Friday, October 12, 2012

Social Intelligence (Kecerdasan Sosial)


1.             Definisi Kecerdasan Sosial
Istilah kecerdasan sosial pertama kali digunakan oleh Dewey (1909) dan Lull  (1911), tetapi konsep-konsep modern tentang kecerdasan sosial berpangkal dari  konsep kecerdasan yang dikemukakan oleh Thorndike (1920) yang membagi kecerdasan ke dalam tiga aspek: 1) Kecerdasan abstrak: kemampuan untuk memahami dan mengelola gagasan-gagasan (ability to understand and manage ideas). 2) Kecerdasan mekanik: kemampuan untuk memahami dan mengelola objek konkret (ability to understand and manage concrete objects). 3) Kecerdasan sosial: kemampuan untuk memahami dan mengelola orang lain (ability to understand and manage people)
Menurut Thorndike (1920, dalam Kihlstrom & Cantor, 2011), kecerdasan sosial dimaksudkan sebagai kemampan untuk memahami dan mengatur laki-laki dan perempuan, anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan – untuk bertindak dengan bijaksana dalam hubungan antar manusia (to act wisely in human relation). Dari pengertian ini, Thorndike membuat hipotesis bahwa terdapat dua jenis umum dari kecerdasan sosial yaitu: 1) apresiasi kognitif – “memahami orang lain” – understanding of others tanpa disertai dengan tindakan nyata, dan 2) efektifitas tingkah laku yang nampak atau yang dinyatakan dengan – “to act wisely”. Pendapat dari Thorndike tersebut diperkuat oleh Moss dan Hunt (1927, dalam Kihlstrom & Cantor, 2011) yang menggambarkan kecerdasan sosial sebagai “kemampuan untuk bergaul akrab dengan orang lain”.
Selanjutnya enam tahun kemudian, Vernon (1933, dalam Kihlstrom & Cantor, 2011) membuat definisi yang lebih luas tentang kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial merupakan “kemampuan untuk bergaul akrab dengan orang lain, berupa teknik-teknik sosial untuk menenangkan masyarakat; serta pengetahuan tentang berbagai hal sosial, kepekaan stimuli terhadap orang lain, seperti pengertian yang mendalam terhadap suasana hati yang mendasari ciri kepribadian orang lain”.
Pada perkembangan selanjutnya secara kontras, Wechsler (1935, 1958) memberikan perhatian khusus terhadap kecerdasan sosial dalam pengembangan Wechsler Adult Intelligence Scale-Revised (WAIS-R) dan instrumen-instrumen lain yang serupa. Menurut Wechsler (dalam Kihlstrom & Cantor, 2011) kecerdasan sosial hanyalah kecerdasan umum yang diterapkan pada situasi sosial.
Pengetahuan manusia tentang kecerdasan terus berkembang dari waktu ke waktu, sehingga “melahirkan” konsep baru tentang kecerdasan. Gardner (1993) mempublikasikan teori tentang Multiple Intelligence. Ia menyatakan bahwa kecerdasan manusia bukan hanya terdiri atas faktor tunggal melainkan banyak faktor, diantaranya: kecerdasan bahasa (linguistik), matematika-logika, musik, visual-spasial, bodily-kinestetik, dan kecerdasan personal. Namun kemudian, Gardner (1999) membagi kecerdasan personal ke dalam dua jenis kecerdasan, yaitu: kecerdasan interpersonal dan intrapersonal. Garner (1999, 2006) merumuskan kecerdasan interpersonal sebagai “kemampuan untuk memahami dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain”. Hal ini meliputi kemampuan berinteraksi secara efektif melalui komuniksi verbal dan non-verbal, kemampuan untuk memberikan tanda terhadap perbedaan diantara satu dengan yang lain, sensitivitas terhadap perasaan dan tempramen orang lain dan kemampuan untuk menerima berbagai perspektif.
Memasuki tahun 1990an, konsep kecerdasan sosial mulai beralih dari psikometri menuju pada neuropsychology. Goleman (1995) membagi kecerdasan emosional ke dalam lima kompetensi, yaitu: kesadaran diri, regulasi diri, motivasi, empati, dan hubungan antar pribadi (relationships). Namun pada tahun 2006, Goleman meredefinisi kecerdasan tersebut menjadi dua kompetensi yaitu kompetensi emosi dan sosial (social-emotion competence). Kompetensi internal (internal competence) berupa kesadaran diri dan regulasi diri menjadi sub-kategori dari kecerdasan emosional, sedangkan kompetensi eksternal (external oriented competencies) berupa kesadaran sosial dan fasilitas sosial menjadi sub-konstruk dari kecerdasan sosial.  Goleman (2007:446) merumuskan kecerdasan sosial sebagai “kemampuan untuk mengerti orang lain dan bagaimana mereka akan bereaksi terhadap berbagai situasi sosial yang berbeda”. Goleman memandang kecerdasan sosial lebih pada neuropsychology dari pada psikometri. Oleh karena itu, Goleman mengusung ide tentang social neuroscience dalam menjelaskan kecerdasan sosial miliknya.
