Sunday, December 11, 2011

Achivement Test (Tes Prestasi Belajar)


1.       Pengertian Asesmen Prestasi Belajar
Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh seseorang setelah ia melakukan perubahan belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Di dalam webster’s New Internasional Dictionary mengungkapkan tentang prestasi yaitu: “Achievement test a standardised test for measuring the skill or knowledge by person in one more lines of work a study” (Webster’s New Internasional Dictionary, 1951 : 20. Prestasi adalah standart test untuk mengukur kecakapan atau pengetahuan bagi seseorang didalam satu atau lebih dari garis-garis pekerjaan atau belajar.
Sedangkan assessmenet (penilaian) adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan instrumen tes maupun nontes, artinya penilaian adalah memberikan nilai tentang kualitas sesuatu tidak hanya sekedar mencari jawaban terhadap pertanyaan tentang apa, tetapi lebih diarahkan kepada menjawab bagaimana atau seberapa jauh sesuatu proses atau suatu hasil yang diperolah seseorang atau suatu program.
Assessment (penilaian) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata–kata) dan nilai kuantitatif ( berupa angka ).
Tes prestasi belajar merupakan salah satu alat pengukuran di bidang pendidikan yang sangat penting artinya sebagai sumber informasi guna pengambilan keputusan. Penyusunan tes prestasi belajar yang baik agar hasil ukur yang diperoleh akurat (valid) dan dapat dipercaya (reliabel).
Dalam proses pendidikan dan pengajaran setiap saat akan selalu ada situasi yang memerlukan pengambilan keputusan, seperti:
1)       Keputusan didaktik yang diperlukan guna memenuhi kebutuhan pengajaran, seperti memilih kurikulum yang berlaku.
2)       Keputusan administrasi guna memenuhi kebutuhan administrasi seperti keputusan menentukan nilai standar kelulusan.
3)       Keputusan bimbingan penyuluhan guna memberikan bimbingan dalam penjurusan dan penentuan karir.
Berdasarkan keputusan-keputusan tersebut, tes prestasi belajar mempunyai beberapa fungsi antara lain:
·         Fungsi penempatan adalah penggunaan hasil tes prestasi belajar unyuk klasifikasi individu ke dalam bidang atau jurusan yang sesuai dengan kemampuan yang dapat dilihat pada hasil tes sebelumnya.
·         Fungsi formatif adalah penggunaan hasil tes belajar guna melihat sejauhmana kemampuan belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu program pelajaran.
·         Fungsi diagnostik dilakukan oleh tes prestasi bila hasilnya digunakan untuk mendiagnosis kesukaran belajar dan mendeteksi kelemahan siswa agar dapat segera diperbaiki.
·         Fungsi sumatif adalah penggunaan hasil tes prestasi untuk memperoleh informasi mengenai penguasaan pelajaran yang telah direncanakan sebelumnya dalam suatu program pelajaran.

Fungsi Tes Prestasi
1)       Fungsi Motivasi
Jika evaluasi telah dilakukan secara terpadu, sistematis dan kontinu, (baik dalam bentuk tugas, latihan, kuis, maupun ujian) maka dia akan berfungsi sebagai motivator dan mengkondisikan siswa untuk tetap giat belajar. Untuk ini maka hasil evaluasi harus dikomunikasikan kepada siswa. Siswa yang mengetahui hasil ujiannya, diharapkan hasil tersebut menjadi kekuatan atau daya juang (adversity) bagi dirinya.
2)       Fungsi Jaminan mutu (Quality assurance)
Jika evaluasi dilakukan relevan dengan tujuan pembelajaran, maka prestasi yang dicapai oleh siswa akan menggambarkan kualitas tingkat pemahaman atau tingkat penguasaan (tingkat ketuntasan) siswa atas materi pelajaran yang diberikan. Pada gilirannya, keadaan ini akan menjamin kualitas/mutu pendidikan. Pemahaman atas suatu materi pelajaran akan mendorong siswa senang belajar lebih jauh. Sebaliknya, ketidaktuntasan atau ketidakpahaman siswa atas suatu materi akan menghambat dan menyebabkan kesulitan pada seseorang. Jika hal ini berakumulasi bukan tidak mustahil akan menyebabkan siswa frustrasi.
3)       Fungsi Balikan (Feed back)
Data yang diperoleh dari hasil ujian/ulangan akan merupakan bahan yang sangat berharga baik bagi guru maupun bagi siswa untuk introsfeksi, mengevaluasi diri. Guru dapat menelaah kembali tentang keefektifan metoda atau cara mengajar yang telah ia lakukan. Siswa juga dapat melihat bahkan memperkirakan kelancaran studi mereka.
4)       Fungsi Diagnosis
Dari hasil ujian, baik menggunakan kriteria norma kelompok (norm reference test) maupun dengan menggunakan kriteria mutlak (criterion reference test), siswa akan terbagi kepada dua kelompok, yaitu yang memenuhi kriteria dan yang tidak, yang dinyatakan lulus dan yang tidak. Khusus berkenaan dengan yang tidak lulus atau tidak memenuhi kriteria, apakah mereka akan dibiarkan? Bagi kelompok kedua ini, dari hasil tes atau ujian, dosen dapat meneliti (mendiagnosis) dimanakah kelemahan mereka itu, apa penyebabnya, mungkinkah dia dibantu, bagaimana cara membantunya, dan sebagainya. Inilah peran bimbingan seorang guru.
5)       Fungsi Seleksi
Pada suatu saat guru sering diharuskan untuk menentukan mahasiswa mana yang paling unggul secara akademik atau karena jatah bea siswa terbatas maka perlu dipilih siswa berprestasi. Dalam hal ini guru perlu mengadakan seleksi. Selain itu, misalnya karena tempat untuk pelatihan sangat terbatas, maka perlu dipilih calon peserta yang benar-benar unggul. Suatu lembaga memerlukan karyawan yang kualified, maka perlu diadakan tes seleksi yang ketat.
6)       Fungsi Administrasi
Secara profesional, guru memiliki sejumlah tugas administratif. Diantaranya guru harus melaporkan hasil ujian ke lembaga.  Disamping itu, tatkala seorang guru memerlukan bukti fisik untuk kenaikan pangkat, laporan hasil tes dapat dijadikan bahan usulan kumulatif.

