan mendorong anak perempuan untuk memilih menjadi ibu rumah tangga sementara suasana rumah yang kasual mendorong anak perempuan untuk mengejar karir ketika dewasa.
Selama beberapa tahun setelah Roe menerbitkan teorinya, Roe menyadari bahwa teori yang berupa pernyataan-pernyataan umum tentang interaksi orang tua dan anak memiliki kelemahan yang menyulitkannya untuk bisa memprediksi perilaku individu di masa dewasa. Dia dan seorang rekannya (Roe dan Siegelman, 1964) melaporkan sebuah upaya untuk mengidentifikasi peran dari kebutuhan dalam pengembangan minat dan untuk menjelakan sifat dari pengalaman masa kecil yang bisa mempengaruhi jenis minat apa yang dimiliki seseorang setelah beranjak dewasa. Dalam penelitian itu, Roe dan Siegelman membuat beberapa pernyataan eksplisit tentang beberapa kondisi anteseden (yaitu pengalaman masa kecil) yang menghasulkan kejadian-kejadian tertentu di masa selanjutnya (yaitu minat di masa dewasa). Ada tiga faktor yang didapati dari analisa faktor terhadap pengalaman masa kecil yang termasuk dalam kondisi anteseden, yaitu sikap orang tua yang mencintai versus menolak anak (loving-rejecting, LR), sikap yang kasual (biasa, acuh, santai -pent) versus menuntut anak (casual-demanding, CD) dan sikap orang tua yang memberikan perhatian terlalu besar pada anak (overattention, O).
Penelitian yang dilakukan Roe dan Siegelman berusaja untuk menghubungkan tiga faktor anteseden ini dan skor-skor untuk ketiganya itu dengan beberapa kejadian di masa selanjutnya (yaitu tindakan di masa dewasa). Kejadian di masa dewasa ini diukur dengan menggunakan beberapa instrumen terhadap sebuah sampel yang terdiri dari 24 teknisi pria dan 25 teknisi wanita, 22 pekerja sosial pria dan 23 pekerja sosial wanita, dan 142 mahasiswa senior dari Harvard University yang berasal dari berbagai jurusan. Kuesioner yang digunakan di situ meminta informasi dari responden tentang minat umum, minat vokasional (yang diukur sebagai karir yang hendak diambil atau sudah dijalani, tergantung pada apakah statusnya adalah mahasiswa atau profesional dan juga diukur dengan menggunakan skor dari California Occupational Interest Inventory) dan beberapa ukuran kepribadian dan orientasi terhadap orang dan ketiadaan orientasi terhadap orang. Ukuran kepribadian yang akhirnya digunakan dalam penelitian ini adalah Factor A (Cyclothymia-Schizothymia) dari instrumen Cattell 16 PF Test.
Hipotesa-hipotesa umum yang diteliti Roe dan Siegelman dalam penelitian itu adalah hipotesa mengenai efek dari pengalaman personal masa kecil terhadap pola dari minat di masa dewasa. Mereka menghipotesakan bahwa tingkat orientasi dari orang dewasa adalah tergantung pada level dan kepuasan dari hubungan personal di masa kecil. Kalau menggunakan istilah-istilah eksperimental dari Roe dan Siegelman sendiri, hipotesa mereka menyatakan bahwa faktor LR dan O, yaitu sejauh mana kedekatan dengan orang tua, dan kegiatan sosial masa kecil akan memiliki korelasi positif dengan ukuran dari orientasi dari individu yang sama di masa selanjutnya. Roe dan Siegelman juga memprediksikan bahwa akan ada beberapa subyek yang memiliki orientasi pada orang ketika mereka sudah dewasa biarpun di masa kecilnya mereka ditolak oleh orang tua mereka. Yang terakhir, diprediksikan bahwa suasana masa kecil yang tidak menuntut namun masih cukup mengayomi (kasual) akan tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat orientasi dari individu itu di masa dewasa.
Temuan dari Roe dan Siegelman secara umum memberikan dukungan terhadap hipotesa-hipotesa utama yang mereka ajukan, biarpun ada beberapa temuan yang tidak terduga yang mereka dapatkan. Mereka mendapati bahwa faktor O, ketika dihitung secara terpisah untuk masing-masing dari ke dua orang tua, dan faktor LR untuk ibu memiliki korelasi positif dengan ukuran dari orientasi individu di masa dewasa. Yang lebih signifikan lagi, mereka mendapati bahwa kenangan tentang pengalaman sosial di masa kecil tampaknya adalah skor yang memiliki hubungan paling kuat dengan orientasi dari orang yang sama di masa dewasa. Maka kombinasi antara LR ditambah O dengan pengalaman sosial masa kecil adalah himpunan anteseden yang paling efektif di dalam memprediksikan orientasi seorang individu di masa dewasanya. Sesuai dengan prediksi semula, faktor CD didapati tidak memiliki hubungan dengan tingkat orientasi dari individu di masa dewasa.