Social neuroscience merupakan ilmu yang mempelajari reaksi otak dalam interaksi sosial dan relasi antar manusia. Ketika dua orang berinteraksi face-to-face, terjadilah pertukaran emosi melalui sirkuit neural yang bekerja dalam otak manusia. Sistem ini dapat “menularkan” rentang perasaan manusia mulai dari sedih dan cemas hingga bahagia. Amygdala yang merupakan salah satu bagian dalam otak manusia akan memberikan reaksi terhadap emosi yang muncul pada diri individu/orang lain. Hal ini dipengaruh oleh “neuron cermin” (mirror neuron) dan dapat terlihat dengan jelas melalui functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI). Mirror neuron memungkinkan individu untuk mengalami empati dan untuk menafsirkan serta menanggapi isyarat emosional dan non-verbal dari orang lain. Ketika individu menyadari rasa sakit, sedih, marah, sukacita, kegembiraan dan kesenangan pada orang lain, otak individu diaktifkan tepat di daerah yang sama seperti otak orang tersebut, seolah-olah sedang mengalami emosi diri sendiri. Dengan kata lain, individu dapat menangkap emosi orang lain atau individu dapat mempengaruhi keadaan emosional orang lain. Pada saat individu tersenyum, pusat kesenangan otak diaktifkan dan ketika orang lain melihat senyuman tersebut, pusat kesenangan mereka diaktifkan.
Lebih lanjut, Buzan (2002) menyatakan bahwa kecerdasan sosial adalah kemampuan individu untuk "bergaul" dan berhubungan dengan orang lain di sekitarnya. Individu yang memiliki kecerdasan sosial yang baik dapat mengunakan tubuh dan otak mereka untuk berkomunikasi dan “membaca” orang lain. Menurut Buzan, untuk menjadi orang sukses dalam menghadapi situasi sosial yang sulit, individu memerlukan kecerdasan sosial yang meliputi: kemampuan untuk mendengarkan orang lain, mampu membuat percakapan-percakapan ringan dengan orang lain, menyadari perasaan orang lain, mampu “menjual” ide kepada orang lain, memiliki sikap positif kepada diri sendiri dan orang lain, dan mampu menciptakan kedekatan yang baik dengan orang lain.
Empat tahun kemudian, Albrecht (2006), mengemukakan konsep tentang kecerdasan manusia yang diistilahkan sebagai “multiple smarts”. Albrecht membagai kecerdasan manusia ke dalam enam kategori, yaitu: kecerdasan abstrak, sosial, praktikal, emosional, estetik, dan kinestetik. Di mana kecerdasan sosial menurutnya merupakan “kemampuan untuk bergaul baik dengan orang lain dan mengajak mereka untuk bekerja sama.  Demikian pula, Khilstrom dan Cantor (2011) mendefinisikan kecerdasan sosial sebagai suatu simpanan pengetahuan mengenai dunia sosial, menjalani hubungan dengan orang lain, dan kemampuan dalam menghadapi orang-orang yang berbeda latar belakang dengan cara bijaksana.
Dari berbagai definisi di atas, dengan jelas dapat terlihat bahwa secara umum kecerdasan sosial terbagi atas dua domain utama, yaitu: domain kognitif dan domain tindakan. Peneliti dalam menyusun instrumen kecerdasan sosial lebih cenderung untuk mengukur domain kognitif dari kecerdasan sosial dengan asumsi bahwa jika individu sudah memahami perasaan, pikiran dan perilaku orang lain dengan baik maka individu tersebut akan dapat dengan mudah bertindak secara bijaksana (to act wisely) dalam hubungan dengan orang lain.

2.             Konstruk Kecerdasan Sosial
Thorndike (1920) mengkonstuk kecerdasan sosial ke dalam enam komponen, yaitu:  1) penilaian terhadap situasi sosial, 2) kemampuan untuk mengingatan nama dan wajah, 3) kemampuan untuk mengenali keadaan mental, 4) kemampuan memahami ekspresi wajah, 5) kemampuan memproses informasi sosial dan 6) kemampuan dalam mengamati tingkah laku. Namun, pada perkembangannya komponen kemampuan memahami ekspresi wajah dan kemampuan memproses informasi dihapuskan dan ditambahkan dengan komponen rasa humor, sehingga komponen kecerdasan sosial jumlah 5 komponen.  Kelima komponen tersebut digunakan untuk menyusun instrumen tes kecerdasan sosial yang pertama pada tahun 1928 dengan nama  George Washington Social Intelligence Test.
Wechsler (1935, 1958) menyatakan bahwa aransemen gambar (Picture Arrangement) dan Comprehension yang merupakan subtes dari WAIS-R, dapat mengukur kecerdasan sosial individu. Sejalan dengan itu, Sattler (1992, dalam Campbell, dkk., 1999) juga menyatakan bahwa sub-tes aransemen gambar dapat mengukur kemampuan individu dalam menginterpretasikan situasi sosial dan sub-tes pemahaman (comprehension) dapat mengukur kemampuan individu dalam melakukan penilaian sosial, atau akal sehat, dan memahami keadaan sosial secara konvensional (social conventionality).
