Friday, June 24, 2011

Mendesain Dan Mengimplementasikan Program BK Karier Komprehensif Untuk Siswa K – 12 Sesuai Kerangka Model Nasional ASCA


Terdapat beberapa periode kritis dalam proses perkembangan karier manusia. Namun, bila kita ingin menanamkan dasar awal untuk proses perkembangan karier tersebut selanjutnya, kita harus memanfaatkan tahun-tahun saat para siswa masih berada di bangku sekolah. Setali tiga uang, Asosiasi Konselor Sekolah Amerika (American School Counselor Association) (ASCA, 2003) memberikan perhatian lebih terhadap hal ini dengan menerbitkan ASCA National Model: A Framework for School Counseling Program (Model Nasional ASCA: Kerangka Program Bimbingan dan Konseling Sekolah) yang disingkat ANM. ANM merupakan sebuah kerangka developmental yang menekankan pada pentingnya perkembangan karier, akademik, dan pribadi-sosial. Di dalam ANM terdapat panduan pengembangan program BK karier komprehensif, daftar kompetensi yang harus dihasilkan oleh program tersebut, serta informasi penting lainnya. Bab ini akan membahas dasar-dasar desain dan implementasi program BK karier untuk K – 12 berdasarkan kerangka ANM tersebut. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa pengembangan karier merupakan bagian integral dari program BK di sekolah, dan bukan hal yang berdiri sendiri.

A.      LATAR BELAKANG HISTORIS
Perkembangan karier merupakan proses sepanjang hayat (Ginzberg, Ginzburg, Axelrad, & Herma, 1951; Super, 1957) yang aspek-aspek krusialnya terjadi selama individu masih berada di usia sekolah. Selama empat dekade yang lalu, konsep pendidikan diarahkan untuk mendorong perkembangan karier di sekolah dasar, sekolah menengah, dan sekolah tinggi. Yang paling ambisius di antaranya adalah Gerakan Pendidikan Karier (career education movement) yang digagas pada masa kepemimpinan Nixon dengan Sekjend Pendidikan Sidney Marland. Beberapa pendidik konselor terkemuka, seperti K. B. Hoyt (2005), juga dilibatkan dalam pergerakan ini. Gerakan Pendidikan Karier berasumsi bahwa program-program karier yang luas akan membantu anak-anak dan orang dewasa untuk memperluas horizon kariernya, mempelajari keterampilan membuat keputusan, memiliki keterampilan vokasional, dan akhirnya akan mengembangkan apresiasi terhadap dirinya sendiri. Hoyt (1977) mendefinisikan pendidikan karier sebagai:
“Pendidikan karier adalah sebuah upaya yang bertujuan untuk memfokuskan kembali pendidikan di Amerika dan aksi masyarakat luas dengan cara-cara yang bertujuan untuk membantu individu memperoleh dan memanfaatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang penting untuk membuat aktivitas bekerja menjadi suatu hal yang bermakna, produktif dan memberikan kepuasan hidup”.

Marland (1974) menjelaskan delapan elemen pendidikan karier yang merupakan hasil identifikasi Pusat Riset Pendidikan Vokasional di Universitas Negeri Ohio:
1.      Kesadaran karier (Career Awareness)–pengetahuan tentang spektrum total karier.
2.      Kesadaran diri (Self-Awareness)–pengetahuan tentang komponen yang menyusun diri.
3.      Appresiasi (Appreciations), Sikap (Attitudes)–peran-peran dalam kehidupan; perasaan-perasaan terhadap diri dan orang lain berkaitan dengan masyarakat dan ekonomi.
4.      Keterampilan membuat keputusan (Decision-Making-Skills)–mengaplikasikan informasi dengan proses yang rasional untuk memperoleh keputusan.
5.      Kesadaran ekonomis (Economic Awareness)–persepsi terhadap proses produksi, distribusi dan konsumsi.
6.      Kesadaran akan keterampilan (Skill Awareness) dan kompetensi awal (Beginning Competence)–keterampilan-keterampilan yang dengannya manusia dapat memperluas perilaku-perilakunya.
7.      Keterampilan mendapatkan kerja (Employability Skills)–keterampilan sosial dan komunikasi yang tepat untuk penempatan kerja.
8.      Kesadaran pendidikan (Educational Awareness)–persepsi tentang hubungan antara pendidikan dan peran-peran dalam kehidupan (hal. 100-102)

Pada pertengahan 1980-an, Gerakan Pendidikan Kembali ke Asal (back-to-basics educational movement) menyapu bersih sisa-sisa Gerakan Pendidikan Karier dari sekolah-sekolah di Amerika Serikat. Para pendukung Gerakan Kembali ke Asal secara khusus mengkritik Pendidikan Karier di sekolah dasar yang memfokuskan perhatian para siswa pada para pekerja, pada mengembangkan keterampilan dengan menggunakan alat dengan berpraktik langsung, dan pada karya wisata ke lokasi-lokasi pekerjaan. Aktivitas demikian, menurut Para pendukung Gerakan Kembali ke Asal, sangat menyita waktu dari pelajaran inti yang seharusnya dipelajari oleh siswa sekolah dasar. Namun, kegagalan Pendidikan Karier di sekolah dasar tidak semata-mata dapat dilihat dari kritik Gerakan Kembali ke Asal tersebut. Terdapat beberapa kesalahan desain dan implementasi pada program Gerakan Pendidikan Karier tersebut, di antaranya: (1) program tersebut dibiayai dengan dana eksternal sekolah tanpa menyiapkan dana internal jika sewaktu-waktu pendanaan eksternal tidak digelontorkan lagi; (2) program tersebut menambah beban kerja guru yang sebenarnya sudah kelebihan beban; (3) para orang tua yang berlatar belakang sosial ekonomi menengah mengasosiasikan secara negatif istilah pendidikan karier dengan pendidikan vokasional; di mana mereka beranggapan bahwa anak mereka tidak akan disiapkan untuk masuk perguruan tinggi; dan (4) kurangnya dukungan politik lokal dari para guru, orang tua, dan komunitas bisnis.
Namun bagaimanapun, pendidikan karier, khususnya ide bahwa pendidikan harus dihubungkan dengan karier, telah memberikan sumbangsih yang sangat besar. Pada 1989, National Occupational Information Coordinating Committee (Komite Nasional untuk Koordinasi Informasi Okupasional) (NOICC, 1989a, b, c, d) menerbitkan empat publikasi berisi panduan implementasi program pengembangan karier di sekolah dan institusi lain. Keempatnya kemudian disatukan dalam satu publikasi di tahun 1966 (Kobylarz, 1966). Pada tahun 1994, School to Work Opportunities Act (STW) disahkan oleh Kongres Amerika Serikat. Pengesahan tersebut mendorong sekolah-sekolah untuk mengembangkan program pendidikan, yang menghubungkan mata pelajaran di sekolah dengan pekerjaan, yang bertujuan untuk mengidentifikasi minat para siswa dan menstimulasi mereka untuk membuat perencanaan pendidikan dan karier. Salah satu hasil dari STW dan gerakan reformasi sekolah tersebut adalah adopsi empat bidang studi untuk siswa yang ingin lulus dari sekolah tinggi di North Carolina. Keempat bidang tersebut adalah okupasional, karier, tech-prep, dan college bound. Jadi walaupun para siswa diperkenankan berpindah bidang studi selama berada di sekolah tinggi di North Carolina, untuk dapat lulus, mereka harus menyelesaikan semua persyaratan kurikuler dari salah satu bidang studi tersebut.
Organisasi profesional lain yang terbaru, American School Counselor Association (ASCA), juga menerbitkan The National Standards for School Counseling Programs (Standar Nasional Program Bimbingan dan Konseling Sekolah) (Campbell & Dahir, 1997) yang menekankan pentingnya pengembangan kompetensi karier untuk para siswa dalam konteks program BK sekolah. Standar nasional tersebut memberikan sembilan standar yang berada di bawah tiga bidang: akademik, karier, dan pribadi-sosial. Standar untuk bidang karier di antaranya: (1) siswa dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mengeksplorasi dunia kerja dalam hubungannya dengan pemahaman diri, dan dan kemudian menggunakan pengetahuan ini untuk membuat keputusan karier; (2) Siswa dapat menggunakan strategi-strategi untuk mencapai pilihan dan kepuasan karier di masa depan; dan (3) siswa dapat mengembangkan pemahaman mengenai hubungan antara kualitas personal, pendidikan, dan dunia kerja. Standar-standar tersebut kemudian digunakan untuk mengidentifikasi kompetensi turunannya yang lebih spesifik.
Penerbitan The National Standards for School Counseling Programs merupakan pioner penerbitan lain yang lebih penting, yang salah satunya berdampak sangat besar bagi program BK karier untuk K – 12. Pada tahun 2003, ASCA menerbitkan “ASCA National Model: A Framework for School Counseling Programs” (Model Nasional ASCA: Sebuah Kerangka Program Bimbingan dan Konseling Sekolah) yang lazim disingkat ANM. Publikasi ini, selain berisi standar-standar nasional, juga memberikan penjelasan mengenai proses pengembangan program BK sekolah komprehensif.

