Sunday, December 11, 2011

Hakekat Tes Dalam Bimbingan dan Konseling


A.    Pengukuran, Evaluasi, dan Tes
Sebagai pendahuluan, akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai istilah pengukuran, evaluasi dan tes untuk membedakan makna dari masing-masing istilah tersebut. Yang pertama adalah Pengukuran (Measurement) menurut Stevens dalam Cadha (2009: 4) didefinisikan sebagai proses pemberian/penempatan/assigment angka untuk suatu objek atau peristiwa tertentu.  Namun, definisi ini mengandung beberapa asumsi yang melekat, seperti hal-hal atau atribut selalu ada dalam jumlah tertentu dan apa pun yang ada dalam jumlah tertentu dapat dikuantifikasi dan diukur. Juga, atribut yang diukur sesuai dengan seperangkat aturan atau kriteria yang dikenal sebagai aturan pengukuran. Jadi, pengukuran hanya terdiri dari aturan untuk menetapkan nomor ke objek untuk mewakili jumlah atribut. Namun, kita dapat memiliki pengertian lain dan berbeda dari pengukuran. Sebagai contoh, kita dapat membayangkan pengukuran sebagai heuristik untuk penelitian sosial karena pengukuran bertindak sebagai heuristik untuk penelitian sosial dan pemahaman perilaku sosial. Perkembangan teori pengukuran relatif baru.
Konsep pengukuran tumbuh dari evolusi Teori Bilangan dan penerapannya dalam ilmu fisika. Teori Pengukuran terutama berkaitan dengan pengembangan tolok ukur atau instrumen dengan bantuan yang seorang analis sistem atau peneliti dapat mengukur atribut suatu entitas / fenomena / sistem yang diteliti. Ini adalah proses yang melibatkan pemberian/penempatan simbol-simbol, yaitu, angka orang, objek, peristiwa atau atribut mereka sesuai dengan aturan yang telah ditentukan. Sebuah aturan eksplisit tentang  cara memberikan simbol-simbol untuk entitas. Para ilmuwan fisik menggunakan istilah 'property' untuk menggambarkan kualitas / kuantitas dari setiap entitas fisik, ilmuwan sosial lebih suka menggunakan 'atribut' istilah untuk menunjuk kualitas / kuantitas dari setiap fenomena manusia atau sosial
Inti dari prosedur ini adalah penempatan simbol sedemikian rupa untuk mencerminkan satu-ke-satu korespondensi antara karakteristik tertentu dari simbol atau sistem bilangan yang terlibat, dan relasi antara contoh dari properti yang akan diukur dalam beton / konseptual entitas atau satu set entitas. Dalam beberapa kasus, simbol yang ditugaskan untuk entitas atau atribut mereka tidak memiliki arti kuantitatif, misalnya, dalam pengukuran prestasi akademik di kelas, kita dapat menetapkan angka atau label seperti saya atau A untuk berprestasi tinggi, II atau B kepada mereka yang berprestasi rata-rata dan III atau C untuk berprestasi rendah berdasarkan kinerja akademis mereka
Dalam konteks Teori Pengukuran, istilah assigment' berarti cocok, yaitu angka atau nomor yang cocok dengan / dipetakan ke entitas atau atribut mereka sesuai dengan prosedur tertentu. Dengan kata lain, pengukuran selalu melibatkan suatu proses melalui mana item dalam satu set dicocokkan dengan item dalam set lain. Untuk memahami gagasan pemetaan dalam pengukuran.
Yang kedua yakni Evaluasi, menurut Fink (1995:4) evaluasi merupakan suatu penyelidikan/investigasi karakteristik dan manfaat suatu program. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi tentang efektivitas proyek-proyek sehingga dapat mengoptimalkan hasil, efisiensi, dan kualitas. Tujuan pencapaian evaluasi ini untuk menganalisis struktur program, kegiatan, dan organisasi serta untuk memeriksa lingkungan politik dan sosial. Evaluasi dapat digunakan juga untuk menilai pencapaian tujuan-tujuan dan sejauh mana dampak serta biayanya. Menurut Rao (1991:250) evaluasi adalah penilaian terhadap efektivitas relatif dengan tujuan objektifitas yang dicapai dalam kaitannya dengan standar yang ditetapkan.
