Sunday, December 11, 2011

Keterampilan Dasar Komunikasi - Active Listening

Active listening is letting clients know that you are interested in what they say

Active listening may entail nodding one’s head, verbal tracking (i.e., staying on the topic the client brings up), accurate summarization, and an ability to have the client feel heard (as evidenced by clients’ self-reports, “I feel like you are really
listening to me when I talk”).

Dalam hal ini, active listening yang akan dibahas adalah: minimal encourager, reassurance, paraphrasing, dan summarizing


Prinsip Dasar
  1. Mendengarkan secara aktif tidak sama dengan mendengar
  2. Mendengarkan mempunyai tingkat yang berbeda-beda
  3. Sebagai konselor kita harus mampu menentukan informasi apa yang ingin kita dengar lebih banyak
  4. mendengarkan melibatkan beberapa kemampuan tambahan:
-       mendengarkan fakta
-       memahami instruksi oral
-       mendengarkan semua kata-kata atau informasi konseli


Manfaat/Nilai Active Listening
Dampaknya terhadap Bahasan/Wawancara
  1. Dapat menentukan dengan pasti referensi orang lain, melakukan asesmen
  2. Memfokuskan komunikasi
  3. Mengurangi tensi emosional
  4. Mendorong kesadaran diri konseli
  5. Memperlihatkan pentingnya perasaan konseli

Dampaknya terhadap Hubungan Konselor – Konseli
  1. Membuat konseli merasa aman dan nyaman
  2. Meyakinkan konseli untuk menceritakan segala permasalahannya


Halangan dalam Mendengarkan
  1. Kecenderungan untuk mengevaluasi
  2. Tidak pernah menanggapi (secara verbal maupun fisik)
  3. Kebiasaan-kebiasaan nonverbal yang mengganggu konseli
-       menghindari kontak mata
-       melihat jam tangan atau ke luar jendela
-       bermain dengan pensil atau obyek lain
-       terlihat jelas berkonsentrasi pada pertanyaan berikutnya daripada jawaban yang di dapat saat ini
-       menulis terlalu banyak catatan
  1. Interupsi


ENCOURAGING – MINIMAL ENCOURAGER
One of the most important and challenging roles of the clinician is facilitating client self-disclosure: encouraging people to talk about their perceptions of themselves; their background, thoughts, emotions, and actions; the important peole in their lives; their concerns and joys; and their hopes. Even people who are self-referred for treatment may be reluctant to talk at length about themselves. They may feel uncomfortable and awkward in the treatment setting, mistrust the clinician, worry about being judged or criticized, lack facility in talking about themselves, or simply need coaching on how to use their sessions productively. Some beginning clinicians have a misconception that ost clients will immediately share personal and intimate details of their lives. Often, however, people approach treatment cautiously and need help in talking about themselves.
Minimal encouragers are well named; they are brief interventions in which clinicians demonstrate that they are listening, encourage clients to keep talking, and perhaps channel the clients’ words.

Three types of minimal encouragers:
1.    umm-hmm. This can be accompanied by a nod of the head and attentive posture.
2.    Repetition of a Word. Here, the clinician repeats or underscores a client’s spoken word or phrase. This narrows the client’s attention and generally encourages the client to elaborate further.
3.    How so? (bagaimana bisa begitu?) Although this brief phrase is really a question, it functions like a minimal encourager in that is prompts the client to hone in a particular point and explore it in a greater depth.
Contoh:
C’lee: That should change my parent’s opinion of my brother
C’lor: How so?
C’lee: They’ve always seen him as the good son; he went to college, he got married, he had kids. Just because I haven’t gotten married and had kids doesn’t mean i’m not as good as he is.