B.       MODEL ASCA DAN PENGEMBANGAN KARIER
ANM berisi sejumlah elemen penting program BK sekolah yang berkualitas dan efektif (ASCA, 2003, hal. 3), berikut penjelasan singkat mengenai delivery mechanism (mekanisme penyampaian) yang dapat digunakan untuk menyampaikan program tersebut. Di dalamnya juga dicantumkan daftar kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sebagai hasil dari pelaksanaan program BK dimaksud.
Seperti bisa dilihat pada gambar 11.1, ANM terdiri dari empat komponen, yaitu: foundation (landasan), delivery systems (mekanisme penyampaian), accountability (akuntabilitas), dan management system (sistem manajemen). Foundation (landasan) berfungsi sebagai basis bagi mekanisme penyampaian dan sistem manajemen. Sebagaimana ditunjukkan oleh anak panah dalam gambar, foundation harus berisi landasan filosofis (statement of belief); misi (mission statement); dan standar nasional perkembangan akademik, karier, dan psibadi-sosial. Standar perkembangan karier sebenarnya tidak benar-benar orisinal dari ASCA. Campbell dan Dahir (1997) mengatakan bahwa standar perkembangan karier tersebut berasal dari standar-standar yang dikembangkan oleh NOICC (1989a, b, c, d) dan sumber-sumber lainnya.

Gambar 11.1    Skema Model Nasional ASCA
Delivery system (mekanisme penyampaian) adalah strategi-strategi yang digunakan oleh konselor sekolah untuk memberikan layanan pada para siswa dan pihak lain. Elemen-elemen dalam delivery system diadopsi langsung dari model program bimbingan dan konseling komprehensif (Gysbers & Henderson, 2000). Kurikulum bimbingan terdiri dari: bimbingan kelas, aktivitas kelompok terstruktur, pendidikan orang tua, dan materi di kelas (classroom unit) yang diajarkan oleh para guru. Itu semua adalah strategi utama yang digunakan untuk menyampaikan program BK karier, dengan mengecualikan perencanaan individual. Perencanaan individual adalah proses pemberian nasehat yang didahului dengan melakukan asesmen. Hasil asesmen tersebut akan menjadi dasar untuk pemberian nasehat dan pengembangan rencana pendidikan dan karier jangka pendek dan jangka panjang siswa.
Layanan responsif terdiri dari: konsultasi guru dan orang tua, referal, konseling, respon atas krisis, dan aktivitas fasilitasi teman sebaya. Konseling karier dan pemberian informasi juga berada di bawah rubrik layanan responsif ini. Adapun dukungan sistem dapat berupa: kolaborasi dengan para stakeholder di dalam dan di luar sekolah, manajemen program BK sekolah, dan pengembangan profesional. Kolaborasi dengan lembaga bisnis dan para agen seperti Employment Security akan membantu pelaksanaan program internship dan penempatan kerja.
Komponen program yang ketiga adalah akuntabilitas. Akuntabilitas terdiri dari: (1) evaluasi atas efektivitas delivery system dan personel, dan (2) diseminasi/penyebaran data dalam bentuk laporan hasil (laporan pertanggungjawaban) untuk mendukung efektivitas program.
Komponen keempat adalah sistem manajemen. Sistem manajemen berisi kapan, kenapa, dan dibawah tanggung jawab siapakah sebuah program dijalankan. “Kapan” merepresentasikan jadwal kegiatan dan rencana aksi, “kenapa” merepresentasikan alasan berbasis data mengapa sebuah program perlu dilaksanakan, sedangkan “otoritas” menyangkut persetujuan para pimpinan sekolah dan dewan penasehat terhadap program.
Sebagaimana sudah disebutkan, konten program BK sekolah pertamakali muncul dalam The National Standards for School Counseling Programs (Standar Nasional Program BK Sekolah) tahun 1997 (Campbell & Dahir, 1997). Sembilan standar program BK sekolah tersebut berhubungan dengan tiga area konten. Standar-standar ini disebutkan dalam ANM; di situ tercantum kompetensi-kompetensi yang perlu dikembangkan berikut indikator-indikator pencapaiannya. Standar-standar untuk program BK karier dan indikatornya tampak pada tabel 11.1. Tabel versi modifikasi oleh ASCA ini dapat digunakan untuk merencanakan kurikulum bimbingan.

Tabel 11.1    Standar Nasional ASCA: Tabel Kurikulum Bimbingan yang Dimodifikasi

Grade
Level (s)
Dates
Activity
Materials
Person
Responsible
CAREER DEVELOPMENT DOMAIN
STANDARD A: Students will acquire the skills to investigate the world of work in relation to knowledge of self and to make informed career decisions.

Competency A:1: Develop Career Awareness





C:A1.1 Develop skills to locate, evaluate, and interpret career information





C:A1.2  Learn about the variety of traditional and nontraditional occupations





C:A1.3  Develop an awareness of personal abilities, skills, interests, and motivations





C:A1.4  Learn how to interact and work cooperatively in teams





C:A1.5  Learn to make decisions





C:A1.6  Learn how to set goals





C:A1.7  Understand the importance of planning





C:A1.8  Pursue and develop competency in areas of interest





C:A1.9  Develop hobbies and vocational interests





C:A1.10  Balance between work and leisure time







Competency A:2: Develop Employment Readiness





C:A2.1  Acquire employability skills, such as working on a team, problem solving, and organizational skills.





C:A2.2  Apply job readiness skills to seek employment opportunities





C:A2.3  Demonstrate knowledge about the changing workplace





C:A2.4  Learn about the rights and responsibilities of employers and employees





C:A2.5  Learn to respect individual uniqueness in the workplace





C:A2.6  Learn how to write a resume





C:A2.7  Develop a positive attitude toward work and learning





C:A2.8  Understand the importance of responsibility, dependability, punctuality, integrity, and effort in the workplace





C:A2.9  Utilize time-and-task management skills







STANDARD B: Students will employ strategies to achieve future career goals with success and satisfaction

Competency B:1: Acquire Career Information





C:B1.1  Apply decision-making skills to career planning, course selection, and career transition





C:B1.2  Identify personal skills, interests, and abilities, and relate them to current career choice





C:B1.3  Demonstrate knowledge of the career planning process





C:B1.4  Know the various ways in which occupations can be classified





C:B1.5  Use research and information resources to obtain career information





C:B1.6  Learn to use the Internet to access career planning information





C:B1.7  Describe traditional and nontraditional career choice and how they relate to career choice





C:B1.8  Understand how changing economic and societal needs influence employment trends and future training







Competency B:2: Identify Career Goals





C:B2.1  Demonstrate awareness of the education and training needed to achieve career goals





C:B2.2  Assess and modify the educational plan to support career goals





C:B2.3  Use employability and job readiness skills in internship, mentoring, shadowing, and/or other work experience





C:B2.4  Select coursework that is related to career interests





C:B2.5  Maintain a career planning portfolio







STANDARD C: Students will understand the relationship between personal qualities, education, training, and the world of work.

Competency C:1: Acquire Knowledge to Achieve Career Goals





C:C1.1  Understand the relationship between educational achievement and career success





C:C1.2  Explain how work can help to achieve personal success and satisfaction





C:C1.3  Identify personal preferences and interests influencing career choice and success





C:C1.4  Understand that the changing workplace requires lifelong learning and acquiring new skills





C:C1.5  Describe the effect of work on lifestyle





C:C1.6  Understand the importance of equity and access in career choice





C:C1.7  Understand that work is an important and satisfying means of personal expression







Competency C:2: Apply Skills to Achieve Career Goals





C:C2.1  Demonstrate how interests, abilities, and achievement relate to achieving personal, social, educational, and career goals





C:C2.2  Learn how to use conflict management skills with peers and adults





C:C2.3  Learn to work cooperatively with others as a team member





C:C2.4  Apply academic and employment readiness skills in work-based learning situations, such as internships, shadowing, and/or mentoring experiences






Terdapat dua hal yang perlu ditentukan oleh para perencana program terkait dengan pengembangan kompetensi. Pertama, untuk siswa berumur berapa tahunkah kompetensi tersebut perlu dikembangkan? Kedua, aktivitas dan materi apakah yang diperlukan guna mengembangkan kompetensi tersebut? Seperti sudah disebutkan sebelumnya, kurikulum bimbingan terdiri dari: bimbingan kelas, aktivitas kelompok terstruktur, pendidikan orang tua, dan materi di kelas yang diajarkan oleh guru. Konselor yang menyusun rencana program juga perlu mempertimbangkan hakikat aktivitas yang akan ditawarkan berikut level kelas yang menjadi sasaran program.
Perlu dicatat bahwa kompetensi yang tertulis dalam model ASCA tidak diklasifikasi berdasarkan level kelas; jadi, kelas sasaran tersebut perlu ditentukan oleh tim perencana program. Begitu pula, kompetensi-kompetensi tersebut dapat dijabarkan menjadi beberapa poin turunan dalam kurikulum. Misalnya: kompetensi C:A-1.1 “mengembangkan keterampilan menemukan, mengevaluasi, dan menginterpretasikan informasi karier” dapat dijabarkan sebagai berikut:
Kelas 4 – sebagai bagian dari materi tentang karier nontradisional, siswa akan mewawancarai para pekerja yang bekerja pada karier nontradisional.
Kelas 7 – Sebagai bagian dari materi eksplorasi diri, para siswa akan: (1) mengidentifikasi tiga bidang pekerjaan yang sesuai dengan dengan tipe kepribadian mereka (dalam klasifikasi tipe kepribadian Holland), (2) memanfaatkan Occupational Outlook Handbook (Kamus Jabatan), dan (3) menuliskan deskripsi singkat tentang pekerjaan tersebut berikut informasi gajinya.
Kelas 11 – Dengan menggunakan sumber data online, para siswa akan mengidentifikasi beberapa pekerjaan, deskripsinya, lokasi geografisnya, berikut gaji entry-levelnya (gaji saat baru pertama kali bekerja) dalam kaitannya dengan rencana pendidikan lanjutannya (mayor) atau pekerjaan yang diharapkan setelah lulus.

Secara ringkas, ANM terdiri dari empat komponen, empat tema, empat strategi penyampaian, dan beberapa cara mengukur akuntabilitas. Kesemuanya itu merupakan model terintegrasi yang dapat digunakan dalam mendesain dan mengimplementasikan program BK komprehensif di sekolah. ASCA juga menyediakan panduan bagaimana mengembangkan program-program tersebut.

C.      PROSES PENGEMBANGAN PROGRAM
Proses perencanaan program BK komprehensif terdiri dari langkah-langkah: (1) mengusahakan dukungan administratif, (2) menyiapkan prakondisi, (3) membentuk tim perencana, (4) melancarkan asesmen kebutuhan untuk menentukan kompetensi yang perlu dikembangkan, (5) merencanakan program untuk mengembangkan kompetensi yang telah ditentukan, (6) mengimplementasikan program, dan (7) membuat sistem akuntabilitas (pertanggungjawaban) (ASCA, 2003).
1.        Mengusahakan Dukungan Administratif
Walaupun ANM sebenarnya dikembangkan sebagai panduan dalam mengembangkan atau memperbarui program-program BK distrik (districtwide), namun model ini juga dapat diaplikasikan di sekolah dengan baik. Baik di distrik maupun di sekolah, bila program BK karier ingin berjalan dengan sukses, jajaran pimpinan harus memberikan dukungan dan pengesahan atas program tersebut. Jika pengembangan program ditujukan untuk distrik, juga perlu diusahakan pengesahan dan persetujuan dari para pengurus sekolah dalam distrik tersebut. Hal ini sangatlah penting karena akan menyangkut sejumlah dana yang akan dialokasikan untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.
Jika dukungan dari para pimpinan sangatlah penting, demikian pula halnya dukungan dari para stakeholder yang lain, seperti para guru, orang tua, agen-agen di masyarakat, dan lembaga bisnis (Brown, Pryzwansky, & Schulte, 2006). Jika ingin sukses, program BK karier harus melibatkan semua pihak tersebut. Dukungan mereka sejak awal akan menjadi hal yang sangat penting.

2.        Menyiapkan prakondisi
Agar dapat berjalan sesuai harapan, sebuah program harus memiliki staf pelaksana, anggaran dana, fasilitas, materi, dan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk program. Sebelum program didesain, konselor sudah harus dapat mengestimasikan dana yang diperlukan untuk program tersebut. Estimasi ini harus disampaikan pada para pimpinan saat mengupayakan dukungan administratif dari mereka, tentunya disertai dengan alasan-alasan yang rasional. Pimpinan tentu akan menyetujui bila alasan-alasannya diajukan dan dituliskan dengan bahasa yang sejalan dengan tujuan umum sekolah atau distrik (Brown & Trusty, 2005a). Apa sajakah tujuan umum tersebut? Di antaranya adalah:
·      mengurangi tingkat dropout
·      meningkatkan prestasi siswa
·      mengurangi kesenjangan prestasi antara siswa kulit putih dan siswa minoritas
·      meningkatkan kuantitas siswa yang melanjutkan ke pendidikan lanjutan.
Harus diperhatikan bahwa konselor tidak perlu menyampaikan hal yang muluk-muluk, namun dapat menunjukkan bukti bahwa tujuan-tujuan di atas akan dapat dicapai dengan program yang telah direncanakan (Brown & Trusty, 2005b).

3.        Membentuk Tim Perencana Program
Jika dukungan dari para pimpinan telah diperoleh dan prakondisi telah siap, ASCA selanjutnya merekomendasikan untuk segera membentuk tim perencanaan. Tim ini memiliki beberapa tugas, termasuk merumuskan misi, landasan filosofis, melakukan asesmen kebutuhan, memilih kompetensi yang akan dikembangkan berdasarkan kebutuhan siswa, serta merencanakan program.
Tim harus terdiri dari perwakilan staf administrasi, dewan guru, konselor, orang tua, anggota komunitas bisnis, dan setidaknya seorang perwakilan siswa. Secara lebih detail, tugas-tugas tersebut akan dijelaskan pada paragraf selanjutnya.
Misi dan filosofi merupakan dua hal yang penting. Misi menjelaskan hal-hal apa saja yang akan diterjadikan oleh program BK karier, sedangkan filosofi adalah surat singkat kepada publik mengenai program dimaksud (National Consortium of State Guidance Leader, 2000). Sebagai contoh, sebuah misi ingin menyatakan bahwa program ini merupakan bagian integral dari program BK sekolah yang bertujuan untuk memfasilitasi pemilihan karier berikut implementasinya untuk semua siswa. Misi tersebut kemudian dapat dinyatakan dalam kalimat “memfasilitasi pemilihan karier dan implementasinya untuk semua siswa”. Adapun filosofi, di dalamnya berisi nilai-nilai yang melandasi program. Contohnya adalah seperti poin-poin berikut:
·      Melayani semua siswa dan didedikasikan untuk meningkatkan perkembangan pendidikan dan karier.
·      Diawaki oleh para profesional, konselor, dan guru yang ahli di bidangnya.
·      Memfasilitasi transisi
·      K – 12, program terkoordinasi
·      Merupakan bagian integral dari program BK sekolah, sekolah, dan masyarakat.
·      Didedikasikan untuk meningkatkan misi pendidikan di sekolah (distrik)
Filosofi dapat dinyatakan secara naratif atau dengan poin-poin. Tujuan filosofi ini adalah untuk memberikan informasi kepada para stakeholder program dan sebagai panduan dalam proses perencanaan.

4.        Melakukan Asesmen Kebutuhan (Need Assessment)
Sekolah-sekolah di Virginia Barat, pinggiran Indianapolis, dalam kota Chicago, dan Chapel Hill, Carolina Utara, masing-masing memiliki siswa dengan karakter yang berbeda, sehingga membutuhkan program BK karier yang berbeda pula. Beberapa siswa di perkampungan Virginia Barat dan dalam kota Chicago biasanya langsung masuk militer atau pekerjaan sipil setelah lulus dari sekolah. Beberapa dari mereka juga berpindah ke daerah lain di luar atau di dalam negara bagian untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Lain halnya dengan siswa minoritas di kota Chicago; mereka biasanya akan dihadapkan dengan berbagai bentuk diskriminasi. Berbeda dengan siswa di kedua daerah tersebut, sebagian besar siswa di Chapel Hill dan pinggiran Indianapolis akan lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi; yang dengan demikian, proses pengambilan keputusan karier awal mereka akan lebih panjang. Apapun itu, semua siswa ini perlu untuk dapat menyelaraskan perencanaan kariernya dengan perencanaan pendidikannya. Untuk menentukan program yang tepat bagi semua siswa ini, konselor wajib memahami karakteristik para siswa dan keluarganya. Proses mengembangkan profil siswa inilah yang biasanya dikenal dengan asesmen kebutuhan.
Data kebutuhan siswa dapat digali dari berbagai sumber, termasuk data demografis tentang masyarakat, hasil tes prestasi, informasi tingkat dropout, studi tindak lanjut mengenai siswa yang lulus dan dropout, serta survai langsung pada para siswa, guru, pimpinan lembaga bisnis, dan orang tua. Pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab dalam asesmen kebutuhan antara lain: (1) apa saja kebutuhan siswa dalam kaitannya dengan program BK karier?, dan (2) pendekatan apakah yang paling baik digunakan agar kebutuhan-kebutuhan siswa tersebut dapat terpenuhi? (Brown & Trusty, 2005a). Setelah data terkumpul dari instrumen asesmen, dari informasi para lulusan & pimpinan lembaga bisnis, dan dari berbagai sumber lainnya, tim perencana dapat mulai menyusun program-program yang akan diberikan pada siswa.
Seperti disarankan dalam NCDG Handbook (Kobylarz, 1996), asesmen kebutuhan dapat diarahkan oleh steering committee. Namun demikian, asesmen tersebut sebaiknya diarahkan oleh konselor sekolah, direktur layanan BK distrik, atau perwakilan dari divisi pendidikan vokasional. Steering committee biasanya berperan saat data kebutuhan-kebutuhan siswa telah terkumpul dan dukungan administratif dari para pimpinan telah diperoleh. Jika kebutuhan akan program BK karier telah terdokumentasikan, terdapat dua hal berikutnya yang mungkin dilakukan, yaitu: (1) menunjuk komite penasehat untuk melakukan lobby program, (2) meminta orang-orang yang terlibat dalam asesmen kebutuhan untuk menggunakan data kebutuhan siswa tersebut guna mendapatkan izin dari pimpinan dan pengurus sekolah. Tidak peduli bagaimanapun caranya, pengesahan dan dukungan para pimpinan terhadap program harus diperoleh sebelum melaunching proses perencanaan secara penuh.

Gambar 11.2    Format Asesmen Kebutuhan untuk Sekolah Dasar

Level of Importance

Little
Moderate
Great
Self Knowledge: Students will develop



Knowledge of the importance of a positive self-concept
1
2
3
Skills to interact positively with others
1
2
3
Awareness of need for continued emotional growth
1
2
3




Educational and Occupational Exploration: Students will develop



Awareness of the importance of educational achievement
1
2
3
Awareness of the relationship between work and learning
1
2
3
Skills to understand and use career information
1
2
3
Awareness of the importance of personal responsibility and good work habits
1
2
3
Awareness of how work relates to the needs and functions of society
1
2
3




Career Planning: Students will develop



Understanding of how to make decisions
1
2
3
Awareness of the interrelationships among life roles
1
2
3
Awareness of the changing roles of men and women in the workforce
1
2
3
Awareness of the career planning process
1
2
3

5.        Menyusun Tujuan Umum dan Khusus, berikut Kriteria Pencapaiannya
Walaupun penyusunan tujuan umum program merupakan tugas steering committee di distrik, tujuan khusus program tersebut tetap harus dikembangkan dan disesuaikan oleh masing-masing sekolah. Tujuan umum biasanya dinyatakan dengan kalimat yang relatif umum, seperti: “siswa dapat meningkatkan pengetahuan tentang jenis-jenis karier yang cocok baginya”. Tujuan umum tersebut kemudian dipecah menjadi sejumlah target perilaku (tujuan khusus), yang disusun secara kronologis.
Target perilaku (tujuan khusus) terdiri dari empat komponen: siapa yang akan melakukannya, apa yang akan dilakukan dan sampai kadar/tingkat apa akan dilakukan, kapan akan dilakukan, dan dengan cara apa hal tersebut akan dilakukan (Burns, 1972; Morris, Fitz-Gibbon, & Lindheim, 1987). Berikut ini adalah contoh seperangkat tujuan khusus (target perilaku) sebagai turunan dari tujuan umum yang telah disebut di atas:
TK – Selepas TK, siswa dapat mengidentifikasi pekerjaan orang tuanya masing-masing serta dapat menuliskan setidaknya tiga tugas dalam pekerjaan tersebut, sebagai hasil dari pekerjaan rumah mewawancarai orang tua mengenai pekerjaannya.
Kelas 1 – Selepas kelas 1, para siswa dapat mengidentifikasi 3 jenis profesi helper di masyarakat berikut tiga tugasnya sebagai hasil dari program seminar karier oleh yang dinarasumberi oleh para pekerja di masyarakat.
Kelas 2 – Selepas kelas 2, para siswa dapat mengidentifikasi tiga pekerja di daerah masing-masing berikut dua tugasnya, serta bagaimana mereka memanfaatkan bacaan dalam pekerjaannya, sebagai hasil dari materi di kelas dengan topik “Para Pekerja di Daerahku”.
Kelas 3 – Selepas kelas 3, para siswa dapat mengidentifikasi lima jenis pegawai negeri, mengidentifikasi tugas utamanya, dan menyampaikan dua cara bagaimana mereka memanfaatkan matematika dalam pekerjaannya, sebagai hasil dari karya wisata ke ibu kota negara dan aktivitas follow-upnya.
Kelas 4 – Selepas kelas 4, para siswa dapat mengidentifikasi lima jenis pekerjaan unik di Amerika bagian tenggara, mendeskripsikan tugas-tugas utamanya, dan menjelaskan bagaimana mereka memanfaatkan setidaknya dua mata pelajaran di sekolah dalam pekerjaan mereka, sebagai hasil dari mengerjakan tugas luar kelas dengan topik “Para Pekerja di Daerah Kita”.
Kelas 5 – Selepas kelas 5, para siswa dapat mengidentifikasi 10 pekerja di AS yang bekerja di luar daerah Tenggara, tugas-tugas utamanya, dan bagaimana mereka menggunakan pelajaran-pelajaran yang didapat di sekolah dalam pekerjaan mereka, mebagai hasil dari menulis essai tentang jenis pekerjaan di AS, menonton tayangan di tempat kerja yang diadakan untuk tujuan ini, serta tugas kelas.
Sekolah Menengah – Selepas kelas 8, para siswa telah dapat mengidentifikasi tiga pekerjaan yang akan menjadi minat mereka kelak, menemukan keterampilan akademik yang harus dimiliki untuk memasuki pekerjaan tersebut, dan menganalisis bagaimana bakat dan performansi akademik akan menyiapkan mereka atau menghalangi cita-cita untuk bekerja pada bidang tersebut, sebagai hasil dari aktivitas-aktivitas berikut:
Kelas 6 – Para siswa mempelajari karier-karier yang terdapat di seluruh penjuru dunia sebagai hasil belajar dari seluruh kelas. Para siswa menyelesaikan esai bahasa Inggris dengan topik “Jika Saya dapat Menjadi Apapun”. Seminar bulanan yang diadakan oleh konselor menghadirkan para pembicara perwakilan dari bermacam karier di dunia.
Kelas 7 – Siswa menyelesaikan inventori minat dan kemudian, dengan dipandu konselor, berpartisipasi dalam kelompok untuk mendiskusikan sumber-sumber minat serta pengaruh minat terhadap keputusan karier.
Kelas 8 – Selama sembilan minggu, para siswa mengikuti kelas tentang pemilihan karier yang berfokus pada pembuatan keputusan karier serta penggunaan informasi karier dan data diri untuk membuat pilihan karier. Puncaknya adalah siswa memilih tiga karier yang diminati dan melakukan analisis diri terkait dengan potensi untuk memasuki karier tersebut dan merancang rencana pendidikan untuk karier yang paling diminatinya.
Sekolah Tinggi – Masing-masing siswa akan membuat persiapan pilihan karier dan alternatifnya, serta merancang rencana pendidikan untuk memasuki karier tersebut, sebagai hasil dari aktivitas terstruktur seperti: seminar karier, sesi perencanaan individual, biblioterapi, job shadowing, partisipasi dalam hari karier, asesmen bakat minat, dan dan lainnya.
Cara lain untuk menulis tujuan khusus adalah dengan mengaitkannya pada daftar kompetensi yang terdapat dalam model ASCA (2003). Standar dan kompetensi perkembangan karier ASCA dapat dilihat pada Tabel 11.2.
Seperti terlihat pada Tabel 11.2, kompetensi-kompetensi tersebut tidak ditulis dalam pernyataan yang observable dan behavioral, sehingga akan menyulitkan proses evaluasi. Kompetensi-kompetensi itu kami tulis ulang dalam Tabel 11.3 dalam format yang observable berikut bagaimana kompetensi tersebut dapat dikembangkan. Pada Tabel 11.3 tersebut juga dicantumkan satu aspek esensial program: kapan kompetensi tersebut akan dikembangkan. Walaupun tujuan umum tersebut dikembangkan untuk siswa sekolah menengah, tujuan dan rencana serupa juga dapat dikembangkan untuk siswa sekolah dasar dan sekolah tinggi. Informasi yang disajikan dalam Tabel 11.3 tersebut adalah satu langkah dalam proses perencanaan kurikulum bimbingan.

