Sunday, December 11, 2011

Penerapan Cinema Education untuk Meningkatkan Empati Siswa SMP


Memasuki abad 21 ditandai oleh perubahan yang mendasar dalam segala aspek kehidupan khususnya perubahan dalam bidang politik, ekonomi, social budaya dan bidang hukum. Sejalan dengan perubahan di segala bidang itu, bangsa indonesia dihadapkan pada permasalahan multi-dimensi yang menyentuh berbagai tatanan kehidupan mendasar manusia, bukan hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, namun juga aspek sosial, budaya dan ahlak. Berbagai masalah muncul dalam kehidupan masyarakat kita, seperti miskin pengabdian, kurang disiplin, kurang empati terhadap masalah sosial, kurang efektif berkomunikasi serta kurang disiplin. Hal itu menunjukkan adanya permasalahan pribadi dan sosial di kalangan masyarakat. Gejala masalah pribadi dan sosial sangan nampak dalam perilaku keseharian masyarakat, seperti: sikap-sikap individualistis, egoistis, acuh tak acuh, malas berfikir, kurangnya rasa tanggung jawab, malas berkomunikasi dan berinteraksi atau rendahnya empati serta seorang yang tidak memiliki empati, berpikiran bahwa dunia hanya yang ia alami, padahal di luar sana banyak pengalaman orang yang berbeda.
Hasil penelitian menyatakan bahwa, ketidakmampuan individu dalam melakukan empati atau dengan kata lain, individu dengan tingkat empati yang rendah dapat menyebabkan muculnya perilaku menyimpang, seperti memperkosa, kekerasan (bullying), menyiksa dan perilaku-perilaku kriminal yang psikopat, bagi psikopat memotong kepala ayam dan memotong kepala manusia, tidak ada bedanya. (Goleman, 1995). Seperti kasus kekerasan remaja Samarinda, Kalimantan Timur dimana sekelompok wanita muda yang diduga pelajar SMP mengeroyok seorang remaja puteri yang tidak berdaya (24 juli 2011). Adapun kasus siswi SMA di kota Pasuruan diperkosa secara bergantian, yang salah satu pelakunya merupakan siswa kelas dua SMP (9 maret 2011)
Kasus-kasus kekerasan dan pemerkosaan yang dilakukan oleh remaja atau siswa saat ini, salah satu faktor penyebabnya adalah tingkat empati remaja yang rendah. Hal ini sangatlah aneh, karena empati merupakan proses alamiah yang dibawa sejak lahir. Hoffman (dalam Goleman, 2002) sejak bayi dan masa-masa selanjutnya. Pada umur satu tahun, anak-anak merasakan sakit pada dirinya apabila melihat anak lain jatuh dan menangis, perasaannya sedemikian kuat dan mengikat sehingga ia menaruh ibu jarinya di mulut dan membenamkan kepalanya di pangkuan ibunya, seolah-olah ia sendiri terluka. Setelah tahun pertama, ketika bayi sudah lebih menyadari bahwa mereka berbeda dari orang lain, mereka secara aktif mencoba menghibur bayi lain yang menangis, misalnya dengan menawarkan boneka beruang miliknya. Pada awal usia dua tahun, anak-anak mulai memahami bahwa perasaan orang lain berbeda dengan perasaannya, sehingga mereka lebih peka terhadap isyarat-isyarat yang mengungkapkan perasaan orang lain. Pada akhir masa kanak-kanak, tingkat empati paling akhir muncul ketika anak-anak sudah sanggup memahami kesulitan yang ada dibalik situasi yang tampak dan menyadari bahwa situasi atau status seseorang dalam kehidupan dapat menjadi sumber beban stres kronis. Pada tahap ini, mereka dapat merasakan kesengsaraan suatu golongan, misalnya kaum miskin, kaum tertindas, mereka yang terkucil dari masyarakat. Pemahaman itu, dalam masa remaja dapat mendorong keyakinan moral yang berpusat pada kemauan untuk meringankan ketidakberuntungan dan ketidakadilan (Goleman, 2002).
Empati memiliki korelasi yang sangat erat dengan perilaku pro-sosial. Siswa dapat berbagi perasaan dengan orang lain dalam suasana suka maupun duka, kesediaan memberikan bantuan kepada orang lain baik materiil maupun moril dan juga kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain demi tercapainya suatu tujuan. Empati juga dapat meningkatkan harga diri individu. Richard (dalam Jones, 1992) menyatakan bahwa hubungan sosial merupakan media berkreasi dan menyebabkan tumbuhnya rasa harga diri dalam diri seseorang. Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa empati merupakan sumber dari perubahan sikap individu (Corneliu Irimia, 2010)
Perasaan positif, seperti empati memberikan kontribusi pada perkembangan moral remaja. Walaupun empati dianggap sebagai keadaan emosional, sering kali empati memiliki komponen kognitif yaitu kemampuan melihat keadaan psikologis dalam diri orang lain, atau yang disebut dengan mengambil perspektif orang lain. Hal ini yang diharapkan terjadi ada usia 10 sampai 12 tahun.
Pada usia di atas yang berada pada jenjang siswa SMP, maka pendidikan sebagai sarana untuk mengatasi masalah pribadi-sosial remaja harus memiliki fungsi dan peran dalam meningkatkan empati siswa. Sehingga dengan pendidikan diharapkan krisis dalam berbagai aspek sosial tersebut dapat diatasi. Dengan pendidikan akan melahirkan manusia yang berkualitas yang akan menjadi kekuatan utama dalam mengatasi dan memecahkan masalah pribadi-sosial yang dihadapi. Menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, yang berpegang pada norma dan nilai yang kuat, kinerja dan disiplin tinggi, dan sebaliknya bukan sumber daya manusia yang tidak berkualitas, lemah dalam pegangan norma dan nilai, rendah disiplin dan kinerja.
Dalam upaya untuk meningkatkan empati siswa, guru BK selama ini hanya bersifat instruktusional semata yang pada hakekatnya hanya “menyerang” aspek kognitif siswa saja. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Amitya Kumara, M.S (2011) bahwa siswa kerap dituntut untuk mengembangkan kemampuan kognitifnya saja dan kurang dibimbing dalam mengembangkan kemampuan yang lain. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk menggunakan cinema education sebagai salah satu teknik yang diharapkan dapat meningkatkan empati siswa, melalui pemberian stimulus berupa adegan-adegan film yang diharpkan dapat merangsang kesadaran dan emosi siswa untuk berempati.