Selanjutnya yang ketiga adalah Tes. Tidak ada definisi yang memuaskan untuk tes. Cronbach (1984: 26) berpendapat bahwa Tes merupakan prosedur dimana disajikan serangkaian standar pertanyaan, dan subjek memberikan jawaban secara tertulis ataupun secara lisan. Cronbach mendefinisikan Tes merupakan suatu prosedur sistematik untuk mengamati perilaku dan menggambarkan dengan bantuan skala numerik atau sistem kategori. Tes dikatakan "sistematis" dalam arti bahwa informasi dari jenis yang sama dikumpulkan dari individu satu per satu. Definisi ini mencakup kuesioner untuk mendapatkan data kepribadian, prosedur untuk mengamati perilaku sosial, alat ukur tes koordinasi, dan bahkan catatan sistematis output pada jalur produksi.
Banyak istilah yang digunakan untuk mengkarakterisasi tes. Pensil-dan-kertas tes, Tes aparat, Tes lisan dan sebagainya yang harus jelas. Meskipun semua sebutan tes untuk performansi dari beberapa bagian, nama performansi tes biasanya diterapkan pada tugas yang membutuhkan respons nonverbal.
Dari ketiga istilah di atas, dapat di simpulkan bahwa pengukuran/meassurement merupakan proses kuantifikasi suatu objek atau proses mengangkakan suatu atribut, kemudian evaluasi merupakan proses kualifikasi suatu objek dengan membandingkan sesuatu dengan kriteria tertentu, selanjutnya tes merupakan proses atau prosedur sistematik untuk mengukur kemampuan seseorang pada saat tertentu dengan memberikan tugas yang harus diselesaikan.
B.     Pengertian tes
Menurut Linn & Gronlund (1990: 5) tes adalah “an Instrument or systematic procedure for measuring a sample behaviour” sebuah alat atau prosedur sistematik untuk mengukur perilaku sampel.  Kemudian, menurut  Lee J. Cronbach (1984: 26) menambahkan bahwa tes adalah “a systematic procedure for observing a person's behaviour and describing it with the aid of a numerical scale or a category system” atau prosedur sistematik untuk mengamati perilaku seseorang dan menggambarkannya dengan bantuan skala numerik atau sistem kategori. Selanjutnya menurut Anastasi (2007: 4), tes psikologi adalah alat ukur yang objektif dan dibakukan atas sampel perilaku tertentu “a test as an "objective" and "standardized" measure of a sample of behavior”.
Tes adalah suatu metode atau alat untuk mengadakan penyelidikan yang menggunakan soal-soal, pertanyaan atau tugas-tugas yang lain dimana persoalanpersoalan atau pertanyaan-pertanyaan itu telah dipilih dengan seksama dan telah distandisasikan (Bimo Walgito, 1987:87).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan pengertian tes adalah suatu alat atau metode pengumupulan data yang sudah distandardisasikan untuk mengukur/mengevaluasi salah satu aspek ability/kemampuan atau kecakapan dengan jalan mengukur sampel dari salah satu aspek tersebut. Dengan demikian tes merupakan alat pengumpul data untuk mengetahui kemampuan individu atau kelompok individu dalam menyelesaikan sesuatu atau memperlihatkan ketrampilan tertentu, dalam memperlihatkan hasil belajar, atau dalam menggunakan kemampuan psikologis untuk memecahkan suatu persoalan.
Terdapat dua klasifikasi menurut Cronbach (1987: 28), yakni Test of Maximum Performance dan Test of Typical Performance. Yang pertama, Test of Maximum Performance adalah tes untuk mengukur kinerja maksimal, hal ini termasuk jika kita ingin mengetahui seberapa baik seseorang ketika diminta untuk melakukan yang terbaik. Dari hal ini dapat disimpulkan sebagai "ability". Tujuan tester adalah harus mendorong testi melakukan kinerja terbaik sebisa mungkin (sesuai aturan), dan ini berarti bahwa pemeriksa harus melakukannya dengan baik dan harus memahami apa yang dianggap sebagai kinerja yang baik. Jika untuk menunjukkan yang terbaik, arah harus jelas dan eksplisit, bahkan sampai menjelaskan berbagai macam kesalahan yang akan diberi sangsi.
Selanjutnya yang kedua Test of Typical Performance, untuk menilai respon yang khas, yaitu apa yang orang paling sering lakukan atau rasakan dalam situasi tertentu berulang atau dalam kelas yang luas dari sebuah situasi. Kategori kedua ini merupakan teknik untuk memeriksa kepribadian, kebiasaan, minat, dan karakter. Typical behavior bukan menanyakan apa yang orang dapat lakukan, tetapi apa yang dia lakukan, rasakan atau apa yang dia yakini. Kategori yang kedua ini biasanya menggunakan teknik observasi maupun self-report.
C.    Sejarah Perkembangan Tes
Untuk dapat memahami perkembangan tes dewasa ini maka  telaah atas asal tes psikologis wajib dilakukan guna memberikan wawasan dan bantuan dalam memahaminya. Mengigat akar-akar tes sulit ditemukan karena hilang tertelan waktu. Ada beberapa uraian mengenai sistem ujian pegawai negeri yang muncul di Kekaisaran Cina selama 2000 tahun (Bowman,1989). Di kalangan orang Yahudi Kuno, tes merupakan pendampingan tetap proses pendidikan. Sudah dari awal munculnya tes pada Abad Pertengahan, universitas-universitas di Eropa mengandalkan ujian formal ketika memberi gelar dan penghargaan.
Berdasarkan sedikit paparan diatas, maka untuk mengidentifikasi perkembangan tes sampai dewasa ini, abad ke 19 ini perlu dilihat secara detail untuk selanjutnya dapat menemukan kesaling terhubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa berikutnya.
Peristiwa penting pada abad ke 19 ini adalah masa kebangkitan minat pada pengobatan yang manusiawi terhadap orang-orang gila dan mereka yang terbelakang mental. Dari sinilah dalam perawatannya semakin disadari akan perlunya kriteria untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi kasus ini. Maka Klasifikasi dan standar-standar penerimaan dan sistem yang obyektif dalam hal ini mutlak diperlukan.
Seorang dokter berkebangsaan Prancis Esquirol dan Seguin memberikan kontribusi yang penting mengenai mereka yang mengalami keterbelakangan mental. Esquirol juga menunjukkan ada banyak keterbelakangan mental, yang bervariasi dari normal sampai “idiot tingkat rendah” sementara itu Seguin merintis pelatihan orang-orang dengan keterbeakangan mental. Pada tahun ini (1886/1907) dilakukan eksperimen bertahun-tahun dengan apa yang disebut metode pelatihan fisiologis, selanjutnya mendirikan sekolah yang pertama pada tahun 1837 bagi anak-anak dengan keterbelakangan mental.  Seguin melakukan tehnik pelatihan pancaindera dan pelatihan otot yang diciptakannya bagi mereka yang mengalami keterbelakangan mental. Sejumlah cara yang dikembangkannya kemudian dimasukkan kedalam tes-tes inteligensi non-verbal atau tes-tes inteligensi tentang kinerja seseorang. Sebagai contohnya adalah Seguin Form Board, dalam tes ini individu diminta memasukkan balok-balok yang berbeda bentuknya kedalam lubang-lubang yang sesuai secepat mungkin.    
          Setelah lebih dari setegah abad karya Esquirol dan Seguin, selanjutnya psikolog Prancis Alfred Binet mendesak agar anak-anak yang gagal memberikan respon pada sekolah yang normal diperiksa agar ditempatkan pada sekolah-sekolah khusus. Binet bersama rekannya dari anggota Society for the Psychological Study of the Child, mendorong Ministry of Public Instruction untuk mengambil langkah memperbaiki kondisi anak-anak terbelakang.Hasilnya adalah terbentuknya komisi pada tingkat kementrian untuk studi atas anak-anak terbelakang, tempat Binet ditugaskan.
Para pendiri psikologi eksperimental mencerminkan pengaruh latarbakang mereka kedalam bidang fisiologi dan fisika. Masalah-masalah yang ditelaah dalam laboratorium mereka pada umumnya menyangkut kepekaan pada stimuli visual, pendengaran dan indra-indra lainnya, dan menyangkut waktu reaksi. Penekanan dan fenomena indrawi ini pada gilirannya nampak jelas mewarnai pada sifat-sifat tes psikologi pertama.
Selain pengaruh latarbelakang bidang fisiologi dan fisika dalam eksperimennya, para psikolog eksperimental pertama pada abad 19 ini juga  menunjukkan kebutuhan akan kendali yang ketat akan kebutuhan observasi. Mengingat betapa pentingnya kebutuhan observasi ini maka terhadap semua peserta eksperimental senantiasa dibawah kondisi-kondisi standar tampak dengan jelas. Pada akhirnya standarisasi prosedur ini menjadi salah satu ciri khas tes psikologi.
Kontribusi terhadap perkembangan tes psikologi berikutnya adalah datang dari Francis Galton, salah satu pakar biologi Inggris. Dalam hal ini Galton  menjadi orang pertama yang bertanggungjawab akan peluncuran gerakan tes. Faktor pemersatu dalam aktifitas penelitiannya adalah interesnya pada hereditas manusia. Upaya Galton dalam hal ini dilakukan melalui penyelenggaraan tes-tes sederhana dari hasil rancangannya sendiri pada laboratorium anthropometrisnya. Contoh bentuk tes yang dilakukannya adalah: batang Galton untuk pembedaan panjang secara visual. Galton berkeyakinan bahwa bentuk tes-tes perbedaan indrawi yang dilakukannya bisa berfungsi sebagai sarana untuk mengukur kecerdasan seseorang. dalam hal ini Galton dipengaruhi oleh pandangan- pandangan Locke.

Penerapan metode skala-pemeringkatan dan kuesioner, juga penggunaan tehnik asosiasi bebas dirintis oleh Galton untuk diaplikasikan ke beragam tujuan. Selain kontribusi Galton diatas ada juga Dalson yang memberikan kontribusi pada pengembangan metode ststistik untuk menganalisis data tentang perbedaan-perbedaan individu. Pengembangan lebih jauh dari Dalson selanjutnya dilakukan oleh Galton dengan cara melakukan adaptasi terhadap sejumlah tehnik-tehnik yang disesuaikan kedalam bentuk tertentu, dengan tujuan memperluas aplikasi prosedur statistik ke analisis data tes. Fase penelitian Galton ini telah dirangkum oleh mahasiswanya yang cukup menonjol yaitu Karl Pearson.
Selanjutnya yang menduduki tempat penting dalam perkembangan tes Psikolosi adalah James McKeen Cattell, psikolog Amerika yang mempertemukan psikologi eksperimental yang baru didirikan dengan dengan gerakan tes yang lebih baru. Untuk meraih gelar doktornya di Leipzing, ia menyelesaikan Disertasinya tentang waktu reaksi, dibawah pengarahan Wundt. Dalam artikelnya yang ditulis pada 1890 Cattell menulis istilah “ tes mental” kemudian digunakan untuk pertama kalinya dalam literatur psikologi. Dalam artikelnya Cattell memaparkan tes-tes yang diselenggarakannya secara individu, meliputi ukuran-ukuran kekuatan otot, kecepatan gerak, dan sebagainya.
Sejumlah rangkaian tes yang disusun oleh psikolog Amerika pada waktu itu cenderung mencakup fungsi-fungsi yang agak kompleks. Kreapelin (1895), yang sangat berminat pada pemeriksaan Klinis, mempersiapkan serangkaian panjang tes-tes untuk mengukur apa yang dianggap sebagai faktor-faktor dasar dalam pencirian individu. Psikolog Jerman lainnya, Ebbinghaus (1897), menyelenggarakan tes komputerisasi aritmetik, rentang memori, dan melengkapi kalimat bagi anak-anak sekolah. Dari ketiga tes, tes melengkapi kalimat menunjukkan adanya korelasi yang signifikan dengan prestasi skolastik anak.
Usaha pengembangan tes berikutnya datang dari Binet. Ia bersama rekan-rekan sekerjanya selama bertahun-tahun melakukan penelitian sederhana tentang cara-cara pengukuran kecerdasan atau inteligensi.kemudian pada tahun 1904, Menteri Pengajaran Umum menugaskan Binet untuk mempelajari prosedur-prosedur untuk pendidikan anak-anak yang terbelakang. Dalam kaitannya dengan saran-saran inilah, maka Binet dalam kerjasama dengan  Simon, menyiapkan Skala Binet-Simon untuk yang pertama(1905).selanjutnya skala ini populer sebagai skala 1905, terdiri dari 30 masalah atau tes yang diatur dalam urutan tes yang makin tinggi.skala berikutnya yang kedua yaitu skala 1908, jumlah tes ditingkatkan, sejumlah tes pada skala pertama yang tidak memuaskan dihapus, dan semua tes ditingkatkan kedalam tingkatan umur atas dasar kinerja dari 300 anak normal berusia 3 tahun sampai 13 tahun.
Revisi ketiga atas skala Binet-Simon muncul pada tahun 1991, tahun meninggalnya Binet pada usia yang masih muda. Dalam skala ini tidak dilakukan perubahan fundamental.
Bahkan sebelum revisi 1908, tes-tes Binet-Simon menarik perhatian luas para psikolog diseluruh dunia.terjemahan dan adaptasi karyanya muncul dibanyak negara, termasuk di Amerika Serikat. H.H. Gorddard melakukan revisi yang sangat berpengaruh dalam penerimaan tes inteligensi oleh kalangan profesi medis.Sebagai alat tes revisi ini segera didahului oleh instrumen Stanford-Binet yang leebih luas dan lebih baik secara psikometris, yang dikembangkan oleh L.M. Terman dan kolega-koleganya di Stanford University (Terman, 1916). Dalam tes inilah, istilah IQ (Intelligence Quotient) atau nisbah antara usia mental dan usia kronologis, pertama kali digunakan.
Ter-tes Binet berserta semua revisinya, adalah skala individu.  Pada saat Amerika Serikat memasuki Perang Dunia I pada tahun 1917, sebuah komisi ditunjuk oleh American Psychological Association untuk menemukan cara psikologi agar dapat membantu perang ini. Maka dibawah pengarahan Robert M. Yerkes, mengakui perlunya klasifikasi kilat atas satu setengah juta orang yang direkrut. Maka tes kelompok seperti skala Binet ini, awalnya dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan praktis ini.
Aplikasi tes inteligensi kelompok seperti ini jauh lebih cepat dari pada revisi tehnis tes-tes tersebut. Kemudian ketika tes ini gagal memenuhi harapan yang tak dapat dijamin, skeptisme dan permusuhan terhadap semua pengetes kerap muncul. Jadi ledakan tes tahun 1920-an,yang didasarkan pada penggunaan tes secara kurang hati-hati bisa merusak, sekaligus pada saat yang sama memicu kemajuan tes pikologis.
Evaluasi kritis atas tes inteligensi selama 1920-an  menunjukkan perlunya tes multibakat (multiple aptitude test), sedangkan pengolongan serupa pada penelitian penggolongan sifat kepribadian (trait organization) secara bertahap memberika sarana untuk menyusun tes semacam itu. Telaah statistik atas hakikat inteligensi telah menyelidiki hubungan antar skor yang diraih oleh banyak orang pada berbagai tes yang berbeda. Penyelidikan seperti ini dimulai oleh psikolog Inggris Charles Spearman (1904,1927) selama dasawarsa pertama abad ke-20.perkembangan-perkembangan metodologis selanjutnya yang didasarkan pada penelitian psikolog Amerika seperti T.L. Kelley (1928) dan L.L. Thurstone (1938, 1947) dan juga pada karya peneliti Amerika dan Inggris lainnya, sudah dikenal sebagai analisis faktor.
Ketika para psikolog sibuk mengembangkan tes inteligensi dan tes bakat, ujian sekolah tradisional mengalami sejumlah perubahan tehnis. Salah satu langkah ini dilkukan oleh sekolah-sekolah negeri di Boston pada tahun 1845, ketika ujian tertulis menggantikan introgasi lisan.
Kemudian tes setandar untuk mengukur hasil pengajaran sekolah mulai muncul. Dipelopori oleh karya E.L. Thorndike, tes-tes ini memakai prinsip-prinsip pengukuran yang dikembangkan oleh laboratorium psikologis. Baru kemudian setelah ini munculah kumpulan tes prestasi yang diprakarsai oleh publikasi pertama Stanford Achievement Tes pada tahun 1923. Para penyusunya adalah tiga pelopo pertama perkembangan tes yaitu: Truman L. Kelley, Giles M. Ruch, dan L.M. Terman. Sebagai syarat atas munculnya banyak karakteristik tes modern.

D.    Tujuan tes
Tes digunakan untuk berbagai tujuan yang dapat digolongkan dalam kategori yang lebih umum (Domino, 2006: 2). Banyak penulis mengidentifikasi empat kategori yakni: klasifikasi/ classification, pemahaman diri/ self-understanding, evaluasi program/ program evaluation, dan penelitian ilmiah/ scientific inquiry.
Klasifikasi melibatkan keputusan bahwa orang tertentu termasuk dalam kategori tertentu. misalnya, berdasarkan hasil tes kita dapat menetapkan diagnosis kepada pasien, tempat siswa di kursus bahasa Spanyol bukan saja menengah atau lanjutan, atau menyatakan bahwa seseorang telah memenuhi kualifikasi minimal untuk praktek kedokteran. Macam-macam klasifikasi antara lain: seleksi, sertifikasi, penyaringan, penempatan dan diagnosis (Cronbach, 1984:21)
Pemahaman diri melibatkan menggunakan informasi tes sebagai sumber informasi mungkin sudah tersedia untuk individu, tetapi tidak dalam cara yang formal. Marlene, misalnya, berlaku untuk sarjana di bidang teknik listrik; tingginya GRE mengkonfirmasi apa yang dia sudah tahu, bahwa ia memiliki kemampuan potensial yang diperlukan untuk pekerjaan lulusan
Evaluasi program melibatkan penggunaan tes untuk menilai efektivitas program tertentu atau tindakan. Anda mungkin telah melihat di koran tabel, menunjukkan nilai rata-rata untuk tes prestasi berbagai sekolah di wilayah geografis Anda, dengan nilai yang seringkali diambil, mungkin salah, sebagai bukti dari tingkat kompetensi sekolah tertentu. evaluasi program mungkin melibatkan penilaian iklim kampus di sebuah perguruan tinggi tertentu, atau nilai dari program penyalahgunaan narkoba yang ditawarkan oleh sebuah klinik kesehatan mental, atau efektivitas pengobatan baru
Tes juga digunakan dalam penelitian ilmiah. jika Anda melirik melalui jurnal profesional yang paling dalam ilmu-ilmu sosial dan perilaku, Anda akan menemukan bahwa sebagian besar studi menggunakan tes psikologis untuk operasional mendefinisikan variabel yang relevan dan untuk menerjemahkan hipotesis ke dalam laporan numerik yang dapat dinilai statistik. beberapa orang berpendapat bahwa pengembangan suatu bidang ilmu, sebagian besar, fungsi dari teknik meassurement tersedia
E.     Jenis-jenis tes
Jenis-jenis tes terstandar antara lain : tes inteligensi, tes bakat, tes minat, tes kepribadian, tes hasil belajar.
1.      Tes Intelegensi
Untuk memulai, perlu dicatat bahwa istilah “intelegensi” tanpa keterangan lebih lanjut digunakan dengan pengertian yang luas dan bervariasi, tidak hanya oleh masyarakat umum, tetapi juga oleh anggota-anggota berbagai disiplin ilmu, seperti biologi, filsafat, atau pendidikan. Inteligensi adalah salah satu kemampuan mental, pikiran, atau intelektual manusia. Inteligensi merupakan merupakan bagian dari proses – proses kognitif pada urutan yang lebih tinggi (high cognition). Alfred Binet (1857) mendefinisikan inteligensi terdiri dari tiga komponen  yaitu: a) kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau mengarahkan tindakan, b) kemampuan untuk mengubah arah tindakan, dan , c) kemampuan untuk mengkritik diri sendiri.
Secara umum inteligensi biasa disebut kecerdasan. Intelegensi bukan kemampuan tunggal dan seragam, tetapi komposit dari berbagai fungsi. Ketika pertama kali diperkenalkan, IQ merujuk pada jenis skor-yakni, ratio usia mental dengan usia kronologis. Selanjutnya pengertian IQ diperluas yakni, IQ adalah ekspresi dari tingkat kemampuan individu pada saat teretentu, dalam hubungan dengan norma usia tertentu.
Tes Intelegensi atau tes kecerdasan (IQ) merupakan tes yang tertua sekaligus paling kontroversial. Sebagian besar kontroversial memusat pada beragam pandangan tentang apa yang mendasari kecerdasan, apa yang mempengaruhinya, dan apakah kecerdasan dapat berubah atau tidak.
Tes-tes intelegensi umum yang dirancang untuk digunakan anak-anak usia sekolah atau orang dewasa biasanya mengukur kemampuan-kemampuan verbal, untuk kadar lebih rendah, tes-tes ini juga mencakup kemampuan-kemampuan untuk berurusan dengan simbol numerik dan simbil-simbol abstrak lainnya. Ini adalah kemampuan-kemampuan yang dominan dalam proses belajar di sekolah. Kebanyakan tes intelegensi dapat di pandang sebagai ukuran kemampuan belajar atau intelegensi akademik. Tes-tes integensi seharusnya digunakan tidak untuk memberi label pada individu-individu, tetapi untuk membantu memahami mereka.
Tes kecerdasan yang pertama dirancang oleh ahli statistik dan pendidik perancis, Alfred Binet, untuk diberikan kepada siswa-siswanya. Sejak awal 1900-an beberapa versi Amerika mulai dikembangkan. Yang paling populer dari semua modifikasi tersebut adalah tes kecerdasan Stanford-Binet, didasarkan pada kerja Lewis Terman dari Universitas Stanford yang diterbitkan tahun 1916. Revisi terbaru adalah edisi kelima tahun 2003 yang bisa digunakan untuk individu usia 2 sampai 85 tahun. Norma-normanya adalah verbal IQ (VIQ), Nonverbal IQ (NVIQ), dan full scale IQ (FSIQ).
Tes kecerdasan lain yang populer adalah skala Wechsler yang dikembangkan oleh David wechsler, seorang psikolog klinis didasarkan pada asumsi bahwa kecerdasan adalah jumlah total kemampuan individu untuk berfikir secara rasional, bertindak dengan tujuan jelas, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Ada tiga perangkat instrumen yang dikembangkan Wechsler, yakni WPPSI-III (Wechsler Preschool and Primary Scale of Inlelligence III), untuk anak usia 2 tahun 6 bulan sampai 7 tahun 3 bulan, kemudian WISC-IV (Wechsler Intelligence Scale for Children-Fourth Edition) untuk anak usia 6 hingga 16 tahun, WAIS-III (Wechsler Adult Intelligence Scale-Third edition) untuk remaja usia 16 hingga manula 89 tahun.
Instrument lain yang sering digunakan adalah Slosson Intelligence Test-Revised Third edition (SIT-R3), tes ini menyediakan asesmen yang relatif cepat tentang kemampuan kognitif anak dan orang dewasa. Tes ini diberikan secara lisan, terdiri atas 187 item, ketrampilan bahasa partisipan sangat mempengaruhi performanya.
Salah satu tes kecerdasan kelompok yang paling populer adalah Otis-Lennon School Ability Test edisi 7 (OLSAT-7). Tes ini muncul pertama tahun 1918 dengan nama Otis Group Intelligence Scale, dan mencapai popularitas besar di bidang industri dan pendidikan sebagai Otis-Quick Scoring Mental Ability Test. Edisi terbarunya dikembangkan untuk siswa TK hingga kelas 12 dengan jumlah waktu tiap tes 75 menit maksimum.
2.      Tes Bakat (Aptituding Testing)
Bakat didefinisikan sebagai sifat yang mencirikan kemampuan individu melakukan performa di wilayah tertentu atau mencapai pembelajaran yang dibutuhkan bagi performa di wilayah tertentu. Ini mengasumsikan suatu kemampuan inheren atau bawaan yang dikembangkan hingga maksimum lewat pembelajaran atau pengalaman teretentu, kendati demikian, bakat tidak dapat diperluas melampaui titik maksimal, sekalipun lewat pembelajaran. Tes bakat dimaksudkan untuk mengukur potensi seseorang mencapai aktifitas tertentu atau kemampuannya belajar mencapai aktifitas tersebut.
Tes bakat banyak digunakan para konselor dan pengguna lain karena sanggup: a) mengidentifikasikan kemampuan potensial yang tidak didasari individu, b) mendukung pengembangan kemampuan istimewa atau potensial inidividu tertentu, c) menyediakan informasi untuk membantu individu membuat keputusan pendidikan dan karir atau pilihan lain diantara alternatif-alternatif yang ada, d) membantu memprediksi tingkat sukses akademis atau pekerjaan yang bisa di antisipasi individu, e) berguna mengelompokkan individu-individu dengan bakat serupa bagi tujuan perkembangan kepribadian dan pendidikan.
Macam-macam tes bakat antara lain tes bakat khusus, rantai-tes bakat kerja (vocational aptitude batteries), rantai-tes bakat umum (GATB), rantai-tes bakat unik (DAT), rantai-tes bakat-kerja angkatan bersenjata (ASVAB), tes bakat skolastik.
3.      Tes Minat
Menurut Hurlock (1993), minat adalah sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan apa yang ingin dilakukan ketika bebas memilih. Tiga bidang terapan hasil tes minat antara lain: 1) Konseling Karier 2) Konseling Pekerjaan, 3) Penjurusan Siswa
 Hakikat dan kekuatan dari minat dan sikap seseorang merupakan aspek penting kepribadian. Karakteristik ini secara material mempengaruhi prestasi pendidikan dan pekerjaan, hubungan antar pribadi, kesenangan yang didapatkan seseorang dari aktifitas waktu luang, dan fase-fase utama lainnya dari kehidupan sehari-hari. Studi tentang minat mendapatkan dorongan terkuat dari penafsiran pendidikan dan karir. Meskipun lebih sedikit kadarnya, pengembangan tes dalam area ini juga dirangsang oleh seleksi dan klasifikasi pekerjaan.
Perkembangan populer tes minat, berkembang dari studi-studi yang mengindikasikan kalau individu di suatu pekerjaan dicirikan oleh kelompok minat umum yang membedakan mereka dari indivdidu di pekerjaan lainnya. Para peneliti juga mencatat perbedaan minat ini bergerak melampaui yang di asosiasikan dengan performa kerja dan yang individu di bidang kerja tertentu memiliki juga minat bukan pekerjaan yang berbeda yaitu aktifitas, hobi dan rekreasi. Karena itu, inventori minat bisa di rancang untuk menilai minat-minat pribadi dan mengaitkan minat-minat tersebut dengan wilayah kerja yang lain. Salah satu inventori minat yang paling banyak digunakan secara luas adalah Inventori Minat Strong/ Strong Interest Inventory (SII).
4.      Tes Kepribadian
Konsep kepribadian termasuk yang sulit ditangani secara tepat jika berkaitan dengan pengetesan standart, karena itu pengkonstruk tes kepribadian menghadapi tantangan besar, yaitu menentukan apa itu definisi kepribadian yang akan mereka gunakan dan aspek-aspek apa dari definisi tersebut yang akan di ukur. Definisi kepribadian secara umum adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psiko-fisik indvidu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran indvidu secara khas.
Tes kepribadian (personality test) adalah sebuah tes psikologi yang meneliti jenis dan karakter kepribadian seseorang dalam berbagai aspek, termasuk aspek kognitif dan aspek emosi. Namun, secara umum bisa dikatakan kalau dalam terminologi psikometri konvensional, “Tes Kepribadian” adalah instrumen untuk mengukur ciri-ciri emosi, motivasi, antarpribadi, dan sikap yang dibedakan dari kemampuan.
Jumlah tes kepribadian yang ada mencapai ratusan buah. Yang paling banyak adalah inventori kepribadian dan teknik-teknik proyektif. Beberapa inventori kepribadian yang lebih populer atau instrumen asesmen kepribadian stándar adalah Indikator Tipe Kepribadian Myers-Briggs, Jadwal Preferensi Pribadi Edwards, dan Inventori Multifase Minnesota. Khusus inventori yang terakhir, pemberi tes memerlukan pelatihan khusus dan diawasi staf berpengalaman sebelum boleh menggunakan sendiri dalam lingkup klinis.
5.      Tes Prestasi Belajar / Achievement Test
Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh seseorang setelah ia melakukan perubahan belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Di dalam webster’s New Internasional Dictionary mengungkapkan tentang prestasi yaitu:“Achievement test a standardised test for measuring the skill or knowledge by person in one more lines of work a study” (Webster’s New Internasional Dictionary, 1951 : 20)
Tes prestasi belajar adalah sebuah wilayah pengetesan standar yang melalui kebanyakan siswa telah menjadi targetnya, bukan hanya di satu atau dua peristiwa melainkan berkali-kali selama menjalani program pendidikan mereka. Dari semua jenis tes standar, tes prestasi inilah yang paling populer jika ditilik dari jumlahnya diberikan kepada individu yang berbeda-beda, yaitu ratusan ribu tes per tahun di seluruh sekolah di Amerika.
Tes-tes prestasi belajar digunakan untuk menyediakan pengukuran bagi : a) sejumlah pembelajaran, b) tingkat pembelajaran, c) perbandingan dengan peserta lain, atau prestasi dirinya di bidang lain, d) tingkat pembelajaran di sub wilayah tertentu, e) kekuatan dan kelemahan di suatu mata pelajaran dan mata pelajaran lain, dan f) prediksi pembelajaran di masa depan.
F.     Karakteristik tes yang baik
Karakteristik tes terstandar yang baik hendaknya memiliki kriteria sebagai berikut:
1.      Validitas

No comments:

Post a Comment