Thursday, June 23, 2011

Family Systems Therapy



A.    Sejarah Perkembangan

I.     TOKOH-TOKOH YANG MEMBERIKAN KONSTRIBUSI TERHADAP FAMILY SYSTEMS THERAPY
Family Systems Therapy ditampilkan oleh bermacam-macam teori dan pendekatan, dimana semua pendekatan dan teori tersebut berfokus pada aspek hubungan masalah manusia. Beberapa individu memiliki hubungan yang erat dengan asal usul pendekatan sistem yang mereka cetuskan, individu-individu tersebut antara lain sebagai berikut.
a)     ALFRED ADLER, merupakan seorang psikolog pertama dari era modern yang menggunakan terapi keluarga melalui pendekatan sistemis. Dia menetapkan lebih dari 30 klinik panduan anak di Vienna setelah Perang Dunia I dan kemudian Rudolf Dreikurs yang membawa konsep ini ke Amerika Serikat dalam bentuk pusat pendidikan keluarga. Adler melakukan sesi konseling keluarga dalam forum publik terbuka untuk mendidik orangtua.  Dia percaya bahwa masalah-masalah yang terjadi pada salah seorang dalam keluarga, berlaku secara umum terhadap anggota lainnya dalam komunitas.
b)     MURRAY BOWEN, seorang pendiri asli dari aliran Family Systems Therapy. Banyak dari teori dan praktek tumbuh dari karyanya dengan schizonphrenic individual dalam keluarga. Dia percaya keluarga dapat dipahami sebaik-baiknya ketika dianalisis dari perspektif tiga generasi karena dapat melihat pola hubungan interpersonal anggota keluarga antar generasi. Kontribusi utamanya meliputi konsep inti diferensiasi diri dan triagulasi.
c)      VIRGINIA SATIR, merupakan pengembang terapi keluarga conjoint, sebuah model proses validasi manusia (sebuah pendekatan eksperimental) yang menekankan pada komunikasi dan pengalaman emosi. Seperti Bowen, dia menggunakan model inter-generasional, tetapi dia bekerja untuk membawa pola keluarga terhadap kehidupan dalam rekonstruksi keluarga sekarang. Mengklaim bahwa teknik tersebut adalah sekunder terhadap hubungan, dia berkonsentrasi pada hubungan antara terapis dengan keluarga untuk mencapai perubahan.
d)     CARL WHITAKER, pencipta terapi keluarga pengalaman-simbolis (symbolic-experiential family therapy), sebuah pendekatan intuitif untuk membantu saluran interaksi terbuka dalam keluarga. Tujuannya adalah memfasilitasi otonomi individu sambil tetap mempertahankan rasa memiliki dalam keluarga. Dia melihat terapis  sebagai partisipan aktif dan pelatih yang memasuki proses keluarga dengan kreativitas, memberikan tekanan yang memadai terhadap proses ini untuk menghasilkan perubahan status quo.
e)     SALVADOR MINUCHIN, mulai mengembangkan terapi keluarga struktural pada 1960an melalui karyanya dengan anak remaja keluarga miskin di Sekolah Wiltwyck di New York. Bekerja dengan kolega pada Philadelphia Child Guidance Clinic pada 1970an, Minuchin memperbaiki teori dan praktek terapi keluarga. Dengan berfokus kepada struktur atau organisasi keluarga,  terapis  membantu keluarga memodifikasi pola stereotype dan meredefinisikan hubungan di antara anggota keluarga. Dia percaya perubahan struktural dalam keluarga harus terjadi sebelum simptom anggota individual dapat dikurangi atau dieliminasi.
f)       JAY HALEY, seorang penulis prolific, mempunyai dampak signifikan terhadap pengembangan Family Systems Therapy. Dia mencampur terapi keluarga struktural dengan konsep hirarki, kekuasaan, dan intervensi strategis. Strategic family therapy adalah sebuah pendekatan yang berfokus pada memecahkan masalah sekarang; memahami apa yang tidak dibutuhkan atau tidak diajukan.
g)     CLOE MADANES, bersama Jay Haley, membentuk Institusi keluarga di Washington DC pada tahun 1970an. Melalui praktek terapi gabungan, tulisan, dan pelatihan dalam terapis  keluarga, terapi keluarga strategis  menjadi terapi keluarga paling populer pada 1980an. Ini adalah sebuah pendekatan terapi yang singkat dan berorientasi pada solusi. Masalah yang dibawa oleh keluarga kepada konselor  diperlakukan sebagai ‘real/nyata’ – bukan gejala yang dikarenakan isu-isu – dan dipecahkan. Dia menekankan pada kepedulian dan aspek emosional dari pola keluarga.

II.  PERKEMBANGAN FAMILY SYSTEMS THERAPY
Pada 1960an dan 1970an, pendekatan psikodinamik, behavior dan pendekatan humanistis (masing-masing disebut kekuatan pertama, kedua dan ketiga) mendominasi teori dan konsep konseling dan psikoterapi, termasuk pada konseling keluarga. Dewasa ini, berbagai pendekatan dapat digunakan pada sistem keluarga sehingga mengakibatkan adanya pergeseran paradigma yang dapat bahkan disebut sebagai ‘kekuatan keempat’. Saat ini telah banyak terapis yang secara kreatif menggunakan berbagai macam perspektif/pendekatan ketika menjalankan terapi.
Dalam perkembangannya, Family Systems Therapy mengalami beberapa inovasi yang berhubungan dengan beberapa tokoh kunci Family Systems Therapy. Beberapa perkembangan tersebut antara lain sebagai berikut.
a)     Adlerian Family Therapy
Pendekatan yang digunakannya dalam Adlerian family therapy ialah pendekatan sistemis yang telah lama digunakannya sebelum teori-teori tersebut diaplikasikan dalam dunia psikoterapi. Konseptualisasi yang dicetuskan Adler dapat ditemukan di dalam prinsip-prinsip dan praktek model yang lainnya.
Dalam Corey (2009) dijelaskan bahwa Adler adalah orang pertama yang mengamati perkembangan anak di dalam konstelasi keluarga (frase yang digunakan untuk sistem keuangan) yang sangat dipengaruhi oleh urutan kelahiran, dan urutan kelahiran tersebut mempunyai konsistensi terhadap masing-masing posisi. Adler juga menjelaskan bahwa setiap perilaku mempunyai tujuan, dan anak-anak seringkali bertindak dalam pola yang dimotivasi oleh keinginan untuk memiliki, bahkan ketika pola tersebut salah atau sia-sia.
Dalam perkembangannya, Dudolf Dreikurs (1973) memperbaiki konsep Adler ke dalam tipologi dari tujuan yang salah (yang dibuat individu) dan menciptakan pendekatan terorganisasi terhadap terapi keluarga. Sebuah asumsi dasar dari Adlerian Family Therapy modern adalah baik orangtua ataupun anak seringkali terkunci di dalam pengulangan, interaksi negatif yang didasarkan pada kesalahan penetapan tujuan yang memotivasi semua pihak terlibat. Walaupun banyak Adlerian Family Therapy yang dilakukan dalam sesi pribadi, Adler juga menggunakan model pendidikan untuk konsultasi keluarga yang dilakukan pada forum publik terbuka di sekolah, agensi masyarakat, dan secara khusus dirancang untuk pusat pendidikan keluarga.