Roe dan Siegelman pada awalnya menyimpulkan bahwa level dari pengalaman sosial masa kecil memiliki hubungan dengan level dari orientasi orang yang sama di masa dewasa. Yang kedua, hipotesa bahwa jenis interaksi orang tua dengan anak tertentu akan mempengaruhi pilihan vokasional dengan cara tertentu juga didapati sebagai sebuah hipotesa yang terlalu spesifik sehingga justru menjadi tidak valid, karena interaksi orang tua dengan anak adalah tidak konstan dan selain itu orang tua yang satu seringkali berperilaku dengan cara yang mengimbangi dampak dari perilaku dari orang tua satunya terhadap anak. Yang terakhir, Roe dan Siegelman menyimpulkan bahwa faktor-faktor seperti kondisi pasar tenaga kerja, latar belakang sosial ekonomi dari individu, tingkat pendidikan dan tingkat kemampuan serta faktor kesempatan adalah sangat penting pengaruhnya terhadap pilihan seorang individu dalam mengambil profesi atau pekerjaan tertentu.
Kesimpulan seperti di atas masih cukup konsisten dengan observasi bahwa biarpun orientasi terhadap orang atau ketiadaan orientasi terhadap orang dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil namun orientasi semacam itu tidak memiliki hubungan yang kuat dengan pilihan vokasional. Kesimpulan Roe dan Siegelman ini justru menolak teori Roe sendiri, karena kesimpulan bahwa seleksi vokasional adalah fungsi dari faktor yang bersifat kebetulan akan meniadakan alasan untuk mensistematisasikan peran dari faktor perkembangan personal bagi seleksi vokasional.
Ada empat penelitian yang telah berusaha untuk membuat instrumen untuk mengukur minat yang didasarkan pada teori Roe dan mendapatkan temuan yang mendukung teori Roe. Yang pertama adalah instrumen yang diberi nama Hall Occupational Orientation Inventory, yang ditujukan untuk mengukur kebutuhan psikologis di dalam pekerjaan (Hall, 1968). Temuan dari sebuah penelitian yang menggunakan instrumen ini mendukung teori Roe (Hall, Shappell dan Tarrier, 1971). Instrumen yang kedua dikembangkan oleh Meir (dan dideskripsikan di dalam Meir dan Barak, 1974), dimana instrumen ini meminta responden untuk melaporkan preferensi mereka terhadap gelar jabatan dalam beberapa bidang pekerjaan dengan menggunakan klasifikasi Roe. Temuan yang dihasilkan dari instrumen ini adalah sebuah himpunan data yang mendeskripsikan tingkat sejauh mana minat dari seorang mahasiswa terfokus pada level dan bidang tertentu, sehingga bisa memberikan indikasi bagi konselor tentang sifat dari konseling yang sebaiknya diberikan kepada siswa yang bersangkutan. Instrumen ini juga memiliki sebuah instrumen pelengkap yang menanyakan mata kuliah yang diinginkan sesuai dengan orientasi vokasional dari responden, namun tidak menanyakan level jabatan. Yang ketiga, Lunneborg (1977) telah menerbitkan sebuah instrumen yang diberi nama Vocational Interest Inventory, yang didasarkan pada skema klasifikasi Roe. Penelitian yang dilakukan Lunneborg dan Lunneborg (1978) mendapati bahwa ke empat faktor minat dalam kerangka dari Roe dan kerangka yang dibuat Holland juga tercakup di dalam Vocational Interest Inventory. Maka instrumen Vocational Interest Inventory ini tampaknya memiliki potensi untuk menjadi sebuah metode pengukuran yang didasarkan pada sistem klasifikasi vokasional Roe. Yang keempat adalah instrumen yang bernama California Occupational Preference System Interest Inventory, yang dibuat oleh Knapp, Knapp dan Buttafuoco (1978). Sekalipun memang validitas dari instrumen-instrumen ini masih belum diketahui namun tampaknya instrumen-instrumen ini paling tidak sudah menunjukkan bahwa ada minat yang cukup besar terhadap sistem klasifikasi Roe dan terhadap teori Roe, sehingga upaya untuk mengukur konstruk-konstruk dalam teori Roe itu adalah cukup menarik untuk dilakukan dan pengembangan instrumen untuk teori Roe adalah kegiatan penelitian yang cukup menjanjikan. Jika kita melihat pada sejarah perkembangan dari teori-teori lain, dapat diperkirakan bahwa akan selalu ada minat yang cukup besar untuk meneliti konsep-konsep dalam teori Roe. Maksudnya, kita bisa melihat bahwa ketika sebuah teori disusun dengan menggunakan instrumen yang mudah digunakan untuk mengukur konstruk-konstruknya maka jumlah penelitian yang dilakukan akan menjadi lebih banyak sehingga bisa makin memperjelas teori itu, baik itu dengan cara mendukung atau menolak implikasi-implikasi dari teori itu.
Evaluasi. Ada beberapa kelemahan pada metodologi penelitian yang bisa dilihat dari paparan di atas. Data yang digunakan untuk menentukan bagaimana sifat dari perilaku orang tua terhadap anak pada dasarnya sangat lemah reliabilitasnya. Ketika disain penelitian didasarkan pada data yang sifatnya adalah retrospektif (kenangan masa lalu -pent), yang dilaporkan lewat wawancara atau lewat kuesioner pendek yang belum divalidasi, maka dengan sendirinya resiko kesalahannya menjadi sangat besar. Selain itu, sampel-sampel yang sudah diteliti sejauh ini biasanya memiliki ukuran yang sangat kecil atau mengambil responden dari kelompok profesi yang sangat spesifik sehingga temuan yang didapatkan dari situ sulit untuk digeneralisasikan. Banyak dari penelitian-penelitian ini menggunakan mahasiswa sebagai sampel, dan biarpun penelitian-penelitian itu tidak menyebutkannya secara eksplisit, penelitian-penelitian itu menggunakan preferensi dan seleksi vokasional untuk dibandingkan dengan pengalaman masa kecil, dan bukannya menggunakan prestasi kerja.
Yang terakhir, tidak satu pun dari penelitian-penelitian yang sudah disebutkan di atas yang berusaha untuk mengatasi masalah berupa inkonsistensi di dalam pola asuhan orang tua dan efeknya terhadap perkembangan kepribadian dan pilihan vokasional di masa selanjutnya. Ini membuka kemungkinan bagi terjadinya efek yang mengacaukan (confounding effect) dari perbedaan pada sikap orang tua dalam mengasuh anak terhadap perkembangan kepribadian, dan juga efek yang mengacaukan dari perubahan pada sikap orang tua ini ketika anak bertumbuh besar. Dua faktor ini merupakan variabel-variabel yang penting untuk diteliti dalam konteks teoritis yang menekankan pada praktek asuhan orang tua. Sekalipun ada kelemahan-kelemahan seperti ini, namun bukti yang ada menunjukkan bahwa ada kemungkinan yang cukup kuat bahwa teori Roe dalam versi awalnya adalah sebuah representasi yang cukup memadai bagi ciri-ciri utama dari perkembangan karir individu.

STATUS
Implikasi Bagi Konseling
Roe tidak memberikan rekomendasi mengenai konseling secara eksplisit baik dalam paparan teoritis awalnya maupun dalam revisi-revisi selanjutnya. Biarpun demikian kita bisa membuat beberapa kesimpulan sendiri tentang konseling. Paparan teoritis pertama dari Roe memiliki dampak yang lebih besar terhadap konseling karena di dalamnya berisi pernyataan bahwa pilihan vokasional memiliki hubungan erat dengan karakteristik kepribadian yang berkembang di masa kecil. Namun revisi selanjutnya terhadap teori yang ia ajukan tidak memiliki banyak implikasi bagi konseling karena hubungan antara faktor kepribadian, cara perkembangan dari kepribadian dan pilihan vokasional tampaknya menjadi kurang kuat setelah didapatkan temuan-temuan dari beberapa penelitian. Kesimpulan Roe dan Siegelman bahwa faktor kebetulan/kesempatan juga memainkan peranan yang lebih penting di dalam pilihan karir daripada yang mereka katakan dalam versi awal teori Roe mengurangi kemungkinan bagi konseling untuk memberikan kontribusi bagi pengembangan karir.
Kalau kita menggunakan teori Roe ini hanya dari versi awalnya saja, maka bisa dilihat bahwa kalau struktur kebutuhan dari seorang individu dikaitkan dengan seleksi vokasional dalam artian bahwa sebuah profesi atau pekerjaan dipilih oleh individu dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan individu tersebut, maka konseling mestinya ditujukan untuk membantu individu di dalam memahami apa yang menjadi kebutuhannya, mengidentifikasi pekerjaan-pekerjaan dimana kebutuhan itu dapat dipenuhi, dan jika perlu, membantu individu untuk mengatasi berbagai hambatan yang menghalangi terbentuknya struktur kebutuhan. Apa yang baru saja disebutkan ini perlu dijelaskan lebih jauh. Beberapa individu memiliki latar belakang yang menghambat hirarki kebutuhan mereka sehingga terhenti pada kebutuhan level rendah saja, dan di sini konseling bisa berfungsi sebagai psikoterapi untuk membantu individu di dalam belajar memahami pola-pola gratifikasi (pemenuhan kebutuhan -pent) di masa kecil. Maka, jika seorang individu memiliki orang tua yang menuntut terlalu banyak dari sang anak dan mendapati bahwa struktur kebutuhan dari individu itu mengalami perkembangan sedemikian rupa sehingga membuat individu itu selalu mencari pembenaran (approval) dari orang lain yang dianggapnya signifikan, maka konseling bisa dilakukan untuk membantu individu itu di dalam memahami keterhambatan pada struktur kebutuhannya ini, mengembangkan kebutuhan pada level yang tinggi, dan belajar menguasai teknik-teknik untuk memenuhi kebutuhan pada level yang lebih tinggi itu.
Ketika teori Roe diterjemahkan menjadi prosedur-prosedur konseling untuk mengatasi masalah-masalah tipikal dalam seleksi vokasional, maka kita bisa mendapatkan sejumlah kegiatan yang ditujukan untuk mengidentifikasi struktur kebutuhan psikologis dari siswa dan kemudian mencocokkan hirarki kebutuhan yang ditemukan itu dengan pemuasan kebutuhan yang ditawarkan oleh berbagai pekerjaan/profesi. Seorang konselor bisa menilai apa yang menjadi kebutuhan klien lewat prosedur wawancara atau dengan menggunakan instrumen yang relevan, dan kemudian menilai bagaimana latar belakang keluarga dari siswa itu untuk menentukan apakah individu itu memiliki latar belakang keluarga yang cukup normal dari segi perkembangan kebutuhannya. Jika dari wawancara itu kemudian didapati bahwa siswa itu sudah memiliki tahap perkembangan kebutuhan yang sesuai, maka ada dua pilihan yang bisa diambil oleh konselor. Yang pertama adalah mencoba untuk membantu siswa di dalam mengevaluasi potensi dari berbgai bidang untuk memenuhi kebutuhan yang ada sekarang dan yang kedua adalah mencoba membantu siswa untuk mengembangkan hirarki kebutuhannya lebih jauh lewat prosedur wawancara. Prosedur-prosedur ini perlu menekankan pada persepsi dari klien tentang sikap dari orang tua terhadap gratifikasi yang mereka berikan bagi anak mereka dan persyaratan yang diminta orang tua bagi gratifikasi yang mereka berikan bagi sang anak. Dengan cara ini, siswa mungkin bisa menyadari tentang faktor-faktor yang melatarbelakangi keterlambatan atau kesalahan arah dalam perkembangan dari kebutuhannya dan melakukan koreksi. Sayangnya, teori Roe ini masih belum menjelaskan tentang bagaimana prosedur wawancara yang sebaiknya digunakan untuk melakukan tugas semacam itu.
Prosedur apa yang mungkin akan disarankan untuk digunakan dalam melakukan konseling menurut teori Roe ini? Kalau kita melihat dari kesimpulan Roe dan Siegelman bahwa faktor ekonomi dan faktor kebetulan ikut memainkan peranan yang penting bagi seleksi vokasional, maka teori Roe versi revisi dapat dipahami sebagai memiliki kesimpulan bahwa konselor perlu memberikan penekanan pada informasi pekerjaan agar bisa membantu siswa di dalam membuat keputusan yang paling tepat tentang pekerjaan apa yang paling tepat untuk kemampuan yang ia miliki. Namun hirarki kebutuhan dari siswa tidak berarti diabaikan begitu saja, melainkan tetap dipertimbangkan dalam kaitannya dengan kepuasan yang bisa didapatkan dalam kerangka sosial ekonomi yang dianggap wajar (acceptable). Karena Roe dan Siegelman menyimpulkan bahwa orientasi terhadap orang atau ketiadaan orientasi terhadap orang tidak memiliki hubungan langsung dengan seleksi vokasional, maka penekanan yang diberikan terhadap aspek kebutuhan itu (orientasi pada orang -pent) sebaiknya tidak terlalu besar. Namun perlu diperhatikan bahwa teori Roe ini secara keseluruhan, baik dalam versi awal maupun versi revisinya, tidak memberikan perhatian yang terlalu besar terhadap praktek konseling.