Gronlund (1977) merumuskan beberapa prinsip dasar dalam pengukuran prestasi, yakni:
1)       Tes prestasi harus mengukur hasil belajar yang telah dibatasi secara jelas sesuai dengan tujuan instruksional.
2)       Tes prestasi harus mengukur suatu sampel yang representatif dari hasil belajar dan dari materi yang dicangkup oleh program instruksional atau pengajaran.
3)       Tes prestasi harus berisi aitem-aitem denga tipe yang paling cocok guna mengukur hasil belajar yang diinginkan.
4)       Tes prestasi harus dirancang sedemikian rupa agar sesuai degna tujuan penggunaan hasilnya.
5)       Realibilitas tes prestasi harus diusahakan setinggi mungkin dan hasil ukurnya harus ditafsirkan dengan hati-hati.
6)       Tes prestasi harus dapat digunkan untuk meningkatkan belajar para anak didik.

Ada beberapa istilah yang sangat erat hubungannya dengan assessment, dimana istilah–istilah tersebut berkaitan dalam pelaksanaan assessmen dalam dunia pendidikan. yaitu:
a)       Archeivment assessment: suatu prosedur yang digunakan untuk memberi batasan seberapa jauh individu peserta didik mencapai hasil belajar yang diinginkan atau yang telah lebih dahulu ditetapkan. Acheivement assessment merupakan pengertian umum terhadap semua usaha untuk mengukur, mengetahui, dan mendeskripsikan hasil belajar peserta didik, baik yang dilakukan secara tertulis maupun dalam bentuk lainnya.
b)       Authentic assessment: suatu assessmen hasil belajar yang menuntut siswa dapat menunjukkan hasil belajar berupa kemampauan dalam kehiduan nyata, dalam arti kata bukan sesuatu yang dibuat-buat atau yang hanya diperoleh di dalam kelas, tetapi tidak dikenal dalam dunia nyata kehidupan sehari–hari.
c)       Alternative assessment adalah suatu bentuk assessmen yang tidak hanya tergantung dalam bentuk tes tertulis atau lisan yang biasa dilakukan secara konvensional dikelas, tetapi juga menggunakan bentuk assemen lain serti assessmen performance dan assessmen portofolio.
d)       Performance assessment merupakan bagian dari assessment alternatif. Secara sederhana assessmen performance dapat didefenisikan sebagai penilaian terhadap proses perolehan, penerapan pengetahuan dan keterampilan, melaluiproses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan siswa dalam proses maupun produk.
e)       Portofolio assessment merupakan bagian dari assessment alternatif. Assessmen portofolio adalah assessmen yang terdiri dari kumpulan hasil karya siswa yang disusun secara sistematik, yang menunjukkan upaya belajar, hasil belajar dan kemajuan yang dilakukan siswa dalam jangka waktu tertentu.

2.       Sejarah Perkembangan Asesmen Prestasi Belajar
Pada tahun 1845, beberapa sekolah negeri di Boston mengadakan ujian tertulis untuk menggantikan ujian lisan. Alasannya, karena ujian tertulis menempatkan semua siswa dalam situasi yang seragam, memungkinkan cakupan isi yang lebih luas, mengurangi unsur peluang atas pilihan pertanyaan yang akan diberikan penguji, dan menyingkirkan unsur kemungkinan pilih kasih oleh para penguji.
E.L. Thorndike mempelopori tes prestasi belajar. Ia memakai prinsip-prinsip pengukuran yang dikembangkan dalam laboratorium psikologis. Contoh-contohnya mencakup skala untuk penentuan peringkat kualitas tulisan tangan dan karangan tertulis, tes pengejaan, perhitungan aritmetik, dan penalaran aritmetik.
Pada tahun 1923, terbit Stanford Achievement Test edisi pertama yang disusun Truman L. Kelley, Giles M. Ruch, dan Lewis M. Terman. Kumpulan tes ini memberikan ukuran-ukuran kinerja yang dapat dibandingkan dalam berbagai mata pelajaran sekolah, yang dievaluasi berdasar kelompok normatif tunggal.
Pada dasawarsa 1930-an awal munculnya mesin-mesin yang bisa memberikan skor pada tes, sehingga tes-tes obyektif “jenis baru” bisa segera diadaptasikan. Pada pergantian abad ini, College Entrance Examination Board (CEEB) menyusun program tes yang melibatkan semua perguruan tinggi. Tujuannya untuk mengurangi duplikasi ujian masuk calon mahasiswa. Pada tahun 1947, fungsi-fungsi tes CEEB digabung dengan fungsi pengetesan Carnegie Corporation dan American Council on Education membentuk Educational Testing Service (ETS). ETS mengambil tanggung jawab atas program-program tes yang makin banyak atas nama universitas, sekolah-sekolah profesional, lembaga pemerintahan, dan lembaga-lembaga lainnya. Pada tahun 1959 American College Testing Program juga mengadakan program serupa bagi lembaga yang tak bergabung dengan CEEB, juga mengadakan tes untuk seleksi mahasiswa yang berbakat untuk menerima beasiswa.
Sedangkan di Indonesia, pada tgl 11 Juni 2007 untuk mengendalikan mutu hasil pendidikan sesuai dengan standar nasional pendidikan, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 20 tahun 2007 Standar Penilaian Pendidikan. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.
  
3.       Jenis-jenis Asesmen Prestasi Belajar
Dilihat dari waktu penyelenggaraan serta tujuannya (Arikunto, 1986: 26) penilaian dapat dibedakan menjadi:
  1. Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk menentukan kelemahan dan kelebihan siswa dengan melihat gejala-gejalanya sehingga diketahui kelemahan dan kelebihan tersebut pada siswa dapat dilakukan perlakuan yang tepat. Waktu pemberiannya tidak terjadwal pasti, namun tatkala seorang guru atau dosen ingin mengetahui kesulitan apa atau materi mana-mana saja yang dirasakan sulit oleh mahasiswa saat itulah tes diberikan. Bentuk tes ini adalah tes biasa namun yang berbeda adalah tujuan dan cara menganalisis atau menafsirkanya
  2. Tes formatif adalah untuk mengetahui sejauh mana siswa telah memahami suatu satuan pelajaran tertentu. Tes ini diberikan sebagai usaha memperbaiki proses belajar. Waktu pelaksanaannya dilakukan di akhir setiap pertemuan KBM. Informasi yang diperoleh merupakan balikan untuk melihat apakah KBM yang kita lakukan efektif atau tidak, dan berguna untuk memperbaiki kekurangan atau kelemahan kegiatan belajar mengajar. Penilaian formatif juga berguna untuk meramalkan keberhasilan seseorang dalam penilaian sumatif. Bagi siswa/mahasiswa sendiri penilaian formatif berguna untuk melihat seberapa jauh dia menguasai tujuan yang telah dirumuskan atau materi mana yang belum dikuasai
  3. Tes sumatif dapat digunakan pada ulangan umum yang biasanya dilaksanakan pada akhir catur wulan atau semester. Dari tes sumatif inilah prestasi belajar siswa diketahui. Dalam penelitian ini evaluasi yang digunakan adalah dalam jenis yang di titik beratkan pada evaluasi belajar siswa di sekolah yang dilaksanakan oleh guru untuk mengetahui prestasi belajar siswa. Dilihat dari waktu pelaksanaannya penilaian sumatif dilakukan diakhir suatu program (catur wulan atau semester); identik dengan ujian akhir semester untuk perguruan tinggi. Informasi yang diperoleh dari tes sumatif, digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan akhir atau kelulusan siswa dalam mengikuti suatu program.

Dilihat dari cara siswa melakukannya, maka tes dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk:
1.       Tes/ujian tertulis
Tes atau ujian tertulis biasanya dilakukan secara kelompok dengan mengambil tempat di suatu ruangan. Pada tes atau ujian yang kurang bersifat formal, misalnya ujian tengah semester (UTS) atau ujian akhis semester (UAS), maka pelaksanaan tes dilakukan oleh guru masing-masing bidang studi. Dalam bentuk ini, guru yang bersangkutan berperan sebagai perencana, pelaksana, pengawas, korektor, pengolah hasil, dan sekaligus sebagai penentu hasil bagi siswa. Pada tes yang lebih formal, seperti UMPTN, seleksi calon karya siswa, pekerjaan pekerjaan tadi dilakukan oleh panitia yang ditunjuk secara resmi oleh lembaga.
2.       Tes/Ujian Lisan
Bentuk ini digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar dalam bentuk kemampuan mengemukakan ide, pendapat atau gagasan secara lisan. Bagi lembaga yang menyiapkan siswa untuk berhubungan dengan orang lain (misalnya pendidikan), maka tes atau ujian bentuk ini mempunyai kedudukan yang penting. Untuk pelaksanaan tes bentuk ini alat yang diperlukan adalah panduan yang berisi pokok-pokok persoalan yang akan ditanyakan. Bentuk soal atau pertanyaannya biasa digunakan bentuk essai.
3.       Tes Perbuatan
Bentuk ini lebih dikenal dengan sebutan ujian praktik. Tes bentuk ini dapat digunakan untuk mengevaluasi proses penyelesaian suatu pekerjaan, keterampilan dan ketepatan menyelesaikan pekerjaan, kecepatan dan kemampuan merencanakan pekerjaan, dan mengidentifikasikan suatu piranti. Yang dievaluasi dengan tes adalah prosesnya, tetapi produknya juga seringkali ikut dievaluasi sehingga mungkin paduan keduanya. Alat yang dipergunakan adalah Lembar Pengamatan.

Menurut bentuk soalnya, secara umum tes dapat diklasifikasikan ke dalam soal/tes bentuk uraian (essay test) dan soal/tes bentuk objektif (objective test). Kedua bentuk ini dapat dipilah lagi ke dalam berbagai tipe. Butir soal bentuk uraian dapat diklasifikasikan ke dalam dua tipe yaitu tes uraian terbatas (restricted essay) dan tes uraian bebas (extended essay). Butir soal bentuk objektif dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu tipe soal benar-salah (true-false), pilihan ganda (multiple choice) dan tipe soal menjodohkan (matching choice).

4.       Prosedur Pengembangan Asesmen Prestasi Belajar
            Pengembangan tes hasil belajar dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) pengembangan spesifikasi tes, (2) penulisan soal, (3) penelaahan soal, (4) pengujian butir-butir soal secara empiris, (5) administrasi tes bentuk akhir untuk tujuan pembakuan (Spector, 1992:8 dan Sumadi, S. 1997:2). Depdiknas (1999:23) dan Brennan (2006:17) mendeskripsikan langkah-langkah umum pengembangan tes sebagai berikut: (1) penentuan tujuan tes, (2) penyusunan kisi-kisi tes, (3) penulisan soal, (4) penelaahan soal, (5) uji coba soal termasuk analisisnya, (6) perakitan soal menjadi perangkat tes, (7) penyajian tes, (8) skoring, (9) pelaporan hasil tes , dan (10) pemanfaatan hasil tes.

1.       Penentuan Tujuan Tes
Langkah pertama yang harus dirumuskan adalah tujuan, untuk apa tes itu dilakukan. Secara umum penyelenggaraan tes dalam kaitnnya dengan PBM, tes dapat ditujukan untuk:
·         Mengukur efektifitas PBM (tes formatif)
·         Mengukur tingkat keberhasilan belajar, dalam arti mengukur penguasaan materipelajaran oleh siswa (tes sumatif)
·         Mengidentifikasi kesulitan belajar siswa (tes diagnostik)
·         Menyeleksi calon-calon siswa untuk suatu program tertentu (seleksi atau penempatan).
Sebelum pelaksanaan tujuan tersebut harus jelas yang mana, sehingga dapat memberikan arah dan lingkup pengembangan tes selanjutnya.

2.        Penyusunan Kisi-kisi
Kisi-kisi dikenal pula dengan nama blue-print, layout, atau table of specification. Fungsi utamanya adalah sebagai pedoman dalam menulis dan merakit butir soal, karena kisi-kisi ini merupakan deskripsi mengenai ruang lingkup dan isi dari apa yang akan diujikan, serta memberikan perincian mengenai soal-soal yang diperlukan. Kisi-kisi dikembangkan berdasarkan tujuan penggunaan tes. Karena itu, penyusunan kisi-kisi merupakan langkah penting yang harus dilakukan sebelum menulis soal. Dengan kisikisi yang baik prinsip komprehensivitas dan refresentatifness akan terpenuhi.
Untuk mengisi format kisi-kisi diperlukan kejelian dalam memilih materi esensial yang ada dalam setiap pokok bahasan. Mungkin karena banyaknya, tidak semua materi akan diujikan (terutama dalam tes yang bersifat sumatif). Dalam memilih atau mentukan materi esensial perlu diperhatikan beberapa indikator berikut:
·         Urgensi materi atau pokok bahasan, yaitu materi yang secara teoritik mutlak harus dikuasai
·         Kontinuitas, yaitu materi atau pokok bahasan lanjutan yang merupakan pendalaman dari materi sebelumnya
·         Relevansi, yaitu materi atau pokok bahasan yang diperlukan untuk mempelajari materi lain (prasyarat/prerequisit bagi materi lain)
·         Keterpakaian, yaitu materi atau pokok bahasan yang memiliki nilai terapan tinggi dalam kehidupan sehari-hari

3.       Penulisan Soal
Penulisan soal merupakan langkah penting untuk dapat menghasilkan alat ukur atau tes yang baik. Penulisan soal adalah penjabaran indikator jenis dan tingkat perilaku yang hendak diukur menjadi pernyataan-pernyataan yang karakteristiknya sesuai dengan rincian dalam kisi-kisi. Dalam soal harus jelas apa yang dinyatakan dan jawaban apa yang dituntut. Mutu setiap soal akan menentukan mutu tes secara keseluruhan.

4.       Penelaahan soal (Review dan revisi soal)
Langkah ini merupakan hal yang penting untuk diperhatikan, karena seringkali kekurangan yang terdapat pada suatu soal tidak terlihat oleh penulis soal. Review dan revisi soal ini idealnya dilakukan oleh orang lain (bukan penulis soal, ahli lain, judger) dan terdiri dari satu tim penelaah yang terdiri dari ahli-ahli bidang studi, pengukuran, dan bahasa. Hal ini sulit untuk dilakukan karena berbagai keterbatasan (waktu, dana, dsb).
Sebagai jalan keluarnya, si penulis soal dapat melakukannya sendiri dengan mengambil waktu. Misalnya soal ditulis malam hari, besok siangnya si penulis dapat menelaah/membacanya sendiri dengan menggunakan kartu telaah. Telaahan mutu soal atau analisis secara kualitatif pada dasarnya adalah penelaahan butir soal ditinjau dari segi kaidah penulisan soal, yaitu menelaah soal dilihat dari segi (1) isi atau materi, (2) konstruksi, dan (3) bahasa.
Telaah isi soal. Suatu soal dapat ditelaah untuk mengetahui apakah isi atau materi soal yang dinyatakan sesuai dengan tujuan pertanyaan yang tersirat dalam indikator. Misalnya menelaah soal-soal IPS, apakah yang ditanyakan memang masalah IPS dan bukan hal lainnya. Atau soal matematika, mungkin bukan hanya menanyakan materi matematika tetapi juga menuntut pemahaman bahasa, karena soal tersebut menggunakan kalimat yang panjang. Telaah mengenai kesesuaian termaksud, dapat didasarkan pada buku acuan kurikulum.
Telaah Konstruksi soal. Soal yang baik harus memenuhi kaidah-kaidah penulisan soal. Pada soal pilihan ganda, misalnya, pokok soal jangan memberikan petunjuk kearah jawaban yang benar, pilihan jawaban harus homogen dan logis, gambar atau grafik harus berfungsi dan jelas keterkaitannya dengan soal, dan sebagainya.
Telaah Bahasa dan Budaya. Telaah dari segi bahasa adalah untuk melihat apakah bahasa dari suatu soal sudah jelas dan komunikatif, sehingga mudah dimengerti testee, dan tidak menimbulkan pengertian atau penafsiran yang berbeda. Dari segi budaya, perlu dilihat apakah suatu soal dapat menguntungkah kelompok budaya tertentu dan merugikan kelompok budaya lain (aspek bias).

5.       Uji coba Soal
Ujicoba pada prinsipnya bertujuan untuk mendapatkan data/informasi secara emprik mengenai sejauhmana sebuah soal dapat mengukur apa yang hendak diukur. Informasi empirik tersebut pada umumnya menyangkut segala hal yang dapat mempengaruhi validitas soal, seperti aspek keterbacaan soal, tingkat kesukaran soal, pola jawaban, daya pembeda, pengaruh budaya, dan sebagainya. Uji coba dilakukan terhadap testee yang memiliki kesamaan karakteristik dengan testee yang akan di tes sesungguhnya dengan tes tersebut. Data hasil uji coba dianalisis/digunakan untuk memperbaiki kualitas soal yang dianggap jelek.

6.       Perakitan Soal
Agar skor hasil tes dapat dipercaya, diperlukan soal yang banyak. Oleh karena itu dalam penyajiannya butir-butir soal yang banyak itu dirakit menjadi suatu alat ukur yang terpadu. Urutan nomor soal, pengelompokkan butir atau bentuk-bentuk soal (kalau terdapat beberapa bentuk soal), tata lay-out soal, akan memepengaruhi validitas skor-skor tes.



7.       Penggunaan (Penyajian Tes)
Setelah disusun (dirakit), naskah tes diperbanyak sejumlah peserta, tes sudah siap digunakan. Hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tes adalah waktu, petunjuk cara mengerjakan atau menjawab tes (langsung pada lembar soal atau pada lembaran khusus), dan ruangan/ tempat duduk

8.       Skoring
Pada prinsipnya skoring harus dilaksanakan secara objektif. Ini dapat dilihat dari hasil yang diperoleh, jika diperiksa ulang atau diperiksa oleh dua orang akan menghasilkan data/informasi yang berupa angka yang sama. Hal yang harus diperhatikan dalam skoring adalah kunci jawaban dan bobot soal. Setelah diperoleh informasi kuantitatif dari setiap peserta langkah berikut adalah mengolah skor kedalam angka baku tertentu (skala 5, skala 10 atau skala 100). Mengenai pengolahan skor ini akan dibahas lebih lanjut pada bagia khusus. Skoring dalam tes objektif adalah lebih mudah, karena setiap jawaban benar diberi skor 1 dan jika salah adalah 0. Dengan demikian skor yang diperoleh akan sama dengan jumlah jawaban yang benar. Untuk mempermudah pemeriksaan (skoring), dapat digunakan lembar jawaban yang dilubangi atau menggunakan plastik transparan.
Berbeda dengan tes uraian (lebih lagi uraian yang non-objektif), skoring lebih sulit. Karena rentang skor untuk setiap soal dapat berbeda, bahkan jawaban yang benar juga dapat mempunyai rentang yang berbeda, subjekitifitas akan mempengaruhi skor yang diperoleh. Untuk mengurangi subjetifitas dan meningkatkan reliabilitas (keajegan) penskoran, dalam memeriksa sual uraian perlu diperhatikan sara-saran berikut.
a)       Siapkan garis-garis besar jawaban yang dikehendaki terlebih dahulu sebelum penskoran dimulai
b)       Tetapkan, bagaimana menangani faktor-faktor yang tidak relevan dengan hasil belajar yang sedang diukur. Yang menonjol misalnya tulisan, ejaan, struktur kalimat, tanda baca, dan kerapihan. Penilai harus berusaha untuk tidak terpengaruh oleh faktorfaktor tersebut. Evaluasilah isinya. Namun bila hal itu akan diperhitungkan, pisahkanlah skornya dari isi jawaban.
c)       Gunakanlah metoda penskoran yang paling tepat. Ada dua metoda yang dapat digunakan, yaitu point method dan rating method. Dengan point method setiap jawaban dibandingkan dengan jawaban ideal yang telah ditetapkan dalam kunci, dan skor yang diberikan tergantung pada kualitas jawaban yang diberikan. Sedangkan dengan rating method, setiap jawaban testi ditetapkan dalam salah satu kelompok yang sudah dipilah-pilah sesuai dengan kualitas jawaban. Jadi kalau suatu soal akan diberi skor maksimum 4 maka buatlah jawaban kedalam 5 kelompok. Kelompok yang terbaik mendapat skor 4 dan yang terjelek 0.
d)       Evaluasilah semua jawaban terhadap satu pertanyaan sebelum pindah ke jawaban berikutnya.Gunakan whole method daripada sparated method.
e)       Evaluasilah setiap jawaban testi tanpa melihat nama atau identitasnya.
f)         Lakukanlah pemeriksaan oleh lebih dari satu orang.

9.       Pelaporan Hasil tes
Setelah selesai diolah langkah berikutnya adalah melaporkan hasil kepada peserta, kepada orangtua, ke lembaga (bagian akademik) atau ke pihak lain yang berkepentingan. Masing-masing pihak yang berkepentingan akan menggunakan hasil tes itu sesuai tujuannya.

10.    Pemanfaatan Hasil Tes
Hasil pengukuran yang diperoleh melalui hasil pengetesan, dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Dengan menggunakan kriteria tertentu, hasil tes dapat ditafsirkan. Penggunaan hasil dapat ditujukan untuk memperbaiki atau menyempurnakan KBM, menentukan kelulusan, atau untuk mengambil keputusan dan kebijakan lain yang relevan.


5.       Prosedur Pelaksanaan Asesmen Prestasi Belajar
Prosedur yang dimaksud adalah langkah-langkah pokok yang harus ditempuh dalam kegiatan evaluasi, yaitu : (1) membuat perencanaan, yang meliputi : menyusun kisi-kisi dan uji-coba, (2) mengumpulkan data, (3) mengolah data, (4) menafsirkan data, dan (5) menyusun laporan
1.              Membuat Perencanaan: Menyusun Kisi-kisi (Layout/Blue-Print/Table of  Specification)
Kisi-kisi adalah suatu format yang berisi komponen identitas dan komponen matriks untuk memetakan soal dari berbagai topik/ satuan bahasan sesuai dengan kompetensi dasarnya masing-masing. Fungsi adalah sebagai pedoman bagi guru untuk membuat soal menjadi tes. Adapun syarat-syarat kisi-kisi yang baik adalah:
a.    Mewakili isi kurikulum yang akan diujikan.
b.    Komponen-komponennya rinci, jelas, dan mudah dipahami.
c.     Soal-soalnya dapat dibuat sesuai dengan indicator dan bentuk soal yang ditetapkan.
2.              Mengumpulkan data
Data yang diperlukan disini adalah data-data yang dikumpulkan dari data tindakan (non verbal) dan data verbal. Data tindakan atau perilaku berupa aktivitas fisik guru dan murid selama pembelajaran berlangsung. Data verbal berupa hasil penilaian yang dilakukan oleh praktisi. Sumber data primer (data tindakan) diambil dari data empiris (fakta) kegiatan guru dalam pembelajaran yang mengaplikasikan asesmen dalam pembelajaran. Data tersebut dikumpulkan dari pelaksanaan pembelajaran, yang dimulai dari semester 1, dan didapat dari guru yang mengajar sebagai sumber data sekunder sekaligus mitra penelitian. Instrumen pengumpulan data digunakan : (a) catatan lapangan, observasi dan perekaman, (b) wawancara dan (c) evaluasi.
3.              Mengolah Data
Pengolahan data dalam assesmen prestasi belajar dapat dibagi menjadi 2,
Dalam data non verbal dapat menggunakan:
-          Catatan yang terdapat dalam instrumen pengumpulan data, dimana peneliti melakukan seleksi dan pengkodean. Melalui seleksi, peneliti melakukan kodifikasi terhadap data tindakan dan verbal dengan memisah-kan data yang tidak relevan.
-          Dengan memanfaatkan hasil refleksi dan kodifikasi, dimana peneliti menata data dan satuan-satuan peristiwa, satuan makna, pola atau kecenderungan. Deskripsi data disajikan dalam kalimat-kalimat sederhana lugas, efektif sehingga mudah dipahami.
-          Analisis ditekankan pada pemberian penjelasan (a) mengapa suatu tindakan dapat atau tidak mempengaruhi subjek terteliti atau situasi kelas pada umumnya, dan (b) bagaimana suatu aspek tindakan berpengaruh pada yang lain. Hasil analisis level ini bermanfaat untuk merefleksi tindakan selanjutnya. Keseluruhan hasil analisis selanjutnya disimpulkan. Penarikan kesimpulan dilaksanakan dengan lugas, tetapi terbuka (Miles dan Huberman, 1992).
Sedangkan untuk data verbal dapat menggunakan Statistika, yang terdiri atas:
1.         Statistika deskriptif adalah metode-metode yang berkaitan dengan pengumpulan dan penyajian suatu gugus data sehingga memberikan informasi yang berguna, dimana pengolahan dan penafsiran data kuantitatif dengan menghitung besaran-besaran yang dapat menunjukkan karakteristik kumpulan data sehingga akan diperoleh gambaran yang jelas mengenai data tersebut dan mudah di intepretasikan.
Statistika deskriptif hanya memberikan informasi mengenai data yang dipunyai dan sama sekali tidak menarik inferensia atau kesimpulan apapun tentang gugus induknya yang lebih besar. Contoh statistika deskriptif yang sering muncul adalah, tabel, diagram, grafik, dan besaran-besaran lain di majalah dan koran-koran.  Dengan Statistika deskriptif, kumpulan data yang diperoleh akan tersaji dengan ringkas dan rapi serta dapat memberikan informasi inti dari kumpulan data yang ada. Informasi yang dapat diperoleh dari statistika deskriptif ini antara lain ukuran pemusatan data, ukuran penyebaran data, serta kecenderungan suatu gugus data.
Distribusi Frekuensi
Adalah susunan perolehan angka dalam tes di satu kelas dengan menempatkan angka terkecil diatas dan diikuti angka perolehan tes yang lebih besar kemudian dicantumkan banyaknya pemilik angka masing-masing. Biasanya lambang macam angka (X) dan banyaknya mahasiswa (f) serta jumlah seluruh frekuensi (N) , ada beberapa yang dapat dihitung, yakni :
1.       frekuensi kumulatif (fk) = f baris fk (ditambah) jumlah f sebelum baris fk
2.       porporsi (p) = f pada baris X yang akan dihitung p nya (dibagi) N
3.       proporsi kumulatif (pk) = fk pada baris x yang akan dihitung pk nya (dibagi) N
Persentil dan Jenjang Persentil
Secara simbolik dapat dilambangkan :
1.       Persentil = Pn yang artinya angka (x) yang n% dari seluruh distribusi berada dibawahnya.
2.       Jenjang persnetil = PR dengan pengertian jenjang persentil adalah besarnya persentase frekuensi yang lebih kecil daripada angka tersebut.


Menghitung Persentil
1.       Bila pada titik persntil tidak ada angka kembar (hanya terdapat 1 frekuensi). Untuk mengetahui nilai berapa saja yang termasuk dalam persentil ke 88,50% dan persentase ini jika dinyatakan dalam proporsi (p) = 0,885 kemudian dicocokan dengan tabel di angka (X) berapakah letak (p) sebesar 0,885. Jika sudah diketemkan maka :
P88,50 = {X baris p (+) x sebelum baris p} / 2
2.       Bila pada titik persentil terdapat angka kembar (terdapat lebih dari 1 frekuensi)
Misalkan untuk mencari nilai berapa saja yang termasuk ke dalam P75 yang bila dinyatakan dalam proporsi (p) = 0,75. Maka penghitungannya :
P75 = batas bawah x baris p (+) hasil pengurangan p baris X dengan p pada baris X sebelumnya.
Menghitung Jenjang Persentil
Misalkan kita ingin menentukan PR bagi angka (X) = 34 maka :
PR (x=34) = pk batas bawah 34 atau pk pada baris angka sebelum 34 + ½ p baris 34
Mengukur Tendensi Sentral
                Adalah suatu teknik dalam pengolahan data evaluasi belajar di kelas yang didasarkan prestasi di kelas. Macamnya:
1.       Mode atau modus adalah angka yang memiliki jumlah frekuensi paling banyak.
2.       Median = P50 maka kita temukan dulu pk yang lebih besar dari 0,50 dalam tabel. Misalkan dalam tabel harga pk yang lebih besar dari 0,50 adalah 0,516 dimiliki oleh angka (X) = 25.
Median = batas bawah 25 + (0,50 - batas bawah pk yang dimiliki angka 25)
3.       Mean adalah jumlah semua angka dibagi oleh banyaknya angka yang dijumlahkan. Jadi kita kalikan dulu setiap angka (X) dengan tingkat frekuensinya masing-masing kemudian kita jumlahkan seluruh hasil perkalian antara X dan F, hasil jumlah tersebut lantas dibagi dengan jumlah frekuensi murni keseluruhan.
Mean = ∑fX / N

2.       Statistika inferensial berkenaan dengan permodelan data dan melakukan pengambilan keputusan berdasarkan analisis data, misalnya melakukan pengujian hipotesis, melakukan estimasi pengamatan masa mendatang (estimasi atau prediksi), membuat permodelan hubungan (korelasi, regresi, ANOVA, deret waktu), dan sebagainya, pengolahan data lebih lanjut dengan penggunaan teknik-teknik analisis untuk mengestimasi besaran populasi berdasarkan data.
4.         Menafsirkan data
Selain menggunakan tabel, data juga dapat disajikan dalam bentuk diagram batang atau diagram lingkaran.
1.        Menafsirkan Data Berbentuk Diagram Batang
Perhatikan diagram batang yang menunjukkan hasil ulangan Matematika dari 30 orang siswa.


Dari diagram tersebut, dapat dilihat bahwa:
a. Siswa yang mendapat nilai 5 ada 3 orang.
b. Siswa yang mendapat nilai 6 ada 7 orang.
c. Siswa yang mendapat nilai 7 ada 9 orang.
d. Siswa yang mendapat nilai 8 ada 7 orang.
e. Siswa yang mendapat nilai 9 ada 4 orang.
Dari tabel tersebut terlihat juga bahwa jumlah siswa yang mendapat nilai 6 dan 8 adalah sama, yaitu 7 siswa. Nilai berapakah yang paling banyak diperoleh siswa? Ada berapa siswa yang mendapat nilai paling tinggi?
5.       Menyusun Laporan
Setelah tes dilaksanakan dan dilakukan skoring maka hasil pengetesan perlu dilakukan pelaporan baik kepada siswa, orang tua, dan pihak-pihak yang berkepentingan sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban guru dalam penilaian hasil belajar siswa.

6.       Penggunaan asesmen Prestasi Belajar dalam pelayanan BK
Assesmen prestasi belajar adalah hal yang sangat penting bagi konseling. Kemampuan kerja seorang konselor dalam melakukan assesmen sangat penting dan mendasar bagi praktik konseling secara umum. Data hasil assesmen yang memadai dapat menjadi dasar melakukan tindakan edukatif yang tepat, sehingga tindakan edukatif tersebut efektif dalam mencapai tujuan, termasuk penempatan dalam bidang belajar yang tepat (educational placement), baik dalam fungsi kuratif, maupun perseveratif maupun pengembangan dan pencegahan.
Adapun tujuannya adalah agar diperoleh gambaran relatif utuh mengenai peserta didik sehingga gejala positif dan negatif mengindikasikan adanya potensi dan masalah dapat dirumuskan dan akar permasalahannya dapat ditemukan. Selain itu data yang menggambarkan keadaan peserta didik yang lengkap dijadikan dasar merancang program bimbingan yang sesuai kebutuhan peserta didik. Pemecahan masalah adalah tindakan lanjutan dari assesmen, apabila assesmen berhasil mengungkapmasalah individu.
Seperti secara umum dijelaskan dalam prosedur pelaksanaan assesmen prestasi belajar, di dalam ranah BK beberapa aktivitas yang dilakukan adalah:
a.       Penghimpunan atau menggali data dengan metode dan alat tertentu. Dengan menghimpun data berarti konselor menggungkapkan gejala-gejala yang tampak di permukaan, baik gejala positif maupun negatif
b.       Analisis data dan penafsiran. Konselor melalui analisis berusaha menjawab pertanyaan mengapa gejala tersebut muncul, dari mana sumber paling mendasar gejala tersebut, siapa saja yang menyebabkan adanya masalah tersebut. Konselor mencari kaitan berbagai gejala untuk membuat pemetaan gejala masalah dan penyebabnya.
c.        Menyimpan data. Data yang digali dan dianalissi perlu diadministrasi (dicatat) dan disimpan di tempat yang dpat dijangkau sekaligus terjaga kerahasiannya agar data dapat berdaya guna untuk membatu peserta didik.
d.       Memakai data sebagai dasar melakukan intervensi bimbingan dan konseling. Intervensi atau tindakan edukatif yang dilakukan oleh konselor berdasarkan data meliputi semua bentuk bimbingan dalam fungsi kuratif, developmental, preventif, pemeliharaan dalam program.
7.       Etika penggunaan asesmen Prestasi Belajar dalam pelayanan BK
Kegiatan pengujian berperan sangat besar dalam sistem pendidikan dan sistem persekolahan. Karena pentingnya itu maka setiap tindakan pengujian selalu menimbulkan kritik yang tajam dari masyarakat. Kritik tersebut tidak jarang datang dari para ahli, di samping datang dari orang tua yang secara langsung atau tidak langsung berkepentingan terhadap pengujian. Di antara beberapa kritik tersebut ada beberapa yang harus menjadi perhatian sungguh sunggup oleh para praktisi dan ahli tes, pengukuran dan evaluasi. Kritik tersebut antara lain:
·         Tes senantiasa akan mencampuri rahasia pribadi peserta tes. Setiap tes berusaha mengetahui pengetahuan dan kemampuan peserta tes, yang dapat berarti membuka kelemahan dan kekuatan pribadi seseorang. Di dalam masyarakat yang sangat melindungi akan hak dan rahasia pribadi, masalah ini selalu akan menjadi gugatan atau keluhan.
·         Tes selalu menimbulkan rasa cemas peserta tes. Memang sampai batas tertentu rasa cemas itu dibutuhkan untuk dapat mencapai prestasi terbaik, tetapi tes acapkali menimbulkan rasa cemas yang tidak perlu, yang justru dapat menghambat seseorang mampu mendemonstrasikan kemampuan terbaiknya.
·         Tes acapkali justru menghukum peserta didik yang kreatif. Karena tes itu selalu menuntut jawaban yang sudah ditentukan pola dan isinya, maka tentu saja hal itu tidak memberi ruang gerak yang cukup bagi anak yang kreatif.
d. tes selalu terikat pad kebudayaan tertentu. Tidak ada tes hasil belajar yang bebas budaya. Karena itu kemampuan peserta tes untuk memberi jawaban terbaik turut ditentukan oleh kebudayaan penyusun tes.
·         Tes hanya mengukur hasil belajar yang sederhana dan yang remeh. Hampir tidak pernah ada tes hasil belajar yang mampu mengungkapkan tingkah laku peserta didik secara menyeluruh, yang justru menjadi tujuan utama pendidikan formal apapun.
Karena banyak kritik yang tajam dari masyarakat terhadap tes hasil pendidikan, maka para pendidik harus dapat melakukan tes dengan penuh tanggung jawab. Untuk itu perlu ditegakan beberapa etika tes, yang membedakan tes yang etik dan tindakan yang tidak etik dalam pelaksanaan tes secara professional.
Praktek tes hasil belajar yang etik terutama mencangkup empat hal utama:
1.       Kerahasiaan Hasil Tes
Setiap pendidik dan pengajar wajib melindungi kerahasiakan hasil tes, baik secara hasil individual maupun secara kelompok. Hasil tes hanya dapat disampaikan kepada orang lain bila:
·         Ada izin dari peserta didik yang bersangkutan atau orang yang bertanggung jawab terhadap peserta didik (bagi peserta didik yang belum dewasa). Jadi dengan demikian praktek menempelkan hasil tes di papan pengumuman dengan identitas jelas peserta tes, merupakan pelanggaran terhadap etika ini.
·         Ada tanda-tanda yang jelas terhadap hasil tes tersebut menunjukan gejala yang membahayakan dirinya atau membahayakan kepentingan orang lain.
·         Bila penyampaian hasil tes tersebut kepada orang lain jelas-jelas menguntungkan peserta tes
2.       Keamanan tes
Tes merupakan alat pengukur yang hanya dapat digunakan secara professional. Dengan demikian tes tidak dapat digunakan diluar batas-batas yang ditentukan oleh profesionalisme pekerjaan guru. Dengan demikian maka setiap pendidik harus dapat menjamin keamanan tes, baik sebelum maupun sesudah digunakan.
3.       Interpretasi Hasil Tes
Hal yang paling mengandung kemunkinan penyalahgunaan tes adalah penginterpretasian hasil tes secara salah. Karena itu maka interpretasi hasil tes harus diikuti tanggung jawab professional. Bila hasil tes diinterpretasi secara tidak patut, daalam jangka panjang akan dapat membahayakan kehidupan peserta tes.
4.       Penggunaan tes
Tes hasil belajar haruslah digunakan secara patut. Bila tes hasil belajar tertentu merupakan tes baku, maka tes tersebut harus digunakan di bawah ketentuan yang berlaku bagi pelaksanaan tes baku tersebut harus digunakan dibawah ketentuan yang berlaku bagi pelaksanaan tes baku tersebut. Tak ada tes baku yang boleh digunakan diluar prosedur yang ditapakan oleh tes itu sendiri.
Disamping beberapa prinsip seperti yang diuraikan di atas, ada beberapa petunjuk praktis yang hendaknya ditaati oleh pendidik dalam tes:
a)       Pelaksaan tes hendaknya diberi tahu terlebih dahulu kepada peserta tes. Hanya karena pertimbangan tertentu, yang sangat penting yang dapat membenarkan pendidik tidak memberi tahu terlebih dahulu kepada peserta tes tentang tes yang akan dilaksanakan. Bahkan kisi-kisi tes sebaiknya diberi tahu kepada peserta tes sebelum melaksanakan tes.
b)       Sebaiknya pendidik menjelaskan cara menjawab yang dituntut dalam suatu tes. Petunjuk menjawab tes bukanlah sesuatu yang harus dirahasiakan. Petunjuk yang bersifat menjebak harus dihindari.
c)       Sebaiknya pendidik justru memotivasi peserta tes mengerjakan tesnya secara baik. Jangan sampai seorang pendidik justru menakut-nakuti peserta didik.
d)       Bila pendidik menggunakan tes baku, maka hendaknya pendidik tersebut bertanggung jawab penuh terhadap keamanan tes tersebut. Tidak ada tes baku yang boleh digunakan dalam latihan.
e)       Seorang pendidik dapat menggunakan hasil tes untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan peserta tes, asalkan hal tersebut tetap menjadi rahasia peserta tes dan pendidik yang bersangkutan.
f)        Guru hendaknya menghindari diri dari keterlibatan dalam bimbingan tes yang dapat diperkirakan akan menggangu proses hasil belajar peserta didik. Hal ini menjadi penting bila guru yang bersangkutan justru terlibat dalam penyusunan butir tes yang digunakan.
g)       Adalah tidak etik bila seorang guru mengembangkan butir soal atau perangkat soal yang paralel dengan suatu tes baku dengan maksud untuk digunakan dalam bimbingan tes.
h)       Adalah tidak etik untuk mendiskriminasikan peserta didik tertentu atau kelompok tertentu yang boleh mengikuti suatu tes atau melarang mengikuti tes.
i)         Adalah tidak etik untuk memperpanjang waktu atau menyingkat waktu yang telah ditentukan oleh petunjuk tes.
j)        Guru tidak boleh meningkatkan rasa cemas peserta tes dengan penjelasan yang tidak perlu.
Secara lebih mandasar etika tes ini diatur dalam standar tes yang dikembangkan oleh organisasi profesional seperi American Psycological Association (APA), American Educational Research Education (AERA), dan National Council on Measuremant in Educaton (NCME). Terakhir ketiga organiasi professional ini membentuk panitia bersama untuk menyusun standar dalam tes. Mereka menghasilkan buku yang dinamakan “Standard for Educational and Psychological Testing” (1985).
Dalam standar ini dicantumkan berbagai tolak ukur, seperti:
·         Technical Standards for Test Construction and Evaluation;
·         Professional Standards for Test Use;
·         Standards for Particular Application; dan
·         Standards for Administrative Procedures.