REFERENSI

Ann C. Rumble, Paul A. M. Van Lange And Craig D. 2010. The benefits of empathy: When empathy may sustain cooperation in social Dilemmas. European Journal of Social Psychology. Wiley InterScience (www.interscience.wiley.com)
Bavolek Stephen J..2010. Developing Empathy in Families. Family Development Resources, Inc (www.nurturingparenting.com)
Galinsky Adam D.. 2000. Perspective-Taking: Decreasing Stereotype Expression, Stereotype Accessibility, and In-Group Favoritism. Journal of Personality and Social Psychology American Psychological Association, Inc
Goleman, D. 2007. Emotional Intelligence. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
HÃ¥kansson Jakob.2003. Exploring the phenomenon of Empathy. Doctoral dissertation, Department of Psychology Stockholm University
Irimia Corneliu. 2010 Empathy As A Source Of Attitude Change. Contemporary Readings in Law and Social Justice Volume 2. Romanian Society of Psychoanalysis
Johnson , Cheek, Smither. 1983. The Structure of Empathy. Journal of Personality and Social Psychology. American Psychological Association. Inc.
Rebecca P. Ang, Dion H. Goh . 2010. Cyberbullying Among Adolescents: The Role of Affective and Cognitive Empathy, and Gender. Child Psychiatry Hum Dev. Springer Science and Business Media
Nicholas Epley, Carey K. Morewedge and Boaz Keysar. 2004. Perspective taking in children and adults: Equivalent egocentrism but differential correction. Journal of Experimental Social Psychology
Snyder C. R., Lopez  Shane. 2002. Handbook of Positive Psychology. OXFORD UNIVERSITY PRESS
Vittorio Pelligra . 2011. Empathy, Guilt-Aversion, and Patterns of Reciprocity. Journal of Neuroscience, Psychology, and Economics. American Psychological Association

No comments:

Post a Comment