REASSURANCE (PEMBERIAN JAMINAN)
Pengertian è Pemberian kata jaminan/ganjaran oleh konselor pada situasi di mana konseli menunjukkan kemajuan potensial

Jenis-Jenis
1.    Approval (pemberian dukungan). Dilakukan bilamana perbuatan konseli jelas-jelas menguntungkan dirinya.
2.    Postdiction (pembenaran hasil).  Struktur khas yang menandai bentuk posdiksi adalah kata kausalitas, misal: setelah .......... maka .........; dengan upaya .......... ternyata .........; atas usaha ........ kini nyata bahwa ........
3.    Prediction (pemberian harapan berhasil). Prediksi diberikan ketika konseli menyatakan rencana tindakan yang menguntungkan, namun ia kurang yakin akan keberhasilannya. Struktur khas bentuk ini dinyatakan dalam bentuk hipotesis. Misal: seandainya .......... ada peluang .......; jika ....... maka .......... Prediksi ditandai dengan kata modalitas/dugaan/harapan yang intensitasnya berjenjang, seperti: pasti, hampir pasti, sangat mungkin, ada kemungkinan, besar harapan, ada harapan.
4.    Factual reassurance (peyakinan dengan fakta). Factual reassurance merupakan teknik peyakin yang sangat halus, hanya tersirat, dengan maksud untuk meringankan perasaan duka konseli dan memberitahukan bahwa ia “tidak sendiri”. Dengan demikian diharapkan mengurangi rasa ragu, takut/cemas menghadapi situasi yang tidak diharapkannya.

Tujuan
1.    Terbangkitnya semangat konseli ke arah rencana positif
2.    Teredakannya keraguan, kecemasan, ketegangan konseli untuk melaksanakan perilaku baru
3.    Terkuatkannya perilaku baru
4.    Terdorongnya konseli untuk memperluas perilaku baru
5.    Terbebaskannya konseli dari emosi yang menyakitkan, memalukan, menekan

Komponen dan variasi
1.    Usaha-usaha atau perilaku baru konseli
2.    Hasil/kemungkinan hasil atau ganjaran
Contoh: kamu mulai belajar (1), itu bagus sekali (2)











RESTATEMENT (REFLECTION OF CONTENT)
Pengertian è Teknik yang digunakan konselor untuk menulang/menyatakan kembali pernyataan konseli (sebagian/keseluruhan) yang dianggap penting

Restatement involves repeating or underscoring a longer phrase or sentence that the client has spoken. It can be thought of as an expanded version of a minimal encourager and serves the same purpose.

Jenis-Jenis
1.    Penekanan, aksen (accents), adalah pernyataan kembali 1 – 3 kata yang memfokuskan atau membawa perhatian ke respon lebih lanjut konseli. Menurut nada suaranya, dapat dikatakan bahwa ini menyiratkan apa yang dikehendaki konselor untuk dieksplorasi konseli.
2.    Parafrasa (paraphrase), adalah menyatakan kembali kata-kata klien secara utuh, apa adanya, tanpa berubah maknanya. Perubahan kata diperbolehkan asal tidak mengubah makna. Dapat menggunakan kata pembuka (dengan nada data), seperti: anda katakan ..., menurut anda ...., menurut tangkapan saya .... Dapat juga menggunakan aksen tanda tanya atau tanda seru.

Tujuan
1.    Agar diketahui oleh konseli bahwa konselor mendengarkan secara cermat terhadap apa yang dikatakannya
2.    Terarahnya pembicaraan pada isu yang penting bagi konseli
3.    Tergugahnya perhatian konseli pada suatu isu yang lebih bermanfaat untuk dibicarakan
4.    Diperolehnya informasi lebih lanjut mengenai isu penting, namun kurang jelas diuraikan oleh konseli
5.    Terujinya data penting yang diverbalisasikan konseli dengan ragu-ragu/tidak konsisten

Komponen dan Variasi
1.    Kata yang mendapat penekanan
2.    Kata pelengkap
Contoh: Padahal sudah berusaha belajar dengan baik tapi guru bahasa Inggris (2) tetap memarahi (1)

Variasi lain:
1.    Pemakaian tanda seru, lazim jika:
-       kata-kata konseli dijadikan inti pembicaraan
-       konseli dalam keadaan diam setelah mengungkap keterangan
2.    Pemakaian tanda tanya, lazim jika:
-       diperkirakan ada informasi baru yang perlu digali lebih lanjut
-       ada data yang perlu diuji dan dicek lebih lanjut



