Sunday, December 11, 2011

Aptitude Test (Tes Bakat)


A.      Definisi Tes Bakat Dan Bakat
Tes Bakat mucul dikarenakan adanya ketidakpuasaan pada tes intelegensi yang hanya memunculkan skor tunggal yang disebut IQ, karena hasil IQ belum dapat memberikan gambaran kemampuan individu di masa mendatang.
Pada masa sebelum perang dunia 1, para psikolog telah mengakui perlunya tes bakat untuk melengkapi tes-tes intelegensi global. Tes bakat ini dikembangkan secara khusus dalam konsultasi pekerjaan, seleksi dan klasifikasi personil industri ataupun militer. Tes-tes yang digunakan secara meluas antara lain tes bakat mekanikal, musikal, klerikal dan aristik (Anastasi, 1997).
Pertama kali yang melakukan penelitian tes bakat adalah Charles Spearman (1904-1927) seorang psikolog dari Inggris. Perkembangan metodologis selanjutnya, dilakukan psikolog dari Amerika seperti T.L. Kelley (1928) dan L.L Thurstone (1938-1974) dan terus dikembangkan oleh penelti selanjutnya yang di kenal sebagai analisis faktor.
Hasil praktis analisis faktor tersebut adalah perkembangan tes bakat berupa baterai multibakat (multiple aptitude batteries). Semua baterai ini dirancang untuk memberikan ukuran dari sikap seseorang sehingga dengan baterai ini dapat diperoleh sifat atau gambaran seseorang yang bersifat khusus, seperti pemahaman verbal, bakat numerikal, visualisasi spasial, penalaran aritmetik dan percepatan perseptual.
Perkembangan tes bakat lebih mutakhir muncul pada akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an menyediakan integrasi mendasar dari dua pendekatan yang sebelumnya bertentangan bagi pengukuran mental, yang diwakili oleh tes intelegensi tradisonal dan oleh battery multi bakat (Anatasi, 1994).
Tes bakat memiliki beberapa definisi yang pada intinya merupakan suatu kemampuan khusus dari individu dan merupakan hasil interaksi antara hereditas dan pendidikan.
Untuk memahami secara jelas definisi bakat, berikut beberapa definisi bakat menurut para ahli:
1.       Freeman (Fudyartanta, 2005) mendefinisikan bakat sebagai suatu kombinasi karakteristik yang berkapasitas individual untuk memperoleh (melalui latihan) beberapa pengetahuan khusus, keterampilan ataupun suatu respon yang terorganisir. Misalnya saja kemampuan berbahasa, untuk menjadi pemusik ataupun untuk melakukan pekerjaan mekanik.
2.       Fudyartanta (2005) mengemukakan bahwa bakat merupakan kemampuan yang lebih menonjol daripada yang lain, baik secara intelektual (teoritis) maupun secara praktis, dimana kedua-duanya memiliki posisi kualitas yang tinggi.
3.       Guildford (Sunaryo, 2004) mengemukakan bahwa bakat bertalian dengan kecakapan untuk melakukan sesuatu.
4.       Sukardi (Sunaryo, 2004) mengartikan bakat sebagai suatu kondisi atau kualitas yang dimiliki oleh individu yang memungkinkan dirinya dapat berkembang di masa yang akan datang.
5.       Branca (Fudyartanta, 2005) mengemukakan bahwa bakat merupakan kemampuan yang dipandang sebagai suatu indikasi seberapa baik individu dapat mempelajari pengetahuan atau keterampilan tertentu melalui pelatihan kemudian mempraktekkannya.
6.       Lyman (Fudyartanta, 2005) mendefinisikan bakat sebagai kombinasi karakteristik alami dan yang dipelajari, dimana mengindikasikan kapasitas seseorang untuk mengembangkan kecakapannya dalam beberapa keterampilan. Biasanya menyiratkan aspek intelektual atau keterampilan dibandingkan aspek emosi atau karakteristik kepribadian.
7.       Chaplin (2002) mengartikan aptitude (bakat, ketangkasan, kecerdasan, kesanggupan, kecenderungan) sebagai kapasitas untuk berprestasi di kemudian hari.
8.       Woodworth dan Marquis (Sunaryo, 2004) mendefinisikan bakat sebagai suatu kemampuan manusia yang terdiri dari achievement atauactual ability (dapat diukur dengan tes tertentu),capacity atau ability (tidak dapat diukur secara langsung) dan aptitude (kualitas psikis yang hanya dapat diungkapkan dengan tes).
9.       Bakat merupakan suatu kemampuan spesifik yang memberikan individu suatu kondisi untuk memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan atau keterampilan tertentu setelah melalui latihan (Adi Dharma Putra, 2010).
10.    “Chaplin “(2002) mendefinisikan tes bakat sebagai satu seri tugas-tugas yang dibakukan dan diberikan untuk membuat perkiraan kuantitatif kemampuan seseorang yang menguntungkan dirinya lewat latihan. Tes-tes bakat tersebut dipakai untuk mengukur prestasi yang akan dicapai di kemudian harinya sedang tes prestasi (achievement tests) mengukur kemampuan yang dicapai pada saat sekarang.
11.    Menurut Cohen & Swerdlik , 1999 dalam Gregory ( 2001) bakat secara umum sudah digambarkan sebagai kemampua individu dibidang yang spesifik seperd akuntansi,rancang bangun atau auto mekanika. Sedangkan menurut Menurut Lennon dalam Shetzer (1981) bakat adalah perpaduan antara kemampuan kemampuan dan karakteristik yang lain ataupun hasil belajar dalam berbagai hal. Bakat dipandang sebagai kemampuan untuk belajar atau mengungkapkan pengetahuan, kecakapan, karakteristik untuk memprediksi loeberhasilan belajar.
12.    Bakat dalam Warren's Disctionary of Psychology (1934) didefinisikan sebagai berikut: "Aptitude, a condition or set of characteristics regarded as symptomatic of an individual's ability to acquire with training some (usually specified) knowledge, skill, or set of response, such as the ability to speak a language, to produce music ..."
13.    Menurut Aiken dalam Gladding (2000), bakat didefinisikan sebagai kapasitas individu untuk menampilkan suatu kemampuan dari sebuah tugas atau tipe ketrampilan dan tes bakat merupakan salah satu tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan seseorang tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bakat merupakan suatu konsistensi kerakteristik yang menunjukkan kapasitas seseorang untuk menguasai suatu pengetahuan khusus, keterampilan atau serangkaian respon yang terorganisir atau kemampuan khusus yang berkembang secara istimewa atau menonjol dibandingkan dengan kemampuan-kemampuan yang lain. Bakat seseorang dapat diukur dengan tes bakat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa bakat adalah suatu kemampuan spesifik yang dimiliki individu yang lebih menonjol daripada yang lain, baik itu  pengetahuan, kecakapan atau keterampilan jika diasah melalui pelatihan akan berkembang secara optimal.