Tabel 11.2    Standar ASCA: Domain Perkembangan Karier, Standar A, Kompetensi A1 dan Indikatornya
C:A1.1  Develop skills to locate, evaluate, and interpret career information
C:A1.2  Learn about the variety of traditional and nontraditional occupations
C:A1.3  Develop an awareness of personal abilities, skills, interests, and motivations
C:A1.4  Learn how to interact and work cooperatively in teams
C:A1.5  Learn to make decisions
C:A1.6  Learn how to set goals
C:A1.7  Understand the importance of planning
C:A1.8  Pursue and develop competency in areas of interest
C:A1.9  Develop hobbies and vocational interests
C:A1.10  Balance between work and leisure time
Tabel 11.3    Standar ASCA: Domain Perkembangan Karier, Standar A, Kompetensi A1 dan Indikatornya yang Telah Dimodifikasi
Competency A:1: Develop Career Awareness in Middle School Career Development Unit
C:A1.1  Each student will identify three sources of information about occupation related to their Holland code and use that informations to describe the occupation
C:A1.2  Each student will identify three occupations that contain less than 25 percent males or females and tell wether these are nontraditional for men or women in a single page report
C:A1.3  As the result of the Self-Directed Search and a self-analysis of skills and abilities, each student will identify his or her Holland code and his or her most important abilities and skills as they relate to their current occupational choice
C:A1.4  ...............
C:A1.5  ...............
C:A1.6  ...............
C:A1.7  ...............
C:A1.8  ...............
C:A1.9  ...............
C:A1.10  ...............

6.        Merencanakan Program BK Karier
Langkah 1 sampai 4 yang telah disebutkan di atas merupakan tahap persiapan. Adapun tahap intinya adalah tahap merencanakan program BK karier itu sendiri. Beberapa pertanyaan perlu dijawab dalam tahap ini. Pertanyaan yang paling penting kiranya adalah seputar metode penyampaian yang akan digunakan dalam mengembangkan kompetensi yang penting untuk siswa. Kurikulum bimbingan harus menjadi aspek utama dalam pengembangan kompetensi supaya program dapat melayani semua siswa. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:
  1. Kesempatan apa yang tersedia atau dapat diusahakan untuk unit-unit bimbingan karier?
  2. Kesempatan apakah yang tersedia untuk menanamkan materi bimbingan karier ke dalam unit-unit yang ada?
  3. Aktivitas kelompok kecil apa yang dapat ditawarkan?
  4. Bagaimana aspek orang tua dalam kurikulum bimbingan dapat didesain dan disampaikan secara efektif?
  5. Bagaimana orang tua siswa minoritas dan miskin dapat dimasukkan/disatukan ke dalam program?
  6. Materi apa yang dibutuhkan untuk mendukung kurikulum bimbingan?
  7. Bagaimana teknologi, seperti internet, dapat digunakan untuk menyampaikan kurikulum bimbingan?
  8. Bagaimana staf Career Resource Center (Pusat Sumberdaya Karier) dapat dilibatkan dalam kurikulum bimbingan?
  9. Bagaimana masing-masing aspek dari kurikulum bimbingan dapat dievaluasi?

Beberapa pertanyaan lain yang berhubungan dengan perencanaan individual siswa antara lain:
1.      Pada poin apa dalam proses persekolahan, siswa harus memilih kurikulum? Dan aktivitas apa yang harusnya mendahului proses ini?
2.      Bagaimana orang tua dapat dilibatkan dalam proses ini?
3.      Asesmen apa yang diperlukan untuk mendukung usaha perencanaan pendidikan dan karier secara individu ataupun berkelompok?
4.      Pendekatan apakah yang paling baik digunakan untuk memberikan layanan perencanaan pendidikan dan karier yang diperlukan oleh semua siswa (misal: Guru penasehat, bimbingan konselor, bimbingan teman sebaya)?
5.      Apakah terdapat siswa yang memiliki kebutuhan khusus yang memerlukan asesmen dan aktivitas perencanaan yang berbeda?
6.      Akomodosi apa yang diperlukan oleh siswa minoritas atau siswa asing?

Saat perencanaan layanan responsif, pertanyaan-pertanyaan berikut juga perlu dipertimbangkan:
1.      Bagaimana/dengan cara apa layanan konsultasi dapat ditawarkan kepada guru atau personel lain yang dilibatkan dalam program?
2.      Bagaimana cara mengidentifikasi siswa yang memerlukan layanan konseling karier?
3.      Konseling karier seperti apa yang dibutuhkan oleh siswa berkebutuhan khusus, siswa minoritas, dan siswa asing?

Pertanyaan-pertanyaan yang perlu diperhatikan saat melakukan perencanaan dukungan sistem adalah:
1.      Pengembangan profesional apa yang dibutuhkan dalam rangka penyiapan implementasi program?
2.      Bagaimana staf  BK dapat mendukung berjalannya persekolahan dengan menggunakan konsultasi dan kolaborasi?
3.      Community outreach apa yang diperlukan untuk membuat para konselor menjadi familiar dengan sumber daya-sumber daya di masyarakat?
4.      Bagaimana program ini akan dimanajemen?
5.      Bagaimana staf akan ditugaskan?

Ringkasnya, keseluruhan program bimbingan dan konseling karier sebagai bagian dari program BK, harus melaksanakan beberapa hal terkait dengan koordinasi program, pengembangan kalender pelaksanaan program, akuntabilitas, evaluasi kinerja staf, pendekatan program secara menyeluruh, dan evaluasi program.

D.      IMPLEMENTASI PROGRAM
1.      Memilih Sistem Manajemen
Program BK karier adalah bagian integral dari keseluruhan program BK di sekolah. Karena itu, koordinator BK di level distrik dan level sekolah biasanya juga merupakan koordinator program BK karier. Pihak lain seperti Koordinator Career Resource Center (Pusat Sumber Daya Karier), Direktur Lembaga Transisi Sekolah ke Lapangan Kerja bagi Siswa Berkebutuhan Khusus (the school-to-work transition for exceptional children), dan perwakilan pendidikan vokasional, biasanya juga dilibatkan dalam koordinasi keseluruhan program BK, termasuk juga program BK karier sebagai bagiannya. Intinya, siapapun yang dilibatkan dalam tim, manajemen program hendaknya dilakukan secara kolaboratif.
Johnson, Johnson, dan Downs (2005) menyatakan bahwa koordinator program (koordinator BK) memiliki tugas untuk: (1) mereviu rencana-rencana yang telah dihasilkan oleh anggota tim perencana program, (2) memonitor aktivitas yang berkaitan dengan rencana-rencana tersebut, (3) mengaudit laporan hasil program (LPJ), (4) bersama anggota tim yang lain melakukan validasi atas keberhasilan pencapaian tujuan, (5) memfasilitasi pengembangan staff, dan (6) ikut serta dalam usaha memperoleh ijin pelaksanaan program dari pejabat sekolah. Selain itu, Brown & Trusty (2005a) berpendapat bahwa koordinator program juga harus memiliki kemampuan untuk melakukan resolusi konflik, memfasilitasi problem solving, membangun hubungan kolaboratif ke dalam dan ke luar program, mengkordinasi ke-humas-an (public relation), menyebarluaskan laporan hasil program (result report), dan mengadvokasi program bila perlu.

2.      Merencanakan dan Mengimplementasikan Kurikulum Bimbingan
Kurikulum bimbingan bertujuan untuk memberikan informasi dasar bagi siswa dengan menggunakan model yang disebut model edukasional atau psikoedukasional. Walaupun pembahasan bab ini berfokus pada membantu siswa untuk mengembangkan kompetensi karier, tujuan program BK karier komprehensif adalah untuk mengembangkan kompetensi akademik dan pribadi-sosial. Hal ini karena kompetensi-kompetensi tersebut memiliki hubungan yang sangat erat dengan keberfungsian pendidikan, karier dan pribadi. Perhatikan standar A, tentang kompetensi akademik, dan indikator kompetensi A1 yang terdapat pada tabel 11.4. Indikator mana yang tidak diperlukan sebagai pengukur keberhasilan dalam memilih, menyiapkan, memasuki, dan menjadi sukses dalam sebuah bidang pekerjaan? Tentu saja, pekerja yang sukses juga telah berkembang konsep-diri akademiknya dengan baik sebagaimana ditunjukkan oleh variabel A:A1.1 sampai A:A1.5.

Tabel 11.4    Standar ASCA: Domain Akademik, Standar A, Kompetensi A1 dan Indikatornya
Standard A: Students will acquire the attitude, knowledge, and skills that contribute to effective learning in school and across the life span.
Competency A:1: Improve Academic Self-Concept
A:A1.1  Articulate feelings of competence and confidence as learners
A:A1.2  Display a positive interest in learning
A:A1.3  Take Pride in work and achievement
A:A1.4  Accept mistakes as essential to the learning process
A:A1.5  Identify attitudes and behaviors that lead to successful learning

Sekarang perhatikan tabel 11.5. Sekali lagi kompetensi dan indikator sangat penting bagi keberfungsian pribadi, sosial, dan keberhasilan dalam pekerjaan. Betapa sering 10 bab pertama dalam buku ini menyebutkan tentang pentingnya pemahaman diri. Hal itu untuk memberikan kesan pada para pembaca bahwa tanpa pemahaman diri, seseorang tidak akan mungkin dapat membuat keputusan karier dengan tepat. Unit-unit kelas dan kelompok kecil dalam kurikulum bimbingan hendaknya direncanakan dengan berfokus pada kompetensi yang beragam (tidak hanya kompetensi yang berhubungan dengan karier saja).
Tabel 11.5    Domain Pribadi Sosial, Standar A, Kompetensi A1 dan Indikatornya
Standard A: Students will acquire the knowledge, attitudes, and interpersonal skills to help them understand and respect self and others.
Competency A:1: Acquire Self-Knowledge
PS:A1.1  Develop positive attitudes toward self as a unique and worthy person
PS:A1.2  Identify values, attitudes, and beliefs
PS:A1.3  Learn the goal setting process
PS:A1.4  Understand that change is a part of growth
PS:A1.5  identify and express feelings
PS:A1.6  ................
PS:A1.7  ................
PS:A1.8  ................
PS:A1.9  ................
PS:A1.10  ................
PS:A1.11  ................
PS:A1.12  ................

Asesmen kebutuhan yang telah dibahas sebelumnya akan memberikan petunjuk tentang kompetensi-kompetensi mana yang akan menjadi fokus program BK, termasuk program BK karier. Layanan dasar dan aktivitas kelompok kecil dipilih untuk mentarget beberapa kompetensi tersebut. Kisi-kisi seperti pada tabel 11.6 akan sangat membantu dalam menyusun rencana kurikulum bimbingan untuk K-12.

Tabel 11.6    Matriks Rencana Kurikulum Bimbingan untuk K – 12
Grade Level and Month
ANM Competencies
Objective
Activity
Material Needed
Evaluation Strategy
2; October
PS:A1; C:A1 – Self-Knowledge
Each student will identify three skills that he/she does well and one to develop
Four-session classroom guidance
Red and green crayons; paper
Student lists will be collected and evaluated dor competency
8; April
A:B2; C:A1 – Goal Setting
Students will demonstrate the ability to set short- and long-range goals
Six 40- minutes classroom guidance sessions on goal setting
None
Small group of students will be asked to evaluate the short- and long-term goals that have been written
11; September
C:C2; PS:B1 – Conflict Management
Students will demonstrate the use of one conflict management model – win-win
Three classroom guidance sessions
None
Small groups will evaluate and provide feedback based on role-play application of the model

Dua hal yang perlu dijelaskan dari data yang disebutkan dalam tabel 11.6. Pertama, pengembangan program BK untuk K-12 adalah tugas yang memerlukan curahan tenaga dan pikiran. Kedua, setelah program tersebut selesai disusun, kisi-kisinya akan bermanfaat untuk menentukan waktu (kalender) pelaksanaannya. Dengan menambahkan nama petugas-petugas yang bertanggungjawab menyampaikannya, tuntaslah sudah tugas penyusunan program tersebut.

3.      Merencanakan dan Mengimplementasikan Layanan Perencanaan Individual
Rasa-rasanya istilah Perencanaan Individual Siswa (PIS) adalah istilah yang kurang cocok, sebab layanan ini mencakup aktivitas edukasional dan perencanaan karier secara individual dan kelompok. Concern terhadap ISP dipopulerkan oleh Brown & Trusty (2005a) di mana ISP biasanya dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting dan remeh, sehingga yang akan “menjadi korban” adalah siswa. Beberapa penelitian dilakukan oleh Adelman (1999) dan Trusty & Niles (2004) yang meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penyelesaian studi mahasiswa jenjang Bachelor. Penelitian itu menemukan bahwa mahasiswa laki-laki lebih rendah kemungkinan penyelesaian studinya dibandingkan mahasiswa perempuan, serta mahasiswa kulit putih dan campuran Asia-Amerika lebih tinggi kemungkinan penyelesaian studinya daripada mahasiswa campuran Afrika-Amerika dan mahasiswa suku asli Amerika. Hasil ini memberikan implikasi akan pentingnya perencanaan yang sungguh-sungguh terhadap mahasiswa laki-laki dan golongan minoritas. Penelitian yang dilakukan oleh Brown & Trusty (2005a) juga menemukan bahwa penyelesaian matakuliah sains dan matematika level advance menjadi faktor kunci bagi penyelesaian program strata 1. Karena itu, mendorong mahasiswa yang tidak mengambil matakuliah sains dan matematika level advance tersebut harus menjadi prioritas dalam PIS. Pertanyaan yang penting kemudian adalah bagaimana cara menstruktur dan memberikan layanan PIS ini.
Pada tahun 2002, sebuah terbitan bersama antara Komando Rekrutmen Angkatan Darat Amerika Serikat dan ASCA berjudul Planning for Life menjawab beberapa pertanyaan tentang desain perencanaan individual. Publikasi tersebut disertai dengan beberapa contoh program perencanaan karier dari berbagai daerah di Amerika Serikat. Dalam terbitan itu tertulis bahwa setiap siswa harus memiliki rencana karier individual, yang di antaranya berisi: target karier dan pendidikan, data hasil asesmen, aktivitas-aktivitas di waktu luang dan ekstrakurikuler, pekerjaan paruh waktu, aktivitas pelayanan masyarakat, dan informasi lainnya yang bermanfaat untuk perencanaan karier dan pendidikan. Dokumen pada gambar 11.3 dapat digunakan sebagai basis bagi layanan perencanaan karier individual.
Sebagai panduan tambahan dalam mengembangkan program pelayanan individual, Planning for Life juga menyajikan beberapa program BK di wilayah dan sekolah terkenal. Salah satunya adalah program BK di wilayah Hillsboro, Oregon, dengan karakteristik program sebagai berikut:
K-12. Sejak TK, perencanaan karier dan pendidikan sudah ditekankan. Aktivitas perencanaan ini terkulminasi dalam aktivitas-aktivitas yang berfokus pada transisi dari sekolah ke bekerja di sekolah menengah.
Asesmen. Pencarian yang bersifat self-directed (swa-arah) diberikan pada semua siswa kelas IX.
Teknologi. BK di wilayah mengembangkan database yang dapat diakses di website sehingga para guru dapat menggunakan unit-unit yang tersedia di website tersebut di kelas mereka. Mereka juga memanfaatkan Sistem Informasi Karier Oregon (CIS) untuk memberikan informasi karier dan pendidikan pada para siswa.
Staffing. Para orang tua yang bersedia menjadi relawan juga direkrut untuk melatih siswa dan menjadi advisor. Setiap orang tua yang menjadi advisor diberi satu tugas tertentu. Perencanaan karier individual, yang pusatnya berada di Pusat Riset Karier, selalu direvisi dan diperbarui setiap tahun. Para siswa menemui konselornya minimal sekali dalam setahun.
Fasilitas. Aktivitas-aktivitas kepenasehatan dan aktivitas lainnya bertempat di Pusat Sumber Daya Karier.
Lainnya. BK juga mendorong program kunjungan ke lokasi kerja, job shadowing (praktek pengalaman lapangan), dan kuliah tamu.
Sekolah Menengah Bearcreek di Fairburn, Georgia, adalah salah satu sekolah yang program BK-nya ditulis dalam Planning for Life. Program sekolah ini diorganisasi menurut tiga pertanyaan umum:

Kelas 6: siapa saya?
Kelas 7: Ke mana tujuan saya?
Kelas 8: Bagaimana cara saya untuk sampai ke sana?
Beberapa aspek khas dari program sekolah Menengah Bearcreek antara lain:
Koordinasi. Dikoordinasi oleh koordinator pusat karier.
Staffing. Staf terdiri dari koordinator pusat karier, para guru yang telah mengintegrasikan konsep-konsep karier ke dalam mata pelajarannya, serta konselor sekolah.
Asesmen. Inventori Keputusan Karier diberikan di kelas VIII. Beberapa perangkat asesmen informal lainnya juga dilancarkan untuk mengetahui bakat dan kemampuan siswa.
Teknologi. Informasi pendidikan dan karier bersumber dari Sistem Informasi Karier Georgia.
Fasilitas. Sebagian besar aktivitas dilakukan di Pusat Sumber Daya Karier.
Alat Perekam. Data direkam dengan menggunakan portofolio seperti pada gambar 11.3.
Lainnya. Praktik Pengalaman Lapangan (job shadowing).

Gambar 11.3    Format Perencanaan Karier Individual Untuk High School
Lembar ini bertujuan untuk membantu staf BK dalam memonitor dan memperkuat pencapaian kompetensi siswa dalam BK karier, serta membantu pengembangan perencanaan pendidikan dan karier.

Instruksi
1.        Disarankan agar layanan perencanaan karier individual diberikan pada setiap siswa sepanjang pendidikan di SMA.
2.        Konselor yang ditugaskan untuk membimbing siswa berkewajiban untuk bertatap muka dengan siswa dalam rangka mengembangkan, mereviu, merevisi dan mengimplementasikan rencana.
3.        Begitu evaluasi produk selesai, profil individual tentang pencapaian standar siswa akan ditambahkan ke dalam rencana.

Nama:
Sekolah:

1.        Saya memiliki minat dalam:
 
2.        Saya memiliki kemampuan dan keterampilan dalam:

3.        Hobi dan aktivitas saya di waktu luang adalah:

4.        Mata pelajaran yang dapat saya selesaikan paling baik adalah

5.        Saya sudah mengeksplorasi karier-karier dalam kelompok okupasi berikut:

6.        Saya pernah bekerja paruh waktu atau pernah memiliki pengalaman dalam pekerjaan berikut:

7.        Target karier tentatif saya adalah:

8.        Saya sudah memilih kurikulum berikut untuk belajar di SMA. Beberapa kursus juga tercatat dalam rencana studi saya, yang merupakan bagian dari catatan kumulatif saya

9.        Saya berencana mengikuti pelatihan lebih lanjut pada program, sekolah, atau perguruan tinggi berikut: .......................................................................
  atau
Saya berencana untuk bekerja pada salah satu bidang pekerjaan berikut: .....................................

10.     Saya telah berhasil mencapai beberapa indikator yang disebutkan dalam standar perkembangan karier siswa. Jika belum, saya telah bertemu dengan Bapak/Ibu konselor untuk membahas aktivitas-aktivitas yang perlu saya lakukan dalam rangka memperkuat indikator-indikator yang belum saya capai. Sertakan pula profil individual singkat yang menunjukkan pencapaian indikator siswa setiap tahun.

Tertanda:
Siswa .......................................
Orang tua ...............................
Konselor .................................

No comments:

Post a Comment