Yang Perlu Diperhatikan
1.    Variasi tekanan (baik berupa nada maupun ritme suara) dilakukan dengan tepat dan jelas
2.    Kesulitan dalam menetapkan kata-kata yang akan diberi tekanan dapat diatasi bila konselor menyadari tujuan yang diacu dalam melakukan restatement
3.    Restatement aksen hendaknya dilakukan dengan spontan, segera setelah konseli menyebut isu penting
4.    Restatement aksen hendaknya tidak lebih dari 3 kata agar perhatian konseli lebih terfokuskan
5.    Kata pembuka bagi restatemen parafrasa hendaknya divariasikan agar tidak terkesan monoton
6.    Parafrasa yang mengandung aksen, lebih baik (dalam artian lebih banyak tujuan yang mungkin dicapai) daripada yang bernada datar.
7.    Aksen yang terlalu kuat/keras akan berakibat kontraproduktif































PARAPHRASE
Mengatakan kembali pernyataan/isi pikiran yang diucapkan oleh konseli dengan menggunakan kata-kata konselor sendiri.

A paraphrase is a rephrasing of the client’s statement in a way that communicates to the clients the therapist’s understanding of what the client has said. The paraphrase is used to focus the communication on issues that appear to be most relevant and appropriate. When paraphrasing, therapists don’t simply parrot or repeat the client’s exact words. By making an active attempt to rephrase the client’s statements in their own words, therapists are able to maintain the flow and focus of the conversation.
Paraphrasing what the client is telling the counselor is usually a sentence or two used throughout the session: “This is what I heard you saying... “ or “You are telling me that .... “. The essential feature is to let the client hear what the essence of his/her statement is. It is important to restate some of the client’s own words, but with additional words of the counselor to help let the client know that the counselor truly hears what the client is saying.
Although clinicians use different words from those of the client, they do not seek to interpret, analyze, or add depth to a client’s statement. Rather, they simply give clients an opportunity to hear what they have said. Paraphrase let the clients know that the clinician is listening and understanding them, and encourage clients to keep talking






REFLECTING FEELING (Pemantulan Perasaan)
Pengertian è Teknik untuk menyatakan kembali perasaan konseli atau memantulkan kembali perasaan yang terkandung dalam pernyataannya.

Kapan/Mengapa Dilakukan?
1.    Konseli tidak memiliki bahasa yang tegas untuk melabelkan perasaannya
2.    Konseli menghindar (avoid), mengaburkan (distortion), atau menolak (denial) terhadap perasaannya

Tujuan
1.    Konseli merasakan bahwa dirinya dipahami secara penuh oleh konselor
2.    Terdorongnya konseli untuk mengekspresikan perasaan-perasaannya terhadap situasi, orang tertentu, atau apapun
3.    Diperolehnya pemahaman yang gamblang dan benar atas perasaannya
4.    Konseli terbantu untuk mendiskriminasikan secara cermat beragam perasaannya
5.    Terbantunya konseli dalam mengelola perasaannya

Komponen
1.    Kata modalita
Kedengarannya, sepertinya, tampaknya, mungkin, nada-nadanya, kelihatannya, rasa-rasanya, barangkali
2.    Kata perasaan inti
3.    Kata situasi (keterangan)
Contoh: Nada-nadanya (1) anda merasa takut membicarakan masalah anda (2) sekarang ini (3)

3 Jenis Perasaan
1.    Positif è gembira-riang-ceria, sayang-kasih-cinta,
2.    Negatif è takut-ngeri-miris,  marah-geram-dendam
3.    Ambivalen è tak menentu-bingung-bimbang, heran-tercengang-kagum, khawatir-rindu-harap-harap

Catatan Penggunaan
1.    Label-label perasaan hendaknya dipertimbangkan ketepatan, keluasan dan kedalamannya secara cermat
2.    Latar belakang budaya, tingkat pendidikan, dan taraf pengetahuan konselordan konseli sering menimbulkan kesulitan; konselor perlu memahami bahasa konseli
3.    Jangan monoton menggunakan kata modalita tertentu
4.    Pemantulan perasaan negatif hendaknya digunakan bila hubungan sudah terjalin dengan baik