Perkembangan konstruk kecerdasan sosial tidak terlepas dari perkembangan konstruk kecerdasan umum. Guilford (1967, dalam Hoepfner, 1973) mendalilkan paling tidak terdapat 120 bagian dari sistem kemampuan intelektual, yang didasarkan pada semua kemungkinan dari lima kategori operasi (categories of operations), meliputi: kognisi, ingatan, produk divergen, produk convergen dan evaluasi (cognition, memory, divergent production, convergent production, and evaluation). Empat kategori dari isi (categories of content), meliputi: bentuk, simbol, semantik dan tingkah laku (figural, symbolic, semantic, and behavioral). Enam kategori dari produk (categories of products), meliputi: unit, kelas, relasi, sistem, trasformasi dan implikasi (units, classes, relations, systems, transformations, and implications). Guilford menyatakan bahwa kecerdasan sosial terdapat pada domain “behavioral operations” sehingga ia memprediksikan setidaknya terdapat 30 aspek dari kecerdasan sosial (5 operations x 6 products).
Kategori kognisi behavioral (behavioral cognition) menurut O`Sullivan, M & Hoepfner, R (1968) merupakan representasi dari “kemampuan untuk menilai orang lain” – ability to judge people sedangkan untuk kategori yang lain masih dalam proses penelitian empiris. Enam faktor yang dinyatakan oleh O`Sulivan & Hoepfner, R (1968), yaitu:
1)            Cognition behavioral unit (CBU), kemampuan untuk memahami unit-unit ekspresi, seperti ekspresi wajah orang lain.
2)            Cognition behavioral classes (CBC), kemampuan untuk melihat kesamaan dari informasi tingkahlaku di dalam ekspresi yang berbeda.
3)            Cognition behavioral relations (CBR), kemampuan untuk memahami relasi sosial.
4)            Cognition behavioral systems (CBS), kemampuan untuk memahami situasi sosial atau rangkaian urutan kejadian.
5)            Cognition behavioral trasnformations (CBT), kemampuan untuk meninterpretasi kembali posisi tubuh, ekspresi wajah, pernyataan atau seluruh situasi sosial yang menyebabkan perubahan signifikan terhadap tingkah laku.
6)            Cognition behavioral implications (CBI), kemampuan untuk mengambarkan dampak atau membuat prediksi apa yang akan terjadi kemudian pada situasi sosial.
Herbert A. Marlowe (1986) menyatakan bahwa kecerdasan sosial memiliki empat subkonstruk, yaitu: a) social interest, kemampuan atau minat individu untuk menaruh perhatian pada orang lain. b) social efficacy, kemauan individu untuk berperilaku sosial sebagaimana yang diharapkan. c) emphaty skills, kemapuan individu untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain. d) social skills, kemampuan individu untuk menunjukan perilaku-perilaku sosialnya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati. Berdasarkan konstruk ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa keterampilan sosial merupakan sub-konstruk dari kecerdasan sosial.
Goleman (2006) menyusun kecerdasan sosial ke dalam dua komponen utama, yaitu: a) kesadaran sosial, yang meliputi: empati dasar/primer, penyelarasan, ketepatan empatik, dan kognisi sosial. b) fasilitas sosial, yang meliputi: sinkroni, presentasi diri, pengaruh dan kepedulian. Kesadaran sosial merujuk kepada bagaimana kita memahami keadaan batin orang lain, memahami perasaan dan pikirannya. Faktor yang terdapat dalam kesadaran sosial, diantaranya:
1)            Empati dasar/primal empathy. Empati dasar merupakan kemampuan memahami perasaan orang lain. Individu dengan kecerdasan sosial yang baik mempunyai kemampuan untuk merasakan perasaan orang lain melalui isyarat-isyarat emosi nonverbal seperti bersedih, kecewa, marah, kesal dan lain sebagainya. Ini merupakan kemampuan empati intuitif, yang diaktifkan secara otomatis oleh neuron cermin (mirror neoron). Menurut Goleman, sekalipun individu bisa berhenti berbicara, namun individu tidak dapat berhenti mengirim signal (berupa: nada suara, dan ekspresi sekilas) tentang apa yang sedang dirasakan oleh individu. Ketika individu berusaha untuk menekan semua “tanda” dalam emosi, perasaan mempunyai cara tersendiri untuk menampilkan hal tersebut. Dengan kata lain, ketika menyangkut emosi, tidak mungkin individu tidak berkomunikasi. Hal ini dapat diketahui melalui membaca mimik wajah orang lain, tatapan mata dan lain sebagainya. Jika ingin mengetahui seberapa baik individu mempersepsikan emosi, kita dapat memperlihatkan wajah yang sedih sebagai contoh, dan lihat apakah individu tersebut dapat mengenali emosi yang nampak tersebut.
2)            Penyelarasan/attunement. Penyelarasan yang dimaksud adalah bagaimana individu mampu untuk mendengarkan dengan terbuka dan memahami apa yang disampaikan – perhatian yang melampaui empati dasar. Hal ini berkaitan erat dengan seni mendengarkan. Oleh karena itu, individu dengan kecerdasan sosial mempunyai kemampuan untuk mendengar dengan efektif. Individu diharapkan mampu menyelaraskan diri dengan perasaan orang lain dengan memberikan perhatian secara total kepada orang lain dan mendengarkan dengan sepenuhnya. Dengan kata lain, individu berusaha memahami orang lain daripada menyampaikan maksudnya.
3)            Ketepatan empatik/empathic accuracy. Ketepatan empatik merupakan kemampuan untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain. dengan memahami pikiran dan perasaan orang lain, kita mampu untuk mengerti maksud dari orang lain.
4)            Kognisi sosial/social cognition. Kognisi sosial merupakan kemampuan individu untuk memahami dunia sosial. Pengetahuan tentang dunia sosial, meliputi: bagaimana selukbeluk dunia sosial dan bagaimana dunia sosial berinteraksi. Individu yang memiliki kemampuan kognisi sosial akan mudah berinteraksi dengan orang lain.
Fasilitas sosial merujuk pada, bagaimana individu berinteraksi dengan mulus dan efektif dengan orang lain. Unsur-unsur kecerdasan sosial yang termasuk dalam fasilitas sosial, diantaranya:
1)            Sinkronisasi/synchrony. Sinkronisasi merupakan kemampuan individu dalam berinteraksi secara mulus dengan menggunakan bahasa nonverbal. Bahasa nonverbal merupakan bahasa yang tidak menggunakan kata-kata, tetapi lebih menggunakan isyarat bahasa tubuh seperti ekspresi wajah, pandangan mata, gerak tubuh dan sebagainya. Individu yang memiliki kecerdasan sosial mampu memahami bahas tubuh dari orang yang berinteraksi dengannya. Berdasarkan ekspresi wajah lawan bicaranya, individu dapat mengetahui apakah lawan bicaranya tersebut sedang marah, emosi, kesal atau kecewa.
2)            Presentasi diri/self-presentation. Presentasi diri berkaitan dengan bagaimana individu menampilkan diri dengan efektif saat berinteraksi dengan orang lain.
3)            Pengaruh/influence. Pengaruh merupakan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk berbuat sesuatu. Pengaruh dilakukan dengan menggunakan kemampuan berbicara dan kemampuan untuk mengendalikan diri.
4)            Kepedulian/concern. Kepedulian merupakan unsur terakhir sekaligus bentuk kecerdasan sosial yang paling tinggi. Unsur ini menekankan bagaimana kita peduli akan kebutuhan orang lain. Kepedulian individu ditunjukkan dengan melakukan tindakan yang sesuai dengan pemenuhan kebutuhan orang lain. Semakin individu bersimpati terhadap orang lain dalam kesusahan dan merasa peduli, semakin besarlah dorongan individu untuk menolong orang lain.
Pada tahun yang sama, Albrecht (2006) membagi kecerdasan sosial ke dalam beberapa keterampilan, yaitu: kesadaran situasional (situational awareness), kemampuan membawa diri (presence), keaslian/kebenaran (authenticity), kejelasan (clarity) dan empati.
1)            Kesadaran situasional adalah kemampuan untuk memahami dan peka terhadap perasaan, kebutuhan dan hak orang lain. Kesadaran situasional meliputi penggunaan intuisi dan inteligensi untuk memutuskan, berbicara atau diam. Aspek kunci dalam kesadaran situasional ialah perhatian pada sikap yang bijaksana berkenan dengan berbagai konteks dan pemaknaan yang mereka bentuk/ciptakan.
2)            Presensi atau kemampuan membawa diri merupakan hal yang penting dalam menjalin hubungan sosial. Presensi dilakukan agar individu dapat mempengaruhi orang lain. Kemampuan membawa diri meliputi: cara berpenampilan, menyapa dan bertutur kata, sikap dan gerak tubuh ketika berbicara atau sedang mendengarkan orang lain berbicara dan cara duduk bahkan berjalan.
3)            Autenticity adalah keaslian dan kebenaran dari pribadi seseorang yang sesungguhnya. Keaslian dapat diketahui oleh orang lain berdasarkan cara bicara dan sikap yang menunjukan ketulusan.  Autenticity merupakan bukti bahwa individu telah dapat dipercaya, dan kejujuran yang telah teruji dalam pergaulan individu. Autenticity dinilai oleh orang lain dari sikap atau perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sangatlah penting dalam sebuah hubungan sosial agar individu itu menjadi orang yang layak dipercaya karena mempunyai kejujuran, keterbukaan, dan menunjukkan sebuah ketulusan.
4)            Clarity (kejelasan) adalah kemampuan individu dalam menyampaikan ide atau gagasannya secara jelas, tidak bertele-tele sehingga orang lain dapat mengerti dengan baik. Clarity juga dapat ditunjukan oleh kemampuan individu dalam mempersuasikan orang lain agar tergerak untuk menerima gagasan yang disampaikan.
5)            Empati merupakan keadaan mental yang membuat individu merasa dan selanjutnya mengidentifikasikan diri dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain.
Dari berbagai konstruk kecerdasan sosial yang telah dikemukakan, peneliti tertarik untuk menggunakan konstruk kecerdasan yang dikemukakan oleh Daniel Goleman (2006) sebagai konstruk dari instrumen kecerdasan sosial. Konstruk yang dikemukan oleh Goleman merupakan konstruk baru sehingga belum ada instrumen kecerdasan sosial yang mengunakannya sebagai konstruk tes. Hal yang sangat membedakan konstruk kecerdasan sosial yang dikemukan oleh Goleman dengan konstruk kecerdasan sosial oleh ahli yang lain adalah komponen kecerdasan sosial yang lebih lengkap jika dibandingkan dengan konstruk lainnya. Setiap komponen dalam konstruk saling terkait satu dengan yang lainnya, misalnya: kemampuan individu untuk mempengaruhi (influence) orang lain ditentukan oleh seberapa besar kemampuan individu dalam ketepatan empatik, kemampuan kognisi sosial dan kemampuan dalam menampilkan diri (self-presentation) dalam situasi atau interaksi sosial dengan orang lain.
Menurut Goleman, individu yang memiliki kecerdasan sosial tinggi memiliki dua kemampuan utama  berikut, yaitu: low-road capacities yang merupakan kemampuan dasar dalam kecederdasan sosial di mana beroperasi secara otomatis, di luar kesadaran manusia dan terjadi dengan sangat cepat. Low-road capacities meliputi: empati dasar dan sinkronisasi. Sebaliknya high-road articulations merupakan kemampuan yang lebih kompleks dalam kecerdasan sosial yang beroperasi dengan kendali kehendak, membutuhkan usaha dan niat sadar serta terjadi dengan lebih lambat, seperti: akurasi empati dan pengaruh (influence). Hal ini diperkuat dengan pendapat Cantor (2011) yang menyatakan bahwa konstruk kecerdasan Daniel Goleman merupakan awal yang baik untuk memulai pengembangan instrumen kecerdasan sosial. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengembangkan instrumen kecerdasan sosial siswa SMA dengan menggunakan konstruk kecerdasan sosial yang dikemukakan oleh Goleman (2006).

3.             Metode Pengukuran Kecerdasan Sosial
Cronbach (1990) mengklasifikasikan pengukuran ke dalam dua kelompok, yaitu maximum performance test dan typical response measure. Maximum performance test merupakan jenis tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan individu. Peserta tes diharapkan untuk memperoleh skor sebaik mungkin yang individu bisa peroleh (Cronbach, 1990). Metode pengukuran yang masuk dalam kelompok ini adalah: berbagai tes kecerdasan, tes bakat dan tes prestasi. Sedangkan typical response measure merupakan jenis tes yang digunakan untuk mengukur perasaan, kebiasaan dan kecenderungan individu (Cronbach, 1990). Metode pengukuran yang termasuk dalam kelompok ini adalah: observasi dan self-report yang meliputi kuesioner, angket dan inventori.
Ketika ingin mengukur kecerdasan sosial, Thorndike (1920) menyatakan bahwa instrumen tes yang cocok untuk mengukur kecerdasan sosial sulit untuk dirancang – kecerdasan sosial secara nampak dapat dilihat pada tempat penitipan anak, tempat bermain, di barak dan pabrik serta ruang penjualan, tetapi tidak nampak dalam kondisi standar format tes laboratorium. Pengukuran terhadap kecerdasan sosial individu membutuhkan respon manusia, waktu untuk mengadaptasi suatu respon, dan wajah, suara, posisi tubuh dan penampilan serta sikap. Psikometri tradisional, dengan cepat menggunakan definisi abstrak dari kecerdasan sosial ke dalam instrumen tes laboratorium yang terstandar untuk mengukur perbedaan individu dalam kecerdasan sosial. Berikut ini terdapat beberapa metode yang digunakan untuk mengukur kecerdasan sosial:
3.1.       Typical Response Measure
3.1.1. Self-Report
Pengukuran dengan menggunakan self-report meminta peserta tes memilih pernyataan-pernyataan deskriptif, kemudian menandai pernyataan deskriptif mana yang sesuai atau tidak sesuai dengan gambaran diri individu. Instrumen kecerdasan yang menggukan metode Self-Report adalah Tromso Social Intelligence Scale (TSIS). Skala kecerdasan sosial Tromso diciptakan oleh Silvera, dkk. (2001) yang berasal dari fakultas psikologi, Universitas Tromso, Norwegia. Terdapat 3 faktor dan 21 item skala untuk mengukur kecerdasan sosial. Tiga faktor itu meliputi: 1) Social information processing (pemprosesan informasi sosial),  2) Social skills (keterampilan sosial), dan 3) Social awareness (kesadaran sosial).
TSIS memilih bentuk verbal measures agar dapat menghindari masalah reliabilitas yang sering muncul pada bentuk nonverbal measures. Langkah-langkah penyusunan tes ini meliputi tiga tahapan, diantaranya: 1) mengeksplorasi teori kecerdasan sosial melalui “experts judgment”. 2) melakukan eksplorasi dengan menggunakan analisis faktor – exploratory factor analysis. Hal ini diperlukan untuk menghindari bias yang dibuat oleh “experts judgment”, serta menguji relibilitas dan validitas. 3) yang terakhir adalah melakukan normalisasi dan standarisasi skala sehingga bebas dari faktor eksternal seperti usia dan jenis kelamin, serta interpretasi skor skala.
Masalah signifikan yang harus diperhatikan adalah bentuk pengukuran self-report yang berpotensi untuk menimbulkan bias terhadap respon peserta tes, namun masalah ini dapat diatasi dengan memasukan pengukuran respon  bias dari social desirability dalam proses validasi. Namun demikian, kelemahan dari model laporan diri (self-report) adalah bahwa kemampuan individu tergantung pada pemahaman terhadap dirinya (Mayer, Caruso dan Salovey; 2000).


Instrumen kecerdasan yang menggunakan metode Self-Assessment Questionaire adalah Social Intelligence Profile. Instrumen kecerdasan sosial ini dikembangkan oleh Albrecht (2006). Instrumen ini terbagi atas beberapa bagian pengukuran, diantaranya:
1)            Mengukur keterampilan sosial yang dijabarkan dalam S.P.A.C.E: kesadaran situasional (situational awareness), kemampuan membawa diri (presence), keaslian/kebenaran (authenticity), kejelasan (clarity) dan empati.
2)            Mengukur insight sosial. tes ini terdiri dari serangkaian kata sifat pasangan, yang mewakili orang lain mungkin memberikan deskripsi secara kontras dari orang yang menjawab pertanyaan misalnya seperti: "Dingin - Hangat," "tidak jelas - jelas" dan "Bertele-tele - Ringkas"
3)            Mengukur gaya interaksi, meliputi: drivers, energizers, diplomats, dan loners.
Kelebihan dari instrumen tes ini adalah menyediakan “profil” sehingga pengguna dapat dengan mudah memahami kecerdasan sosialnya serta dapat mengidentifikasi tipe atau gaya interpersonal. Namun memiliki kekurangan, jika ditelaah lebih mendalam, tes ini terdiri dari 3 tes yang berbeda, sehingga menggunakan banyak waktu dalam pengadminstrasiannya dan juga karena menggunakan metode self-assessment questionaire maka dapat menyebabkan bias pada tes ini.

3.2.       Maximum Performance Test
3.2.1. George Washington Social Intelligence Test (GWSIT)
GWSIT merupakan instrumen kecerdasan sosial yang pertama dibuat setelah E. L. Thorndike mempublikasikan konsepnya tentang kecerdasan sosial pada tahun 1920. Tes kecerdasan sosial ini di buat oleh Hunt, 1928; kemudia terus direvisi oleh Moss, 1931; Moss, Hunt, Omwake, & Ronning, 1927; Moss, Hunt, & Omwake, 1949; dan Moss, Hunt, Omwake, & Woodward, pada tahun 1955. Konstruk dari tes ini terdiri atas beberapa sub-tes, yang dapat dikombinasikan untuk menghasilkan jumlah skor (aggregate score). Sub-tes tersebut adalah: 1) Judgment in Social Situations (pertimbangan dalam situasi sosial); 2) Memory for Names and Faces (kemampuan mengingat untuk nama dan wajah); 3) Observation of Human Behavior (pengamanan tingkahlaku manusia); 4) Recognition of the Mental States Behind Words (mengenal kondisi mental dibalik kata-kata); 5) Recognition of Mental States from Facial Expression (mengenal kondisi mental dibalik ekspresi wajah); 6) Social Information (Informasi sosial); dan 7) Sense of Humor (rasa humor). Namun Subtest ekspresi wajah dan informasi sosial dihapuskan pada edisi tes selanjutnya dan menambahkan sub tes rasa humor. Terdapat dua kelemahan dalam GWSIT, yaitu:
1)            Hasil penelitian yang dilakukan oleh Thorndike (1936) menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang relatif tinggi dengan kecerdasan abstrak dengan nilai muatan faktor pada komponen kecerdasan abstrak berkisar antara .396 sampai .781 dengan rerata nilai muatan faktor adalah .357 sedangkan nilai muatan faktor pada komponen kecerdasan sosial hanya berkisar antara -.251 sampai .418 dengan rerata nilai muatan faktor adalah .040. Thorndike dan Stein (1937) menyimpulkan bahwa GWSIT “terlalu banyak berisi tentang kemampuan dalam bekerja mengunakan kata-kata dan ide-ide, serta perbedaan kecerdasan sosial cenderung diikuti oleh perbedaan dalam kecerdasan abstrak. Dengan kata lain, sulit membedakan antara kecerdasan sosial dan kecerdasan abstrak dengan menggunakan instrumen ini.
2)            Thorndike dan Stein (1937) menyatakan, ketidakmampuan untuk membedakan kecerdasan sosial (SQ) dan kecerdasan secara umum (IQ) membuat kesulitan dalam menentukan kriteria eksternal untuk melakukan proses validasi.
Kedua kelemahan tersebut berdampak pada penolakan terhadap instrumen ini. Pada akhirnya, penolakan terhadap keseluruhan konsep kecerdasan sosial sebagai kecerdasan yang sungguh ada.


3.2.2. Wechsler Adult Intelligence Scale – Revised (WAIS-R)
Wechsler (1935, 1958) dalam bukunya The measurement and appraisal of adult intelligence, menyatakan bahwa aransemen gambar (Picture Arrangement) dan Comprehension yang merupakan sub-tes dari WAIS-R, dapat mengukur kecerdasan sosial individu. Menurut Wechsler (dalam Kihlstrom & Cantor, 2011), kecerdasan sosial hanyalah kecerdasan umum yang diterapkan pada situasi-situasi sosial (social intelligence is just general intelligence applied to social situations). Sub-tes dari WAIS-R sebagai berikut:
1)            Sub-tes Comprehension merupakan tes terhadap pemahaman verbal dan expresi serta penilaian/pertimbangan sosial.
2)            Sub-tes Picture Arrangement merupakan tes analisis visual, pemahaman sebab-akibat dan kemampuan berpikir secara sekuen - berurutan.
Campbell, dkk. (1996) melakukan uji convergent validity evidence untuk melihat hubungan antara konstruk tes kecerdasan sosial  Wechsler Adult Intelligence Scale – Revised (WAIS-R) dengan  konstruk tes kecerdasan sosial yang lain, yaitu: The Chapin Social Insight Test (SIT) dan Interpersonal Perception Task (IPT). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diketahui bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sub-tes Comprehension dengan tes kecerdasan sosial SIT dan IPT. Namun demikian, terdapat hubungan yang signifikan pada taraf signifikansi .05 antara sub-tes Picture Arrangement dengan IPT tetapi tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan SIT. Campbell, dkk. (1996) menyimpulkan bahwa skor WAIS-R secara signifikan tidak dapat memprediksi kecerdaan sosial siswa.
Tiga tahun kemudian, Campbell, dkk. (1999), melakukan uji convergent dan divergent validity evidence untuk melihat hubungan antara konstruk tes kecerdasan sosial  Wechsler Adult Intelligence Scale – Revised (WAIS-R) dengan  konstruk tes kecerdasan sosial yang lain, yaitu: Social Skills Scale (SSK) dan Social Incompetence Scale (FACTOR II) yang merupakan sub-tes dari Personality Inventori for Children. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diketahui bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sub-tes Comprehension dan Picture Arrangement dengan SSK dan FACTOR II. Campbell, dkk. (1999)menyimpulkan bahwa sub-tes Comprehension dan Picture Arrangement  tidak mendukung dalam mengukur kompetensi sosial.

3.2.3. Social Inteligence Batteries
Joy Paul Guilford (1967) dalam bukunya The nature of human intelligence, mendalilkan paling tidak terdapat 120 bagian dari sistem kemampuan intelektual, yang didasarkan pada semua kemungkinan dari lima kategori operasi (categories of operations), meliputi: kognisi, ingatan, produk divergen, produk convergen dan evaluasi (cognition, memory, divergent production, convergent production, and evaluation). Empat kategori dari isi (categories of content), meliputi: bentuk, simbol, semantik, dan tingkah laku (figural, symbolic, semantic, and behavioral). Enam kategori dari produk (categories of products), meliputi: unit, kelas, relasi, sistem, transformasi dan implikasi (units, classes, relations, systems, transformations, and implications). Guilford menyatakan bahwa kecerdasan sosial terdapat pada domain “behavioral operations”, sehingga ia memprediksi setidaknya terdapat 30 aspek dari kecerdasan sosial (5 operations x 6 products). Berdasarkan uji validitas kontruk yang dilakukan oleh Hoepfner dan O`Sullivan, (1968), ditemukan bahwa individu yang ber-IQ tinggi akan memperoleh skor kecerdasan sosial yang tinggi pula dan orang yang memiliki skor IQ rendah akan memperoleh skor kecerdasan sosial yang rendah. Hasil ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Shanley, Walker dan Foley (1971) bahwa skor kecerdasan sosial meningkat dibarengi dengan meningkatnya prestasi belajar siswa.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa terdapat banyak sekali instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur kecerdasan sosial, diantaranya: George Washington Social Intelligence Test (GWSIT), Tromso Social Intelligence Scale (TSIS), Social Intelligence Profile (SIP), Comprehension dan Picture arrangement yang merupakan sub-tes dari WAIS-R, dan Social Intelligence Test Battery (SITB). Namun demikian, beberapa instrumen tes tersebut masih yang mengukanan konstruk kecerdasan sosial yang lama seperti konstruk yang dikemukakan oleh Thorndike, Guilford dan Weischler. Beberapa tes juga memiliki tingkat reliabilitas dan validitas yang rendah, sehingga hasil pengukuran sulit untuk dibedakan dengan hasil tes kecerdasan umum.

Sumber:
Albrecht, K. 2006. Social Intelligence: The New Science of Success. Josseey-Bass.
Bar-On, Reuvan. 2005. The Bar-On model of emotional-social intelligence. In P. Fernández-Berrocal and N. Extremera (Guest Editors), Special Issue on Emotional Intelligence. Psicothema, 17.
Buzan, T. 2002. The Power of Social Intelligence: 10 Ways to Tap Into Your Social Genius. New York: HarperCollins Publishers Inc.
Campbell, J. M., & McCord, D. M. 1996. The WAIS-R Comprehension and Picture Arrangement Subtest as Measures of Social Intelligence: Testing Traditional Interpretations. Journal of Psychoeducational Assessment (Hal 240-249). Sage Publications.
Campbell, J.M., & McCord, D.M. 1999. Measuring Social Competence with the Wchsler Picture Arrangement and Comprehension Subtest. Assessment (Hal 215-223). Psychological Assessment Resources, Inc.
Dewey, J. 1909. Moral Principles In Education. Boston: Hiberside Press.
Gardner, H. 1993. Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. New York: Basic Books.
Gardner, H. 1999. Inteligence Reframed: Multiple Intelligences for the 21st Century. New York: Basic Books.
Gardner, H. 2006. Multiple Inteligences: New Horizons. New York: Basic Books.
Goleman, D. 1995. Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York, NY: Bantam Books.
Goleman, D. 2006. Social Intelligence: The New Science of Human Relationship. London: Arrow books.
Guilford, J. P., & Fruchter B. 1973. Fundamental Statistics In Psychology and Education (5th Ed.). Tokyo: McGRAW-HIL
Hall, J. A., & Bernieri, F. 2001. Interpersonal Sensitivity: Theory and Measurement. London: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.
Harmon-Jones, E. & Winkielman, P. 2007. Social Neuroscience: Integrating Biological And Psychological Explanations Of Social Behavior. New York: The Guilford Press
Hassin, R. R. 2011. Social Neuroscience. New York: Oxford Unversity Press.
Hoepfner R.. 1973. The Validity of Test of Social Intelligence. Dipresentasikan pada German Cogress of Psychology.
Kihlstrom, J. F., & Cantor, N. 2011. Social Intelligence. Dalam R. J. Sternberg, & S. B. Kaufman (Eds.), The Cambrigde Handbook of Intelligence (hlm.564-581). New York: Cambridge University Press
Koops, W. & Bosma, H. A.2004. Social Cognition In Adolescence. New York: Psychology Press Ltd.
Lull, G. H. 1911. Moral Instruction Through Social Intelligence. The American Journal of Sociology, Vol. XVII, No. i,
Petrides, K. V. 2011. Social Intelligence. Dalam Brown, B.B., & Prinstein, M.J. (Eds.), Encyclopedia of Adolescence. London: Elsevier Inc.
Pineda, J.A. 2009. Mirror Neuron Systems: The Role of Mirroring Processes in Social Cognition. New York: Humana Press
Romney, D. R., & Pyryt, M. C. 1999. Guilfor’s Concept of Social Intelligence Revised. High Ability Studies, Vol. 10, No. 2
Rosjidan. 2000. Bimbingan dalam Masyarakat Indonesia yang Berubah (Makalah tidak diterbitkan). Malang: PPB FIP UM.
Safari, T. 2005. Interpersonal Intelligence: Metode Pengembangan Kecerdasan Interpersonal Anak. Yogyarakta: Amara Books.
Silvera, D. H., Martenussen, M. & Dahl, T. I. 2001.  The Tromso Social Intelligence Scale, a self-report measure of social intelligence. Scandinavian Journal of Psychology, 42,  313-319.
Thorndike, E. L. 1920. Intelligence and it`s uses. Harper’s Magazine, 140, 227–235.
Thorndike, R.L. 1936. Factor analysis of social and abstract intelligence. Journal of Educational Psychology, 27, 231-233.
Veronesi. 2009. The Lowdown on Social Intelligence. Home Health Care Management & Practice Volume 21 (Hal 203-204). SAGE, Publications.
Wechsler, D. 1958. The measurement and appraisal of adult intelligence (4th Ed.) Baltimore: The Williams & Wilkins Company.
Weis, S. 2007. Theory and Measurement of Social Intelligence as a Cognitive Performance Construct. Disertasi: Tidak diterbitkan.
Yonathan, V. 2001. Pengembangan Inventori Keterampilan Sosial Bagi Siswa Sekolah Menengah. Tesis: Tidak diterbitkan.

2 comments:

  1. terima kasih banyak atas tulisanya.,saya benar-benar terbantu dalam penelitian yang akan saya laksanakan dengan tema kecerdasan sosial.,jika berkenan saya ingin berdiskusi lebih lanjut mengenai kecerdsan sosial ini..
    terima kasih sebelumnya..:)

    ReplyDelete
  2. Bisa hub. Saya via email: paul.arjanto@gmail.com

    ReplyDelete