b)     Multigenerasional Family Therapy
Murray Bowen adalah salah seorang pencetus aliran utama dalam Family Systems Therapy. Teori sistem keluarga miliknya, merupakan model teoritis dan klinis yang terlibat dari prinsip-prinsip dan praktek psikoanalitis, disebut juga terapi keluarga multi generasional. Bowen beserta timnya mengimplementasikan sebuah pendekatan inovatif terhadap penderita schizophrenia di Lembaga Nasional Kesehatan Mental. Dalam pelaksanaannya, Bowen benar-benar ramah dengan seluruh keluarga, sehingga sistem keluarga dapat menjadi fokus terapi.
Observasi yang dilakukan Bowen membawa dia pada ketertarikannya pada pola keluarga dalam lintas generasi. Dia berpendapat bahwa masalah yang terjadi pada salah seorang dalam keluarga tidak akan mengalami perubahan yang signifikan sampai pola hubungan dalam asal usul sebuah keluarga dipahami dan secara langsung ditantang untuk berubah. Multigenerasional family therapy ini beroperasi dengan dasar bahwa pola hubungan interpersonal yang dapat diprediksi berhubungan dengan fungsi dari anggota keluarga lintas generasi. Menurut Kerr dan Bowen (1988), penyebab dari masalah individual hanya dapat dipahami dengan melihat pada peranan keluarga sebagai unit emosional. Diantara unit dalam keluarga, penyatuan secara emosional belum terselesaikan dalam satu keluarga harus diketahui jika ingin mencapai kematangan dan kepribadian yang unik. Masalah emosional tersebut akan terus terjadi  dari generasi ke generasi sampai masalah tersebut dapat ditangani secara efektif. Perubahan harus terjadi pada setiap anggota keluarga lain dan tidak dapat diselesaikan hanya oleh seorang individu didalam ruang konseling.
Salah satu konsep Bowen dalam multigenerasional family therapy adalah triangulasi, sebuah proses dimana triad (tiga orang) menghasilkan pengalaman two-against-one. Bower mengasumsikan bahwa triangulasi dapat terjadi secara mudah antara anggota keluarga dan terapi atau konselor, merupakan alasan mengapa Bowen sangat menekankan pada klien untuk menyadari isu keluarga mereka sendiri (Kerr dan Bowen,1988).  Kontribusi utama dari multigenerasional family therapy adalah ide diferensiasi diri. Diferensiasi diri melibatkan pemisahan sisi psikologis dari inteleklual, emosi, dan ketergantungan diri kepada orang lain. Dalam proses individualisasi, seorang individu memperoleh identitas diri, dan memungkinkan keluarga mereka menerima tanggung jawab pribadi terhadap pemikiran, perasaan, persepsi dan aksi yang mereka lakukan.

c)      Human Validation Process Model
Ketika Bowen mengembangkan pendekatannya, Virginia Satir (1983) mulai menekankan pada hubungan keluarga. Pendekatan yang dicetuskannya mulai membawanya untuk percaya pada nilai dari sebuah kekuasaan , hubungan pengasuhan yang didasarkan pada kesukaan dan pesona yang kuat dengan siapa saja yang dia peduli. Satir memposisikan dirinya sebagai detektif yang berusaha mengajukan dan mendengarkan refleksi penghargaan diri dalam berkomunikasi dengan klien. Satir bekerja dengan gadis remaja, dirinya terkejut ketika mengetahui bahwa komunikasi dan perilaku kliennya berubah ketika ibunya hadir. Saat dia membina hubungan mereka, mulai terjadi kembali pada si gadis remaja itu ketika ditanya soal ayahnya. Saat ayahnya hadir, komunikasi dan perilaku ibu dan anak perempuan berubah. Berdasarkan kejadian ini, Satir menemukan kekuatan dari terapi keluarga, pentingnya komunikasi dalam interaksi keluarga, dan nilai dari validasi terapi dalam proses perubahan (Satir dan Bitter, 2000 dlam Corey, 2009)).
Pengalaman dan pendekatan humanis disebut dengan model proses validasi manusia, dan tahapan kerja awal dengan keluarga dikenal dengan terapi keluarga conjoint (Satir 1983). Satir dengan intuisi yang tinggi dan percaya bahwa spontanitas, kreativitas, humor, pengungkapan diri, pengambilan resiko, dan sentuhan pribadi; merupakan bagian dari family systems therapy. Dalam pandangannya, teknik tersebut adalah sekunder terhadap hubungan yang dikembangkan terapis dengan keluarga.

d)     Experiential Family Therapy
Carl Whitaker adalah pelopor terapi keluarga berdasarkan pengalaman, dikenal juga dengan pendekatan experiential-symbolic; sebuah aplikasi terapi eksistensial terhadap sistem keluarga, yang menekankan pada pilihan, kebebasan, penentuan diri, pertumbuhan, dan aktualisasi (Whitaker dan Bumberry, 1988). Seperti Satir dan pendekatan eksistensial lainnya, Whitaker menekankan pada pentingnya hubungan antara keluarga dengan terapis. Whitaker lebih konfrontatif dalam menanggapi “kenyataan” daripada Satir, yang lebih pada pengasuhan. Terhadap tujuan hidupnya, dia hanya melihat keluarga, dan bahkan mencoba berkomunikasi dan berasosiasi dengan keluarga.
Experiential Family Therapy dilakukan untuk membuka topeng kepura-puraan dan menciptakan makna baru, membebaskan anggota keluarga untuk menjadi diri sendiri. Whitaker tidak mengajukan berbagai macam metode; yang membedakannya yakni keterlibatan terapis dengan keluarga, dengan memunculkan reaksi spontan (dari terapis atau konselor) terhadap situasi sekarang dan dirancang untuk meningkatkan kesadaran klien, dan untuk membuka interaksi yang baru dengan keluarganya.