Semua standar ini mencangkup dua aspek utama, yaitu tes hasil belajar dan tes psikologi. Pelanggaran terhadap standar ini merupakan pelanggaran terhadap etika profesi, yang dalam hal tertentu dapat merupaakan pelanggaran atau kejahatan.

8.       Kelemahan dan kelebihan asesmen Prestasi Belajar
Kelemahan-kelemahan
·         Objek tes prestasi adalah aspek mental psikologis atau atirbut non fisik sehingga tidak menghasilkan pengukuran yang akurat sekali karena apa yang dapat dicapai tes prestasi adalah semacam estimasi mengenai posisi relatif atau jenjang urutan individu menurut tingkat kemampuannya. Secara umum, hasil tes prestasi merupakan estimasi posisi relatif menurut tingkat kemampuan individu pada suatu tugas.
·         kita tidak dapat menggunakan nilai nol sebagai nilai mutlak seperti pada halnya pada pengukuran berat misalnya karena nilai tersebut bersifat nisbi dalam tes prestasi. Individu yang mendapatkan nilai nol dalam tesnya tidak berarti ia sama sekali tidak mengetahui materi yang diujikan seperti halnya berat nol kilogram yang berarti tidak ada berat sama sekali.
·         Skor tes yang diperoleh individu hanya memberikan skor relatif dalam kelompok individu tersebut ataupun dibandingkan dengan tes sebelumnya pada materi yang sama. Skor tersebut belum dapat digunakan sebagai indikator penguasaan materi yang sesungguhnya dicapai oleh individu. Ini terjadi karena: pertama, mungkin saja konsep tentang materi yang bersangkutan belum dirumuskan secara baik dan operasional. Kedua, cakupan materi yang harus dikuasai belum spesifik. Ketiga, item yang disajikan belum cukup menyeluruh dan mewakili seluruh kawasan ukur dan terakhir, item hanya mencakup tingkat kompetensi yang rendah saja.
Kelebihan
·         Tes prestasi belajar dapat mengungkap keberhasilan seseorang dalam belajar, dimana dapat mengungkap performansi maksimal peserta didik dalam menguasai bahan-bahan atau materi yang telah diajarkan.
·         Tes prestasi belajar dapat digunakan untuk klasifikasi individu ke dalam bidang atau jurusan yang sesuai dengan kemampuan yang telah diperlihatkannya pada hasil belajar yang telah lalu.
·         Tes prestasi belajar dapat digunakan untuk mendiagnosis kesukaran-kesukaran dalam belajar, menditeksi kelemahan-kelemahan siswa.

No comments:

Post a Comment