Evaluasi
Ada beberapa pengamatan yang bisa kami sampaikan tentang teori Roe ini. Model Roe ini memiliki nuansa psikoanalitis yang sangat kuat, yang dimodifikasi oleh penggunaan teori hirarki kebutuhan dari maslow. Teori ini telah mendorong dilakukannya beberapa penelitian. Namun sebagian besar dari penelitian itu menghasilkan temuan yang tidak mendukung teori Roe ini. Yang tersisa setelah melakukan upaya untuk memvalidasi teori ini secara eempiris adalah sebuah pernyataan umum bahwa individu bisa memiliki atau tidak memiliki orientasi terhadap orang di dalam minat mereka dan bahwa orientasi mereka itu mempengaruhi pilihan vokasional mereka. Namun penelitian Roe dan Siegelman ini bahkan menimbulkan keraguan terhadap pernyataan umum ini.
Pendapat Roe mengenai efek dari interaksi antara orang tua dengan anak terhadap perkembangan dari hirarki kebutuhan, yang selanjutnya mempengaruhi antara lain pilihan vokasional, mengandung beberapa ambiguitas yang ikut berperan di dalam menghambat kemungkinan dari para peneliti untuk memvalidasi teori ini secara empiris. Misalkan, dapat diasumsikan bahwa penerimaan orang tua terhadap perilaku anak adalah sebuah interaksi yang normal dan positif antara anak dengan orang tuanya. Jika interaksi antara orang tua dengan anak adalah normal dan teori Roe ini benar, maka kita pada akhirnya akan mendapati bahwa pilihan-pilihan vokasional adalah sangat terbatas. Apalah benar sebagian besar ilmuwan memang berasal dari keluarga yang lemah hubungan interpersonalnya? Seperti itulah implikasi dari teori Roe. Namun penelitian Roe dan Siegelman (1964) mendapati bahwa para teknisi pria tampaknya lebih cenderung untuk mengikuti kecenderungan alami mereka sendiri dan bukannya memilih jurusan teknik semata karena pengaruh dari orang tua mereka.
Kesulitan lain yang terjadi dari proposisi Roe tentang dampak dari interaksi orang tua dan anak terhadap pilihan vokasional adalah terletak pada gaya perilaku orang tua dalam mengasuh anak, yang tidak bisa dikatakan sebagai gaya yang murni. Orang tua terus menerus menolak atau terus menerus overprotektif terhadap anak mereka. Apa efek dari perubahan gaya dalam mengasuh itu terhadap kebutuhan anak? Apa efek dari perbedaan perilaku antara ayah dan ibu terhadap perkembangan dari hirarki kebutuhan anak? Misalnya salah seorang dari orang tua bersikap menuntut terhadap anak dan satunya lagi bersikap membiarkan kemauan anak. Dalam versi revisi dari teori Roe ini (yaitu Roe dan Siegelman, 1964) telah dilakukan sejumlah upaya serius untuk menyelesaikan dilema ini, biarpun hasilnya tidak sepenuhnya memuaskan. Yang terakhir, sikap orang tua itu sendiri sebenarnya tidaklah konstan di dalam keseluruhan dari tahap-tahap perkembangan anak. Seberapa usia anak ketika sikap orang tua mulai kehilangan pengaruhnya terhadap pengembangan kebutuhan anak? Hilangnya pengaruh asuhan orang tua itu mestinya terjadi pada usia dini atau bisa jadi ada variabel lain untuk hubungan antara orang dan anak yang mengacaukan prediksi dari teori Roe ini.
Bagaimana keberhasilan dari teori ini di dalam  memenuhi persyaratan agar dapat dikatakan sebagai sebuah teori yang baik? Yang jelas, model Roe ini adalah cukup komprehensif karena mencakup tidak hanya keputusan vokasional tapi juga memasukkan variabel perkembangan kepribadian. Bahkan versi akhir dari model ini dideskripsikan dalam bentuk yang membuat teori ini menjadi mendekati seperti teori kepribadian daripada sebuah teori pilihan vokasional. Teori ini juga sudah dijabarkan secara cukup eksplisit. Roe menjabarkan secara eksplisit berbagai pernyataan dan implikasi perilaku dari tiap proposisi. Selain itu, proposisi-proposisi itu cukup logis dan menunjukkan cara-cara baru di dalam menafsirkan dan memprediksikan perilaku vokasional. Roe telah memaparkan secara terinci tentang ciri-ciri dari perkembangan kepribadian normal yang menghasilkan seleksi vokasional. Roe juga telah menjabarkan secara jelas dalam situasi yang bagaimana perkembangan kepribadian menjadi salah arah dan menghasilkan pilihan vokasional yang tidak tepat.
Apakah teori Roe ini operasional? Berbagai upaya yang telah dilakukan untuk menguji teori ini membuatnya tampak seperti operasional, namun temuan yang ambigu dari penelitian ini menunjukkan bahwa teori ini mungkin agak sulit untuk diuji. Mungkin kegagalan dari para peneliti di dalam melakukan pengujian secara ketat (rigorous) terhadap teori ini adalah disebabkan karena ambiguitas dari teori Roe itu sendiri, seperti yang sudah disebutkan di atas, dan juga disebabkan karena kesulitan di dalam mengukur interaksi antara orang tua dengan anak di waktu bertahun-tahun setelah fenomena itu sendiri sudah lewat. Apakah persepsi anak tentang sikap orang tua mereka terhadap diri mereka sudah cukup kuat untuk bisa mempengaruhi perkembangan kepribadian sampai sebesar seperti yang disampaikan Roe? Jika benar begitu, maka akurasi dari kenangan masa silam itu bisa jadi tidak penting, karena ingatan perseptual (ingatan tentang persepsi di masa lalu -pent) bisa jadi adalah faktor utama yang mempengaruhi gaya hidup seseorang di masa sekarang. Pertanyaan semacam ini tidak dapat dijawab dengan mudah biarpun menggunakan penelitian longitudinal sekalipun.
Teori ini masih belum menjelaskan banyak tentang prosedur-prosedur apa yang berguna untuk melakukan konseling vokasional. Jika kita menilai validitas dari sebuah teori hanya berdasarkan pada prosedur-prosedur yang direkomendasikan teori itu secara eksplisit, maka jelas teori ini masih kurang memadai karena teori Roe ini tidak menyarankan prosedur apapun. Kita bisa menduga-duga teknik apa yang bisa digunakan menurut teori ini dan prosedur yang didapatkan dari situ masih berbeda dari pendekatan-pendekatan lain yang tidak sistematis dalam konseling. Teori Roe ini tidak menetapkan tujuan apapun bagi konseling dan juga tidak memberikan rekomendasi tentang teknik atau prosedur konseling apa yang berguna dan juga tidak mendeskripsikan perilaku atau deretan perilaku yang bisa dianggap positif. Dari teori ini kita bisa menuga beberapa hal tentang asal muasal dari perilaku vokasional yang devian (menyimpang -pent) namun tidak ada sarana remedial/perbaikan yang disarankan teori ini. Dan mengenai tujuan yang ingin dicapai bagi konseling, teori ini hanya menyatakan bahwa konseling perlu membantu individu di dalam mengidentifikasi kebutuhan dasarnya, mengatasi faktor-faktor yang menghambat perkembangan dari hirarki kebutuhan individu, dan mengembangkan teknik-teknik untuk memenuhi kebutuhan. Namun tidak ada prosedur yang disarankan untuk mencapai tujuan-tujuan itu.
Selama kita belum bisa mengembangkan lebih jauh pendapat yang menyatakan bahwa perlakuan orang tua memiliki pengaruh terhadap beberapa variabel intervensi (seperti gaya kognitif), maka sulit untuk bisa melihat bagaimana teori ini bisa diterapkan lebih jauh. Teori ini dalam kondisinya seperti sekarang ini masih terbatas dari segi implikasi terapannya dan masih belum memiliki banyak bukti empiris yang mendukungnya. Karenanya, tanpa adanya revisi besar terhadap teori ini, kemungkinan besar teori ini tidak akan memiliki dampak yang berarti terhadap konseling vokasional.


Rujukan : Samuel H. Osipow (1983) THEORIES OF CAREER DEVELOPMENT, Third Edition

No comments:

Post a Comment

Post a Comment