e)      Structural-Strategic Family Therapy
Asal usul terapi sistem keluarga dapat di telusuri dari awal 1960an ketika Salvador Minuchin melakukan terapi, pelatihan dan penelitian pada anak remaja dari keluarga miskin. Minuchin (1974) menjelaskan bahwa gejalan individual dapat dipahami dari sudut pandang pola interaksi dengan keluarga dan bahwa perubahan struktural harus terjadi dalam keluarga sebelum gejelan individual tersebut dikurangi atau dieliminasi. Ada dua tujuan dari structural family therapy, yaitu: 1) mengurangi symptom disfungsi dan 2) membawa perubahan struktural dalam sistem dengan memodifikasi aturan keluarga dan mengembangkan batasan yang lebih tepat.
Dalam akhir 1960an Jay Haley bergabung dengan Minuchin di Philadelphia Child Guidance Clinic. Pada akhir 1970an, pendekatan struktural-strategis paling banyak digunakan dalam family systems therapy. Model ini berusaha mereorganisasi struktur disfungsional atau problematis dalam keluarga, menetapkan batas, ketidakseimbangan, membuat kerangka ulang, siksaan, dan pengumuman semuanya menjadi bagian dari proses terapi keluarga. Tidak banyak berhubungan dengan eksplorasi atau interpretasi masa lalu, tetapi lebih pada tipe pola interaksi, untuk mereorganisasi subsistem atau hirarki keluarga, dan untuk memfasilitasi perkembangan penggunaan transaksi yang lebih bermanfaat atau fleksibel.
Model struktural dan strategis berbeda dalam hal bagaimana masing-masing memandang masalah keluarga: Minuchin (1974) cenderung melihat kesulitan keluarga dan individual sebagai gejala-gejala. Sementara Haley (1976) melihat mereka sebagai masalah ‘riil’ yang membutuhkan jawaban riil. Kedua model tersebut bersifat pengarahan, dan keduanya mengharap terapis atau konselor untuk menguasai level keahlian tertentu untuk melakukan proses terapi keluarga.
Pada tahun 1974, Haley dan Cloe Madanes memulai Lembaga Terapi Keluarga di Washington DC. Selama 15 tahun mereka menulis, mengembangkan dan mempraktekkan terapi, dan memberikan pelatihan intensif dalam terapi keluarga strategis. Pendekatan strategis mereka melihat masalah yang ada sekarang sebagai riil dan metafora bagi fungsi sistem. Penekanan yang besar diberikan kepada kekuasaan, kontrol, dan hirarki dalam keluarga dan sesi terapi. Haley (1984) dan Madane (1981) lebih tertarik pada aplikasi praktis intervensi strategis untuk memperbaiki masalah keluarga daripada memformulasikan teori terapi berbeda dari model struktural. Ini secara khusus terbukti pada model Madanes (1990) untuk bekerja dengan keluarga yang memasukkan pelanggaran gender. Madanes membawa perspektif humanistis kepada terapi strategis dengan mengalamatkan perlunya cinta dan menekankan pada aspek terapi perawatan.

f)       Recent Innovations
Dalam beberapa dekade yang lalu, feminism, multiculturalism, dan postmodern social constructionism telah memasuki seluruh bidang terapi keluarga. Model ini lebih kolaboratif, memperlakukan klien–individual, pasangan atau keluarga- sebagai ahli dalam kehidupan mereka sendiri. Percakapan terapi mulai dengan konselor dalam "decentered" atau posisi "tidak-tahu" di mana klien didekati dengan rasa ingin tahu dan dengan perhatian. Terapis secara sosial aktif membantu klien dalam mengambil sikap menyesuiakan tindakan yang akan dilakukan terhadap budaya dominan yang menindas mereka.
Tom Andersen (1987, 1991) mempraktekkan family systems therapy di Norwegia Barat, dan pendekatan Family Systems Therapy didasarkan pada psikiatri constructionism sosial,  Andersen telah mempelopori program kesehatan mental berbasis masyarakat dan melakukan sebuah pendekatan “reflections teams” terhadap family systems therapy.

B.    Hakikat Manusia
Hakikat manusia dalam family systems therapy  secara singkat dapat dijelaskan bahwa manusia dalam perkembangan kehidupannya akan selalu berhubungan dengan sistem kehidupan. Usaha untuk berubah akan difasilitasi dengan sebaik-baiknya dengan mempertimbangkan hubungan atau keluarga secara keseluruhan. Oleh karena itu, pendekatan penanganan secara komprehensif ditujukan pada keluarga. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa keluarga merupakan unit interaksional, yang memiliki sejumlah ciri unik sendiri, sehingga memungkinkan untuk terjadinya penilaian yang kurang akurat dari perhatian secara individual tanpa mengamati interaksi anggota keluarga lainnya. Meneliti dinamika internal individu tidak hanya cukup memperhatikan hubungan interpersonal, karena akan memberikan gambaran yang tidak lengkap.
Keluarga memberikan konteks primer untuk memahami bagaimana individu berfungsi dalam hubungan dengan orang lain dan bagaimana mereka berperilaku. Keluarga dipandang sebagai unit fungsional lebih dari kumpulan peranan anggota. Tindakan anggota keluarga secara individual akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga lainnya, dan interaksi mereka memiliki pengaruh timbal balik untuk setiap individu dalam keluarga tersebut yang terjadi baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Goldenberg dan Goldenberg (2010) menunjukkan perlunya seorang terapis atau konselor untuk melihat perilaku secara menyeluruh, termasuk semua gejala yang diekspresikan oleh individu, ditambahkannya, orientasi sistem tidak menghalangi untuk menangani dinamika secara individu.
Sebagaimana dengan perkembangan individu, Family Systems dapat dilihat sebagai suatu proses perkembangan yang berkembang dari waktu ke waktu. Model perkembangan kehidupan keluarga meliputi family life cycle (siklus kehidupan keluarga) dan  the family life spiral.

*      FAMILY LIFE CYCLE
Jay Haley (1993) merupakan orang pertaman yang memberikan penawarkan penjelasan secara rinci dari Family Life Cycle (siklus kehidupan keluarga). Haley mengidentifikasi enam tahap perkembangan, mulai dari masa saling mengenal hingga usia lanjut. Haley tertarik dalam memahami kekuatan keluarga yang dimiliki oleh seorang individu dan tantangan yang mereka hadapi ketika saat menjalani siklus kehidupan. Haley memiliki hipotesis bahwa gejala-gejala dan disfungsi yang muncul ketika ada gangguan dalam mengantisipasi siklus kehidupan terjadi secara alamiah.
Seiring waktu, ketegangan pasti akan muncul dalam keluarga karena adanya perubahan perkembangan yang mereka hadapi (Smith & Schwebel, 1995). Keluarga yang mengalami tekanan merupakan keluarga yang akan intens untuk melakukan negosiasi antar anggota dalam hal-hal tertentu yang dapat mempengaruhi proses transisi ke tahap selanjutnya dalam siklus kehidupan keluarga mereka (Carter & McGoldrich 2004). Pada tingkatan tertentu, tekanan ini dapat dilihat sebagai bagian dari respon keluarga terhadap tantangan dan perubahan hidup mereka dalam proses melewati siklus kehidupan mereka, misalnya, seorang pasangan mungkin akan mengalami ketegangan untuk beberapa saat dengan orangtua mereka saat pasangan tersebut akan melakukan proses transisi dengan kelahiran anak pertama mereka. Pada tingkat lain, tekanan dimungkinkan muncul sebagai hasil warisan multigenerasi keluarga yang dapat mempengaruhi dan menentukan sikap keluarga, hal-hal yang dianggap tabu, harapan-harapan, dan pelabelan-pelabelan, serta isu-isu yang dimuat, misalnya, selama beberapa generasi terdapat penggambaran (dan bahkan mungkin telah menjadi aturan) bahwa laki-laki tidak bisa dipercaya untuk mengurusi keuangan, dan terdapat kemungkinan untuk terjadinya penekanan yang dipaksakan jika tidak ada wanita.
Ketika penekanan terjadi pada tingkat yang lebih tinggi, maka dimungkinkan seluruh keluarga akan mengalami krisis yang akut. Terapis atau konselor keluarga dapat menemukan kesulitan untuk menentukan sumber yang tepat dari stres yang terjadi pada suatu keluarga, tanpa mengetahui dan mengidentifikasi kondisi-kondisi lain yang juga berpengaruh terhadap munculnya tekanan dan stres yang terjadi tersebut, baik yang telah terjadi pada generasi-generasi sebelumnya maun yang sedang terjadi saat ini.

*      THE FAMILY LIFE SPIRAL
Combrinck-Graham (1985) membangun suatu model nonlinier dari pengembangan strukutr keluarga yang disebut the family life spiral. Family life spiral didalamnya mencakup berbagai macam tugas perkembangan dari tiga generasi secara keseluruhan dan saling mempengaruhi satui dengan yang lain. Isu perkembangan yang terjadi dalam setiap orang dapat dilihat kaitannya dengan anggota keluarga yang lainnya. Family life spiral jika digambarkan tampak seperti tornado yang terbalik. Family life spiral pada bagian atas menggambarkan kedekatan keluarga selama periode sentripetal dan pada bagian bawah tergambar mewakili periode sentrifugal dengan jarak yang lebih besar antara sesama anggota keluarga.

Centripetal Periods. Kedekatan dalam kehidupan keluarga disebut dengan sentripetal untuk menunjukkan berbagai kekuatan dalam sistem keluarga yang terus dipertahankan secara bersama-sama (Combrinck-Graham, 1985). Centripetal Periods (CPs) ditandai dengan orientasi batin yang membutuhkan sebuah ikatan yang intens dan kohesif, misalnya anak usia dini, membesarkan anak, dan grandparenting. Baik individu maupun anggota keluarga keluarga yang lain menekankan kehidupan keluarga secara internal selama periode ini. Akibatnya, batas-batas antara anggota menjadi lebih tersebar sehingga dapat meningkatkan kerjasama antar anggota. Sebaliknya, berbeda dengan batas internal yang tersebar kepada sesama anggota keluarga, batas-batas eksternal terkesan menjadi lebih dibatasi dan seolah-olah sebuah keluarga “membuat sarang” untuk dapat mengurus dirinya sendiri.

Centrifugal Periode. Ketidakterikatan atau terpisah dalam kehidupan keluarga disebut sentrifugal untuk menunjukkan dominasi kekuatan keluarga untuk menarik keluarga terpisah (Combrinck-Graham, 1988). Centrifugal Periode (CF) yang ditandai dengan orientasi ke luar dari sebuah keluarga. Dalam periode ini, fokus pembangunan struktur keluarga adalah pada tugas-tugas yang menekankan pada identitas pribadi dan otonomi, seperti remaja, paruh baya, dan pensiun, seiring dengan hal tersebut, batas eksternal keluarga menjadi longgar, struktur keluarga lama yang domodifikasi, dan jarak antara anggota keluarga biasanya meningkat.

The Family Merry-Go-Round. Istilah sentripetal dan sentrifugal dalam hal ini menunjukkan adanya tarikan dan dorongan kekuatan dalam struktur kehidupan keluarga. Jika dianalogikan, kekuatan ini hampir sama dengan proses mengendarai komidi putar. Keluarga berada dalam proses terus-menerus untuk saling mendorong dan menarik guna menyesuaikan diri dengan berbagai macam peristiwa kehidupan. Periode dalam keluarga dapat beralih dari periode sentripetal menjadi periode sentrifugal bergantung pada tugas perkembangan yang akan dicapai dalam suatu tahapan siklus kehidupan keluarga tersebut. Sebuah keluarga biasanya akan mencapai satu siklus setiap 25 tahun. Periode ini merupakan waktu untuk menghasilkan generasi baru. Dalam setiap siklus keluarga yang terjadi, anggota keluarga yang berbeda akan mengalami pergeseran. Pergeseran dalam perkembangan ini disebut dengan oscillations yang memberikan kesempatan bagi anggota keluarga untuk melatih kedekatan dan dan keterlibatan dirinya dalam periode sentripetal dan kemandirian dalam periode sentrifugal (Combrinck-Graham, 1985).

Implications for Practice. Periode sentripetal maupun sentrifugal mendefinisikan kondisi patologis. Periode ini menggambarkan gaya hubungan keluarga pada tahap tertentu dalam family life spriral. Pembentukan suatu respon tertentu muncul ketika ada anggota keluarga yang dihadapkan dengan suatu peristiwa di luar antisipasi family life spiral. Misalnya, kematian mendadak, kelahiran anak cacat, penyakit kronis, atau perang. Bagi beberapa keluarga, tekanan akan muncul terkait dengan hal-hal tersebut. Intensitas dan durasi kecemasan keluarga akan mempengaruhi kemampuan keluarga untuk membuat transisi yang diperlukan. Tujuan terapi keluarga adalah untuk membantu keluarga melewati krisis yang terjadi selama masa transisi, sehingga dapat melanjutkan ke tahap berikutnya dalam proses kehidupan keluarga tersebut.

C.     Perkembangan perilaku
I.       Struktur Kepribadian
Sebagaimana hakikat manusia dalam family systems therapy bahwa manusia (klien) dalam perkembangan kehidupannya akan selalu berhubungan dengan sistem kehidupan, maka perkembangan perilaku, termasuk didalamnya struktur kepribadian akan sangat dipengaruhi oleh sistem yang ada dalam sebuah  keluarga. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap lingkungan keluarga, diantaranya adalah Birth Order And Family Constellation
Birth order and family constellation sering disalahpahami, posisi anak dalam urutan kelahiran tidak deterministik, hanya memberikan kemungkinan bahwa seorang anak akan memiliki berbagai jenis pengalaman. Family constellation seseorang mencakup komposisi keluarga, peran masing-masing orang, dan hubungan timbal balik seseorang yang telah berlangsung dalam kehidupannya, baik dengan saudara dan maupun dengan orang tua.Family systems therapy memiliki anggapan bahwa perkembangan individu juga dipengaruhi konteks sosial yang terjadi, termasuk orangtua, saudara, dan individu penting lainnya yang menciptakan hubungan dengan seorang anak, bukan sebagai penerima pasif, melainkan anak-anak mempengaruhi bagaimana orang tua dan saudara menanggapi mereka. Setiap anak datang untuk memainkan peran dalam keluarga yang ditentukan oleh interaksi dan transaksi dalam keluarga. Meskipun ada banyak faktor yang akan menunjukkan pengecualian, ada beberapa karakteristik umum terkait dengan posisi urutan kelahiran, karakteristik umum tersebut antara lain sebagai berikut.
a)    Anak Pertama (Anak Tertua). Anak pertama yang untuk sementara waktu menjadi anak tunggal akan merasa memiliki kehidupan yang “baik” untuk beberapa periode waktu, mereka cenderung menjadi pusat perhatian dan kadang-kadang manja. Namun, ketika saudara dilahirkan, anak tertua cenderung merasa diturunkan dan mungkin merasa terancam, kurang dicintai dan diabaikan, marah, takut, dan cemburu dalam menanggapi kehilangan peran khusus mereka sebagai anak tunggal. Seringkali, anak-anak pertama (tertua) mencoba untuk mendapatkan kembali posisi kembali dengan melakukan perbuatan baik (misalnya, menjadi bertanggung jawab, sebagai pengurus adik-adiknya, mengikuti kegiatan ekstra), dan dapat membantu anak pertama untuk menjadi lebih afiliatif dan percaya diri.
Anak pertama (anak tertua) cenderung menjadi yang paling cerdas,kemampuan verbal mereka sangat kuat. Anak pertama yang tumbuh dalam keluarga orang dewasa, cenderung diandalkan, dan bertanggung jawab. Mereka umumnya berkelakuan baik dan kooperatif, sesuai dengan harapan masyarakat, banyak dari kemampuan mereka seringkali membantu mereka mencapai posisi kepemimpinan.
b)    Anak kedua. Anak kedua terkadang menemukan posisi diri mereka dalam posisi yang tidak nyaman. Selama tahun-tahun awal, anak kedua terkadang memiliki seseorang yang lebih maju yang ada di depannya. Situasi ini dapat diatasi jika saudara tertuanya adalah laki-laki dan perempuan yang lahir satu tahun atau lebih sebelum kelahiran anak kedua tersebut. Namun, jika anak sulung berhasil, anak kedua terkadang menjadi mudah putus asa dan kurang memiliki harapan untuk mencapai suatu posisi atau kegiatan yang ditempati oleh saudara tertuanya. Jika anak pertama lebih sukses, semakin besar kemungkinan bahwa anak kedua akan mengembangkan karakteristik kebalikan dari anak sulung/anak pertama dengan berorientasi pada prestasi anak sulung.
Anak kedua terkadang merasa ada tekanan untuk mengejar dan bersaing dengan anak tertua. Karena anak kedua lahir biasanya menyadari bahwa mereka tidak dapat mengalahkan keberhasilan anak sulung sudah tercapai, mereka tertarik ke arah usaha di mana saudara yang lebih tua  tidak lebih baik atau tidak tertarik pada usaha yang ditekuninya tersebut. Pola umum adalah untuk anak sulung untuk unggul di daerah tradisional seperti bahasa Inggris atau matematika dan untuk anak kedua berusaha sukses dengan sebuah kreatifitas seperti menyanyi atau menggambar dan lebih menekankan pada ranah sosial daripada keberhasilan akademis. Anak kedua cenderung lebih peduli, ramah, dan ekspresif dari saudara mereka yang lebih tua.
c)     Anak Tengah. Sama seperti anak kedua, anak-anak tengah memiliki saudara kandung yang memimpin, tetapi mereka juga memiliki saudara yang dekat dengan mereka. Tidak hanya mereka harus menjaga, tetapi juga mereka merasa bahwa mereka harus tetap berada di depan. Terkadang anak-anak tengah kurang yakin akan kemampuan atau dirinya sendiri, memiliki kelebihana dalam ranah sosial. Namun, beberapa anak tengah merasa terjepit di antara anak-anak yang telah menemukan tempat mereka dan anak-anak muda yang tampaknya untuk menerima lebih banyak cinta dan perhatian.
Anak tengah terkadang memiliki kesulitan untuk menemukan cara menjadi lebih khusus dan bisa menjadi putus asa, melihat diri mereka tidak atau kurang dicintai dan diabaikan. Pola ini biasanya kurang jelas dalam keluarga yang besar di mana dua atau lebih anak berbagi peran anak tengah tetapi sangat mungkin dalam keluarga dengan hanya tiga anak. Dengan dorongan orangtua dan positif, bagaimanapun, anak-anak tengah sering menjadi baik, memiliki penyesuaian diri yang baik, ramah, kreatif, dan ambisius.
d)    Anak Bungsu. Anak bungsu berada dalam tiga situasi. Pertama, mereka mungkin dimanjakan dan dimanjakan oleh seluruh keluarga. Kedua, mereka mungkin merasa perlu untuk melakukan usaha yang lebih (termasuk juga aspek waktu) hanya untuk bersaing dengan saudara mereka yang lebih tua. Ketiga, mereka mungkin menjadi berkecil hati tentang bersaing dengan mereka saudara dan saudari. Anak-anak bungsu sering memposisikan diri mereka pada posisi yang membuat saudara-saudaranya menjadi iri, karena mereka mungkin dimanjakan oleh orang tua dan saudara kandung yang lebih tua. Terlalu banyak hal dapat dilakukan untuk mereka, termasuk membuat keputusan dan mengambil tanggung jawab. Karena posisi yang “unik”, anak-anak bungsu dapat dengan mudah mengalami patah semangat dan mengembangkan perasaan rendah diri, mungkin karena ada harapan terbatas untuk kesuksesan mereka, tetapi anak bungsu sering menjadi anak yang paling berhasil dalam keluarga. Anak bungsu terkesan santai dalam menjalani hidup dan sepertinya tidak pernah terjebak dalam perjuangan untuk mencapai sebuah prestasi.
Anak bungsu tidak pernah memiliki kesempatan untuk menjadi yang pertama pada situasi dan kondisi apa pun, namun, ia tetap mempertahankan sikap positif yang kuat tentang masa kecilnya dan kenyataan bahwa saudara-saudaranya selalu tampak bersaing menjadi yang pertama, tidak peduli seberapa mampu mereka, cenderung tidak dianggap serius oleh orang lain. Keputusan dapat dilakukan untuk mereka, dan mereka mungkin tidak perlu mengambil tanggung jawab yang lebih untuk diri mereka sendiri atau orang lain.Namun, anak-anak yang lahir terakhir juga dapat memperoleh kekuatan yang cukup besar dalam keluarga dan berkembang pada perhatian khusus yang mereka terima. Mereka sering menjadi petualangan, santai, empatik, ramah, dan inovatif. Mereka biasanya mengejar kepentingan mereka sendiri,  semua itu dilakukan untuk menghindari persaingan dengan saudara kandung. Sekutu mereka yang paling mungkin adalah yang tertua, dan yang juga memiliki perasaan yang berbeda.
e)    Anak Tunggal. Anak tunggal memiliki banyak kesamaan dengan baik anak sulung dan anak bungsu. Mereka mencari prestasi seperti anak sulung dan biasanya menikmati menjadi pusat perhatian seperti anak bungsu. Anak tunggal adalah kondisi yang “unik”, mereka tumbuh dalam dunia yang penuh dengan orang dewasa. Tidak ada anak-anak lain dengan siapa untuk bersaing, sehingga anak hanya bekerja keras untuk mencapai suatu tingkat kedewasaan tertentu. Ketika orang tua mereka sangat mampu, mereka terkadang menemukan kesulitan untuk bersaing dan mengukur tingkat keberhasilannya, dapat menjadi putus asa, dan mungkin menyerah. Jika anak tunggal tidak mendapatkan posisi dalam keluarga dengan cara yang positif dan konstruktif, mereka mungkin menjadi "baik" dalam kondisi nakal, beberapa anak hanya menerima begitu banyak perhatian dan pelayanan dari orang –orang dewasa yang ada disekitar mereka dan berusaha untuk tetap tidak berdaya dan tidak bertanggung jawab. Mereka tidak menyerah, melainkan hanya tidak pernah mulai untuk mencoba.
Anak tunggal terkesan diposisikan hanya untuk menjadi sangat egosentris, karena mereka tidak harus berhadapan dengan siapa pun (saudara) untuk berbagi. Karakteristik lain yang cukup khas dari anak tunggal anak adalah bahwa mereka sering tumbuh dan menikmati menjadi pusat perhatian. Hal ini terutama berlaku ketika anak adalah cucu pertama. Dalam banyak kasus, anak tunggal dapat mengembangkan bakat dari satu jenis atau beberapa jenis bakat sekaligus untuk dapat menjadi bintang.
Ketika anak tunggal sering mendapatkan apa yang mereka inginkan dan melakukan berbagai hal dengan cara mereka sendiri, mereka mungkin menolak untuk bersikap kooperatif dengan orang lain yang tidak mau menjalankan sesuatu yang diinginkannya tersebut. Hanya anak-anak sering mengembangkan keterampilan untuk berhubungan hanya untuk orang dewasa, terutama jika dunia orang dewasa adalah lingkungan utama sosial mereka,  bukan sebaya mereka. Akibatnya, mereka menjadi penyendiri dan merasa tidak perlu untuk membangun hubungan dengan anak-anak lain, sehingga memungkikankan jika orangtua mereka merasa tidak aman atau nyaman,maka  mereka dapat mengadopsi kekhawatiran, ketidakamanan, ketidaknyamanan orang tua mereka tersebut.

Variabel dalam keluarga dapat memiliki dampak yang kompleks pada pola-pola ini. Sebagai contoh, ketika kembar lahir, keluarga cenderung memperlakukan satu anak sebagai yang lebih tua daripada yang lain, artifisial menentukan urutan kelahiran mereka. Ketika anak sulung adalah seorang gadis atau terganggu dalam beberapa cara, keluarga mungkin secara tidak sengaja atau dengan sengaja mempromosikan anak kedua ke posisi sulung. harapan tinggi akan diberikan kepada anak itu, sementara sulung akan diperlakukan seperti detik lahir. pemposisian mereka akan memberikan dampak pada kepribadian dan perilaku mereka nantinya.


II.               Pribadi Sehat dan Bermasalah
Perspektif pribadi dalam family systems therapy menyatakan bahwa individual dipahami sebaik-baiknya melalui penilaian interaksi antara anggota keluarga. Perkembangan dan perilaku satu anggota keluarga tak terlepas dari keluarga lainnya. Gejala seringkali dipandang sebagai ekspresi dari sekumpulan kebiasaan dan pola dalam sebuah keluarga. Sangat revolusioner untuk menyimpulkan bahwa mengenali problem klien dapat menjadi gejala tentang bagaimana fungsi sistem, bukan sekedar gejala ketidakmampuan individual menyesuaikan diri, sejarah, dan perkembangan psikologis.
Pribadi sehat dalam family systems therapy didasarkan pada asumsi bahwa pribadi yang dapat menjalankan model perkembangan keluarga yang normal, dapat melakukan diferensiasi identitas dengan tepat, secara emosional dapat mengembangkan kemampuan sesuai dengan tugas perkembangannya, memiliki citra diri yang mandiri pada masing-masing individu, dan dapat mengembangkan kohesifitas diri baik di dalam keluarga maupun lingkungan sosial lainnya, serta dapat menunjukkan apresiasi terhadap perasaan yang dialaminya sendiri dan juga perasaan individu lain disekitarnya (misalnya, anak, saudara, dll.)
Pribadi bermasalah dalam family systems therapy didasarkan pada asumsi bahwa pribadi tidak dapat memberikan fungsi atau tujuan bagi keluarga dengan tepat, tidak dapat mempertahankan proses keluarga baik secara sengaja maupun tidak sengaja, mengalami ketidakmampuan untuk beroperasi secara produktif (khususnya) selama pengembangan transisi, mengalami gejala pola disfungsional yang tidak tertangani hingga generasi berikutnya, perkembangan ego yang tidak sempurna atau fenomena ‘transference’ dalam konsep Freud,  mengalami ketidaktepatan  proses penyesuaian diri dengan orang dewasa, mengalami kegagalan individu mengembangkan kohesi diri dan keunikan identitas dirinya yang menyebabkan gangguan kasih sayang emosional, berkepribadian narsistik (terobsesi dengan opini orang lain) atau kebutuhan yang ekstrim terhadap penghargaan.

D.    Hakikat KONSELING
Konseling Keluarga merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada individu sebagai bagaian dari anggota keluarga melalui sistem keluarga (pembenahan komunikasi keluarga) agar potensinya berkembang seoptimal mungkin dan masalahnya dapat diatasi atas dasar kemauan membantu dari semua anggota keluarga berdasarkan kerelaan dan kecintaan terhadap keluarga.

*    Prinsip-prinsip konseling keluarga

1.            Setiap anggota adalah sejajar, tidak ada satu yang lebih penting dari yang lain.
2.            Situasi saat ini merupakan penyebab dari masalah keluarga dan prosesnyalah yang harus diubah.
3.            Tidak perlu memperhatikan diagnostik dari permasalahan keluarga, karena hal ini hanya membuang waktu saja untuk ditelusuri.
4.            Selama intervensi berlangsung, konselor/terapist merupakan bagian penting dalam dinamika keluarga, jadi melibatkan dirinya sendiri.
5.            Konselor/terapist memberanikan anggota keluarga untuk mengutarakan dan berinteraksi dengan setiap anggota keluarga dan menjadi “intra family involved”.
6.            Relasi antara konselor/terapist merupakan hal yang sementara. Relasi yang permanen merupakan penyelesaian yang buruk.
7.            Supervisi dilakukan secara riil/nyata (conselor/therapist center)




E.     Kondisi Pengubahan
I.       Tujuan

a.       Membantu anggota keluarga untuk belajar dan secara emosional menghargai bahwa dinamika keluarga saling bertautan di antara anggota keluarga.

b.      Membantu anggota keluarga agar sadar akan kenyataan bila anggota keluarga mengalami problem, maka ini mungkin merupakan dampak dari satu atau lebih persepsi, harapan, dan interaksi dari anggota keluarga lainnya.

c.       Bertindak terus menerus dalam konseling/terapi sampai dengan keseimbangan homeostasis dapat tercapai, yang akan menumbuhkan dan meningkatkan keutuhan keluarga.

d.      Mengembangkan apresiasi keluarga terhadap dampak relasi parental terhadap anggota keluarga.


II.  Konselor
Konselor pada konseling keluarga diharapkan mempunyai kemampuan professional untuk mengantisipasi perilaku keseluruhan anggota keluarga yang terdiri dari berbagai kualitas emosional dan kepribadian. Konselor diharapkan mampu: mengembangkan komunikasi antara anggota keluarga yang tadinya terhambat oleh emosi-emosi tertentu; membantu mengembangkan penghargaan anggota keluarga terhadap potensi anggota lain sesuai dengan realitas yang ada pada diri dan lingkungannya; membantu konseli agar berhasil menemukan dan memahami potensi, keunggulan, kelebihan yang ada pada dirinya dan mempunyai wawasan serta alternative rencana untuk pengembangannya atas bantuan semua anggota keluarga; dan mampu membantu konseli agar dia dapat menurunkan tingkat hambatan emosional dan kecemasan serta menemukan, memahami, dan memecahkan masalah dan kelemahan yang dialaminya dengan bantuan anggota keluarga lainnya.
Konselor tidak boleh menjadi pribadi yang stereotip terhadap urutan kelahiran. Pada saat yang sama, menjelajahi urutan kelahiran dan pengaruhnya pada perkembangan kepribadian seseorang akan sangat memungkinkan untuk dapat memahami orang tersebut.
Konselor memiliki banyak peran dalam pendekatan ini antara lain pembimbing, Coach, model, dan konsultan.

III.        Konseli
Konseli dalam konseling keluarga berbeda dengan konseli pada pendekatan lainnya. Konseli dalam konseling keluarga bisa terdiri satu orang, atau lebih dari satu orang. Konseli dalam pendekatan ini adalah individu yang tidak berfungsi dengan baik dalam kelurga. Konseli merupakan bagian dari suatu struktur keluarga, dan keluarga merupakan unit yang menentukan atau memberikan sumbangsih pada perkembangan konseli.

IV.       Situasi Hubungan
Faktor jumlah klien (anggota keluarga) menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi hubungan antara konselor dan konseli. Dalam konseling keluarga, konseli bisa lebih dari satu orang. Relasi antara anggota keluarga amat beragam dan bersifat emosional, dan konselor harus melibatkan diri atau berpartisipasi secara penuh dalam dinamika konseling keluarga.  Ada lima jenis relasi dalam konseling keluarga:
1.      Relasi seorang konseli dengan konselor
2.      Relasi antar konseli yang satu dengan yang lainnya
3.      Relasi konselor dengan sebagian kelompok anggota keluarga
4.      Relasi konselor dengan keseluruhan anggota keluarga
5.      Relasi antar sebagaian kelompok dengan sebagian kelompok anggota lain, misalkan Ibu yang memihak anak laki-laki dan ayah yang memihak anak perempuan.  
Oleh karena itu penting sekali membina komunikasi, baik komunikasi antara konselor dan konseli, konselor dengan anggota keluarga, dan komunikasi antar keluarga. Komunikasi ini diwarnai oleh suasana afektif dan interaksi yang mengandung kualitas emosional, akan tetapi lama-kelamaan mengarah pada perubahan kepada perilaku yang rasional.