SUMMARIZATION (Perangkuman) è hampir sama dengan parapharasing
Pengertian è Teknik merespon oleh konselor dalam rangka memadukan dan mensintesa uraian-uraian pernyataan konseli menjadi satu kesatuan atau keutuhan tema/topik dari sesi-sesi konseling

Jenis-Jenis
1.    Part summary (rangkuman bagian): langsung dan tidak langsung.
2.    (rangkuman akhir): langsung dan tidak langsung

Tujuan
1.    Konseli merasa didengarkan dan belajar bagaimana ceritanya diintegrasikan.
2.    Memadukan unsur-unsur ganda pesan-pesan konseli. Dapat pula sebagai alat untuk memberikan balikan untuk mensarikan makna pesan yang kabur.
3.    Mengidentifikasi tema atau pola yang muncul setelah sejumlah pesan terungkap/ mengorganisasi pikiran konselor dan konseli mengenai apa yang terjadi dalam wawancara
4.    Mencegah pembicaraan konseli yang bertele-tele agar pembicaraan menjadi lebih fokus dan terarah
5.    menyediakan kesempatan untuk “bernafas” dalam bagian yang dianggap penting
6.    Merangkum hasil-hasil atau kemajuan yang telah dicapai konseli dan konselor dalam satu sesi atau lebih.

Waktu Melaksanakan Summary
1.    Di awal: Biasanya dilakukan untuk menyatakan apa-apa yang telah dibahas pada pertemuan-(pertemuan) sebelumnya.
2.    Di tengah: Simpulan dilakukan ketika beberapa pernyataan konseli perlu diringkas sehingga jelas kelebihan/kekuatan dan kelemahan/masalahnya.
3.    Di akhir: Simpulan merupakan reviu dari keseluruhan wawancara pada suatu sesi.

Komponen dan Variasi
1.    Kata penggugah perhatian, seperti: sampai detik ini, dari awal sampai saat ini, dalam 15 menit awal pertemuan kita
2.    Kata isyarat, kata kunci perangkuman, seperti: jadi, pada akhirnya, setelah diskusi panjang akhirnya...
3.    Paduan isu, topik, atau isi rangkuman, seperti: ... hal penting ..., inti pembicaraan kita ..., dapat disepakati ...
Contoh: setelah pembicaraan panjang lebar (a), pada akhirnya (b) anda menemukan tiga rumusan masalah penting (3)








LATIHAN
1.     Masing-masing mahasiswa duduk berpasangan dalam posisi layaknya konseling. Seorang berperan sebagai konselor dan lainnya sebagai konseli. Tugas konselor adalah memulai dan mengembangkan pembicaraan dengan konseli. Topik yang dibahas adalah tentang profesi konseli (misal: siswa, mahasiswa BK, atau profesi lain).  Konselor harus menggunakan teknik-teknik encourager/teknik komunikasi konseling lain yang dapat mendorong dan mengembangkan topik pembicaraan.
2.     Klien hendaknya bersikap koperatif namun juga tidak membuat tugas konselor menjadi terlalu mudah. Hindari monolog yang terlalu panjang. Berikan kesempatan pada konselor untuk mendorong dan memandu deskripsi tentang peran profesional anda.
3.     Ikuti aturan berikut, masing-masing pasangan hendaknya menggunakan 5 – 10 menit untuk mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut:
-       Ceritakan apa pengalaman anda menjadi konseli
-       Ceritakan apa pengalaman anda sebagai konselor
-       Bagaimana kesan konselor dalam menggunakan encourager? Apakah encourager sudah digunakan dengan mengalir halus atau kaku? Apakah encourager yang digunakan dapat memperluas percakapan atau malah mempersempitnya?
-       Bagaimana pendapat konseli tentang penggunaan encourager oleh konselor
-       Apa kelebihan simulasi percakapan konseling ini
-       Berikan saran untuk meningkatkan wawancara dan kenyamanan personal, kelancaran komunikasi, dan kedalaman informasi yang didapatkan

2 comments: