Sunday, December 11, 2011

Tes Kecerdasan (Inteligence Test)


A.      PENGERTIAN INTELIGENSI
Dalam bukunya, Human Ability, Spearman & Jones (dalam Azwar, 2006:1) mengemukakan adanya sebuah konsepsi lama mengenai suatu kekuatan  yang dapat melengkapi akal manusia dengan gagasan abstrak yang universal. Dalam bahasa Yunani, kekuatan itu disebut nous, sedangkan upaya pemanfaatan kekuatan tersebut dikenal dengan noesis. Kemudian kedua istilah tersebut dikenal sebagai intellectus dan intelligentia dalam bahasa Latin. Perkembangan berikutnya, keduanya diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi intellect dan intelligence. Transisi bahasa tersebut ternyata juga membawa perubahan makna. Intelligence yang semula berarti penggunaan kekuatan intelektual secara nyata, kemudian berganti makna menjadi suatu kekuatan yang lain
. Berbagai definisi yang dirumuskan oleh para ahli tampaknya memang menampakkan adanya pergeseran tersebut. Namun demikian, definisi-definisi itu selalu mengandung pengertian bahwa inteligensi merupakan suatu kekuatan atau kemampuan untuk melakukan sesuatu.
Crider (dalam Azwar, 2006:3) mengatakan bahwa inteligensi bagaikan listrik; mudah diukur namun hampir mustahil untuk didefinisikan. Pendapat ini sangat beralasan sebab sejak awal kemunculannya hingga saat ini, belum ada definisi inteligensi yang dapat diterima secara universal. Konsep mengenai inteligensi sebagai kemampuan mental memang banyak disetujui, namun hal-hal apa saja yang dicakup dalam kemampuan mental tersebut masih terus diperdebatkan.
Jika ditilik kembali ke awal perkembangan teori mengenai inteligensi, dapat kita lihat bahwa kemampuan mental umum banyak dikaitkan pada faktor-faktor yang lebih bersifas fisik, khususnya faktor penginderaan (sensasi) dan faktor persepsi. Sebagai contoh, James McKeen Cattell, seorang pengikut Galton, mengembangkan suatu bentuk skala pengukuran inteligensi yang banyak mengukur kemampuan fisik seperti kekuatan tangan menekan dinamometer, kecepatan reaksi, kemampuan persepsi mata, dan semacamnya (Willerman dalam Azwar, 2006:4). Galton sendiri berteori bahwa terdapat dua karakteristik yang dimiliki oleh orang berinteligensi tinggi, yaitu: (a) energi/kemampuan untuk bekerja, dan (b) kepekaan terhadap stimulus fisik. Dengan demikian, faham Galton ini jelas merupakan faham yang berciri psikofisik dalam bidang inteligensi.
Perkembangan psikologi selanjutnya menggeser pandangan tentang inteligensi yang bersifat fisikal tersebut ke arah pandangan yang bersifat mentalistik. Alfred Binet, seorang tokoh utama perintis pengukuran inteligensi, bersama Theodore Simon, mendefinisikan inteligensi sebagai terdiri atas tiga komponen, yaitu: (a) kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau mengarahkan tindakan, (b) kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan, dan (d) kemampuan untuk mengeritik diri sendiri (autocriticism). Ahli lainnya, Lewis Madison Terman, mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan seseorang untuk berpikir secara abstrak. Sedangkan H. H. Goddard mengatakan bahwa inteligensi adalah tingkat kemmapuan pengalaman seseorang untuk menyelesaikan masalah-masalah yang langsung dihadapi dan untuk mengantisipasi masalah-masalah yang akan datang (Garrison & Magoon dalam Azwar, 2006:5).
V.A.C. Henmon, salah seorang di antara penyusun Tes Inteligensi Kelompok Henmon-Nelson, mengatakan bahwa inteligensi terdiri atas dua macam faktor, yaitu: (a) kemampuan untuk memperoleh pengetahuan, dan (b) pengetahuan yang telah diperoleh. George D. Stoddard juga menyebut inteligensi sebagai bentuk kemampuan untuk memahami masalah-masalah yang bercirikan (a) mengandung kesukaran, (b) kompleks, yaitu mengandung bermacam jenis tugas yang harus dapat diatasi dengan baik, dalam arti bahwa individu yang berinteligensi tinggi mampu menyerap kemampuan baru dan memadukannya dengan kemampuan yang sudah dimiliki untuk kemudian digunakan dalam menghadapi masalah, (c) abstrak, yaitu mengandung simbol-simbol yang memerlukan analisis dan interpretasi, (d) ekonomis, yaitu dapat diselesaikan dengan menggunakan proses mental yang efisien waktu, (e) diarahkan pada satu tujuan, yaitu bukan dilakukan tanpa maksud melainkan mengikuti suatu arah atau target yang jelas, (f) mempunyai nilai sosial, yaitu cara dan hasil pemecahan masalah dapat diterima oleh nilai dan norma sosial, dan (g) berasal dari sumbernya, yaitu pola pikir yang membangkitkan kreativitas untuk menciptakan sesuatu yang baru dan lain.
David Wechsler, pencipta skala-skala inteligensi Wechsler yang masih banyak digunakan hingga saat ini, mendefinisikan inteligensi sebagai totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungannya dengan efektif (Wechsler dalam Azwar, 2006:7).
Definisi-definisi yang dikemukakan oleh para ahli tersebut ternyata juga banyak selaras dengan pandangan orang awam mengenai inteligensi. Hasil penelitian Stenberg, dkk (1981) menemukan bahwa konsepsi orang awam mengenai inteligensi mencakup tiga faktor kemampuan utama, yaitu: (a) kemampuan memecahkan masalah-masalah praktis yang berciri utama adanya kemampuan berpikir logis, (b) kemampuan verbal yang berciri utama adanya kecakapan berbicara dengan jelas, dan (c) kompetensi sosial yang berciri utama adanya kemampuan untuk menerima orang lain sebagaimana adanya. Berikut ini adalah tabel perbandingan ciri-ciri inteligensi menurut orang awam dan para ahli sebagaimana dirangkum oleh Stenberg:
AHLI
AWAM
Kemampuan Memecahkan Masalah
1.      Mampu menunjukkan pengetahuan mengenai masalah yang dihadapi
2.      Mengambil keputusan dengan tepat
3.      Menyelesaikan masalah secara optimal
4.      Menunjukkan pikiran jernih
Kemampuan Praktis untuk Pemecahan Masalah
1.      Nalar yang baik
2.      Melihat hubungan di antara berbagai hal
3.      Melihat aspek permasalahan secara menyeluruh
4.      Pikiran terbuka
Inteligensi Verbal
1.      Kosakata yang baik
2.      Membaca dengan penuh pemahaman
3.      Ingin tahu secara intelektual
4.      Menunjukkan keingintahuan
Kemampuan Verbal
1.      Berbicara dengan artikulasi yang baik dan fasih
2.      Berbicara dengan lancar
3.      Memiliki pengetahuan di bidang tertentu
Inteligensi Praktis
1.      Tahu situasi
2.      Tahu cara mencapai tujuan
3.      Sadar terhadap dunia sekeliling
4.      Menunjukkan minat terhadap dunia luar
Kompetensi Sosial
1.      Menerima orang lain apa adanya
2.      Mengakui kesalahan
3.      Tertarik pada masalah sosial
4.      Tepat waktu bila berjanji

B.       SEJARAH PERKEMBANGAN ASESMEN INTELIGENSI
Tes untuk mengukur kompetensi pada awalnya dilaksanakan di Cina sebelum dinasti Han berkuasa. Tes tersebut dilakukan untuk menguji rakyat sipil yang ingin menjadi legislatif. Materi tes berisi pengetahuan menulis klasik, persoalan administratif, dan persoalan manajerial. Tes yang demikian kemudian berlanjut hingga masa pemerintahan dinasti Han (200 SM – 200 M), untuk menyeleksi calon anggota legislatif, militer, perpajakan, pertanian, dan geografi. Sistem ujian telah disusun sedemikian rupa dan berisi aktivitas yang lebih kompleks. Para peserta tes diwajibkan tinggal sehari semalam dalam kabin untuk menulis artikel atau puisi. Hanya satu hingga tujuh persen peserta yang akan lolos ke ujian tahap kedua yang berlangsung dalam tiga hari tiga malam. Menurut Gregory, seleksi ini keras namun dapat memilih orang yang mewakili karakter orang Cina yang kompleks. Tugas-tugas militer yang cukup berat dapat dilakukan dengan baik oleh para pegawai yang lolos dalam seleksi fisik dan psikologi yang intensif ini.
Memasuki era psikologi modern, pengukuran kemampuan umum mulai banyak dilakukan dengan metode yang sistematis. Usaha-usaha pengukuran tersebut berkembang di Amerika Serikat dan Perancis dalam waktu yang hampir serempak. Di Amerika, usaha pertama dimulai oleh James Mckeen Cattell (1860–1944), yang menerbitkan buku Mental Tests and Measurement pada tahun 1890. Buku ini berisi rangkaian tes inteligensi yang terdiri dari sepuluh jenis ukuran. Kesepuluh ukuran tersebut merupakan seri pertama yang dibuat di laboratorium psikologi The University of Pennsylvania dan dicobakan kepada siapapun yang bersedia dan kebetulan datang ke laboratorium tersebut. Kesepuluh macam ukuran tersebut dimaksudkan untuk mengukur inteligensi, yang sarat dengan pengukuran aspek sensori-motor dan fisiologis.
Di Eropa, para ahli juga melakukan usaha pengukuran aspek mental yang lebih kompleks. Kraepelin, pada tahun 1895, menyusun suatu seri tes yang yang panjang yang dimaksudkan untuk mengungkap apa yang dianggapnya sebagai faktor-faktor dasar yang menjadi karakteristik individual. Tesnya sendiri pada dasarnya berisi operasi berhitung sederhana dan dirancang untuk mengukur efek latihan, ingatan, kerentanan terhadap kelelahan dan kerentanan terhadap pemecah perhatian.
Selanjutnya, seorang psikolog Perancis, Alfred Binet menciptakan sebuah tes inteligensi yang terkenal hingga saat ini. Diawali oleh desakan terhadap Ministry of Public Instruction agar menempatkan anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah-sekolah khusus, Binet ditugaskan untuk mendeteksi anak-anak yang memiliki kecerdasan terbelakang tersebut. Untuk tugas itu, dengan bantuan Theodore Simon, di tahun 1905 ia menerbitkan Skala Binet-Simon yg pertama. Tes tersebut kemudian direvisi secara berturut-turut pada tahun 1908 dan 1911.
Di Amerika Serikat, revisi Skala Binet yang paling terkenal dan paling banyak dipakai selama bertahun-tahun adalah revisi yang dilakukan di Stanford University oleh L.M. Terman, dkk.. Edisi revisi tersebut diberi nama “The Stanford Revision of the Binet-Simon Intelligence Scale”. Revisi pertama dilakukan pada tahun 1916. Terman menambahkan kecermatan skala tersebut secara psikometri. Item tes juga disusun berdasarkan tingkat kesukaran dan tingkat umur, serta skornya dinyatakan dalam mental age (MA). Dalam tes inilah konsep IQ digunakan secara resmi untuk pertama kali. Revisi selanjutnya dilakukan pada tahun 1937, 1960, dan 1972. Skala Binet ini kemudian menjadi skala yang paling terkenal dan digunakan untuk memvalidasi tes-tes inteligensi lain yang muncul setelahnya.
Tes-tes Binet berserta semua revisinya merupakan skala individual yang pengadministrasiannya memerlukan waktu cukup lama. Pada saat Amerika Serikat memasuki Perang Dunia I pada tahun 1917, sebuah komisi ditunjuk oleh American Psychological Association untuk merancang tes yang dapat melakukan klasifikasi kilat atas satu setengah juta orang calon tentara. Maka di bawah arahan Robert M. Yerkes, dikembangkanlah tes Army Alpha dan Army Beta untuk memenuhi kebutuhan praktis ini. Aplikasi tes inteligensi kelompok seperti ini jauh lebih cepat daripada tes-tes individual. Namun kemudian, ketika tes-tes ini ternyata gagal memenuhi harapan, skeptisme terhadap para tester dan ahli tes kerap muncul.
Tiga puluh empat tahun setelah diterbitkannya tes inteligensi oleh Binet dan Simon, David Wechsler memperkenalkan versi pertama tes inteligensi yang dirancang khusus untuk digunakan oleh orang dewasa. Tes tersebut terbit pada tahun 1939 dan dinamai Wechsler-Bellevue Intelligence Scale (WBIS). Pada tahun 1949, Wechsler juga menerbitkan skala inteligensi untuk anak-anak yang dikembangkan berdasar skala WBIS tadi. Skala ini diberi nama Wechsler Instelligence Scale for Children (WISC). Pada tahun 1974, suatu revisi terhadap tes WISC dilakukan kembali dan edisi revisi ini diterbitkan di tahun tersebut dengan nama WISC-R (huruf R merupakan singkatan dari kata Revised). Di tahun 1955, Wechsler menyusun skala lain untuk mengukur inteligensi orang dewasa dengan memperluas isi tes WISC. Skala baru ini diberinya nama Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS). Revisi terhadap WAIS dilakukan dan diterbitkan pada tahun 1981 dengan nama WAIS-R
Pada perkembangan selanjutnya, disusunlah suatu standar penyusunan tes internasional di Amerika Serikat yang dikenal dengan “Standards for Psychological and Educational Test” yang digunakan hingga saat ini. Kini tes psikologi semakin mudah, praktis, serta muncul dengan berbagai variasi bentuk.

C.      TEORI-TEORI INTELIGENSI
Berdasarkan faktor-faktor yang menjadi elemen inteligensi, teori-teori inteligensi dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu (1) teori yang berorientasi pada faktor tunggal; (2) teori yang berorientasi pada dua faktor; dan (3) teori yang berorientasi pada faktor ganda. Berikut ini akan dipaparkan teori-teori inteligensi berdasarkan ketiga orientasi tersebut
1.    Teori Inteligensi yang Berorientasi pada Faktor Tunggal
Alfred Binet
Alfred Binet (1857-1911) adalah salah satu ahli psikologi yang berpendapat bahwa inteligensi bersifat monogenetik, yaitu berkembang dari satu faktor umum atau sering dikenal dengan faktor g. Menurut Binet, inteligensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan individu. Binet menggambarkan inteligensi sebagai sesuatu yang fungsional sehingga memungkinkan orang lain untuk mengamati dan menilai tingkat perkembangan individu berdasar suatu kriteria tertentu. Jadi untuk melihat apakah seseorang inteligen atau tidak, dapat diamati dari cara dan kemampuannya untuk melakukan suatu tindakan dan kemampuannya untuk mengubah arah tindakannya tersebut jika perlu. Inilah yang dimaksud dengan komponen Arah, Adaptasi, dan Kritik dalam definisi inteligensi Binet.

2.    Teori Inteligensi yang Berorientasi pada Dua Faktor
a.    Charles E. Spearman
Pandangan Spearman (1927) mengenai inteligensi ditunjukkan dalam teorinya yang dikenal dengan nama teori dua faktor. Penjelasannya mengenai teori ini berangkat dari analisis korelasional yang dilakukannya terhadap skor seperangkat tes yang mempunyai tujuan dan fungsi ukur yang berlainan. Hasil analisisnya memperlihatkan adanya interkorelasi positif di antara berbagai tes tersebut. Menurut Spearman, interkorelasi positif itu terjadi karena masing-masing tes tersebut memang mengukur suatu faktor umum yang sama, yang dinamainya faktor g. Namun demikian, korelasi-korelasi itu tidaklah sempurna sebab setiap tes, di samping mengukur faktor umum yang sama, juga mengukur komponen tertentu yang spesifik bagi masing-masing tes tersebut. Faktor yang spesifik dan hanya diungkap oleh tes tertentu saja ini disebut faktor s.
Definisi inteligensi menurut Spearman mengandung dua komponen kualitatif yang penting, yaitu (1) eduksi relasi (eduction of relation), dan (2) eduksi korelasi (eduction of correlates). Eduksi relasi adalah kemampuan untuk menemukan suatu hubungan dasar yang berlaku di antara dua hal. Misalnya, dalam menemukan hubungan yang terdapat di antara dua kata “panjang-pendek”. Eduksi korelasi adalah kemampuan untuk menerapkan hubungan dasar yang telah ditemukan dalam proses eduksi relasi sebelumnya ke dalam situasi baru. Misalnya, bila telah diketahui bahwa hubungan antara “panjang” dan “pendek” merupakan hubungan lawan kata, maka menerapkannya dalam situasi pertanyaan seperti “baik - .....”, tentu akan dapat dilakukan.

b.   Donald Olding Hebb
Hebb membedakan inteligensi menjadi dua macam, yaitu Inteligensi A dan Inteligensi B. Inteligensi A merupakan kemampuan dasar manusia (human basic potentiality) untuk belajar dari lingkungan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut. Inteligensi A ditentukan oleh kompleksitas dan kelenturan sistem syaraf pusat, yang dipengaruhi oleh gen. Gen merupakan suatu blue-print bagi pembentukan organisme hidup, yang tersusun teratur pada setiap kromosom dalam sel. Masing-masing gen merupakan satu bagian kecil dari suatu makromolekul yang panjang yang disebut DNA.
Sebagian orang dibekali dengan gen dalam jumlah yang banyak dan karenanya memiliki kesiapan yang lebih baik bagi perkembangan mentalnya. Namun ada juga sebagian orang yang tidak memiliki gen yang cukup sehingga perkembangan mentalnya tidak dapat mencapai batas optimal. Perkembangan mental dimaksud akan terjadi bila mendapat rangsangan dengan baik dari lingkungan sosial dan lingkungan fisik tempat seseorang mengalami pertumbuhan.
Inteligensi B merupakan tingkat kemampuan yang diperlihatkan oleh seseorang dalam bentuk perilaku yang dapat diamati secara langsung. Bila Inteligensi A dapat dikatakan sebagai kemampuan potensial, maka Inteligensi B merupakan kemampuan aktual. Inteligensi B tidak berasal dari gen yang dibawa sejak lahir, namun juga tidak sekedar diperoleh sebagai hasil belajar dari lingkungan. Inteligensi B merupakan hasil kerjasama antara keadaan alamiah seseorang dengan asuhan yang diterimanya, atau antara potensi genetik dan stimulasi lingkungan.
Ukuran terhadap Inteligensi B, sebagaimana diperoleh melalui tes IQ, disebut sebagai Inteligensi C. Inteligensi C tidak merupakan representasi total dari Inteligensi B karena tes IQ pada umumnya hanya dapat mengukur sebagian saja dari Inteligensi B, bukan seluruhnya.

c.    Raymond Bernard Cattell
Dalam teorinya mengenai organisasi mental, Cattell (1963) mengklasifikasikan kemampuan mental menjadi dua macam, yaitu: Inteligensi fluid (gf) yang merupakan faktor bawaan biologis, dan Inteligensi crystallized (gc) yang merefleksikan adanya pengaruh pengalaman, pendidikan, dan kebudayaan dalam diri individu.
Inteligensi crystallized dapat dipandang sebagai endapan pengalaman yang terjadi sewaktu inteligensi fluid bercampur dengan apa yang disebut dengan inteligensi budaya. Inteligensi crystallized akan meningkat kadarnya dalam diri seseorang seiring dengan bertambahnya pengalaman. Dengan kata lain, tugas-tugas kognitif di mana keterampilan-keterampilan dan kebiasaan-kebiasaan telah mengkristal akibat dari pengalaman sebelumnya, seperti kekayaan kosa kata, pengetahuan, kebiasaan penalaran, dan lain-lain, semua akan meningkatkan inteligensi dimaksud. Pada umumnya, bila kita mengatakan inteligensi sebagai kemampuan umum dalam menyelesaikan masalah, maka hal itu berarti inteligensi crystallized.
Pada sisi lain, inteligensi fluid lebih merupakan kemampuan bawaan yang diperoleh sejak lahir dan lepas dari pengaruh pendidikan dan pengalaman. Inteligensi fluid dapat dipandang sebagai faktor yang tak berbentuk, yang mengalir ke dalam berbagai variasi kemampuan intelektual. Inteligensi fluid sangat penting artinya guna keberhasilan melakukan tugas-tugas yang menuntut kemampuan adaptasi atau penyesuaian pada situasi-situasi baru di mana inteligensi crystallized tidak begitu berperan.
Inteligensi fluid cenderung tidak berubah setelah usia 14 atau 15 tahun, sedangkan inteligensi crystallized masih dapat terus berkembang hingga usia 30-40 tahun, bahkan lebih. Hal ini karena perkembangan inteligensi crystallized memang banyak tergantung pada bertambahnya pengalaman dan pengetahuan. Dengan meningkatnya usia, pengalaman akan terus bertambah sehingga berpengaruh terhadap perkembangan inteligensi crystallized.
Meskipun berbeda, inteligensi fluid dan inteligensi crystallized dapat tampak serupa. Pada umumnya, kemampuan fluid dan kemampuan crystallized menunjukkan korelasi yang tinggi satu sama lain.

3.    Teori Inteligensi yang Berorientasi pada Faktor Ganda
a.    Edward Lee Thorndike
Thorndike menyatakan bahwa inteligensi terdiri atas berbagai kemampuan spesifik yang ditampakkan dalam wujud perilaku inteligen. Oleh karena itu, teorinya dikategorikan ke dalam teori inteligensi faktor ganda.
Formulasi teori Thorndike didasari oleh bukti-bukti riset yang dilakukannya. Ia mengklasifikasikan inteligensi ke dalam tiga bentuk kemampuan, yaitu: (1) kemampuan Abstraksi, yaitu suatu kemampuan untuk bekerja dengan menggunakan gagasan dan simbol-simbol, (2) kemampuan Mekanik, yaitu suatu kemampuan untuk bekerja dengan menggunakan alat-alat mekanis dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang memerlukan aktivitas sensory-motor, dan (3) kemampuan Sosial, yaitu kemampuan untuk menghadapi orang lain di sekitar diri sendiri dengan cara-cara yang efektif.
Ketiga bentuk kemampuan ini tidak terpisah secara eksklusif dan juga tidak selalu berkorelasi satu sama lain dalam diri seseorang. Ada kelompok orang yang sangat cakap dalam kemampuan abstraksi, seperti para akademisi, namun tidak memiliki kecakapan dalam bidang mekanik. Namun ada juga kelompok orang yang memiliki kecakapan tinggi dalam ketiga kemampuan tersebut.
Thorndike meyakini bahwa tingkat inteligensi tergantung pada banyaknya ikatan syaraf (neural connection) antara rangkaian stimulus dan respon dikarenakan adanya reinforcement yang dialami seseorang. Orang yang telah memiliki banyak ikatan pada bidang inteligensi mekanik akan meningkat kecakapannya pada bidang tersebut. Begitu juga pada bidang abstraksi dan sosial.

b.        Louis Leon Thurstone & Thelma Gwinn Thurstone
Teori inteligensi L.L. Thurstone & T.G. Thurstone juga dapat dikategorikan sebagai teori inteligensi yang berorientasi faktor ganda. Dari hasil analisis faktor yang mereka lakukan terhadap data skor rangkaian 56 tes yang dilancarkan pada siswa sekolah lanjutan di Chicago, mereka tidak menemukan bukti mengenai adanya faktor inteligensi umum. Menurut L.L. Thurstone, faktor umum tersebut memang tidak ada. Yang benar adalah bahwa inteligensi dapat digambarkan sebagai terdiri atas sejumlah kemampuan mental primer.
Berdasar hasil analisis tersebut, mereka mengatakan bahwa kemampuan mental dapat dikelompokkan ke dalam enam faktor dan bahwa inteligensi dapat diukur dengan melihat sampel perilaku seseorang dalam keenam bidang dimaksud. Suatu perilaku inteligen, menurut keduanya, adalah hasil dari bekerjanya kemampuan mental tertentu yang menjadi dasar performansi dalam tugas tertentu pula.
Dari hasil studi yang telah mereka lakukan, Thurstone menyusun Tes Kemampuan Primer Chicago dan menguraikan keenam faktor kemampuan sebagai berikut:
V:
(verbal), yaitu pemahaman akan hubungan kata, kosakata, dan penguasaan komunikasi lisan.
N:
(number), yaitu kecermatan dan kecepatan dalam penggunaan fungsi-fungsi hitung dasar.
S:
(spatial), yakni kemampuan untuk mengenali berbagai hubungan dalam bentuk visual.
W:
(word fluency), yaitu kemampuan untuk mencerna kata-kata tertentu dengan cepat.
M:
(memory), yaitu kemampuan mengingat gambar-gambar, pesan-pesan, angka-angka, kata-kata, dan bentuk-bentuk pola.
R:
(reasoning), yaitu kemampuan untuk mengambil kesimpulan dari berbagai contoh, aturan, atau prinsip. Dapat juga diartikan sebagai kemampuan pemecahan masalah.

Penelitian L.L. Thurstone & T.G. Thurstone selanjutnya menunjukkan bahwa keenam faktor tersebut tidaklah terpisah secara eksklusif dan tidak pula independen satu sama lain. Oleh karena itu, kesimpulan mereka, terdapat suatu faktor umum lain yang lebih rendah tingkatannya berupa suatu faktor-g tingkat dua. Faktor-g tingkat dua inilah yang menjadi dasar bagi semua faktor-faktor lain.

c.         Cyril Burt
Cyril Burt (1949) beranggapan bahwa faktor-faktor kemampuan merupakan suatu kumpulan yang terorganisasikan secara hirarkis. Dalam teorinya ia mengatakan bahwa kemampuan mental terbagi atas beberapa faktor yang berada pada tingkatan-tingkatan yang berbeda. Faktor-faktor tersebut adalah satu faktor Umum (general), faktor-faktor Kelompok Besar (broad group), faktor-faktor Kelompok Kecil (narrow group), dan faktor-faktor Spesifik (specific). Model tingkat mental hirarkis yang digambarkan oleh Burt sangat erat berkaitan dengan suatu hirarki fungsional yang diurutkan berdasarkan kompleksitas kognitifnya.
Tingkat mental terendah berupa Kemampuan Penginderaan (sensory) dasar dan Proses Penggerak (motor), yang disingkat s dan m. Satu tingkat di atasnya adalah tingkat kemampuan yang lebih tinggi berupa Proses Persepsi atau Proses Pengamatan dan Gerakan Terkoordinasikan (perceptual process & coordinated movement) yang disingkat P dan M. Berikutnya adalah Proses Asosiasi yang lebih kompleks yang melibatkan Ingatan (memory) dan Pembentukan Kebiasaan (habit), yang disingkat M dan H. Berada di atasnya lagi adalah Proses Relasional (relational) yang disingkat R. Berada pada puncak hirarki adalah Inteligensi Umum (I), yang dianggap mempunyai peranan integratif yang selalu terlibat dalam setiap tingkat hirarki.

d.        Philip Ewart Vernon
Sebagaimana Burt, Vernon (1950) mengemukakan pula model hirarkis dalam menjelaskan teorinya mengenai inteligensi. Dalam model hirarkisnya (seperti terlihat pada gambar), Vernon menempatkan satu faktor umum (faktor-g) di puncak hirarki. Di bawah faktor-g terdapat dua jenis kelompok kemampuan mental yang disebutnya kemampuan verbal-educational (v:ed) dan practical-mechanical (k:m). Kedua jenis kemampuan ini termasuk dalam faktor inteligensi yang utama atau kelompok mayor. Masing-masing kelompok mayor terbagi lagi dalam faktor-faktor kelompok minor, yang terpecah lagi menjadi bermacam-macam faktor spesifik pada tingkat hirarki yang paling rendah.
Mengenai faktor-faktor spesifik, Vernon berpendapat bahwa sebenarnya faktor-faktor spesifik itu tidak banyak memiliki nilai praktis dikarenakan kurang jelas relevansinya dengan kehidupan nyata sehari-hari. Oleh karena itu, menurut Vernon, lebih baik membicarakan faktor-faktor yang lebih umum dikarenakan faktor umum itulah yang berkorelasi lebih konsisten dan substansial dengan masalah kehidupan sehari-hari.

e.         Joy Paul Guilford
Teori Guilford (1959) dikenal dengan structure of intellect. Dalam model struktur ini, Guilford berusaha menyertakan kategorisasi perbedaan individual di berbagai faktor kemampuan mental dalam usahanya memahami dan menggambarkan proses-proses mental yang mendasari perbedaan individual tersebut. Model teori structure of intellect ini diilustrasikan dalam bentuk sebuah kubus atau kotak berdimensi tiga yang masing-masing mewakili satu klasifikasi faktor-faktor intelektual yang bersesuaian satu sama lain.
Dimensi yang pertama adalah isi (content), terurai dalam empat bentuk, yaitu figur (figural), simbol (symbolic), semantik (semantic), dan perilaku (behavior). Dimensi kedua adalah operasi (operation), terurai dalam lima proses, yaitu kognisi (cognition), ingatan (memory), produksi konvergen (convergent production), produksi divergen (divergent production), dan evaluasi (evaluation). Dimensi ketiga adalah produk (product), terurai dalam enam jeni, yaitu satuan (unit), kelas (class), relasi (relation), sistem (system), transformasi (transformation), dan implikasi (implication). Dengan demikian, seluruh dimensi akan berjumlah 120 (4x5x6) macam kombinasi yang merupakan faktor-faktor kemampuan yang berlainan dan dihipotesiskan sebagai sumber terbentuknya kemampuan-kemampuan mental yang berbeda pula macamnya.
Dari 120 macam kemampuan tersebut, sekitar tiga perempatnya telah dibuktikan keberadaannya secara empiris, sedangkan sisanya masih dalam proses penelitian.

f.         C. Halstead
Teori inteligensi Halstead (1961) merupakan teori yang menggunakan pendekatan neurobiologis. Menurut Halstead, terdapat sejumlah fungsi otak yang berkaitan dengan inteligensi dan relatif bebas dari aspek-aspek kebudayaan. Fungsi otak ini memiliki dasar biologis dan berlaku bagi fungsi setiap otak individu. Selanjutnya, Halstead mengemukakan adanya empat faktor inteligensi yang diringkas sebagai berikut:
a.    Faktor Central Integrative (C). Faktor ini berupa kemampuan untuk mengorganisasikan pengalaman. Fungsi faktor ini adalah penyesuaian, di mana latar belakang pengalaman seseorang dan hasil belajarnya akan mengintegrasikan pengalaman-pengalaman yang baru.
b.    Faktor Abstraction (A). Merupakan kemampuan mengelompokkan sesuatu dengan cara-cara yang berbeda, dan kemampuan untuk melihat kesamaan dan perbedaan yang terdapat di antara benda-benda, konsep-konsep, dan peristiwa-peristiwa.
c.    Faktor Power (P). Merupakan kekuatan otak (power) dalam arti tenaga otak yang utuh. Termasuk dalam faktor ini adalah kemampuan untuk mengekang afeksi sehingga kemampuan-kemampuan rasional dan intelektual dapat tumbuh dan berkembang
d.   Faktor Directional (D). Merupakan kemampuan yang memberikan arah dan sasaran bagi kemampuan-kemampuan individu. Kemampuan ini menunjukkan dengan spesifik cara mengekspresikan intelek dan perilaku.
Keempat faktor tersebut merupakan dasar dari apa yang oleh Halstead disebut sebagai inteligensi biologis.

g.        Howard Gardner
Pendapat Gardner mengenai keberadaan Inteligensi Ganda (multiple intelligence) didorong oleh pendapatnya bahwa pandangan dari sisi psikometri dan kognitif saja terlalu sempit untuk menggambarkan konsep inteligensi. Pendekatan teori Gardner sangat berorientasi pada struktur inteligensi. Teori ini juga merupakan sanggahan terhadap pendapat yang mengatakan bahwa hanya ada kemampuan umum sebagai konsep tunggal inteligensi.
Dalam usahanya melakukan identifikasi terhadap inteligensi, Gardner menggunakan beberapa macam kriteria, yaitu: (a) pengetahuan mengenai perkembangan individu yang normal dan yang superior, (b) informasi mengenai kerusakan otak, (c) studi mengenai orang-orang eksepsional seperti individu yang luar biasa pintar, juga individu idiot savant, dan orang-orang autistik, (d) data psikometrik, dan (e) studi pelatihan psikologis. Gardner mengatakan bahwa berbagai inteligensi yang telah diidentifikasikannya bersifat universal sekalipun secara budaya tampak berbeda. Sebagai contoh, inteligensi linguistik tidak selalu dinyatakan dalam bentuk tulisan, bergantung pada budaya mana yang diperhatikan. Inteligensi sangat beragam dan kebanyakan bersifat kognitif.
Tujuh macam inteligensi yang telah berhasil diidentifikasi oleh Gardner adalah Inteligensi Linguistik, Inteligensi Matematik-logis, Inteligensi Spasial, Inteligensi Musik, Inteligensi Kelincahan Tubuh, Inteligensi Interpersonal, dan Inteligensi Interpersonal.
Inteligensi linguistik banyak terlibat dalam kegiatan membaca, menulis, berbicara dan mendengar. Menurut Gardner, aktivitas linguistik terletak pada bagian tertentu dalam otak. Sebagai contoh, daerah Broca adalah lokasi terjadinya kalimat-kalimat yang sesuai dengan struktur bahasa sehingga seseorang yang mengalami kerusakan pada daerah tersebut, sekalipun dapat memahami kata dan kalimat, akan tetapi sulit menerangkannya menjadi kalimat yang benar.
Inteligensi matematik-logis adalah inteligensi yang digunakan untuk memecahkan problem berbentuk logika simbolis dan matematika abstrak.
Inteligensi spasial digunakan dalam mencari cara untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, untuk mengatur isi koper agar memuat barang-barang dengan efisien, membayangkan langkah-langkah lanjutan dalam permainan catur, dan sejenisnya. Belahan otak sebelah kanan merupakan sumber inteligensi ini. Sehingga jika terjadi kerusakan pada bagian tersebut, maka proses spasial akan terganggu.
Inteligensi musik berfungsi dalam menyusun lagu, menyanyi, memainkan alat musik, ataupun sekedar mendengarkan musik. Sekalipun belahan otak sebelah kanan banyak mengandung inteligensi musik, menurut Gardner, inteligensi musik tidak terlalu pasti letaknya.
Inteligensi kelincahan tubuh diperlukan dalam aktivitas-aktivitas atletik, menari, berjalan, dan semacamnya. Kendali gerak tubuh terletak pada bagian korteks gerak di otak yang sisi-sisinya mengendalikan gerakan pada bagian tubuh di sisi yang berlawanan.
Inteligensi interpersonal digunakan dalam berkomunikasi, saling memahami, dan berinteraksi dengan orang lain. Orang yang inteligensi interpersonalnya tinggi adalah mereka yang memperhatikan perbedaan di antara orang lain, dan dengan cermat dapat mengamati temperamen, suasana hati, motif, dan niat mereka. Inteligensi ini sangat penting pada pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan orang lain, seperti psikoterapis, konselor, guru, polisi, dan sejenisnya.
Inteligensi intrapersonal sangat diperlukan dalam memahami diri sendiri. Merupakan kepekaan seseorang akan suasana hati dan kecakapannya sendiri.

D.      JENIS-JENIS ASESMEN INTELIGENSI
1.    Tes Inteligensi Individual
a.    Skala Stanford-Binet
Tes Stanford-Binet merupakan tes inteligensi yang paling populer di dunia dan seringkali digunakan sebagai standar untuk menguji validitas tes inteligensi lain yang dikembangkan setelahnya. Tes Stanford-Binet edisi tahun 1916 memiliki banyak kelemahan sehingga dilakukan revisi pada tahun 1937, yang menghasilkan dua format yang paralel (L dan M). Revisi berikutnya dilakukan pada tahun 1960 dan kemudian distandardisasi pada tahun 1972 sehingga mencakup norma-norma yang memadai bagi populasi masyarakat Amerika saat itu.
Skala Binet edisi keempat disusun pada tahun 1986. Penyusunnya berusaha untuk mempertahankan kelebihan edisi sebelumnya sebagai tes inteligensi individual, ditambah dengan kelebihan tambahan dari perkembangan teori dan riset terbaru dalam psikologi kognitif. Selain itu, pada edisi revisi keempat ini ditambahkan variasi lainnya, khususnya jenis tes nonverbal.
Edisi keempat terdiri dari 15 jenis tes yang berbeda yang mencakup empat area: (1) verbal reasoning, (2) abstract/visual reasoning, (3) quantitative reasoning, dan (4) short-term memory. Sebagian dari kelimabelas jenis tes tersebut dapat digunakan untuk segala umur, dan sebagian lainnya hanya dapat digunakan untuk umur-umur tertentu.
Sebagaimana edisi sebelumnya, pada tes edisi 1986, testi diberikan tugas-tugas yang sesuai dengan kemampuannya. Tes pertama-tama dimulai dari level yang dapat dijangkau oleh testi dan kemudian dilanjutkan ke level yang lebih tinggi. Jawaban yang diberikan oleh testi pada tes kosakata (sesuai dengan usia kronologisnya) dapat digunakan untuk menentukan tes mana selanjutnya yang pertamakali akan digunakan. Tes kemudian berlanjut sampai setidaknya tiga dari empat item tidak dapat dijawab dengan benar, di mana hal itu menunjukkan batas kemampuan maksimal konseli (biasanya tes-tes berikutnya juga akan sulit dijawabnya dengan benar).
Pada sebagian besar tes, setiap item hanya memiliki satu jawaban benar. Raw score setiap tes kemudian dikonvensi ke dalam skor standard age dengan mean 50 dan standar deviasi 8. Skor standar juga disediakan untuk masing-masing dari empat bidang kognitif bersama dengan skor total komposit yang mencerminkan kemampuan mental umum. Masing-masing memiliki mean 100 dan standar deviasi 16. Tes edisi keempat ini memerlukan waktu sekitar satu jam 15 menit. Tidak seluruh kelimabelas tes dilancarkan pada testi. Biasanya hanya delapan hingga 13 tes saja yang diberikan, tergantung pada entry level masing-masing testi.
Edisi keempat ini telah distandardisasi dengan lebih dari 5000 orang dari seluruh Amerika Serikat yang di dalamnya telah mewakili sampel berdasarkan gender, umur, kelompok etnis, dan masyarakat luas. Reliabilitas konsistensi internal tes secara keseluruhan sangat tinggi (di atas .95), begitu pula reliabilitas masing-masing area kognitif (di atas .93). Uji reliabilitas dengan metode test-retest terhadap bagian-bagian tes dan tes secara keseluruhan menunjukkan hasil yang lebih tinggi bagi testi usia dewasa. Penyusun tes Binet juga telah menguji validitas edisi keempat ini dengan menggunakan (1) validitas konstruk terhadap penelitian terkini dalam bidang inteligensi kognitif, (2) konsistensi internal dan metode analisis faktor, dan (3) uji korelasi dengan tes inteligensi lain.

b.   Skala Wechsler
Tes Wechsler edisi terakhir terdiri dari tiga jenis, yaitu: WPPSI-R untuk umur 3-7 tahun, WISC-R untuk umur 6-16 tahun, dan WAIS-R untuk umur 16-74 tahun. WPPSI-R merupakan hasil revisi pada tahun 1989. Modifikasi dan restandardisasi berikutnya yang dilakukan pada tahun 1990an menghasilkan tes baru yang dinamakan WISC III (pengganti WISC-R). Namun dalam subbab ini hanya akan dibahas mengenai WPPSI dam WISC-R karena edisi penggantinya tersebut masih belum beredar saat buku ini naik cetak.
Tiga tes tersebut memiliki kesamaan pola, dengan lima atau enam subtes yang menghasilkan skor Verbal (selanjutnya disingkat V) dan skor Performansi (selanjutnya disingkat P). Kedua skor tersebut kemudian menghasilkan skor skala total. Subtes-subtes itu hampir mirip namun tidak identik antara satu sama lain (untuk masing-masing tingkat usia).

Sub-sub Tes Wechsler Berdasarkan Umur Testi
Anak Kecil
(WPSSI-R)
Anak Usia Sekolah
(WISC-R)
Usia 16 Tahun Ke Atas
(WAIS-R)
VERBAL
Informasi
Pemahaman
Aritmatika
Persamaan
Kosakata
(Kalimat)

Informasi
Pemahaman
Aritmatika
Persamaan
Kosakata
(Selisih Digit)

Informasi
Pemahaman
Aritmatika
Persamaan
Kosakata
(Selisih Digit)
PERFORMANSI
Mendesain Balok
Menyempurnakan Gambar

Merangkai Obyek
(Memasang Hewan)
Jaringan
Desain Geometrik

Mendesain Balok
Menyempurnakan Gambar
Menata Gambar
Merangkai Obyek
Koding
Jaringan

Mendesain Balok
Menyempurnakan Gambar
Menata Gambar
Merangkai Obyek
Simbol Digit

Catatan: tanda kurung menunjukkan bahwa tes tersebut merupakan pilihan atau suplemen. Tes yang berada pada satu baris merupakan tes yang mirip namun berbeda isi dan judulnya.

Tes Wechsler dilancarkan oleh tester terlatih dan memerlukan waktu sekitar satu jam. Subtes Verbal dan Performansi biasanya diberikan secara berseling. Tester memulai dengan item yang paling mudah –misalnya menyusun balok- atau item yang menengah namun diperkirakan cukup mudah untuk testi. Tester kemudian melanjutkan pada tes subtes berikutnya jika testi telah selesai dengan satu tes sebaik yang ia bisa.

2.    Tes Inteligensi Kelompok
Tes kelompok diklaim lebih efisien dalam hal waktu pengadministrasian dan skoringnya. Material-material yang digunakan juga lebih simpel, biasanya berupa: booklet, lembar jawaban pilihan ganda, pensil, dan kunci jawaban. Tes jenis ini biasanya juga memberikan informasi yang lebih normatif, karena data jenis ini lebih mudah dikumpulkan dalam seting kelompok.
Pengembangan tes kelompok didorong oleh kebutuhan untuk mengklasifikasikan hampir dua juta tentara Amerika yang direkrut selama Perang Dunia I. Tes Army Alpha (untuk tentara yang dapat membaca) dan Army Beta (untuk tentara yang tidak dapat membaca) saat itu dikembangkan untuk keperluan militer. Berikutnya, dikembangkan pula tes inteligensi kelompok untuk keperluan pendidikan dan personalia, dengan memodel kedua tes tersebut. Sekarang, beberapa jenis tes kelompok telah digunakan di setiap tingkat pendidikan, dari TK hingga pascasarjana. Tes kelompok juga digunakan secara luas oleh industri, militer, dan dalam penelitian-penelitian. Supaya tidak kabur dengan istilah tes inteligensi, karena istilah inteligensi seringkali disalahpahami dan disalahartikan, tes-tes kelompok tersebut lebih sering disebut dengan tes kematangan mental, tes kecakapan kognitif, tes kesiapan sekolah, atau tes kecakapan mental.

a.    Tes Henmon-Nelson
Tes Kecakapan Mental Henmon-Nelson terdiri dari empat level yang didesain untuk memenuhi kebutuhan taman kanak-kanak hingga kelas XII, di mana setiap levelnya dapat digunakan untuk tiga atau empat tingkat. Tes berisikan item jenis verbal dan numerikal, dan kemudian menghasilkan raw score yang akan dikonversikan ke dalam IQ deviasi dan persentil.

b.   Tes Kecakapan Kognitif (Cognitive Abilities Tests)
Tes Kecakapan Kognitif merupakan versi modern dari Tes Inteligensi Lorge-Thorndike. Tes ini terdiri dari tiga peruntukan yang berbeda, yaitu: (1) untuk TK dan kelas 1, (2) untuk kelas 2 dan kelas 3, serta (3) untuk multilevel yang dapat digunakan di kelas 3 hingga kelas 12. Tes Kecakapan Kognitif terdiri dari tiga bagian yang masing-masing mengukur hal yang berbeda: verbal, kuantitatif, dan nonverbal. Bagian nonverbal mengukur tidak menggunakan bahasa ataupun angka, namun menggunakan gambar-gambar geometrik yang harus diklasifikasikan, dianalogikan, dan disintesakan. Dalam porsi ini, pengaruh dari sekolah formal, ketidakmampuan membaca, atau bukan berbahasa asli Inggris, dapat diminimalkan. Raw score masing-masing bagian kemudian dikonversikan ke dalam skor stanin dan persentil untuk setiap umur dan kelas. Tiga skor yang dihasilkan oleh tiga bagian tersebut kemudian dapat dikomparasikan dengan norma kelompok ataupun dikomparasikan dengan masing-masing peserta lainnya. Sebagai tambahan, untuk menghasilkan skor deviasi IQ, skor juga dapat dikonversikan ke dalam skor standar yang memiliki mean 100 dan standar deviasi 16. Tes Kecakapan Kognitif ini telah distandardisasi bersama dengan Tes Keterampilan Dasar Iowa (Iowa Tests of Basic Skills) untuk tingkat TK hingga kelas IX dan Tes Prestasi dan Profisiensi untuk kelas IX hingga kelas XII.

c.    Tes Kuhlmann-Anderson
Tes Kuhlmann-Anderson terdiri dari delapan level untuk tingkat TK hingga kelas XII, di mana setiap level berisi beberapa tes. Tes Kuhlmann-Anderson merupakan versi terbaru dari dari salah satu tes inteligensi terpopuler yang pernah digunakan di sekolah. Dibandingkan tes sejenis, tes ini tidak terlalu bergantung pada bahasa, namun akan menghasilkan skor verbal, skor kuantitatif, dan skor total. Skor disajikan dalam bentuk persentil (condidence interval) dan skor deviasi IQ.

d.   Tes Keterampilan Kognitif (Test of Cognitive Skills)
Tes Keterampilan Kognitif (Test of Cognitive Skills) merupakan versi terkini dari California Test of Mental-Maturity-Short Form. Dalam format aslinya, instrumen tes ini didesain seperti tes Stanford-Binet versi kelompok. Skor yang dihasilkanpun mirip dengan skor yang didapat dari tes Stanford-Binet. Tes ini terdiri dari empat subtes yang masing-masing memiliki lima battery untuk kelas dua hingga kelas XII. Umur dan tingkat stanin, persentil, dan norma skor standar tersedia untuk setiap subtes. Indeks Keterampilan Total akan menghasilkan skor IQ deviasi.

e.    Tes Kesiapan Sekolah Otis-Lennon (Otis-Lennon School Ability Test)
Tes Kesiapan Sekolah Otis-Lennon (Otis-Lennon School Ability Test) berisi lima level tes untuk kelas satu hingga kelas XII. Tes terbagi dalam dua bentuk R dan S. Tes ini merupakan revisi terkini dari seri tes Otis terdahulu. Norma Tes Kesiapan Sekolah Otis-Lennon sama dengan the Metropolitan Achievement Tests dan the Stanford Achievement Test.

f.     Tes Kesiapan Sekolah dan Perguruan Tinggi (School and College Ability Tests)
Tes Kesiapan Sekolah dan Perguruan Tinggi (School and College Ability Tests) terdiri dari tiga level dan diperuntukkan bagi siswa kelas III hingga kelas XII. Dua di antaranya (X dan Y) dapat digunakan untuk semua tingkatan. Tes Kesiapan Sekolah dan Perguruan Tinggi berisi tes lisan mengenai analogi verbal dan tes kuantitatif mengenai perbandingan numerik. Tes ini akan menghasilkan tiga skor: verbal, kuantitatif, dan skor total. Skor standar, stanin, dan persentil juga tersedia untuk setiap tingkatan level. Tes Kesiapan Sekolah dan Perguruan Tinggi diberi norma secara konkuren dengan the Sequential Tests of Educational Progress (STEP). Karena Tes Kesiapan Sekolah dan Perguruan Tinggi dikembangkan oleh Educational Testing Service yang juga mengembangkan the College Entrance Examination Board’s Scholastic Aptitude Test (SAT), skor verbal dan kuantitatif dalam Tes Kesiapan Sekolah dan Perguruan Tinggi dapat digunakan untuk memprediksi skor verbal dan kuantitatif SAT.

g.    Wonderlic Personnel Test
Wonderlic Personnel Test merupakan tes kecakapan mental singkat untuk orang dewasa yang berdurasi 12 menit. Tes inteligensi dengan kertas dan pensil ini terdiri dari lima bentuk, dengan norma yang ekstensif. Tes ini banyak digunakan dalam bisnis dan industri untuk seleksi dan penempatan karyawan. Validitas data mengenai kesuksesan kerja tentu dapat ditemukan di banyak perusahaan, namun memang jarang ditemukan dalam literatur penelitian. Namun demikian, validitas tes masih dipertanyakan dalam hal seleksi posisi-posisi tertentu di mana golongan minoritas memperoleh skor lebih rendah.

h.   Multi-Dimensional Aptitude Battery
Multi-Dimensional Aptitude Battery dikembangkan oleh Douglas Jackson pada tahun 1984 sebagai sebuah tes tulis kelompok untuk menghasilkan skor yang sama dengan yang akan diperoleh dari Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS). Tes ini berisi lima tes skala verbal dan lima tes skala performansi yang bentuknya sangat mirip dengan subtes-subtes skala WAIS, namun dalam format tulis. Skor pada subtes-subtes tersebut memiliki mean 50 dan standar deviasi 10, sedangkan skor total dari bagian verbal, performansi dan skala penuh memiliki mean 100 dan standar deviasi 15. Kelebihan tes ini adalah kemudahan dalam pengadministrasian dan skoringnya. Untuk menjadi tester, juga tidak diperlukan keterampilan tingkat tinggi seperti yang diperlukan pada skala WAIS dan Stanford-Binet. Sebagai alat tes kelompok, tes ini tentu saja tidak bertujuan untuk memperoleh data observasional seperti yang diperoleh pada instrumen-instrumen individual.

E.       MENGHITUNG DAN MENGKLASIFIKASIKAN INTELIGENSI
1.    Intelligence Quotient
Salah satu cara yang sering digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya inteligensi adalah dengan menerjemahkan hasil tes inteligensi ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relatif terhadap suatu norma
Secara tradisional, angka normatif dari hasil tes inteligensi dinyatakan dalam bentuk rasio (quotient) dan diberi nama intelligence quotient (IQ). Walaupun demikian, tidak semua tes inteligensi akan menghasilkan angka IQ karena IQ bukan satu-satunya cara untuk menyatakan tingkat kecerdasan seseorang. Beberapa tes inteligensi bahkan tidak menghasilkan IQ, tetapi memberikan klasifikasi tingkat inteligensi, seperti Level III yang berarti klasifikasi inteligensi normal.
Istilah IQ diperkenalkan pertama kali pada tahun 1912 oleh seorang psikolog Jerman, William Stern. Kemudian ketika pada tahun 1916, L.M. Terman menerbitkan edisi revisi tes Binet, istilah IQ mulai digunakan secara resmi untuk yang pertama kali.
Sewaktu pertama kali digunakan secara resmi, angka IQ dihitung dari hasil tes inteligensi Binet, yaitu dengan membandingkan skor tes yang diperoleh seorang individu dengan usia individu tersebut. Pada waktu itu, perhitungan IQ dilakukan dengan menggunakan rumus:
IQ = (MA/CA) x 100
Keterangan:
MA = Mental Age (usia mental)
CA = Chronological Age (usia kronologis)
100 = Angka konstan untuk menghindari bilangan desimal

Istilah usia mental dikemukakan untuk pertama kalinya bersamaan dengan perumusan perhitungan IQ di atas. Pada masa tersebut, rumus IQ digunakan untuk menentukan tingkat inteligensi seseorang berdasarkan hasil tes inteligensi Binet. Sebenarnya usia mental merupakan suatu norma pembanding, yaitu norma performansi pada kelompok usia tertentu. Misalkan anak yang berusia delapan tahun sebagian besar di antara mereka mampu menjawab dengan benar sebanyak 24 soal dalam tes, mak skor 24 tersebut dijadikan norma untuk kelompok anak-anak usia delapan tahun, dan disebut usia mental delapan tahun. Bila seorang anak, dalam mengerjakan tes yang sama, mampu menjawab 24 soal dengan benar, maka ia dikatakan sebagai mempunyai usia mental delapan tahun, sekalipun usia kronologisnya baru tujuh tahun. Adapun usia kronologis adalah usia anak sejak dilahirkan yang dinyatakan dalam satuan tahun atau dalam satuan bulan.

2.    Batasan Rasio MA/CA
Gagasan pokok dalam perumusan rasio MA/CA adalah perbandingan relatif antara usia kronologis dengan usia mental yang telah ditentukan berdasar rata-rata skor pada kelompok usia tersebut. Seorang yang berinteligensi normal, diharapkan pada usia lima tahun akan mencapai usia mental lima tahun, pada usia tujuh tahun akan mencapai usia mental tujuh tahun, dan seterusnya.
Ternyata, hubungan seperti disebutkan di atas tidaklah selalu ditemui dalam kenyataannya. Setelah memasuki usia remaja akhir, usia mental seseorang rupanya tidak lagi banyak berubah, bahkan cenderung menurun. Rata-rata skor tes yang diperoleh individu berusia 40 tahun relatif sama dengan rata-rata skor sewaktu ia masih berusia 15 tahun, dan karenanya tidaklah layak untuk mengatakannya mencapai usia mental 40 tahun. Di sisi lain, usia kronologis seseorang terus saja bertambah dari waktu ke waktu. Dengan demikian, apabila tes dilakukan dengan membandingkan MA dan CA, maka angka IQ yang diperoleh akan semakin mengecil sejalan dengan bertambahnya usia kronologis. Hal itu memberikan kesan bahwa semakin tua seseorang akan, maka IQ-nya akan semakin menurun. Padahal hal tersebut tidaklah logis dan tidak sesuai dengan kenyataan. Karena itu, perhitungan IQ dengan menggunakan perbandingan MA dan CA tidak dapat dilanjutkan lagi.

3.    Perumusan IQ-Deviasi
Dengan adanya kelemahan penggunaan rasio MA/CA untuk menghitung IQ, maka David Wechsler memperkenalkan konsep penghitungan IQ yang disebut IQ-Deviasi. IQ-Deviasi tidak ditentukan berdasarkan perbandingan MA/CA, akan tetapi dihitung berdasarkan norma kelompok (mean) dan dinyatakan dalam besarnya penyimpangan (deviasi standar) dari norma kelompok tersebut. Dalam statistika, angka yang dinyatakan dalam satuan deviasi standar disebut skor standar dan dirumuskan sebagai:

Skor Standar = m + s {(X-M)/sx}
Keterangan:
m = mean skor standar yang diinginkan
s = deviasi standar yang diinginkan
X = skor mentah yang akan dikonversikan
M = mean distribusi skor mentah yang diperoleh
sx = deviasi standar skor mentah yang diperoleh

Sebagai catatan, mean IQ selama ini ditetapkan sebesar 100. Hal ini merupakan kebiasaan tradisional para ahli tes inteligensi selama berpuluh-puluh tahun dalam menafsirkan IQ sebesar 100 sebagai tanda tingkat inteligensi normal. Wechsler sendiri menggunakan mean sebesar 100 dan deviasi standar sebesar 15 untuk menghitung IQ yang diperoleh dari tes WAIS dan WISC, sedangkan tes Stanford-Binet, sejak edisi revisi tahun 1960, menggunakan mean sebesar 100 dan deviasi standar sebesar 16.

4.    Distribusi IQ dan Klasifikasi Inteligensi
Sebagaimana karakteristik fisik dan karakteristik psikologis yang lain, dalam suatu populasi yang besar, distribusi angka IQ akan mengikuti suatu model sebaran normal yang berbentuk genta/lonceng simetris, di mana mean terletak di tengah sumbu, angka-angka yang lebih kecil dari mean terletak di sebelah kiri, dan angka-angka yang lebih besar dari mean terletak di sebelah kanan. Hal itu terjadi sesuai dengan deskripsi matematis Quatelet mengenai kurva lonceng yang dijadikan landasan oleh Galton, pada tahun 1869, untuk menyatakan bahwa setiap sifat yang terjadi secara alamiah akan mempunyai satu mean dan satu distribusi normal terhadap mean tersebut.
Implikasi model distribusi normal ini terhadap tingkat inteligensi adalah bahwa persentase terbesar populasi akan memiliki IQ di sekitar mean (100), yaitu di antara angka 90 dan 110. Semakin jauh ke arah kiri (IQ semakin rendah) dan semakin jauh ke arah kanan (IQ semakin tinggi), persentase populasi yang ada akan semakin kecil. Artinya, persentase orang yang mempunyai IQ yang tinggi sekali akan sama kecilnya dengan persentase orang yang memiliki IQ rendah sekali.
Hal tersebut telah terbukti kebenarannya dari data yang diperoleh oleh Terman dan Merril pada tahun 1937. Data tersebut berasal dari 3184 subyek yang digunakan untuk standardisasi tes Stanford-Binet. Distribusi data tersebut tampak dalam tabel berikut:
IQ
PERSENTASE
KLASIFIKASI
160 – 169
0,03
Sangat Superior
150 – 159
0,20
140 – 149
1,10
130 – 139
3,10
Superior
120 – 129
8,20
110 – 119
18,10
Rata-rata Tinggi
100 – 109
23,50
Rata-rata Normal
90 – 99
23,00
80 – 89
14,50
Rata-rata Rendah
70 – 79
5,60
Batas Lemah
60 – 69
2,00
Lemah Mental
50 – 59
0,40
40 – 49
0,20
30 – 39
0,03

Normalitas distribusi skor tes inteligensi juga diperlihatkan oleh hasil pelancaran skala WAIS-R, pada tahun 1981, sebagaimana tampak dalam tabel di bawah ini. Dalam tabel tersebut dapat dibandingkan distribusi persentase teoretis bagi masing-masing kelompok IQ dengan distribusi persentase yang diperoleh dari sampel nyata.
IQ
PERSENTASE

KLASIFIKASI

Teoretis
Sampel Nyata

≥ 130
2,2
2,6
Sangat Superior
120 – 129
6,7
6,9
Superior
110 – 119
16,1
16,6
Di Atas Rata-rata
90 – 109
50,0
49,1
Rata-rata
80 – 89
16,1
16,1
Di Bawah Rata-rata
70 – 79
6,7
6,4
Batas Lemah
≤ 69
2,2
2,3
Lemah Mental

Gambaran distribusi IQ demikian diharapkan juga dapat berlaku pada populasi subyek yang lain di mana saja, asalkan bukan merupakan kelompok khusus atau kelompok pilihan.

F.       PROSEDUR PELAKSANAAN ASESMEN INTELIGENSI
Pelaksanaan tes intelegensi memberikan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjamin adanya hasil dari sebuah pelaksanaan tes yang reliabel dan valid. Beberapa hal yang harus dilakukan dalam prosedur pelaksanaan tes intelegensi antara lain sebagai berikut.
1.        Menciptakan Suasana Testing
Kegiatan menciptakan sebuah kondisi dan situasi testing memiliki tujuan pokok agar testi dapat menunjukkan dan memberikan performance­ yang dimilikinya dengan sebaik mungkin. Dalam pelaksanaan kegiatan ini perlu diperhatikan beberapa hal diantaranya terkait dengan kondisi fisik bangunan yang digunakan dalam pelaksanaan sebuah tes intelegensi. Misalnya, penerangan ruangan, ventilasi ruangan, dan besarnya ruangan yang digunakan tersebut. Sebagai contoh, testi akan mengalami kesulitan memahami pengarahan yang diberikan sebelum tes intelegensi dilaksanakan jika tidak ditunjang dengan sound system yang memadai.
Selain kondisi fisik bangunan yang digunakan dalam pelaksanaan tes, hal lain yang perlu diperhatikan yakni keadaan atau kondisi orang yang akan dites. Hasil tes yang ditunjukkan dari testi yang mengalami kelelahan dan mengalami masalah-masalah yang lain bukan merupakan sampel yang representatif dari tingkah laku yang diharapkan muncul dalam kondisi dan situasi tes. Hal ini dikarenakan, tes intelegensi secara umum menghendaki kondisi fisik dan mental yang serasi dalam diri seorang individu. Jika tes intelegensi dilaksanakan dalam kondisi testi yang kurang mendukung, maka dalam interpretasinya nanti harus disertakan kondisi-kondisi testi yang kurang mendukung pelaksanaan tes intelegensi ini.
 
2.        Memberikan Motivasi dan Menciptakan Rapport dalam Testing
Motivasi merupakan salah satu hal yang harus menjadi perhatian, karena motivasi testi yang mendasari pelaksanaan tes intelegensi akan mempengaruhi skor testi. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memahami motivasi dalam testing antara lain.
a.       Reinforcement yang dapat meningkatkan skor
Pada umumnya testi akan memiliki dorongan yang lebih besar dalam menyelesaikan sebuah tes intelegensi jika mengetahui akan memperoleh reinforcement dari penyelesaian tes intelegensi tersebut. Untuk anak-anak, reinforcement dapat berupa hadiah-hadiah, untuk siswa sekolah menengah dapat dimotivasi dengan menyampaikan bahwa hasil tes intelegensi berguna untuk mengetahui diri mereka sendiri dengan lebih baik dan juga penting untuk penjurusan bidang studi mereka. Jika kegiatan ini dapat dilakukan secara optimal kepada testi, maka hasil tes yang diperoleh akan cukup representatif dari tujuan yang diharapkan dalam pelaksanaan tes intelegensi ini. 
b.      Motivasi-motivasi yang dapat mengurangi skor.
Pelaksanaan tes intelensi tidak menutup kemungkinan sedikit banyak akan memicu munculnya dorongan atau motivsi dalam diri testi yang akan mendorong testi untuk mengambil “jalan aman” dalam penyelesaian tes intelegensi atau bahkan tidak bersungguh-sungguh dalam penyelesaiannya. Kondisi seperti ini harus menjadi perhatian tester untuk dapat menciptakan sebuah kondisi yang dapat memotivasi testi agar bersungguh-sungguh dalam penyelesaian tes intelegensi ini, selain juga menghindarkan testi dari perasaan tegang yang dapat mengakibatkan testi membuat banyak kesalahan dalam menyelesaikan tes intelegensi ini. Hal yang dapat dilakukan tester yakni dengan membangkitkan ego-involvement dari testi, yakni sebuah situasi yang melibatkan kepentingan seorang individu.  
c.       Ketakutan dalam menghadapi tes
Adanya ketakutan dalam menghadapi sebuah tes merupakan hal yang wajar, ketakutan yang muncul dalam diri seorang testi dapat berasal dari orang tua, guru-guru, dan teman sebaya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa testi yang khawatir tentang hasil tesnya akan menunjukkan jumlah kesalahan yang lebih besar jika dibandingkan dengan testi yang tidak atau kurang mengkhawatirkan hasil tes yang diselesaikannya tersebut. Kondisi ini dapat ditangani dengan memberikan treatment reconditioning, dengan memberikan pemahaman kepada testi bahwa tes intelegensi yang akan dilaksanakan merupakan alat atau media yang dapat membantu (seorang individu) untuk dapat memahami dirinya sendiri dengan lebih baik, dan tes yang akan dilakukan ini perlu disikapi secara wajar dan tidak berlebih-lebihan, dan diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
d.      Membentuk Rapport dalam Testing
Sebagian besar teknik yang digunakan dalam membentuk rapport ditentukan oleh sifat tes yang akan diselesaikan dan tingkatan umur subyek yang akan dites. Teknik pembentukan rapport pastinya akan berbeda antara subyek anak taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, dan orang dewasa. Setiap tingkatan perkembangan ini akan memberikan tantangan terhadap tester untuk dapat menciptakan sebuah hubungan yang baik dan menciptakan suatu lingkungan yang aman dan nyaman antara testi dan tester dalam proses penyelesaian sebuah tes. Sebagai contoh, tester dituntut untuk dapat menunjukkan sikap membantu, bersahabat, ramah,dapat dipercaya, dan santai dalam menciptakan rapport sebelum pelaksanaan sebuah tes. Kondisi pembentukan rapport ini dapat ditunjung dengan adanya kesamaan apa saja antara tester dengan testi, karena adanya kesamaan ini dapat membangkitkan rasa aman dan kepercayaan dalam diri testi. Hal yang lain, tester juga dapat menciptakan kondisi agar anak (testi) dapat menyelesaikan sebuah tes dengan sungguh-sungguh sebagaimana dirinya (testi) bersungguh-sungguh dalam menghadapi sebuah permainan tertentu yang disukai oleh testi.
Hal yang perlu diperhatikan dalam membentuk rapport agar dapat berjalan dengan baik yaitu menghindari pelaksanaan sebuah tes secara mendadak. Jika sebuah tes dilakukan secara mendadak, secara langsung maupun tidak langsung akan memicu munculnya rasa tidak nyaman dalam diri testi sebelum, selama, dan bahkan setelah menyelesaikan sebuah tes. Oleh karena itu, sebelum pelaksanaan sebuah tes harus diberitahukan terlebih dahulu, sehingga testi (siswa) dapat mempersiapkan dirinya terlebih dahulu sebelum menghadapi sebuah tes.      

3.        Memberikan Pengarahan kepada Testi
Memberikan pengarahan apa yang harus dilakukan oleh testi dalam menyelesaikan tes intelegensi merupakan salah satu tanggungjawab yang penting dalam prosedur pelaksanaan tes intelegensi. Tester dalam memberikan pengarahan apa yang harus dilakukan oleh testi harus sesuai dengan yang tercantum dalam manual book tes intelegensi. Tester mengikuti semua petunjuk yang ada dalam manual book, seperti nama, umur, tanggal pengetesa, dan lain sebagainya secara jelas, membacakannya kata demi kata, tidak menambah dan atau merubah sedikit pun petunjuk penyelesaian suatu tes, hingga dapat dipahami dengan baik oleh testi dan tidak terjadi kesalahfahaman dari pengarahan yang diberikan tersebut.    
Tester harus tegas dalam menyampaikan petunjuk kepada testi, selain juga menentukan waktu yang tepat dalam menyampaikan petunjuk tersebut, sehingga petunjuk yang disampaikan kepada testi tidak diulang berkali-kali. Hal lain yang juga diperhatikan yakni pengarahan dilakukan secara sederhana, jelas, dan tahap demi tahap. Sebagai contoh, tester memberikan perintah “ambillah buku tesmu”, disaat yang bersamaan tester juga mengambil satu buku tes pula sebagai contoh sembari memeriksa apakah perintah yang disampaikannya tersebut telah dilakukan oleh testi sebelum melanjutkan perintah berikutnya. Penyampaikan perintah ini harus bersifat formal, dapat didengarkan dengan jelas tetapi tetap dengan nada yang sopan dan tidak menyebabkan testi merasa tidak bebas dan tertekan. Sesekali dalam situasi yang formal tersebut diiiringi dengan suara yang santai semisal saat menyampaikan arti dan tujuan tes yang akan diselesaikan.

4.        Mengontrol Cara Kerja Testi
Setelah kegiatan pemberian pengarahan selesai, tester memberikan aba-aba bahwa tes mulai dapat dikerjakan. Tester mengawasi dan menjaga batas waktu sesuai dengan yang ditetapkan tes. Batas waktu dalam penyelesaian tes intelegensi ini harus dijaga ketat. Hal yang lain yang dapat dilakukan oleh tester yakni melakukan kontrol apakah testi telah mengerjakan sesuai dengan petunjuk, tetapi perlu diperhatikan dalam hal ini hendaknya kegiatan tester ini tidak sampai mengganggu testi yang sedang menyelesaikan tes. Sebagai contoh, berlama-lama melihat dan mengamati pekerjaan testi

5.        Menjawab Pertanyaan-Pertanyaan Testi
Jika sebuah pengarahan testing telah diberikan biasanya akan diikuti oleh berbagai macam pertanyaan dari testi. Menyikapi pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari testi ini, tester menjawab pertanyaan yang disampaikan dengan tidak menambahi hal-hal atau pengertian-perngertian baru sebagaimana yang telah tercantum dalam manual book. Hal ini perlu mendapat perhatian yang lebih karena penyampaian pengarahan merupakan bagian dari dalam situasi tes. Dalam pelaksanaannya, pengarahan yang tidak dapat dimengerti dan dipahami dengan baik dapat mempengaruhi skor yang diperoleh testi sebagai hasil tes.

6.        Menskor hasil tes dan mentfansformasian ke dalam norma
Jika tes telah selesai dilakukan, kegiatan berikurnya yakni menskor hasil tersebut. Kegiatan ini cukup sederhana, yang dilakukan yakni mencocokkan jawaban testi dengan kunci jawaban yang telah tersedia. Biasanya setiap jawaban yang benar diberi skor 1, dan secara keseluruhan dijumlahkan untuk mendapatkan skor total, yang kurang sederhana ialah kunci jawaban tersebut berupa petunjuk yang memberikan berbagai kategori dengan gradasi skor yang berbeda-beda.
Skor total yang dihasilkan biasanya disebut skor “mentah” karena belum diolah lebih lanjut. Untuk menjadikan skor “mentah” ini memiliki lebih banyak makna, maka skor “mentah” ini harus dibandingkan dengan patokan tertentu. Dapat dilakukan melalui membandingkannya dengan suatu norma tertentu untuk melihat kedudukan relatif dari individu pemilik skor tersebut, lebih tinggi atau lebih rendah dari umum. Untuk tes intelegensi, norma yang lazim digunakan ialah yang didasarkan pada pengelompokan umur. Hal yang dapat dilakukan agar skor “mentah” ini lebih bermakna yakni dengan mentransformasikannya ke dalam IQ, hal ini akan menjadikan skor “mentah” tersebut berubah menjadi “self expalining” yang dapat langsung menerangkan kedudukannya sendiri. Cara yang paling banyak digunakan yakni dengan menggunakan tabel transformasi, yakni dengan mencocokkan skor “mentah” dengan nilai IQ yang telah tercantum dalam tabel untuk kelompok umur yang diperlukan.

7.        Menafsirkan dan melaporkan hasil tes
Dalam melaporkan hasil tes harus dituliskan identitas testi secara lengkap dan jelas, jenis tes yang digunakan juga harus disebutkan, termasuk tanggal pengetesan. Hal ini dikarenakan nilai IQ yang diperoleh dari suatu tes hampir tidak pernah sama antara satu tes dengan tes lainnya. Melaporkan nilai IQ, baik itu tinggi maupun rendah, akan membawa risiko masing-masing dari pencantuman nilai IQ tersebut. Pencantuman nilai IQ yang rendah akan membawa risiko yang lebih besar jika dibandingkan dengan pencantuman nilah IQ yang tinggi. Dalam melaporkannya, nilai IQ tinggi lebih reliabel jika dibandingkan dengan nilai IQ rendah, karena nilai IQ rendah dapat berarti macam-macam, seperti kurang percaya diri, kurang motivasi, tidak ada minat mengerjakan tes, dan lain sebagainya, oleh karena itu perlu dipertimbangkan untuk menggunakan tes yang lain. Hal terakhir terkait pelaporan hasil tes ialah laporan hasil tes tersebut harus ditandatangani dengan mencantumkan tangga pembuatan laporan.
G.      PENGGUNAAN ASESMEN INTELIGENSI DALAM LAYANAN BK
Penggunaan tes intelegensi dalam pelayanan bimbingan konseling tidak hanya melibatkan konselor sebagai pelaksanan kegiatan bimbingan konseling, tetapi juga pihak-pihak lain yang juga terlibat dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. Hasil tes intelegensi yang diperoleh dapat dipergunakan oleh berbagai pihak disekolah yaitu:
1.      Sekolah, tes intelegensi dapat digunakan untuk menyaring calon siswa yang akan diterima atau untuk menempatkan siswa pada jurusan tertentu, dan juga mengidentifikasi siswa yang memiliki IQ di atas normal.
2.      Guru, tes intelegensi dapat digunakan untuk mendiagnosa kesukaran pelajaran dan mengelompokkan siswa yang memiliki kemampuan setara.
3.      Konselor, tes intelegensi dapat digunakan untuk membuat diagnosa siswa, untuk memprediksi hasil siswa dimasa yang akan datang, dan juga sebagai media untuk mengawali proses konseling.
4.      Siswa, tes intelegensi dapat digunakan untuk mengenali dan memahami dirinya sendiri dengan lebih baik, dan mengetahui kemampuannya.

Penggunaan tes intelegensi perlu memperhatikan beberapa prinsip dalam pelaksanaannya di sekolah. Diantaranya sebagai berikut.
1.      Diberikan untuk seluruh siswa, jika hanya diberikan kepada sekelompok siswa saja, dikhawatirkan kesimpulan yang diambil nantinya tidak mencakup atau mewakili siswa secara keseluruhan.
2.      Diberikan dengan pertimbangan waktu yang baik, tes yang diselenggarakan dengan rencana yang matang akan memiliki manfaat yang cukup besar dari hasil yang diberikan tersebut.
3.      Dilakukan dengan cara yang benar, tes harus dilakukan dengan cara yang benar dan tidak disalahgunakan agar dapat memberikan manfaat kepada siswa dan juga pada sekolah.
4.      Proses skoring harus dilakukan dengan tepat dan teliti.
5.      Hasil tes harus diinterpretasikan berdasarkan norma yang wajar.
6.      Hasil tes hendaknya disajikan dengan cara yang mudah dimengerti oleh siswa, orang tua, kepala sekolah, guru dan konselor. Dapat disertai dengan keterangan-keterangan yang menunjang.

Kegiatan konseling memiliki ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan kegiatan bimbingan yang lain, dan dalam praktiknya ada yang menggunakan hasil tes untuk mengawali sebuah proses konseling. Hasil tes intelegensi dapat  digunakan sebagai bahan diagnosa. Hasil tes belum tentu perlu disampaikan dalam proses konseling, tetapi konselor maupun konseli memerlukan gambaran yang menyeluruh dari diri seorang konseli. Dengan menggunakan hasil tes intelegensi, konselor dapat melakukan diagnosa terkait perkembangan konseli selama dan setelah proses konseling berlangsung. Selain itu, Hasil tes intelegensi dapat digunakan sebagai data penunjang. Jika tes yang digunakan tidak hanya tes atau tes intelegensi, maka hasil tes intelegensi dapat digunakan untuk menunjang data yang telah diperoleh dan diperlukan dalam kegiatan konseling.

H.      ETIKA PENGGUNAAN ASESMEN INTELIGENSI DALAM PELAYANAN BK
Agar tes intelegensi tidak disalahgunakan, maka disusunlah kode etik yang mengatur sebuah penggunaan tes. Beberapa prinsip penting yang perlu diketahui oleh berbagai pihak, termasuk konselor, antara lain sebagai berikut.
1.      Penjualan dan distribusi tes intelegensi terbatas pada pemakai yang dapat dipertanggungjawabkan. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki wewenang untuk mengadministrasikan tes itelegensi yang telah dipersiapkan sebelumnya secara matang untuk dapat melakukan hal tersebut, sehingga tidak semua orang dapat menjalankan dan mengadministrasikan kegiatan tes intelegensi ini.
2.      Skor tes intelegensi hanya boleh disampaikan kepada orang-orang yang mampu menginterpretasikannya. Individu (testi) yang memperoleh laporan hasil tes intelegensi selayaknya juga memperoleh penjelasan dari orang yang mengerti dan mampu menginterpretasikan hasil tes intelegensi tersebut. Hal ini berkaitan dengan tindakan berikutnya yang akan dilakukan setelah individu (testi) mengerti dan memahami hasil tes intelegensi yang diperolehnya.
3.      Membentuk sikap obyektif testi. Hal ini perlu dilakukan karena bagaimapun kondisinya, tes intelegensi merupakan alat atau media yang dapat digunakan untuk memahami diri sendiri dengan lebih baik, hal ini perlu dilakukan karena adanya kemungkinan testi memiliki prasangka tertentu dalam menginterpretasikan sebuah hasil tes.
4.      Tes yang digunakan telah teruji tingkat validitas dan reliabilitasnya. Tes intelegensi yang masih dalam tahap pengembangan tidak boleh digunakan, hal ini dikarenakan tingkat validitas dan reliabilitasnya belum teruji.

Terdapat dua alasan pokok terkait pengontrolan dalam penggunaan tes intelegensi dengan menggunakan aturan-aturan yang ketat, yaitu:
1.      Menjaga agar tes tidak menjadi hal yang biasa bagi calon testi, sehingga bisa mengurangi tingkat validitas tes. Jika seorang individu pernah mengerjakan tes intelegensi dan mencoba mengingat-ingat jawaban yang benar dari tes yang diselesaikannya tersebut, maka tidak menutup kemungkinan individu tersebut memperoleh hasil yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil tes sebelumnya (belum pernah menyelesaikan tes tersebut). Hasil tes yang baru menjadi tidak valid karena hasil  tersebut diperoleh melalui “latihan” sebelumnya dan tidak dapat dipandang sebagai manifestasi kemampuan individu dalam kondisi yang wajar yang ingin diungkap melalui tes tersebut.
2.      Menjamin agar tes intelegensi hanya dapat dilakukan dan diadministrasikan oleh orang-orang yang berwenang. Hal ini dikarenakan dalam pelaksanaan sebuah tes pastinya akan melibatkan aspek pemilihan, pengadministrasian, skoring, serta interpretasi hasil tes yang telah dilaksanakan tersebut. Kegiatan-kegiatan ini tidak dapat dilakukan oleh semua orang, melainkan orang-orang yang telah dipersiapkan sebelumnya secara matang untuk dapat melakukan berbagai macam kegiatan ini.


I.         KELEMAHAN TES INTELIGENSI
Menurut Cronbach (1970) dalam Azwar (2006) menempatkan tes intelegensi umum berdasarkan ethical standart of psychologist pada golongan tes Level B, yaitu tes yang hanya boleh dilakukan oleh mereka yang memiliki latar belakang dan pendidikan psikologi dan terlatih secara khusus dalam penggunaan tes ini. Sedangkan penggunaan tes intelegensi secara klinis menempatkan tes ini pada golongan Level C, yaitu tes yang hanya boleh dilakukan oleh mereka yang memiliki paling tidak tingkat mastes dalam bidang psikologi dan mempunyai paling tidak pengalaman minimal satu tahun dalam penggunaan tes, yang bersangkutan dibawah pengawasan yang ketat.
Aspek administrasi tes intelegensi ini menuntut kualifikasi taraf terlatih, dalam hal ini dapat dilakukan oleh siapapun yang telah dipersiapakan secara matang dan dilatih secara khusus, sehingga kesalahan-kesalahan dalam pengadminisresian dapat dihindari. Aspek interpretasi tes intelegensi ini menuntut kualifikasi terdidik secara khusus dalam bidang psikologi, hal ini dikarenakan hasil tes intelegensi akan memiliki manfaat yang besar jika dipergunakan secara tepat, akan menjadi berbahaya jika disalahgunakan oleh orang yang tidak dapat menginterpretasikannya dengan benar, dan akan merugikan testi dan instansi yang berkepentingan dalam menggunakan hasil tes intelegensi ini.






DAFTAR PUSTAKA
Anastasi, A. & Urbina, S. 1997. Psychological Testing. Upper Saddle River, NJ: Prentice-Hall International, Inc.

Azwar, S. 2006. Pengantar Psikologi Inteligensi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Cronbach, L.J. 1990. Essentials of Psychological Testing. New York: HarperCollins Publishers.

Hood, A.B. & Johnson, R.W. 1993. Assessment in Counseling: A Guide to the Use of Psychological Assessment Procedures. Alexandria, VA: ACA.

Konselor Indonesia. 2010. Sejarah Tes Inteligensi, (Online), (Error! Hyperlink reference not valid.), diakses pada 15 Oktober 2011.

Suwandi, I. 1993. Teknik Bimbingan Testing: Memahami Individu dengan Menggunakan Tes. Malang: Proyek OPF IKIP Malang.

Wirawan, Y. G. & Triyono. 2011. Materi Pelatihan 3: Tes Kemampuan Umum (Inteligensi). Malang: PPs UM.

No comments:

Post a Comment