F.     Mekanisme pengubahan

I.       Tahap-tahap konseling
Proses dalam konseling keluarga adalah:
     1.        Pengembangan Rapport, merupakan suasana hubungan konseling yang akrab, jujur, saling percaya, sehingga menimbulkan keterbukaan dari konseli. Upaya pengembangan rapport ini ditentukan oleh aspek-aspek diri konselor yakni kontak mata; perilaku non verbal (erilaku attending, bersahabat/akrab, hangat, luwes, ramah, jujur/asli, penuh perhatian); dan bahas lisan/verbal yang baik.
     2.        Pengembangan apresiasi emosional, dimana munculnya kemampuan untuk menghargai perasaan masing-masing anggota keluarga, dan keinginan mereka agar masalah yang mereka hadapi dapat terselesaikan semakin besar. Muncul dinamika interaksi dari semua individu yang terlibat dalam konseling.
     3.        Pengembangan alternative modus perilaku. Dalam tahap ini, baik konseli maupun anggota keluarga mengembangkan dan melatihkan perilaku-perilaku baru yang disepakati berdasarkan hasil diskusi dalam konseling. Pada tahap ini muncul home assignment, yaitu mencobakan/mempraktikan perilaku baru selama masa 1 minggu (misalnya) di rumah, kemudian akan dilaporkan pada sesi berikutnya untuk dibahas, dievaluasi, dan dilakukan tindakan selanjutnya.
     4.        Fase membina hubungan konseling.  Adanya acceptance, unconditional positive regard, understanding, genuine, empathy.
Menurut Conjoint Family Therapy, langkah/proses konseling yang dapat ditempuh adalah:
1.      Intake interview, building working alliance. bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan konseli dan anggota keluarga lainnya (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya, kekuatan dan kelemahannya, pola hubungan interpersonal, tingkah laku penyesuaian, dan area masalahnya).
2.      Case conceptualization and Treatment Planning, mengenal masalah/memperjelas masalah, kemudian fokus pada rencana intervensi apa yang akan dilakukan untuk penanganan masalah.
3.      Implementation, menerapkan intervensi yang disertai dengan tugas-tugas yang dilakukan bersama antara konseli dan keluarga, contohnya: free drawing art task (menggambar bebas yang mewakili keberadaan mereka baik secara kognitif, emosi, dan peran yang mereka mainkan), home work,
4.      Evaluation termination, melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling.
5.      Feedback, yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling.

II.      Teknik-teknik konseling
Teknik-teknik dalam konseling keluarga berkembang dengan pesat memasuki tahun 1970-an. Inovasi teknik terapeutik diperkenalkan termasuk pendekatan behavioral yang dikaitkan dengan masalah-masalah keluarga. Pada tahu 1980-an, konseling perkawinan dan konseling keluarga menjadi satu. Para praktisi dari berbagai disiplin keahlian menjadikan konseling keluarga sebagai ciri propesional mereka. Pada saat sekarang, konseling keluarga lebih menekankan penanganan masalah-masalah secara kontekstual daripada secara terpisah dengan individu-individu. Tantangan yang dihadapi oleh konseling keluarga pada tahun 1980-an adalah mengintegrasikan berbagai pendekatan konseling keluarga dan menggunakan kombinasi-kombinasi dari teknik-teknik yang dibutuhkan untuk populasi-populasi yang berbeda.
Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling keluarga adalah:
a.       Sculpting, yaitu teknik yang mengijinkan anggota-anggota keluarga untuk menyatakan kepada anggota lain, persepsinya tentang berbagai masalah hubungan yang ada diantara anggota-anggota keluarga. Konseli dapat menyatakan isi hati dan persepsinya tanpa cemas. Sculpting digunakan untuk mengungkapkan konflik keluarga melalui verbal, baik perasaan maupun tindakan.
b.      Role Playing, yaitu teknik dengan memberikan peran tertentu kepada anggota keluarga. Peran tersebut adalah peran orang lain dikeluarga tersebut. Contohnya anak diminta memainkan peran sebagai ayahnya. Tujuan teknik adalah untuk konseli terlepas dari perasaan penghukuman, tertekan, dan lainnya.
c.       Silence, yaitu teknik yang digunakan untuk menunggu suatu gejala perilaku baru muncul, pikiran baru, respons baru. Teknik ini digunakan saat anggota keluarga berada dalam konflik dan frustrasi karena salah satu anggota keluarga yang suka bertindak “kejam”, sehingga mereka datang saat konseling dengan tindakan tutup mulut.
d.      Confrontation, yaitu teknik yang digunakan untuk mempertentangkan pendapat-pendapat anggota keluarga yang terungkap dalam wawancara konseling keluarga. Tujuannya adalah untuk anggota keluarga saling berterus terang, jujur, dn menyadari perasaan masing-masing.
e.       Teaching via questioning, yaitu teknik mengajar anggota keluarga dengan cara bertanya, contoh: “bagaimana kalau prestasimu menurun? Apakah kamu senang kalau orangtuamu sedih?”
f.        Listening, yaitu teknik yang digunakan agar pembicaraan seorang anggota keluarga didengarkan dengan sabar oleh yang lain. Tujuannya adalah untuk mendengarkan dengan perhatian.
g.       Recapitulating, yaitu teknik mengikthisarkan atau merangkum/menginterpretasi pembicaraan yang bergalau pada setiap anggota keluarga, dengan tujuan agar pembiacaraan menjadi terarah dan terfokus.
h.      Clarification, yaitu teknik yang digunakan untuk memperjelas pernyataan atau perasaan yang diungkapkan secara samar-samar oleh anggota keluarga. Biasanya teknik ini lebih menekankan kepada aspek makna kognitif dari suatu pernyataan verbal konseli atau anggota keluarga lainnya.
i.         FAMILY GENOGRAM
Family Genogram memberikan cara lain untuk konseptualisasi pembangunan sebuah struktur keluarga. Biasanya, family genogram digunakan untuk memetakan perkembangan dari keluarga tertentu selama siklus kehidupannya, setidaknya untuk tiga generasi. family genogram ini menyerupai pohon keluarga yang didalamnya mencakup informasi tentang urutan kelahiran, anggota keluarga, komunikasi mereka, dan isu-isu hubungan. Dalam Corey (2009) dijelaskan bahwa Monica McGoldrick menyediakan sumber yang bagus untuk clinicians yang kurang familiar dengan penggunaan family genogram (lihat McGoldrick, Gerson, & Shellenberger, 1999). Family genogram sering digunakan sebagai dasar pembentukan hipotesis klinis dalam family work dan metode-metode lain (yang didalamya mengandung sebuah sensitifitas budaya) yang ditawarkan untuk memahami konseli baik secara individual maupun secara keluarga. Sebagai contoh, Magnuson, Norem, dan Skinner (1995) menganjurkan pemetaan dinamika hubungan dalam keluarga pasangan gay atau lesbian yang tidak diakui oleh masyarakat umum (misalnya, pernikahan) - Gibson (2005) menyediakan panduan yang sangat baik untuk efektifitas penggunaan family genogram dalam setting konseling sekolah.
j.         Selain family genogram, Hartman (1995) mengembangkan alat serupa yang disebut ecomap. Beberapa kelebihan dari ecomap yakni dimungkinkannya klien dan konselor atau terapis untuk berada dalam suatu  diagram tertentu, interaksi keluarga dan masyarakat juga dapat disertakan. Sebuah ecomap mencakup berbagai unsur guna mengorganisir sebuah kasus. Family genogram dan ecomaps semakin sering digunakan dalam bidang di luar family systems therapy seperti perawatan (Olsen, Dudley-Brown, dan McMullen, 2004) dan family medicine (Wattendorf & Hadley, 2005).
Dapat disimpulkan dari semua macam konseling keluarga adalah sebagai berikut:

No comments:

Post a Comment