B.      Sejarah Perkembangan Tes
Tes bakat muncul karena pemikiran para psikolog bahwa tes inteligensi hanya mengukur aspek tertentu dari inteligensi, dimana hal ini saja tidaklah cukup karena tidak semua aspek penting terwakili karena cakupannya yang agak terbatas. Bahkan sebelum PD I, para psikolog mulai mengakui perlunya tes-tes bakat khusus untuk digunakan dalam konseling pekerjaan serta dalam seleksi dan klasifikasi personil industri dan militer. Sehingga beberapa tes kemudian dimodifikasi menjadi tes bakat, misalnya pada tahun 1920-an sejumlah tes inteligensi berubah menjadi tes bakat sekolah. Aplikasi praktis tes selanjutnya menunjukkan perlunya dikembangkan tes multi bakat (multiple aptitude tes) karena sarana untuk menyusun tes semacam ini telah tersedia.

C.      Tujuan Mengetahui Bakat
Tes bakat dilakukan dengan tujuan sebagai berikut, yaitu:
1.       Diagnosis. Tujuannya adalah untuk mengetahui bakat seseorang sehingga akan lebih mudah memahami potensi yang ada. Dengan demikian, dapat membantu untuk menganalisis permasalahan yang dihadapi testi di masa kini secara lebih cermat.
2.       Prediksi. Pada dasarnya, prediksi adalah mempertemukan potensi seseorang dengan     persyaratan yang dituntut oleh lembaga sehingga dapat diperkirakan atau diprediksikan kemungkinan kesuksesan atau kegagalan seseorang dalam bidang tertentu di masa depan. Prediksi meliputi seleksi, penempatan dan klasifikasi.

D.      Faktor-faktor yang Diungkap dalam Tes Bakat
1.       Kemampuan verbal. Kemampuan memahami dan menggunakan bahasa baik secara    lisan maupun tulisan

No comments:

Post a Comment